Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kasih Aku Waktu.
"Aku udah tau kok."
Aku masih berdiri di sana. Masih menatapnya. Menunggu kalimat berikutnya karena tiga kata itu jelas bukan akhir dari sesuatu, itu awal.
Sonia menurunkan kotak HP di tangannya. Menaruhnya di bangku tribun di sebelahnya. Lalu dia duduk, tangan di lutut, menatap lapangan yang sudah gelap di depan.
"Gue tau dari awal, Bang." Suaranya berubah. Tidak lagi ringan seperti tadi pagi di lapak. Lebih berat. Lebih dalam. "Boby cerita. Tapi bukan cuma dari Boby. Gue lihat sendiri. Cara Abang di lapangan. Cara Abang makan sendirian di jok motor tadi pagi. Cara Abang jawab pesan dengan batre low padahal gue lihat HP Abang nyala waktu Abang naruh di meja tadi."
Aku tidak menjawab.
"Gue simpati awalnya." Sonia masih menatap lapangan. "Gue pikir gue cuma kasihan sama orang yang kelihatannya berat hidupnya. Tapi lama-lama gue sadar itu bukan simpati lagi."
Dia berhenti sebentar.
"Maaf, Bang. Gue tau ini gak pada tempatnya. Gue tau gue masih SMA dan Abang udah nikah dan ini... ini salah sebenernya kalau gue ucapkan. Tapi gue gak bisa pura-pura gak ngerasain."
Angin lapangan masuk dari sisi kiri. Dingin sedikit.
"Gue jatuh cinta sama Abang."
Kalimat itu keluar pelan tapi sangat jelas. Tidak gemetar. Tidak malu-malu berlebihan. Dengan cara orang yang sudah memutuskan untuk jujur dan siap menanggung apapun yang datang setelah kejujuran itu.
"Dan gue mohon, kalau Abang mau, biarkan gue nunggu. Gue bukan mau merebut atau ngerusak. Tapi Abang layak bahagia. Bukan disiksa kayak gini terus. Gue tau kemarin Abang berantem. Gue tau nasi basih itu. Gue tau banyak hal yang Abang gak ceritain."
Aku menutup mata sebentar.
Di dalam kepala aku ada dua suara yang berbicara bersamaan dan tidak ada yang mau mengalah.
Suara pertama bilang ini salah. Kamu sudah menikah. Ada Aini di rumah. Ada sumpah yang sudah diucapkan di depan penghulu meskipun pernikahan itu remuk dari dalam. Ada batas yang kalau dilangkahi tidak bisa dikembalikan.
Suara kedua tidak bilang apa-apa. Hanya mengingatkan rasa nasi hangat tadi pagi. Kotak makan yang diantarkan tanpa diminta. Seseorang yang tahu tanpa diceritakan. Kalimat "Abang layak bahagia" yang terakhir kali aku dengar dari siapapun adalah... aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kalinya.
Aku membuka mata.
"Sonia."
Dia menatapku.
"Kasih aku waktu."
Sonia mengangguk pelan.
"Dan sambil nunggu." Aku melanjutkan. "Cari laki-laki yang lebih baik. Yang bukan aku. Yang tidak punya beban seberat ini. Yang bisa hadir penuh untukmu, bukan setengah-setengah karena hidupnya masih berantakan. Abang udah beristri. Dan Abang tidak pantas buat kamu."
Sonia tidak langsung menjawab.
Diam lama. Menatap lapangan lagi.
"Aku dengar, Bang." Akhirnya dia bilang. "Tapi jawaban gue tetap sama."
Aku tidak membalas itu.
Aku ambil kotak HP dari bangku di sebelahnya.
"Ini akan aku kembalikan suatu saat."
"Gak usah."
"Aku akan kembalikan."
Kami berpisah di depan lapangan tanpa banyak kata lagi. Sonia jalan ke arah yang satu, aku ke motor yang satu.
Di jalan pulang, kotak HP di jok belakang, kepalaku penuh dengan sesuatu yang tidak bisa aku urai satu per satu karena terlalu banyak dan terlalu berat untuk diurai sambil nyetir.
Aku sampai rumah.
Nirmala ada di ruang tengah. Seperti biasa. Ponsel di tangan. Seperti biasa.
Aku taruh kotak HP di meja.
Nirmala langsung lihat.
"HP baru?"
"Bonus dari kades. Karena kemarin menang."
Bohong.
Pertama kali dalam hidupku aku berbohong ke Nirmala dengan cara yang terencana, dengan kalimat yang sudah aku susun di jalan, bukan kebohongan yang keluar karena tidak punya jawaban lain.
Nirmala mengambil kotaknya. Membuka. Mengeluarkan HP-nya, membolak-balik, memeriksa.
"Bagus ini." Matanya ke layarnya, bukan ke aku. "Kameranya bagus, RAM-nya besar. Bagus banget buat Wida nanti kalau udah SMP swasta, kan harus punya HP bagus."
Aku menatapnya.
HP yang diberikan perempuan lain ke aku karena dia tahu aku lapar dan tahu aku berantem dan tahu semua yang tidak pernah aku ceritakan, sekarang sudah ada di tangan Nirmala dan dalam satu kalimat sudah dialihkan menjadi kebutuhan Wida untuk SMP swasta yang belum pasti itu.
Tidak ada terima kasih. Tidak ada pertanyaan aku kenapa, kondisinya bagaimana, apa kabar suamimu hari ini.
Hanya RAM-nya besar dan kamera bagus.
Aku masuk kamar.
Tidur Aini sudah kutengok, napasnya teratur. Aku usap kepalanya sebentar lalu keluar lagi, duduk di teras depan.
Langit malam. Bintang yang tidak banyak karena mendung sedikit di tepi. Suara kampung yang sudah mulai sunyi.
Aku duduk di sana lama.
Apa yang harus aku lakukan.
Pertanyaan itu berputar tanpa menemukan tempat berhenti. Kalau aku tetap di sini, sampai kapan. Kalau aku pergi, Aini bagaimana. Kalau aku diam terus, ada sampai mana. Kalau aku menjawab perasaan Sonia, aku jadi apa.
Tidak ada jawaban yang bersih dari sini.
Semuanya punya harga. Semuanya melukai seseorang. Pilihan apapun yang aku ambil, ada yang terluka di ujungnya.
Aku menaruh siku di lutut, wajah di telapak tangan.
Di dalam rumah, suara televisi Nirmala masih menyala.
Di teras ini, tidak ada suara apa-apa selain kepalaku sendiri yang tidak bisa diam.
Apa yang harus aku lakukan.
Aku tidak tahu.
Untuk malam ini, aku benar-benar tidak tahu.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain