Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
Arun masih bersimpuh didepan Leo dengan mata sebab karena banyak menangis, sedang kan Dimas yang dibelakang Arun masih memegangi bibirnya yang pecah dan berdarah Dimas merasakan sakit yang luar biasa sedang kan Leo yang keadaanya marah, dia melihat Arun yang bersimpuh dan memohon tidak menyakiti Dimas, dia langsung melesat secepat kilat keluar ruangan dan menghantam kan tubuh nya di pohon besar yang tak jauh dari ruangan itu sambil berteriak.
"ahhgg...diaaarrrrr..... untuk menyalurkan kemarahannya.
seperti petir menyambar dikala hujan rintik-rintik membuat seisi rumah sakit kaget bukan main, seketika pohon itu hancur dan Leo menghilang.
Arun berteriak histeris karena memikirkan Leo karena Arun tau dampaknya buat Leo kalau sampai marahnya tak terkendali arwahnya akan hancur dan tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya yang selama berpuluh-puluh tahun Leo menunggu pertemuan itu, Arun mengingat itu semua sampai tidak sadarkan diri.
"leooo....jangan....lolong teriakan Arun, seakan pilu terdengar, sampai dia tergeletak lemas tidak sadarkan diri, Dimas yang melihatnya seketika hatinya berdesir dan ada rasa sakit yang mendalam melihat Arun terkulai dengan wajah pucat.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya Dimas berusaha berdiri dan mengangkat tubuh Arun ke ranjang dan dia lari keluar untuk memanggil Dokter dan ternyata Dokter Arya belum datang.
"Sus Dokter Arya ada, tolong Sus pasien Arun pingsan." Dengan panik Dimas meminta Suster melihat keadaan Arun, lalu Dimas langsung menelepon asistennya untuk datang.
"Kring...kring..kring...
"Halo Putra bisa kesini?"
"Baik Pak, setengah jam lagi saya sampai."
"kalau bisa lebih cepat Put." Dimas dalam keadaan panik menyalahkan sebatang rokok, untuk membuat hati nya supaya agak lebih tenang, tapi tetap saja terlintas wajah Arun yang lemas dan pucat.
"Astaga...gi+a..! Kenapa aku jadi malah terbayang-bayang wajah dia.
"ahhgg.....ini gak bener, kenapa hidupku jadi serumit ini sih!" Dengan gejolak hati yang gak bisa diutarakan perasaan Dimas antara marah, jengkel dan cemas, bercampuraduk jadi satu, dengan perasaan masih gak tenang, Dimas menunggu pemeriksaan Dokter, gak berapa lama Suster dan Dokter keluar dari kamar rawat Arun.
"Dok bagaimana keadaannya?"
"Maaf Pak Dimas sepertinya pasien terguncang mentalnya agak serius, sehingga selama pemeriksaan tidak bisa merespon tubuh dan otaknya, Pak Dimas harus mempersiapkan mental kalau sampai dalam dua hari tidak sadarkan diri kami memastikan pasien koma.
langsung Dimas terduduk lemas dikursi.
"Saran saya ajak ngobrol supaya bisa menstimulasi otaknya untuk semangat."
"Mari Pak Dimas kalau ada apa-apa hubungi saya." Kata Dokter Arya sambil melangkah meninggalkan Dimas yang masih duduk dikursi panjang didepan kamar rawat Arun.
Bersamaan dengan itu asistennya Putra baru saja datang, melihat Bosnya dengan rambut acak-acakan dan keadaannya gak seperti biasanya.
Dengan baju lusuh tak tertata rapi, Putra sangat kuwatir, seumur-umur baru kali ini melihat Bosnya seperti itu.
Karena hampir 10 tahun mengikuti Dimas sebagai asisten pribadinya gak pernah Dimas menujukkan sikap dan kelakuan seperti yang dilihat sekarang, meskipun berbagai hantaman dan tekanan-tekanan berbagai masalah dibidang bisnisnya.
"Pak, Pak Dimas kenapa?"
"Put, aku telah gagal Put, aku telah gagal menjaga orang yang paling disayangi Om ku Put, karena ke egoisanku ."
"aahgg...kenapa aku bisa seperti itu tadi..!!
"Dimasss...kamu bener-bener bo+oh..!"
Dimas marah dengan dirinya sendiri karena egonya membuat semua berantakan, Dimas jadi teringat mimpinya yang bertemu Eyang putrinya kalau untuk jaga Leo sebelum Omnya bertemu Eyang buyutnya.
Mengingat itu semua Dimas semakin marah dan rasa panas di dadanya tangan nya semakin mengepal sampai urat-urat ditangannya terlihat semua, langsung tanpa berpikir panjang Dimas langsung menghatamkan tangannya ke dinding batu yang ada didepan dia duduk.
"aahg....Buukkkk...
Darah segar mengalir diluka sobek ditangan Dimas, Putra yang tadi pergi mencari Dokter untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Arun, melihat Dimas dengan luka di tangan Dimas dia terkejut.
"Ya Tuhan...Pak Dimas, Pak Dimas seperti ini gak menyelesaikan masalah Pak.
"Saya sudah tanya ke Dokter apa yang harusnya kita lakukan, jalan satu-satunya menyemangati pasien Pak."
Baru Dimas tersadarkan dengan perkataan Putra.