Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pedang yang Menolak Surga
Gua itu tidak besar. Mungkin hanya seluas kamar tidur pelayan di Sekte Langit Pedang. Tapi udara di dalamnya... berbeda. Berat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menekan bahu Xiao Chen begitu ia melangkah masuk.
Hui berhenti di mulut gua. Serigala hitam itu merintih pelan, telinganya turun, ekornya melengkung ke bawah. Ia tidak mau masuk.
"Kau tunggu di sini," kata Xiao Chen.
Hui menggeram setuju, lalu duduk di samping pintu gua seperti penjaga.
Xiao Chen melangkah lebih dalam. Cahaya bulan yang masuk dari mulut gua perlahan meredup, digantikan oleh kegelapan total. Tapi simbol di tulang dadanya berdenyut, dan tiba-tiba ia bisa melihat. Bukan dengan matanya—tapi dengan sesuatu yang lain. Seolah-olah tulang-tulangnya menjadi mata kedua yang bisa merasakan bentuk dan energi di sekitarnya.
Di tengah gua, ada sebuah altar batu. Sederhana. Hanya sebongkah batu hitam setinggi lutut dengan permukaan datar. Tapi di atasnya, tertancap sebuah pedang.
Pedang itu patah.
Setengah bilahnya hilang, menyisakan sekitar dua jengkal logam berkarat yang tertancap di batu. Gagangnya terbungkus kain lusuh yang warnanya sudah tidak bisa dikenali lagi—mungkin dulu merah, mungkin dulu hitam. Tidak ada permata. Tidak ada ukiran indah. Hanya pedang patah yang tampak seperti sampah besi tua.
Tapi Xiao Chen tahu. Tulang-tulangnya tahu.
Pedang ini... hidup.
"Kau menemukannya," suara Leluhur Pertama bergema di benaknya. Kali ini suaranya terdengar... emosional. Seperti seorang kakek yang melihat cucunya menemukan mainan lamanya. "Aku bertanya-tanya apakah pedang ini masih ada. Ternyata dia memilih bersembunyi di sini."
"Pedang apa ini?" tanya Xiao Chen.
"Dia tidak punya nama. Atau lebih tepatnya... dia menolak semua nama yang kuberikan. Dia hanya mau dipanggil 'Pedang'. Tapi jika kau bertanya apa dia... dia adalah pedang yang kuciptakan dari pecahan bintang mati. Pedang yang menemaniku membunuh lima Bencana Surgawi. Dan pedang yang ikut patah saat aku akhirnya kalah."
Xiao Chen mendekati altar. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat tekanan di udara. Seperti berjalan melawan arus sungai deras.
"Dia merasakan Tulang Patah Surga di dadamu. Itu sebabnya kau bisa melihatnya. Orang biasa yang masuk ke gua ini tidak akan melihat apa pun—hanya altar kosong."
Xiao Chen mengulurkan tangan. Jari-jarinya gemetar—bukan karena takut, tapi karena tekanan energi yang luar biasa dari pedang patah itu.
Begitu ujung jarinya menyentuh gagang pedang yang terbungkus kain lusuh...
DUG!
Dunia menghilang.
---
Xiao Chen berdiri di atas lautan bintang.
Di bawah kakinya, galaksi berputar pelan. Di atas kepalanya, tidak ada langit—hanya kehampaan tak berujung. Dan di hadapannya, melayang di udara, ada sesosok wanita.
Rambutnya putih seperti salju, panjang tergerai hingga menyentuh pergelangan kaki. Matanya abu-abu—warna badai yang belum pecah. Wajahnya cantik, tapi tanpa ekspresi. Ia mengenakan gaun sederhana dari kain kasar, dan di tangannya... ada pedang patah yang sama.
"Kau," suara wanita itu dingin. Bukan suara yang keluar dari mulut, tapi suara yang langsung terdengar di dalam kepala Xiao Chen. "Kau membawa tulang tuanku."
Xiao Chen meneguk ludah. "Kau... jiwa pedang?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Xiao Chen dengan mata abu-abunya yang kosong sekaligus menusuk.
"Tuanku kalah. Aku patah. Seharusnya aku hancur bersama Surga yang mengalahkannya. Tapi aku memilih bertahan. Aku menunggumu."
"Menungguku? Kenapa?"
"Karena kau adalah dia. Bukan secara jiwa—jiwamu milikmu sendiri. Tapi tulangmu... tulangmu adalah miliknya. Warisannya. Dan selama tulang itu ada, akulah pedangmu."
Xiao Chen terdiam. Ada sesuatu dalam suara wanita itu—bukan kesetiaan buta, bukan juga keterpaksaan. Tapi... penerimaan. Seperti sungai yang akhirnya bertemu lautan setelah mengalir ribuan tahun.
"Aku bukan Leluhur Pertama," kata Xiao Chen akhirnya. "Aku hanya... Xiao Chen. Pelayan. Sampah yang dibuang ke jurang. Aku tidak tahu apakah aku pantas memegang pedang yang pernah membunuh Bencana Surgawi."
Untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajah wanita itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum—terlalu tipis untuk disebut senyum. Tapi sebuah perubahan.
"Tuanku dulu juga bukan siapa-siapa. Anak yatim piatu dari desa yang namanya bahkan tidak tercatat dalam peta. Dia menjadi Leluhur Pertama bukan karena dia terlahir istimewa. Tapi karena dia menolak berhenti."
Wanita itu melangkah maju. Jarak di antara mereka menghilang dalam sekejap. Kini ia berdiri tepat di hadapan Xiao Chen, begitu dekat hingga Xiao Chen bisa melihat retakan-retakan halus di kulit porselennya—seperti retakan pada pedang yang patah.
"Aku akan memberimu satu kesempatan, Xiao Chen. Cabut aku dari batu itu. Jika aku mengizinkanmu, aku akan menjadi milikmu. Jika tidak... kau akan mati."
"Matiku? Bagaimana—"
"Jiwamu akan kuhancurkan. Tubuhmu akan menjadi debu. Tulang Patah Surga itu akan kusimpan dan kutunggu pewaris berikutnya. Aku sudah menunggu seratus ribu tahun. Aku bisa menunggu lebih lama lagi."
Tidak ada ancaman dalam suaranya. Hanya fakta. Seperti langit yang biru, seperti malam yang gelap. Wanita ini tidak sedang menggertak.
Xiao Chen menarik napas panjang. Udara di lautan bintang ini tidak terasa di paru-parunya—karena ia tidak benar-benar bernapas di sini. Ini adalah ruang kesadaran, seperti Ruang Warisan di dalam cincin.
"Aku mengerti," katanya.
Ia menoleh ke arah pedang di tangan wanita itu. Pedang patah yang sama yang tertancap di altar batu di dunia nyata.
"Kalau begitu... boleh aku meminjamnya sebentar?"
Wanita itu menatapnya lama. Lalu, tanpa kata, ia menyerahkan pedang patah itu pada Xiao Chen.
Begitu tangan Xiao Chen menggenggam gagang pedang itu—
NYALA!
Cahaya menyilaukan. Bukan cahaya keemasan seperti Tulang Patah Surga. Tapi cahaya putih keperakan, seperti bintang yang meledak di kejauhan. Xiao Chen merasakan sesuatu mengalir dari pedang ke tangannya, ke lengannya, ke bahunya, lalu turun ke tulang dadanya.
Simbol di dadanya menyala. Dan pedang di tangannya... merespons.
Retakan di bilah pedang yang patah mulai memancarkan cahaya yang sama. Seolah-olah pedang itu dan tulang Xiao Chen sedang berbicara dalam bahasa yang tidak bisa didengar telinga manusia.
Wanita berambut putih itu menatap pemandangan itu. Matanya yang abu-abu, untuk pertama kalinya, menunjukkan sesuatu selain kehampaan.
"...Ternyata kau memang pantas," bisiknya. "Tuanku memilih dengan baik."
---
Xiao Chen membuka mata.
Ia kembali ke gua. Tangannya masih menggenggam gagang pedang patah di atas altar. Tapi kali ini, pedang itu tidak lagi menancap. Ia telah tercabut.
Dan di bilahnya yang berkarat, kini ada ukiran kecil—simbol yang sama dengan yang ada di tulang dada Xiao Chen.
"Pedang itu sekarang milikmu," suara Leluhur Pertama terdengar lagi. "Dia tidak punya nama. Tapi jika kau ingin memberinya nama... dia mungkin akan mendengarkan. Mungkin."
Xiao Chen menatap pedang patah di tangannya. Terasa ringan. Terasa hangat. Seperti memegang tangan seseorang yang sudah lama dikenal, meskipun baru pertama kali bertemu.
"Aku akan memanggilmu..." Xiao Chen berpikir sejenak. "Yue Que. Bulan Patah."
Pedang itu bergetar pelan. Bukan protes. Bukan persetujuan. Hanya... pengakuan. Seolah berkata, "Aku mendengarmu."
Xiao Chen tersenyum. Senyum keduanya sejak ia dilempar ke jurang.
"Kalau begitu, Yue Que... ayo kita tunjukkan pada dunia bahwa sesuatu yang patah... masih bisa memotong."
---
Di mulut gua, Hui tiba-tiba menegakkan telinga. Serigala hitam itu mendongak ke langit malam. Bulan sabit menggantung di sana, tenang dan dingin.
Hui melolong.
Dan di kejauhan, di Aula Utama Sekte Langit Pedang, Tetua Ma yang sedang bersulang tiba-tiba merasakan sesuatu. Sebuah getaran halus di udara. Seperti gempa kecil yang hanya dirasakan oleh mereka yang cukup peka.
Ia menoleh ke arah jendela. Ke arah Hutan Bisu.
"Aneh," gumamnya. "Sepertinya... ada sesuatu yang bangun."
Tapi ia segera mengabaikannya. Perayaan masih berlangsung. Anggur masih mengalir.
Malam itu, Sekte Langit Pedang tidur dengan nyenyak.
Tidak tahu bahwa di dalam hutan terlarang, seorang pemuda dengan pedang patah baru saja memulai langkah pertamanya menuju Langit.