Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Roda motor tua Agus berputar lambat meninggalkan halaman gudang material yang berdebu. Di belakangnya, suara deru mesin ekskavator masih terdengar, seolah sedang meruntuhkan sisa-sisa kenangan dua tahun kerja kerasnya di sana. Agus tidak menoleh lagi. Ia tidak sanggup melihat teman-teman sejawatnya yang masih berdiri mematung di bawah pohon waru, menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan syukur karena bukan mereka yang dipecat hari ini.
Udara siang itu terasa sangat kering dan panas, seolah matahari sengaja memusatkan seluruh energinya tepat di atas kepala Agus. Di dalam saku celana jinsnya yang kaku karena kerak semen, amplop cokelat pemberian Pak Jono terasa sangat tipis. Agus meraba amplop itu dengan ujung jarinya yang kasar. Ia tidak perlu membukanya untuk tahu berapa isinya, dari ketebalannya, ia menduga uang itu tidak lebih dari tiga ratus ribu rupiah, sisa upah minggu ini ditambah uang kebijaksanaan yang jumlahnya sangat jauh dari kata cukup.
"Gus, pelan-pelan saja. Jalanan banyak yang berlubang," Lukman mengingatkan dari balik kemudi motor. Ia bisa merasakan tubuh Agus yang bersandar di punggungnya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena menahan emosi yang meluap.
Agus hanya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu. Helmnya yang sudah kusam terasa sangat berat, seolah beban pikirannya ikut menambah massa benda plastik itu. Setiap kali motor menghantam lubang kecil, pergelangan kaki kirinya memberikan protes keras dalam bentuk rasa nyeri yang menyengat hingga ke ubun-ubun. Namun, rasa sakit itu kini terasa sekunder. Fokus Agus terpecah antara rasa bersalah pada orang tuanya dan rasa malu yang amat sangat pada Nor Rahma.
Tiga ratus ribu.
Agus menghitung di dalam hati. Angka itu harus ia bagi untuk makan ibunya selama di rumah sakit, biaya bensin Lukman yang sudah bolak-balik menolongnya, dan mungkin sisa sedikit untuk obat tambahan ayahnya yang tidak ditanggung oleh rumah sakit. Setelah itu, ia benar-benar akan menjadi laki-laki tanpa penghasilan. Di sisi lain, ia berutang dua juta rupiah pada Rahma, uang yang ia sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana cara mengembalikannya sekarang.
"Man, berhenti sebentar di depan warung itu," bisik Agus saat mereka melewati deretan kios kecil di pinggir jalan raya menuju rumah sakit.
Lukman menghentikan motornya. Agus turun dengan sangat perlahan, menyeret kaki kirinya yang sudah membiru gelap. Ia merogoh amplop cokelat itu, mengambil selembar uang lima puluh ribu rupiah, lalu menyodorkannya pada Lukman.
"Buat bensinmu, Man. Dan tolong, beli makan siang buat kamu sendiri. Kamu sudah belum makan dari pagi karena mengurusku," ucap Agus.
Lukman menatap uang itu, lalu menatap wajah Agus yang pucat. "Simpan saja, Gus. Kamu lebih butuh uang ini. Aku masih ada sedikit simpanan di rumah."
"Ambil, Man. Jangan buat aku merasa semakin tidak berguna. Kamu sudah mengantar aku ke sana kemari. Kalau kamu tidak ambil, aku tidak mau minta tolong lagi padamu," tegas Agus. Suaranya sedikit bergetar, menunjukkan sisa-sisa harga diri yang sedang ia pertahankan mati-matian.
Dengan berat hati, Lukman menerima uang itu. "Terima kasih, Gus. Aku akan beli nasi bungkus tiga, satu buat kita, dua buat ibumu dan bapakmu di dalam nanti."
Agus hanya mengangguk, lalu kembali naik ke motor. Perjalanan dilanjutkan menuju RSUP. Semakin dekat dengan gedung rumah sakit yang megah itu, kecemasan Agus semakin memuncak. Ia membayangkan wajah ibunya yang sedang menunggu dengan penuh harap, mengira anaknya pulang membawa kabar baik soal upah mingguan untuk menyambung hidup mereka di sana.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Agus duduk sejenak di atas motor, tidak langsung turun. Ia merapikan amplop cokelat itu, menyembunyikannya di saku terdalam celananya, lalu menutupinya dengan kaos singletnya yang kusam. Ia harus berbohong. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan soal pemutusan kerja ini kepada ibunya, setidaknya tidak hari ini. Ibunya sudah cukup menderita melihat bapaknya, ia tidak ingin menambah beban itu dengan kabar bahwa anaknya kini adalah pengangguran.
"Gus, kalau kamu tidak kuat, biar aku yang bicara sama ibumu," tawar Lukman saat membantu Agus turun dari motor.
"Jangan, Man. Biar aku saja. Dan tolong, jangan sekali-kali bahas soal Pak Jono atau pemecatan itu di depan Ibu. Biar dia pikir aku cuma ambil upah biasa," pesan Agus dengan tatapan mata yang sangat serius.
Mereka berjalan memasuki gedung rumah sakit. Aroma disinfektan kembali menyergap, membuat Agus merasa mual. Di lobi yang ramai, ia kembali menjadi pusat perhatian, seorang pemuda kotor dengan kaki pincang yang berjalan menggunakan kayu jemuran sebagai penyangga. Agus tidak peduli lagi. Dunianya sudah terlalu hancur untuk sekadar memikirkan pandangan orang lain.
Saat mereka sampai di depan ruang tunggu ICU lantai tiga, ibu agus langsung berdiri dari kursinya. Wajah ibunya tampak sedikit lebih cerah dibandingkan tadi pagi, namun tetap ada kecemasan yang menggantung di matanya.
"Gus, sudah kembali? Bagaimana di gudang? Pak Jono tidak marah kan kamu tinggal kemarin?" tanya ibu agus bertubi-tubi sambil memegang lengan Agus.
Agus menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat tidak alami. "Lancar, Bu. Pak Jono mengerti kondisi kita. Ini... Agus dapat upah mingguan," ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya pada ibunya.
Ibu agus menerima uang itu dengan rasa syukur yang luar biasa. "Alhamdulillah... ini cukup buat makan kita beberapa hari ke depan, Gus. Bapakmu tadi sempat sadar lagi, dokter bilang perkembangannya bagus, meski alat-alatnya masih harus dipasang."
Agus mengangguk, merasa dadanya semakin sesak. Uang dua ratus ribu yang ia berikan pada ibunya adalah hampir seluruh isi amplop cokelat itu. Kini di sakunya hanya tersisa beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Ia baru saja memberi harapan palsu pada ibunya bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di balik sakunya, surat pemecatan itu seolah sedang membakar kulit pahanya.
"Nak Rahma tadi telepon ke nomor Lukman, katanya dia sedang di jalan mau ke sini lagi membawa makanan buat kita," ucap ibu agus lagi.
Jantung Agus seolah berhenti berdetak. Rahma akan ke sini lagi? Dalam kondisinya yang hancur begini? Agus melihat ke arah tangannya yang masih kusam, lalu melihat ke arah ibunya. Ia teringat hutang dua juta itu. Ia merasa seperti seorang penipu besar. Ia dicintai oleh wanita sempurna karena dianggap sebagai pekerja keras yang punya masa depan, namun kenyataannya ia baru saja ditendang dari pekerjaannya yang paling kasar sekalipun.
"Gus, kenapa melamun? Kamu belum makan kan? Itu Lukman sudah bawa nasi," tegur ibunya.
"Iya, Bu. Agus makan dulu," jawab Agus hambar.
Ia duduk di kursi besi koridor, membuka bungkus nasi yang dibawa Lukman. Aroma nasi uduk itu biasanya sangat menggoda, namun sekarang baunya terasa seperti debu semen di gudang. Ia menyuap nasi itu perlahan, mengunyahnya tanpa rasa. Matanya menatap ke arah lift, menantikan kedatangan Nor Rahma dengan perasaan yang campur aduk antara rindu yang sangat dalam dan ketakutan yang luar biasa.
Agus menyadari, setiap detik yang ia lalui di rumah sakit ini adalah kebohongan yang ia tumpuk di atas penderitaan. Ia menyembunyikan kakinya yang hancur, ia menyembunyikan status penganggurannya, dan ia menyembunyikan ketidakmampuannya untuk membalas budi pada Rahma.
Ia meraba ponselnya di saku, teringat bahwa benda itu masih mati total. Ia butuh menghidupkannya, tapi di sisi lain, ia takut melihat apa yang akan dikatakan Rahma selanjutnya. Di lorong rumah sakit yang dingin ini, Agus merasa sedang berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis, di bawahnya adalah jurang kemiskinan yang siap menelannya, dan di depannya adalah cinta yang terasa semakin mustahil untuk ia pertahankan dengan cara yang jujur.
Malam akan segera tiba, dan Agus tahu, kegelapan yang sesungguhnya baru saja akan menyelimuti hidupnya.