NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Pergi Sebelum Terlambat

Malam setelah dua garis itu muncul, dunia Bella terasa berubah.

Apartemen Livia yang semula hanya menjadi tempat singgah sementara, kini terasa seperti satu-satunya ruang aman yang masih bisa ia pijak tanpa harus menahan sesak di dada. Lampu ruang tengah menyala redup, membiaskan cahaya lembut ke sofa tempat Bella duduk diam dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Di atas meja, secangkir teh hangat yang dibuatkan Livia sudah mulai dingin, nyaris tidak tersentuh sejak satu jam lalu.

Pikirannya terlalu penuh untuk sekadar menikmati hangatnya minuman.

Ia hamil.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.

Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Dominic di depan pintu hotel malam itu. Tatapan panik, suara yang memanggil namanya, dan rasa sakit yang kembali hidup seketika.

Namun kini ada sesuatu yang jauh lebih besar dari luka itu.

Tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya yang masih rata. Tidak ada perubahan yang terlihat, namun Bella merasa ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang membuat setiap keputusan kini tidak lagi hanya tentang dirinya seorang.

Ia menunduk, menahan napas yang tiba-tiba terasa berat.

“Liv…” suaranya pelan, nyaris berbisik.

Livia yang sedang membereskan beberapa barang di meja makan segera menoleh. “Hm?”

Bella mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih sedikit sembab, tapi sorotnya jauh lebih tenang dibanding pagi tadi.

“Aku harus pergi.”

Kalimat itu membuat Livia berhenti bergerak.

Untuk beberapa detik, ruangan hanya dipenuhi kesunyian dan suara kendaraan samar dari luar jendela apartemen.

“Pergi?” ulang Livia hati-hati, lalu mendekat dan duduk di sebelah Bella. “Maksud kamu… pergi dari rumah?”

Bella menggeleng pelan.

“Bukan cuma dari rumah.”

Tatapannya beralih ke jendela besar yang memperlihatkan lampu-lampu kota Australia yang berkelip di malam hari.

“Aku harus pergi dari sini.”

Livia terdiam.

Ia bisa melihat bahwa keputusan itu bukan lahir dari emosi sesaat. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam di wajah Bella—kelelahan yang menumpuk terlalu lama, luka yang belum sembuh, dan naluri seorang ibu yang baru tumbuh.

“Kenapa secepat ini?” tanya Livia lembut.

Bella tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit.

“Karena kalau aku tetap di sini, aku takut aku lemah.”

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Kalau Dominic tahu aku hamil… aku takut semuanya jadi lebih rumit.”

Livia menatap sahabatnya lama.

Bella menunduk, jemarinya kembali mengusap perutnya dengan gerakan yang nyaris tidak sadar.

“Aku nggak mau dia kembali karena anak ini.”

Kalimat itu keluar jujur, tanpa pertahanan.

“Aku nggak mau dia datang karena rasa bersalah, atau karena tanggung jawab.” Suara Bella mulai bergetar, namun tetap tegas. “Kalau dia kembali, aku ingin itu karena dia benar-benar memilih aku. Bukan karena ada bayi di antara kami.”

Mata Livia melembut.

Ia menggenggam tangan Bella erat.

“Kamu udah mikir sejauh itu?”

Bella mengangguk perlahan.

“Sejak tadi siang.”

Malam itu mereka duduk bersama di depan laptop. Livia membantu membuka beberapa situs penerbangan, sementara Bella menatap layar dengan dada yang terus berdebar. Setiap kota yang muncul terasa seperti kemungkinan hidup baru.

Sydney.

Melbourne.

Perth.

Namun saat nama Sydney muncul, Bella berhenti.

Ada seorang teman kuliahnya dulu yang tinggal di sana, seseorang yang pernah beberapa kali menghubunginya untuk menawarkan pekerjaan di sebuah penerbit kecil.

Mungkin itu bisa menjadi awal.

Tempat yang cukup jauh.

Cukup besar untuk menyembunyikan dirinya.

Cukup baru untuk memulai hidup tanpa bayang-bayang Dominic.

“Aku pilih Sydney,” katanya pelan.

Livia menoleh. “Yakin?”

Bella mengangguk.

“Di sana aku punya seseorang yang bisa bantu sementara.”

Setelah tiket berhasil dipesan untuk dua hari lagi, Bella menatap layar cukup lama. Ada rasa takut yang perlahan menjalar, namun bersamaan dengan itu, ada perasaan lega yang tidak pernah ia rasakan sejak malam di hotel.

Setidaknya kini ia punya arah.

---

Di sisi lain kota, Dominic duduk sendirian di ruang tengah rumah mereka.

Rumah itu terasa lebih sepi dari sebelumnya.

Tidak ada suara langkah Bella.

Tidak ada lampu kamar yang menyala.

Tidak ada sosok kecil yang biasa menunggu di sofa dengan buku di tangan.

Dominic menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap ruang yang terasa asing.

Baru kali ini ia benar-benar merasakan bagaimana kosongnya rumah tanpa Bella.

Ponselnya berada di tangan, ruang obrolan dengan istrinya masih terbuka. Puluhan pesan yang ia kirim sejak kemarin hanya berakhir dengan tanda dibaca tanpa jawaban.

Ia mengusap wajahnya kasar.

Rasa frustrasi berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata.

Takut.

Takut bahwa Bella mungkin benar-benar pergi.

Takut bahwa semua kesalahan yang selama ini ia anggap masih bisa diperbaiki ternyata telah melukai terlalu dalam.

Saat itulah ponselnya kembali berdering.

Nama Diana muncul di layar.

Dominic menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat.

“Apa lagi?”

Suara Diana terdengar ringan di seberang, seolah tidak ada yang salah. “Aku cuma pengin tahu keadaan kamu.”

Dominic mengatupkan rahangnya.

“Jangan hubungi aku lagi.”

Sunyi sejenak.

Lalu Diana tertawa kecil.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Karena Bella?”

Dominic memejamkan mata.

“Karena aku sudah terlalu jauh.”

Nada suaranya rendah, penuh penyesalan yang bahkan dirinya sendiri baru menyadarinya.

“Aku nggak mau ketemu kamu lagi.”

Telepon ditutup tanpa menunggu jawaban.

Namun hati Dominic justru semakin tidak tenang.

Karena semua itu terasa terlambat.

---

Keesokan paginya Bella kembali merasakan mual yang lebih kuat. Ia hampir tidak sempat sampai ke kamar mandi sebelum tubuhnya memaksa mengeluarkan semua yang ada di perut.

Livia yang mendengar suara dari dapur langsung berlari menghampiri.

Wajah Bella terlihat pucat saat keluar, namun sorot matanya justru semakin mantap.

“Aku harus periksa dokter sebelum pergi,” katanya pelan.

Dan siang itu, hasil pemeriksaan klinik semakin menegaskan semuanya.

Kehamilan Bella masih sangat awal, namun kondisinya baik.

Saat keluar dari klinik, Bella berdiri cukup lama di depan gedung sambil memegang map hasil pemeriksaan.

Angin sore menerpa wajahnya lembut.

Ia memandang langit, lalu perlahan menunduk, tangannya kembali menyentuh perut.

“Kita pergi, ya,” bisiknya.

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Bukan hanya untuk dirinya.

Tapi untuk bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Malamnya, saat Dominic kembali mencoba datang ke apartemen Livia, pintu tidak dibuka.

Ia berdiri cukup lama di depan sana, mengetuk beberapa kali, memanggil nama Bella, namun yang ia dapat hanya keheningan.

Di balik pintu, Bella berdiri mematung dengan tangan menempel di perut, menahan air mata yang hampir jatuh.

Ia mendengar suara pria itu.

Terlalu jelas.

Namun kali ini, ia memilih diam.

Karena jika pintu itu dibuka, ia takut seluruh keberaniannya runtuh.

Dan dua hari lagi, ia akan pergi.

Jauh.

Sebelum semuanya terlambat.

END BAB 15 ✨

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!