"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Evan belum kembali dari rumah Diana. Dan meski pekerjaan pagi jadi lebih ringan, tetap saja Melisa merasa ada yang kurang. Kosan itu terasa sunyi. Tidak ada tangisan kembar yang bersahutan, tidak ada momen rebutan mainan, tidak ada suara tawa renyah dua bayi mungil yang memenuhi ruang hatinya.
Dengan pelan, ia menyeka tubuh Ethan yang baru selesai dimandikan. Bayi mungil itu tampak sedikit rewel, menggeliat tak tenang, mungkin karena gusinya kembali nyeri akibat tumbuh gigi. Namun pelukan Melisa dan nyanyian kecilnya cukup membuat Ethan kembali tenang di atas pangkuannya.
Saat ia sedang sibuk melipat selimut kecil dan menyiapkan tas perlengkapan Ethan, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, disusul suara yang sudah sangat akrab di telinganya.
“Mel, lo di dalam?”
Melisa segera membuka pintu dengan ekspresi terkejut dan sedikit bingung. “Loh, Riki? Tumben pagi-pagi udah ke sini.”
Riki berdiri dengan senyum lebar, kaus abu-abu dan celana jeans kasual yang rapi. Rambutnya masih sedikit basah seperti baru mandi.
“Iya, gue mau jemput Ethan, boleh ya?” ujarnya to the point.
“Jemput Ethan?” dahi Melisa mengernyit. “Mau diajak ke mana?”
“Hari ini gue mau ajak dia main ke rumah. Kebetulan nyokap bokap gue pengen banget ketemu bayi yang sering gue ceritain. Gue pikir mumpung lo kerja juga hari ini, jadi sekalian aja gue bantu jagain Ethan.”
Melisa refleks melirik ke arah Ethan yang sedang menggigiti mainannya di atas kasur. Hatinya ragu. Bukan karena tak percaya Riki—justru Riki termasuk salah satu orang yang paling dia percaya. Tapi Ethan sedang rewel beberapa hari ini karena tumbuh gigi. Ia khawatir jika Riki kerepotan.
“Emangnya nggak merepotkan, Ki? Ethan lagi agak rewel soalnya. Lagi tumbuh gigi katanya, jadi suka tiba-tiba nangis sendiri.”
Tapi Riki hanya mengangkat bahu santai. “Tenang aja. Kakak gue kan dokter. Dia ngerti banget soal beginian. Lagian, gue juga udah cukup terlatih ngurusin bayi, berkat lo dan Diana yang suka nyuruh gue gendongin mereka,” ucapnya sambil terkekeh.
Melisa tersenyum kecil, masih terlihat ragu, tapi tak mampu menolak kebaikan Riki.
“Gue ketemu Diana kemarin,” lanjut Riki tiba-tiba. “Lagi jalan sama Evan dan keluarganya. Kayaknya seru banget, makanya gue juga kepikiran pengin bawa Ethan keluar sesekali. Biar dia juga lihat dunia luar, nggak cuma daycare.”
Melisa tertawa kecil, tapi lalu menatap Ethan dengan penuh kasih sayang. Ia tahu Riki benar. Anak-anak itu juga butuh udara segar, pengalaman baru, dan cinta dari orang-orang selain dirinya.
“Yaudah deh. Tapi kalau dia rewel, langsung kabarin aku, ya. Jangan ditunda.”
“Siap, Bu!” Riki menjawab sambil memberi hormat main-main, lalu dengan sigap menggendong Ethan ke pelukannya.
Bayi itu sempat mengerjap, lalu menguap kecil sambil bersandar di dada Riki. Seolah tahu, bahwa pria itu bukan orang asing—melainkan seseorang yang sudah sering hadir dan memberi kehangatan.
Melisa menyerahkan tas kecil berisi perlengkapan Ethan, lengkap dengan botol susu, tisu basah, dan mainan kesukaan si kecil.
“Nanti sore gue balikin ya. Aman kok. Gue jamin Ethan bakal senyum terus hari ini,” ujar Riki sebelum melangkah pergi.
Melisa menatap mereka dari ambang pintu, lalu menutup pintu perlahan. Di balik pintu yang kini kembali sunyi, ia menarik napas panjang, menguatkan diri untuk memulai hari.
Meski ada rasa cemas, tapi juga ada rasa hangat yang terselip—bahwa ternyata, tidak semua beban harus ia tanggung sendiri. Ada orang-orang yang mulai hadir, perlahan tapi pasti, untuk membantunya menjaga cahaya kecil dalam hidupnya.
***
Pak Dani—ayah Melisa—sedang memegang secarik kertas catatan pengeluaran, sementara istrinya, Bu Risma, duduk di sampingnya sambil memintal benang untuk membuat taplak meja pesanan warga.
“Alhamdulillah, Buk,” ucap sang bapak pelan tapi penuh semangat. “Uangnya udah cukup. Kalau nggak ada halangan, bulan depan kita bisa jenguk Ica ke kota.”
Mata Bu Risma langsung berkaca-kaca. Ia menghentikan tangannya yang sedang memintal dan menatap suaminya dengan raut haru bercampur bahagia.
“Ya Allah, pak… ibu sudah kangen sekali sama Ica. Rasanya udah hampir tiga tahun kita nggak lihat dia. Waktu itu pas dia pamit mau kuliah, ibu cuma bisa peluk sebentar... habis itu dia langsung naik bus.”
Mereka berdua terdiam sejenak, larut dalam kenangan dan kerinduan yang menyesak di dada. Setiap malam, Bu Risma selalu berdoa agar anak perempuannya itu baik-baik saja di kota besar. Ia tahu, Melisa bukan tipe yang suka banyak cerita. Tapi sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan kalau ada banyak hal yang disembunyikan anaknya.
Pak Dani tersenyum sambil menyandarkan tubuh ke kursi rotan tua. “Nanti kita bikin kejutan aja, ya Buk. Nggak usah bilang-bilang dulu sama dia. Biar Ica seneng pas kita tiba-tiba datang.”
Bu Risma mengangguk penuh semangat. “Iya, pak. Lagi pula kita masih simpan alamat kosannya yang dulu dia tulis di surat waktu awal kuliah, kan? Kita tinggal tanya orang sana. Insya Allah ketemu.”
Angin sore berhembus pelan, menerpa wajah mereka yang mulai keriput namun tak kehilangan cahaya cinta orangtua. Semangat mereka yang sederhana tapi tulus, lahir dari cinta mendalam pada seorang anak yang selama ini mereka banggakan diam-diam.
Namun tanpa mereka sadari, kejutan yang sedang mereka rencanakan dengan sepenuh hati itu… akan segera berubah menjadi kejutan besar bagi mereka sendiri.
Karena saat mereka akhirnya sampai di kota nanti, mereka tak hanya akan melihat Melisa sebagai seorang mahasiswi. Mereka juga akan menyaksikan sisi lain dari kehidupan anak mereka—sebuah kenyataan mengejutkan yang tak akan pernah mereka bayangkan.