Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di desa
Embun pagi pada dedaunan berjatuhan silih berganti seiring matahari pagi menyapa pedesaan yang masih sangat asri. Udaranya terasa segar, mampu menenangkan hati seorang wanita yang sedang menatap melalui jendela mobil.
Sesekali helaan napas terdengar, mengundang atensi sopir angkot berusia setengah abad yang duduk di sampingnya. Kebetulan wanita itu duduk di depan karena penumpang titipan.
"Cucunyaki Hj Ira?"
Rinjani menatap sopir angkot dengan kening mengerut sebelum menganggukkan kepalanya.
"Iya." Disertai angukan kepala.
"Pantas tadi Hj Ira wanti-wanti untuk suruhki duduk di depan dek."
Rinjani hanya tersenyum dan kembali menatap hamparan sawah yang tidak lagi hijau. Sekarang sepertinya musim panen dilihat banyak orang di sawah.
"Cantik sekali ternyata cucunya," lanjut sopir angkat tersebut.
Rinjani memilih mengabaikan, sembari menikmati orang di sawah yang tidak jauh dari jalan. Pikirannya berkelana beberapa jam sebelum pergi dari rumah.
"Hidup nggak melulu tentang menikah Yah. Kenapa sih pembahasannya itu-itu mulu!" bentak Rinjani dengan mata memerah.
Pulang-pulang setelah patah hati ia masih saja mendengar gertakan ayahnya.
"Usiamu itu sudah nggak muda lagi."
"Ya terus kenapa? Usia tua dan belum nikah nggak bakal bikin mati kalau napasnya masih ada!"
"Udahlah Rinjani nggak mau tinggal sama ayah lagi!"
Dan detik itu juga Rinjani mengemas barang-barangnya. Anehnya orang tuanya tidak ada yang menahan.
"Nggak ditahan?" tanya Rinjani setelah berada di ambang pintu. "Jani beneran pergi nih. Pergi jauh banget naik pesawat."
"Silahkan, Ayah dan ibu nggak butuh perawan tua."
"Aish sial!" Rinjani tiba-tiba merasa kesal mengingat sikap orang tuanya saat dia memutuskan minggat dari rumah.
"Sudah sampai Dek."
"Terimakasih."
Rinjani langsung turun dari angkot tanpa mengambil satu pun barangnya. Dia menatap nanar bangunan dua lantai dengan halaman cukup luas di depannya. Hanya saja pagarnya hanya sebatas pinggang.
Rumah itu tampak tua seperti pemiliknya.
"Nenek!" teriak Rinjani berlari memeluk wanita berusia kurang lebih 80 tahun. "Jani kangen nenek."
"Cucu cantik nenek akhirnya tiba juga."
"Nenek tahu darimana kalau Jani bakal pulang? Sampai mengirim sopir angkot itu!" Menunjuk sopir yang menurunkan kopernya susah payah.
Tadi saat di halte Rinjani terkejut ketika neneknya menelepon dan mengatakan sudah menyewa sopir untuk menjemputnya, sebab dia tidak mengabari sebelumnya bahwa akan ke desa.
"Ayah kamu."
"Loh jadi ayah tahu?"
Pantas saja saat mengatakan kabur ayah dan ibunya tampak santai, ternyata mereka bisa membaca pikirannya.
Karena lelah perjalanan jauh, Rinjani langsung tidur setelah sampai di rumah neneknya. Dan baru bangun ketika matahari hampir terbenam.
"Nenek mana Bu?" tanya Rinjani pada pengurus rumah neneknya.
"Hj Ira ke masjid. Butuhki sesuatu?"
"Saya lapar."
"Ada makanan tapi dinginmi. Biarmi?"
"Saya nggak mau makan mie."
"Bukan makan mie, tapi makanannya dinginmi."
Rinjani menghela napas panjang dan kembali masuk ke kamar ayahnya. Berbaring sambil memainkan ponselnya. Terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari Irham.
"Saya sudah sampai di desa. Rencana sebelumnya tidak perlu, ternyata jaringan di desa ini bagus," ujar Rinjani pada Zira di seberang telepon. "Saya akan menghandel pekerjaan dari sini untuk sementara waktu."
"Siap Bu. Semoga liburan ke rumah nenek bu Rinjani berjalan baik."
"Semoga saja," gumam Rinjani.
Dia membuka jendela kamar ayahnya yang mengakse halaman depan rumah nenek. Kebetulan rumah neneknya berada paling ujung selebihnya persawahan.
"Benar-benar tidak ada suara keributan," gumam Rinjani. Lagi-lagi menghela napas panjang.
Dia kembali menemui pengurus rumah. "Masjidnya di mana Bu?" tanyanya.
"Tidak jauhji dari sini. Lurus maki terus, nanti kalau ketemuki pertigaan belok kiriki, nah di saja masjidnya."
Rinjani pun mengikuti perkataan pengurus rumah. Ia sedikit mengerti beberapa bahasa makassar tapi sulit untuk mengucapkannya.
Ia terus berjalan di depan rumah para warga yang tertutup rapat. Sesekali tersenyum pada ibu-ibu atau bapak-bapak yang duduk di balai-balai dibawah pohon mangga.
"Cucuna kapang injo Hj Ira. Injo battua risumpaeng."
"Oh iyo, nakanaji memang hj Ira la niaki cucunna."
Rinjani mendengar jelas percakapan tetangga neneknya, tapi tidak satupun bisa dia artikan.
"Sengkako mae nak."
Rinjani meringis dan semakin mempercepat langkahnya. Dia berbelok di pertigaan dan menemukan neneknya berjalan dengan seorang pemuda.
"Jani sini Nak."
Ia berjalan cepat menuju neneknya.
"Oh inimi cucuta hj?"
"Iya inimi cucuku, cantik toh cucuku Ikram?"
"Iye cantik Hj."
"Ikhram." Pemuda itu mengulurkan tangannya lebih dulu.
"Saya nggak nanya nama kamu siapa."
Pemuda itu tertawa kecil. "Sekke sekali cucuta hj."
"Kamu meledek saya?" Rinjani memelototkan matanya.
"Nggak, mana mungkin saya berani meledek cucu hj Ira." Ikhram mengulum senyum.
.
.
.
Konfliknya tipis-tipis kok🥰
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
plis ka jangan bikin heboh deeh aah