NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di desa

Embun pagi pada dedaunan berjatuhan silih berganti seiring matahari pagi menyapa pedesaan yang masih sangat asri. Udaranya terasa segar, mampu menenangkan hati seorang wanita yang sedang menatap melalui jendela mobil.

Sesekali helaan napas terdengar, mengundang atensi sopir angkot berusia setengah abad yang duduk di sampingnya. Kebetulan wanita itu duduk di depan karena penumpang titipan.

"Cucunyaki Hj Ira?"

Rinjani menatap sopir angkot dengan kening mengerut sebelum menganggukkan kepalanya.

"Iya." Disertai angukan kepala.

"Pantas tadi Hj Ira wanti-wanti untuk suruhki duduk di depan dek."

Rinjani hanya tersenyum dan kembali menatap hamparan sawah yang tidak lagi hijau. Sekarang sepertinya musim panen dilihat banyak orang di sawah.

"Cantik sekali ternyata cucunya," lanjut sopir angkat tersebut.

Rinjani memilih mengabaikan, sembari menikmati orang di sawah yang tidak jauh dari jalan. Pikirannya berkelana beberapa jam sebelum pergi dari rumah.

"Hidup nggak melulu tentang menikah Yah. Kenapa sih pembahasannya itu-itu mulu!" bentak Rinjani dengan mata memerah.

Pulang-pulang setelah patah hati ia masih saja mendengar gertakan ayahnya.

"Usiamu itu sudah nggak muda lagi."

"Ya terus kenapa? Usia tua dan belum nikah nggak bakal bikin mati kalau napasnya masih ada!"

"Udahlah Rinjani nggak mau tinggal sama ayah lagi!"

Dan detik itu juga Rinjani mengemas barang-barangnya. Anehnya orang tuanya tidak ada yang menahan.

"Nggak ditahan?" tanya Rinjani setelah berada di ambang pintu. "Jani beneran pergi nih. Pergi jauh banget naik pesawat."

"Silahkan, Ayah dan ibu nggak butuh perawan tua."

"Aish sial!" Rinjani tiba-tiba merasa kesal mengingat sikap orang tuanya saat dia memutuskan minggat dari rumah.

"Sudah sampai Dek."

"Terimakasih."

Rinjani langsung turun dari angkot tanpa mengambil satu pun barangnya. Dia menatap nanar bangunan dua lantai dengan halaman cukup luas di depannya. Hanya saja pagarnya hanya sebatas pinggang.

Rumah itu tampak tua seperti pemiliknya.

"Nenek!" teriak Rinjani berlari memeluk wanita berusia kurang lebih 80 tahun. "Jani kangen nenek."

"Cucu cantik nenek akhirnya tiba juga."

"Nenek tahu darimana kalau Jani bakal pulang? Sampai mengirim sopir angkot itu!" Menunjuk sopir yang menurunkan kopernya susah payah.

Tadi saat di halte Rinjani terkejut ketika neneknya menelepon dan mengatakan sudah menyewa sopir untuk menjemputnya, sebab dia tidak mengabari sebelumnya bahwa akan ke desa.

"Ayah kamu."

"Loh jadi ayah tahu?"

Pantas saja saat mengatakan kabur ayah dan ibunya tampak santai, ternyata mereka bisa membaca pikirannya.

Karena lelah perjalanan jauh, Rinjani langsung tidur setelah sampai di rumah neneknya. Dan baru bangun ketika matahari hampir terbenam.

"Nenek mana Bu?" tanya Rinjani pada pengurus rumah neneknya.

"Hj Ira ke masjid. Butuhki sesuatu?"

"Saya lapar."

"Ada makanan tapi dinginmi. Biarmi?"

"Saya nggak mau makan mie."

"Bukan makan mie, tapi makanannya dinginmi."

Rinjani menghela napas panjang dan kembali masuk ke kamar ayahnya. Berbaring sambil memainkan ponselnya. Terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari Irham.

"Saya sudah sampai di desa. Rencana sebelumnya tidak perlu, ternyata jaringan di desa ini bagus," ujar Rinjani pada Zira di seberang telepon. "Saya akan menghandel pekerjaan dari sini untuk sementara waktu."

"Siap Bu. Semoga liburan ke rumah nenek bu Rinjani berjalan baik."

"Semoga saja," gumam Rinjani.

Dia membuka jendela kamar ayahnya yang mengakse halaman depan rumah nenek. Kebetulan rumah neneknya berada paling ujung selebihnya persawahan.

"Benar-benar tidak ada suara keributan," gumam Rinjani. Lagi-lagi menghela napas panjang.

Dia kembali menemui pengurus rumah. "Masjidnya di mana Bu?" tanyanya.

"Tidak jauhji dari sini. Lurus maki terus, nanti kalau ketemuki pertigaan belok kiriki, nah di saja masjidnya."

Rinjani pun mengikuti perkataan pengurus rumah. Ia sedikit mengerti beberapa bahasa makassar tapi sulit untuk mengucapkannya.

Ia terus berjalan di depan rumah para warga yang tertutup rapat. Sesekali tersenyum pada ibu-ibu atau bapak-bapak yang duduk di balai-balai dibawah pohon mangga.

"Cucuna kapang injo Hj Ira. Injo battua risumpaeng."

"Oh iyo, nakanaji memang hj Ira la niaki cucunna."

Rinjani mendengar jelas percakapan tetangga neneknya, tapi tidak satupun bisa dia artikan.

"Sengkako mae nak."

Rinjani meringis dan semakin mempercepat langkahnya. Dia berbelok di pertigaan dan menemukan neneknya berjalan dengan seorang pemuda.

"Jani sini Nak."

Ia berjalan cepat menuju neneknya.

"Oh inimi cucuta hj?"

"Iya inimi cucuku, cantik toh cucuku Ikram?"

"Iye cantik Hj."

"Ikhram." Pemuda itu mengulurkan tangannya lebih dulu.

"Saya nggak nanya nama kamu siapa."

Pemuda itu tertawa kecil. "Sekke sekali cucuta hj."

"Kamu meledek saya?" Rinjani memelototkan matanya.

"Nggak, mana mungkin saya berani meledek cucu hj Ira." Ikhram mengulum senyum.

.

.

.

Konfliknya tipis-tipis kok🥰

1
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
Rohmi Yatun
semangat ikram💪👍
Teh Yen
ah gila banget tuh c Ardian ,,Jani engg.berpikir logis kah ,, seandainya itu ank Ardian klu kamu blng ke ikram dia pasti mau tetap bersamamu jani bertanggung jawab d membesarkan ank bersama sama Jani jadi jangan jd bodoh Karena ancaman Adrian dong
Teh Yen
apa benar Jani hamil tp kan Jani d ikram.jg pernah berhubungan apa mungkin itu anknya ikram bukan c Ardian
Arsyad Algifari.
itu pasti bukan anak Ardian .tapi anak Ikhram ..kenapa Jani ga berpikir dulu sih itu udah 4 bln berlalu
Arsyad Algifari.
benda apa sih yang di berikan Ardian ke Jani apa Jani hamil .tapi udah 4 bln berlalu kan dan sete menikah jadi 6 bln berlalu .apa video panas mereka ya . mungkin Ardian memberikan flashdisk
sryharty
semoga itu bukan anak kamu Agus tapi anak iklan,,
Rohmi Yatun
😭😭kasihan banget bang ikram..
Rini
wah parah
sryharty
kalo Jani hamil ya pasti anak si iklan dong,,kan Nina ninu sama si Agus Adrian nya udah lama,,kalo hamilnya sama Agus harusnya perut Jani udah besar,,
plis ka jangan bikin heboh deeh aah
Rohmi Yatun
apa jgn2 jani hamil anak ardian makanya dia minta cerai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!