Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Lin Mei berjalan masuk ke arah dapur.
Xiao Yan mulai mengangkat kursi-kursi kayu yang berantakan di trotoar dan menyusunnya di atas meja. Gerakannya sangat presisi. Dia mengangkat dua kursi sekaligus dengan satu tangan, memastikan tidak ada suara benturan kayu yang berisik.
Sret. Tak.
Setelah selesai merapikan bagian depan, Xiao Yan menarik rolling door kedai hingga tertutup rapat. Dia lalu berjalan menuju meja kasir dan duduk di kursi kayu favoritnya di sudut ruangan.
Di dapur, suara air mendidih terdengar. Bau harum kaldu memenuhi ruangan kecil itu.
Kling!
Ponsel Xiao Yan yang berada di dalam saku celananya berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.
Xiao Yan mengeluarkan ponselnya dan melihat layar. Pesan itu dari grup percakapan kelompok ujian mereka yang dibuat oleh Chen Ping.
"[Pahlawan Lin Fan]: Xiao Yan! Kau sudah sampai rumah? Ugh, kelasku penuh dengan reporter pagi ini. Mereka bertanya apakah aku menggunakan teknik rahasia keluarga. Tentu saja aku menjawab dengan rendah hati!"
"[Chen Ping]: Hah... Kau sangat populer sekarang, Lin Fan. Tapi tolong jangan sebut namaku di wawancara. Aku tidak suka didekati banyak orang."
"[Song Jia]: Ya, Lin Fan. Aku juga gugup jika masuk televisi. Aku bersyukur mereka hanya fokus padamu."
"[Pahlawan Lin Fan]: Tenang saja! Aku akan melindungi privasi kalian! Sebagai pimpinan kelompok, beban ketenaran ini biar aku saja yang tanggung! Ngomong-ngomong, Xiao Yan, kau tidak menonton wawancaraku?"
Xiao Yan menatap layar ponsel itu dengan ekspresi datar. Jari jempolnya bergerak mengetik balasan dengan kecepatan biasa.
"[Xiao Yan]: Aku menontonnya. Sangat berisik."
"[Pahlawan Lin Fan]: Ugh! Kau ini! Aku mempromosikan kedai mi ibumu agar laris manis! Kau seharusnya berterima kasih padaku!"
[Xiao Yan]: Terima kasih. Tapi jangan lakukan itu lagi."
Xiao Yan langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Dia tidak ingin meladeni Lin Fan lebih jauh.
"Hah... Teman yang mengira dirinya pahlawan ini memiliki efek samping yang sangat merepotkan. Aku harus mengajarinya cara untuk tetap tidak mencolok, meskipun itu akan sangat sulit," batin Xiao Yan.
"Yan-er, mi-nya sudah siap!" panggil Lin Mei dari meja saji.
Lin Mei berjalan mendekat membawa mangkuk keramik besar yang mengepul panas. Di atas mi kuning itu, terdapat irisan daging babi yang tebal, sebutir telur rebus, dan taburan daun bawang yang sangat banyak.
"Tuk."
Mangkuk itu diletakkan di depan Xiao Yan.
"Makanlah selagi panas," kata Lin Mei. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan putranya, menopang dagu melihat Xiao Yan makan.
"Terima kasih, Ibu," jawab Xiao Yan.
Dia mengambil sumpitnya, mengaduk mi itu perlahan, lalu meniupnya.
Fuuuh.
Xiao Yan menyeruput mi tersebut dalam diam. Kuah kaldu hangat itu mengalir ke tenggorokannya. Untuk seseorang dengan tubuh yang setara dengan dewa, makanan manusia tidak memiliki efek apa pun untuk menambah kekuatan. Namun, bagi Xiao Yan, rasa masakan ibunya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa seperti manusia normal.
"Ugh... Besok Ibu harus pergi ke pasar lebih pagi," gumam Lin Mei sambil memijat bahunya sendiri. "Kalau besok ramai lagi, Ibu mungkin harus mencari pegawai paruh waktu untuk membantu mencuci piring."
Mendengar itu, gerakan mengunyah Xiao Yan sedikit melambat.
"Mencari pegawai berarti ada orang asing di rumah ini. Orang asing akan bertanya banyak hal. Itu melanggar zona prioritasku," analisis Xiao Yan di dalam kepala.
Xiao Yan menelan makanannya dan menatap ibunya.
"Ibu tidak perlu mencari pegawai baru," kata Xiao Yan dengan nada tenang.
"Hah? Kenapa?" tanya Lin Mei heran. "Ibu tidak akan sanggup jika besok yang datang sebanyak tadi. Tanganku bisa kram."
"Besok tidak akan seramai tadi," Xiao Yan berbohong dengan wajah yang sangat datar dan meyakinkan. "Berita tentang Lin Fan hanya tren sesaat. Besok orang-orang akan bosan dan kembali makan di tempat biasa."
"Ugh... Begitu ya?" Lin Mei mengerutkan kening. "Tapi tadi mereka bilang kaldu Ibu sangat enak."
"Kaldu Ibu memang enak. Tapi reporter hanya mencari sensasi, bukan rasa," tambah Xiao Yan lagi. "Lagipula, aku sedang libur tiga hari. Aku yang akan mencuci piring dan melayani pelanggan. Ibu hanya perlu memasak."
Lin Mei tersenyum lembut mendengar tawaran putranya. Dia mengusap puncak kepala Xiao Yan.
"Hah... Anakku sudah besar dan bisa diandalkan," puji Lin Mei dengan mata berkaca-kaca. "Baiklah. Kalau besok ramai, kau bantu Ibu ya. Jangan sampai kau kelelahan."
"Ya, Ibu," jawab Xiao Yan.
Xiao Yan kembali memakan minya sampai habis tak bersisa. Dia kemudian berdiri dan membawa mangkuk kotor itu ke wastafel di dapur.
Sambil menyalakan keran air, Xiao Yan mulai merencanakan strategi untuk besok.
"Jika ada reporter yang datang lagi, aku akan merusak sinyal mereka sebelum mereka turun dari mobil," batin Xiao Yan sambil mengusap mangkuk dengan spons. "Jika ada pelanggan yang datang hanya karena penasaran, aku akan memanipulasi persepsi rasa di lidah mereka dengan gelombang saraf pasif agar mereka merasa kaldu ini enak, tapi tidak membuat ketagihan. Dengan begitu, mereka tidak akan kembali lagi dan kedai ini akan kembali sepi seperti biasa."
Xiao Yan membilas mangkuk itu dan meletakkannya di rak pengering.
Ktak.
"Rencana selesai. Kehidupan damai akan dipertahankan dengan segala cara," tegas Xiao Yan dalam hatinya.
Xiao Yan berjalan kembali ke ruang depan. Ibunya sudah duduk di sofa kecil sambil menonton televisi yang volumenya diperkecil. Acara yang tayang adalah siaran ulang ujian Kelas Unggulan, tepat di mana layar menjadi hitam sebelum formasi sekte meledak.
"Ibu, aku naik ke kamar dulu," pamit Xiao Yan.
"Ya, Yan-er. Tidurlah yang nyenyak. Hah... Kau pasti sangat lelah tidur di hutan selama dua hari," jawab Lin Mei tanpa berpaling dari televisi.
"Sangat lelah," bohong Xiao Yan datar.
Dia berjalan menaiki tangga kayu yang berderit pelan. Begitu sampai di kamarnya yang kecil, Xiao Yan langsung menutup pintu dan menguncinya.
Klik.
Kamar itu sangat rapi. Tidak ada poster atau barang-barang mencolok. Hanya ada tempat tidur, meja belajar, dan sebuah jendela yang menghadap ke langit malam.
Xiao Yan merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada lagi auman monster. Tidak ada lagi instruksi dari guru. Tidak ada lagi kultivator berjubah merah.
"Ugh..." Xiao Yan mengeluarkan desahan pelan, bukan karena sakit, tetapi karena otot punggungnya akhirnya menyentuh kasur empuk setelah dua hari bersandar pada akar pohon.
Dia memejamkan matanya. Malam ini, dia tidak perlu memakai bantal leher atau masker penutup mata. Dia berada di benteng teramannya. Dan untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, Xiao Yan bisa menikmati waktu istirahat yang tidak akan diganggu oleh hal-hal magis atau heroik apa pun.
Setidaknya, libur tiga hari ini adalah hak mutlaknya yang tidak boleh direnggut oleh siapa pun.