NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Undangan Mendadak

​Sejak pengakuan frontal Arka tempo hari soal dirinya yang 'sangat cemburu' pada Revan, dinamika udara di dalam kedai ini berubah drastis. Ada semacam listrik statis yang tak kasatmata namun terus menyetrum kulitku setiap kali pandangan kami tanpa sengaja berserobok.

​Arka jadi lebih sering mencuri pandang saat aku sedang sibuk menimbang biji kopi di balik mesin espresso. Dan aku... yah, aku harus menggigit bagian dalam pipiku kuat-kuat agar tidak tersenyum sendiri seperti remaja kasmaran saat sedang mengelap meja.

​Sadar, Senja. Pria itu bos properti. Bisa-bisanya kau salah tingkah hanya karena dia menatapmu, rutukku dalam hati untuk yang kesekian kalinya hari ini.

​Sore itu, hujan turun rintik-rintik. Cuaca melankolis khas Jakarta yang seolah sudah punya member card VIP di Kedai Kala Senja.

​Arka duduk di stool tinggi tepat di depan area kerjaku. Kemejanya agak berantakan, dan ia sedang mengaduk Iced Americano-nya dengan sedotan stainless steel secara lambat. Sesekali es batunya beradu dengan dinding gelas plastik, menciptakan bunyi gemerincing pelan. Namun, pandangannya tidak tertuju pada jalanan basah di luar kaca, melainkan lurus memperhatikan pergerakan jemariku yang sedang menyusun toples-toples kaca.

​Tatapannya terlalu lekat, membuat tanganku mendadak kaku.

​"Nja," panggil Arka tiba-tiba, memecah suara vokal sendu dari lagu indie yang mengalun lewat speaker Bluetooth-ku.

​Aku menoleh, refleks menyeka tanganku yang sedikit basah ke celemek. "Ya? Kopinya kurang pas? Kalau kurang pait, bisa gue tambahin ekstraknya."

​Arka menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, dan anehnya, pria itu terlihat... gugup? Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pinggiran gelas, kebiasaannya kalau sedang memikirkan sesuatu yang rumit.

​"Lusa malam..." Arka menjeda kalimatnya sejenak. Matanya menatapku lurus. "Lo ada acara nggak?"

​"Lusa? Hari Jumat?" Aku memutar bola mata, pura-pura mengingat jadwal, padahal agendaku setiap malam Jumat selalu sama membosankannya. "Paling cuma closing kedai jam delapan. Lanjut merekap bon, terus rebahan di kosan sambil maraton drakor. Kenapa? Lo mau ngajak gue berantem lagi soal debu proyek yang masuk ke pantry?"

​Aku sengaja menyindirnya untuk menutupi debar jantungku sendiri. Ujung bibir Arka berkedut, menahan senyum mendengar sarkasmeku. Pria itu lalu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi.

​"Gue mau ngajak lo ke acara Anniversary Gala Dinner PT Cipta Megah. Di ballroom Hotel Ritz."

​Tanganku yang sedang memegang toples kaca berisi biji kopi house blend nyaris tergelincir. Aku buru-buru menaruh toples berat itu ke atas rak dengan bunyi 'klok!' yang cukup keras.

​Mataku membulat sempurna. Rasanya lambungku baru saja merosot sampai ke mata kaki.

​"Gala dinner? Perusahaan lo?" Aku menunjuk wajahku sendiri dengan telunjuk gemetar. "Lo ngajak gue? Yang bener aja, Ka! Lo bercanda, kan?"

​Arka tidak tertawa. Ekspresinya sangat serius. "Gue kelihatan lagi bercanda?"

​"Itu acara isinya pasti pejabat kementerian, dewan direktur, investor saham, dan socialite yang harga sepatunya bisa buat sewa kedai gue dua tahun!" seruku setengah histeris. Kepanikanku mengambil alih. "Gue mau ditaruh di mana muka gue? Lo mau gue buka stand kopi manual brew di pojokan ballroom buat suguh-in tamu-tamu lo?"

​Arka akhirnya tertawa pelan. Suara tawanya terdengar serak namun dalam, seolah mengusir beban berat dari pundaknya. "Bukan jadi barista, Senja. Astaga. Lo dateng sebagai plus one gue. Pasangan gue malam itu."

​Pasangan?!. Satu kata itu sukses membuat jantungku melakukan salto ugal-ugalan di dalam rongga dada. Darahku berdesir panas.

​Dia mau membawaku... memperkenalkanku sebagai pasangannya di depan ayahnya? Di depan seluruh ekosistem bisnisnya yang kejam?

​Aku mencengkeram tepi meja bar. "Kenapa harus gue, Ka? Lo kan pasti punya banyak kenalan cewek dari kalangan lo sendiri. Mantan tunangan kek, misalnya. Atau anak menteri kek, anak owner tambang kek. Kenapa harus bawa cewek miskin tukang kopi kayak gue ke sarang naga?"

​Sorot mata Arka mendadak meredup, kehilangan kila jahilnya saat aku menyinggung soal perempuan dari kalangannya. Rahangnya perlahan mengeras.

​"Justru itu masalahnya, Nja," ucap Arka dengan nada yang mendadak terasa luar biasa lelah. "Kalau gue datang sendirian, bokap gue bakal sibuk ngenalin gue sama anak-anak rekan bisnisnya. Gue bakal dijadiin komoditas pameran buat networking korporat. Gue muak."

​Arka mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatiku.

​"Gue butuh alasan buat kabur dari obrolan basa-basi yang isinya cuma soal aset dan manipulasi pajak itu, Nja," suaranya merendah, nyaris terdengar seperti sebuah permohonan. Arka menatap mataku dalam-dalam. "...dan kalau gue bawa lo, setidaknya gue punya alasan untuk tetap waras sepanjang malam di sana."

​Tenggorokanku tercekat!.

​Mendengar nada suara Arka yang begitu rentan melihat betapa putus asanya ia mencari pelarian dari dunianya yang beracun pertahanan emasku runtuh.

​Pria ini... dia rela mempertaruhkan jabatannya demi melindungi kedaiku. Dia mempertaruhkan nama baiknya. Bagaimana mungkin aku menolak permintaannya saat ia sedang meminta perlindungan emosional dariku?.

​Aku menggigit bibir bawahku ragu. "Tapi gue nggak punya baju yang pantes, Ka," cicitku akhirnya, menundukkan pandangan ke arah celemek dekilku. Mataku sedikit memanas karena rasa insecure yang tiba-tiba menelanku. "Gue cuma punya dress kondangan biasa yang belinya diskonan di e-commerce. Kalau masuk Ritz, ntar gue diusir satpam. Lo malah bakal malu bawa gue."

​Arka membuang napas lega, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Ia mengulurkan tangannya melintasi meja bar, ibu jarinya mengusap pelan buku-buku jariku yang sedang mencengkeram meja.

​"Lo nggak perlu mikirin itu," ucapnya dengan nada mutlak, penuh otoritas, namun terasa sangat melindungi. "Semuanya gue yang urus. Baju, sepatu, semuanya."

​Ibu jari Arka menghentikan usapannya, tapi ia tidak menarik tangannya. "Lo cukup bawa diri lo, dan senyum lo. Sisanya, biar gue yang pasang badan. Gue jamin nggak akan ada satupun satpam atau orang di ballroom itu yang berani ngerendahin lo selama lo ada di samping gue."

​Pernyataan itu diucapkan dengan sangat pelan, tapi bagi telingaku, rasanya seolah Arka baru saja membangun sebuah benteng baja tak tertembus di sekelilingku.

​Aku terdiam, menyelami tatapan kelamnya yang menenangkan, sebelum akhirnya aku mengangguk pelan. Aku baru saja menyetujui sebuah keputusan nekat yang akan mengeluarkanku dari zona nyamanku, dan membawaku melangkah masuk ke dalam sangkar emas penuh intrik milik seorang Arka Danadyaksa.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!