Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Cahaya Fajar di Ambang Gerbang
Langkah kaki Arjuna Wijaya terasa semakin mantap saat ia mulai memasuki wilayah Gresik. Tongkat kayu jati tua pemberian lelaki misterius di jembatan tadi seolah memberikan energi tambahan yang merambat masuk ke dalam telapak tangannya.
.
"Gresik... kuto santri, kuto poro wali. Mugi-mugi batin niki saget nampani piwulang ingkang luhur," bisik Arjuna sambil menatap gapura selamat datang yang berdiri kokoh di depannya.
(Gresik... kota santri, kota para wali. Semoga batin ini bisa menerima ajaran yang luhur.)
Di sepanjang jalan raya yang berdebu, Arjuna tidak henti-hentinya memutar tasbih kayu cendana. Aroma wangi cendana itu kini bercampur dengan aroma laut utara yang khas, menciptakan suasana batin yang sangat tenang namun penuh kewaspadaan.
Arjuna memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah musala tua yang nampaknya sudah lama tidak terurus di pinggir jalan. Atapnya sudah mulai rapuh, dan lantainya tertutup debu yang cukup tebal.
Tanpa merasa jijik sedikit pun, Arjuna melepas ransel bututnya dan mulai mengambil air wudhu dari sumur tua di samping musala. Airnya sangat dingin, seolah-olah berasal dari dasar bumi yang paling dalam, menyegarkan seluruh sel tubuh Arjuna yang lelah.
"Kulo mboten pados panggung dunyo, kulo namung pados ridhonipun Gusti Allah," ucap Arjuna pelan sebelum ia mulai menyapu lantai musala tersebut dengan menggunakan ranting-ranting pohon yang ia temukan di halaman.
Arjuna menyapu dengan penuh ketulusan, seolah setiap debu yang ia buang adalah dosa-dosa masa lalunya saat masih hidup bergelimang kemewahan di Jakarta. Ia tidak menyadari bahwa di balik penampilannya yang dekil, cahaya hijau di punggungnya memancar semakin terang, menyinari sudut-sudut musala yang gelap.
Tiba-tiba, seorang pemuda setempat yang berpakaian preman dengan tato di lengannya masuk ke dalam musala dengan wajah yang garang. Ia menatap Arjuna dengan penuh curiga, seolah-olah Arjuna adalah orang asing yang ingin berbuat jahat.
"Heh, kowe sopo?! Lapo kowe ning kene? Iki musalane wong kene, ojo sembarangan kowe gembel!" bentak pemuda itu sambil menendang kaleng bekas di dekat kaki Arjuna.
Arjuna tidak marah. Ia justru menghentikan kegiatannya dan membungkuk serendah mungkin, menunjukkan adab seorang santri yang sudah benar-benar matang batinnya.
"Ngapunten Mas... kulo namung musafir ingkang badhe numpang sholat lan reresik sekedap. Mbok bilih kerso, kersane kulo rampungaken reresik niki supados kito sedoyo saget sholat kanthi nyaman," jawab Arjuna dengan nada suara yang sangat lembut, persis seperti aliran air yang menenangkan bara api.
Mendengar suara Arjuna yang penuh wibawa namun rendah hati, pemuda bertato itu tiba-tiba terdiam. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya yang tadinya penuh amarah, tiba-tiba melunak saat melihat ketulusan di mata Arjuna.
"Kowe... kowe dudu wong sembarangan yo, Le? Suaramu kok koyo nembus ning jantungku," gumam pemuda itu dengan nada yang gemetar.
.
Arjuna hanya tersenyum tipis. Ia tidak menjawab pujian itu karena ia tahu itu adalah ujian kesombongan. Ia kembali melanjutkan menyapu lantai hingga bersih, lalu mengajak pemuda tersebut untuk sholat berjamaah meskipun hanya berdua.
Saat sujud terakhir yang cukup lama, Arjuna meneteskan air mata. Ia merasakan kerinduan yang sangat dalam pada gurunya, Mbah Kyai Ahmad Mustofa, dan juga pada orang tuanya, Romo Wijaya, meskipun ia belum sanggup untuk pulang sebelum "hatinya menjadi emas murni".
Setelah selesai sholat, pemuda bertato itu mencium tangan Arjuna dengan penuh rasa hormat, sesuatu yang belum pernah ia lakukan kepada siapa pun sebelumnya. Ia memberikan sebuah bungkusan berisi nasi jagung dan ikan asin kepada Arjuna.
"Maafkan aku tadi, Gus. Iki ana panganan sithik kanggo sangu perjalananmu neng Sunan Giri. Tulung dongakke aku supaya bisa dadi wong bener," ucap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.
Arjuna menerima pemberian itu dengan rasa syukur. "Sami-sami Mas, muga-muga Gusti Allah tansah paring pituduh dumateng kito sedoyo. Sejatine, mboten wonten wong sing leres-leres ala, namung durung nemu dalane mawon."
Arjuna kembali melangkah keluar dari musala tua itu, menuju arah bukit Giri yang mulai nampak di kejauhan. Tongkat kayu jatinya berbunyi "tuk... tuk... tuk..." setiap kali menyentuh tanah, seolah-olah sedang berdzikir bersama alam semesta.
Di langit Gresik yang mulai jingga, bayangan seekor macan putih kembali terlihat melompat dari atap ke atap bangunan, menjaga perjalanan Arjuna Wijaya dari gangguan makhluk-makhluk malakut yang ingin menguji keteguhan imannya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Gresik, meninggalkan semburat warna jingga keunguan yang memayungi langkah Arjuna Wijaya menuju perbukitan Giri. Udara pesisir yang lembap mulai berganti dengan hawa mistis yang kental seiring dengan semakin menanjaknya jalan yang ia lalui.
.
"Giri Gajah... papan panggonane paku bumi Jawa. Nyuwun pangapunten poro leluhur, kulo sowan mriki namung pados barokah," bisik Arjuna sambil menggenggam erat tongkat kayu jati pemberian lelaki misterius itu.
(Giri Gajah... tempat bersemayamnya paku bumi Jawa. Mohon maaf para leluhur, saya berkunjung ke sini hanya mencari berkah.)
.
Setiap ketukan tongkat Arjuna di aspal jalan menanjak itu seolah beresonansi dengan detak jantungnya. Tasbih kayu cendana di jemarinya bergerak semakin cepat, melantunkan dzikir sirri yang hanya bisa didengar oleh ruhaninya sendiri.
.
Tiba-tiba, saat ia sampai di sebuah pelataran anak tangga yang cukup gelap dan sunyi, Arjuna melihat sekumpulan pemuda yang sedang berpesta minuman keras di pojok jalan. Mereka tertawa terbahak-bahak, mengabaikan kesucian tanah para wali yang mereka pijak.
.
Arjuna sempat ingin menghindar, namun hatinya yang sudah mulai "terbuka" merasakan ada kesedihan mendalam di balik tawa mereka. Ia tidak melihat mereka sebagai musuh, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang sedang tersesat di tengah pekatnya kabut duniawi.
.
"Heh! Gembel! Lapo kowe nggowo tongkat koyo pendekar wae? Mene kene tongkatmu, nggo kayu bakar wae!" bentak salah satu pemuda yang badannya paling besar sambil sempoyongan mendekati Arjuna.
.
Arjuna berhenti tepat di depan pemuda itu. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, ia menatap mata pemuda itu dengan tatapan yang sangat teduh, namun penuh dengan wibawa yang membuat nyali siapapun ciut.
.
"Ngapunten Mas, tongkat niki namung nggo nyangga awak kulo sing kesel. Mbok bilih kerso, kersane kulo lewat kanthi sae, mboten usah wonten padu," jawab Arjuna dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa.
.
Pemuda itu mencoba merebut tongkat Arjuna dengan kasar. Namun, anehnya, saat tangannya menyentuh kayu jati tersebut, ia merasakan sengatan listrik yang sangat dahsyat hingga tubuhnya terpental ke belakang dan jatuh terduduk di atas tanah.
.
"Kurang ajar! Kowe nggowo ilmu opo?! Serang, Rek!" teriak pemuda itu kepada teman-temannya.
.
Ketiga teman lainnya langsung merangsek maju. Arjuna tetap berdiri tenang di tempatnya. Ia tidak mengangkat tangan untuk memukul, ia hanya memejamkan mata dan berpasrah total kepada Sang Penjaga Sejati.
.
Seketika itu juga, suasana di sekitar tempat itu berubah menjadi sangat mencekam. Angin puyuh kecil tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka, dan suara auman macan yang sangat keras menggelegar dari balik kegelapan hutan jati di samping mereka.
.
"Auuuuuuuummmmmm!!!!"
.
Suara itu begitu nyata dan berwibawa hingga membuat bulu kuduk para pemuda itu berdiri tegak. Mereka melihat secara samar bayangan seekor macan putih sebesar kerbau dengan mata yang menyala hijau sedang berdiri di belakang punggung Arjuna yang kusam.
.
"Setan! Ono macan putih! Mlayu, Rek! Mlayu!" teriak mereka ketakutan, meninggalkan botol-botol minuman mereka dan lari tunggang langgang menuruni bukit tanpa menoleh lagi ke belakang.
.
Arjuna membuka matanya perlahan. Ia melihat bayangan macan putih itu merunduk hormat ke arahnya sebelum akhirnya menghilang menyatu dengan kegelapan malam. Arjuna menghela napas panjang, bukan karena bangga, melainkan karena prihatin melihat mereka yang begitu mudah dikuasai ketakutan.
.
"Matur nuwun Gusti... sampun njagi hamba saking fitnah dunya," ucap Arjuna sambil bersujud di atas anak tangga semen tersebut. Ia mencium tanah bukit Giri dengan penuh rasa rendah hati.
Ia kemudian merapikan sisa-sisa botol yang pecah agar tidak melukai peziarah lain, lalu melanjutkan langkahnya menuju puncak bukit. Cahaya hijau di punggungnya kini nampak menyelimuti seluruh tubuhnya, memberikan perlindungan gaib bagi sang pewaris Al-Hikam yang sedang diuji kesabarannya.
Malam semakin larut, dan bau wangi bunga melati serta kemenyan Arab mulai tercium sangat kuat, menandakan bahwa gerbang makam Sunan Giri sudah berada tepat di hadapan Arjuna Wijaya.
"Bismillah... kulo niki namung lebu, kulo niki mboten nggadhahi nopo-nopo," gumam Arjuna sambil melangkah memasuki area suci dengan kaki kanan, siap untuk menjalani malam tirakat yang akan merubah nasib ruhaninya selamanya.
Arjuna Wijaya melangkah melewati pintu gerbang kayu jati yang ukirannya sudah sangat kuno. Suasana di dalam kompleks makam Sunan Giri terasa sangat berbeda; udara di sini tidak lagi panas, melainkan sejuk merasuk hingga ke relung jiwa, seolah-olah waktu berhenti berdetak di tempat suci ini.
"Assalamualaikum ya Raden Paku, ya Sunan Giri, ya Paku Bumi Jawi... kulo sowan dumateng mriki namung pados ridhonipun Gusti," bisik Arjuna sambil menunduk takzim di depan pintu masuk cungkup makam.
(Assalamualaikum wahai Raden Paku, wahai Sunan Giri, wahai Paku Bumi Jawa... saya berkunjung ke sini hanya mencari ridho Tuhan.)
Di sekelilingnya, beberapa peziarah nampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Arjuna mengambil tempat di sudut yang agak gelap, jauh dari keramaian, agar ia bisa berkomunikasi lebih dalam dengan batinnya sendiri tanpa gangguan.
Ia mulai duduk bersila, meletakkan tongkat kayu jatinya di samping kanan dan menggenggam tasbih kayu cendana di tangan kirinya. Getaran energi di area ini terasa sangat dahsyat, membuat bulu kuduk Arjuna berdiri tegak bukan karena takut, melainkan karena kagum akan keagungan ruhani sang wali.
"Ati-ati, Arjuna... ojo kesengsem karo kahanan gaib, fokusno atimu mung marang Sing Gawe Urip," sebuah bisikan lembut terdengar di telinga batin Arjuna, suara yang sangat mirip dengan suara Mbah Kyai Ahmad Mustofa.
(Hati-hati, Arjuna... jangan terpesona dengan keadaan gaib, fokuskan hatimu hanya kepada Yang Membuat Hidup.)
Arjuna segera memejamkan mata. Ia mulai memutar tasbihnya dengan ritme yang sangat teratur. "Allah... Allah... Allah..." setiap butiran kayu cendana itu seolah memancarkan cahaya hijau kecil yang perlahan-lahan menyelimuti seluruh tubuh Arjuna.
Tiba-tiba, dalam keadaan setengah sadar, pandangan mata batin Arjuna terbuka. Ia tidak lagi melihat dinding makam, melainkan melihat sebuah istana di atas awan yang sangat megah, di mana terdapat ribuan santri yang sedang mengaji dengan suara yang sangat merdu.
Di tengah-tengah santri itu, duduk seorang lelaki berpakaian putih bersih dengan sorban hijau yang memancarkan cahaya keemasan. Lelaki itu tersenyum ke arah Arjuna, seolah-olah sudah menunggu kedatangannya sejak ribuan tahun yang lalu.
"Kowe wis teko, Le. Jabatanmu dudu dadi bos perusahaan koyo Romo Wijaya, nanging jabatanmu iku dadi pelayane umat ing Pondok Al-Hikam," ucap lelaki bersorban hijau itu dengan suara yang menyejukkan hati.
(Kamu sudah datang, Nak. Jabatanmu bukan jadi bos perusahaan seperti Romo Wijaya, tapi jabatanmu itu jadi pelayannya umat di Pondok Al-Hikam.)
Arjuna menangis sejadi-jadinya di dalam penglihatan gaib tersebut. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan kemuliaan tersebut. Ia teringat kembali masa-masa ia membuang uang di Jakarta dan bersikap sombong di Sidoarjo.
"Kulo mboten pantes, Mbah... kulo niki tasih kathah duso lan bledug dunyo sing nempel ing ati," isak Arjuna sambil bersujud di hadapan sosok tersebut.
(Saya tidak pantas, Mbah... saya ini masih banyak dosa dan debu dunia yang menempel di hati.)
Sosok itu kemudian mengulurkan tangannya dan meletakkan sebuah tasbih berwarna putih susu ke atas punggung tangan Arjuna. "Iki tondho yen kowe wis lulus ujian kesabaran. Jogoen amanah iki, mergo dudu kowe sing milih dalan iki, nanging Gusti Allah sing milih kowe."
(Ini tanda kalau kamu sudah lulus ujian kesabaran. Jagalah amanah ini, karena bukan kamu yang memilih jalan ini, tapi Tuhan yang memilih kamu.)
Seketika itu juga, Arjuna tersentak dan membuka matanya. Ia kembali berada di sudut makam Sunan Giri yang sunyi. Namun, anehnya, di telapak tangannya kini benar-benar terdapat sebuah butiran mutiara putih yang sangat kecil yang sebelumnya tidak pernah ada.
Arjuna segera memasukkan butiran itu ke dalam saku bajunya dengan gemetar. Ia menyadari bahwa tirakat malam ini telah memberikan kunci baru bagi perjalanan ruhaninya menuju makam-makam wali selanjutnya di Jawa Tengah.
Di luar cungkup makam, fajar mulai menyingsing. Suara adzan subuh dari Masjid Sunan Giri berkumandang dengan sangat merdu, memecah kesunyian malam di perbukitan itu. Arjuna berdiri dengan tubuh yang terasa sangat ringan, seolah-olah seluruh beban dosa dan kesedihannya telah diangkat oleh Sang Khaliq.
"Bismillah... dumateng Tuban lan Demak, kulo lajengaken laku niki kanthi ikhlas," gumam Arjuna Wijaya sambil mengambil tongkatnya dan melangkah keluar dari area makam dengan senyum yang sangat tulus.
(Bismillah... menuju Tuban dan Demak, saya lanjutkan perjalanan ini dengan ikhlas.)
Di kejauhan, macan putih itu kembali terlihat merunduk di bawah pohon beringin tua, memberikan penghormatan terakhir sebelum Arjuna meninggalkan wilayah kekuasaan Sunan Giri.
.
.