NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."

Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.

Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.

Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang di Balik Pintu Operasi

Malam itu, di koridor rumah sakit yang sunyi, aroma zat kimia dan rasa sakit masih tertinggal di udara. Perang besar baru saja dimulai, dan Nevan Wiratama tidak akan berhenti sampai semua musuhnya hancur menjadi debu.

Lampu merah di atas pintu Ruang Operasi (OT) menyala terang, seolah-olah menjadi simbol peringatan akan nyawa yang sedang dipertaruhkan di dalamnya. Di dalam ruangan yang steril dan dingin itu, suasananya justru terasa mendidih oleh ketegangan. Bunyi electrocardiogram (ECG) menyalak cepat dan tidak teratur, beeping yang memekakkan telinga itu menandakan bahwa jantung Naira sedang berpacu melawan maut.

Dokter Firdaus, spesialis bedah saraf yang biasanya dikenal sedingin es dan sangat presisi, kini tampak berkeringat di balik masker bedahnya. Matanya yang tajam tidak lepas dari monitor yang menampilkan grafik tekanan intrakranial. Di sisi lain bedah, Dokter Riana, spesialis bedah plastik dan rekonstruksi kulit, sedang bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tangannya bergerak lincah, berusaha membersihkan sisa cairan korosif yang masih menempel di jaringan wajah Naira.

"Tekanan darah turun! 80 per 50!" Dokter Firdaus berteriak, suaranya berat dan penuh urgensi. "Riana, berapa lama lagi kamu butuh waktu untuk dekontaminasi? Cairan kimia itu mulai meresap ke jaringan subkutan! Efek toksiknya bisa memicu syok neurogenik dalam hitungan detik!"

Dokter Riana tidak menoleh. Fokusnya tertuju pada area pipi kanan Naira yang melepuh hebat. "Satu menit, Firdaus! Air keras ini bukan jenis biasa. Konsentrasinya sangat tinggi, ini sengaja dirancang untuk menghancurkan! Kalau aku tidak angkat jaringan matinya sekarang, saraf fasialisnya akan hancur total. Dia tidak akan bisa menggerakkan bibirnya, apalagi tersenyum seumur hidupnya!"

Lantai ruang operasi terasa bergetar seiring dengan setiap detik yang berlalu. Dokter Firdaus melirik monitor CT-Scan yang menempel di dinding. "Masalahnya bukan cuma soal estetika atau senyumnya, Riana! Rasa sakit yang ekstrem dari luka bakar ini mengirimkan sinyal trauma hebat ke sistem saraf pusatnya. Terjadi edema serebri ringan, otaknya mulai membengkak karena syok! Kalau kita tidak menstabilkan sarafnya, dia bisa koma di meja operasi!"

"Aku tahu! Suster, irigasi lagi! Cairan salin cepat!" Dokter Riana memerintah dengan nada tinggi. Ia sedang menggunakan mikroskoper untuk memilah jaringan yang masih bisa diselamatkan. "Aku hampir selesai di area pipi kanan. Firdaus, siapkan blokade sarafnya sekarang! Aku harus melakukan transplantasi kulit darurat di area yang terbuka ini agar infeksinya tidak menjalar ke meningen atau selaput otak!"

Dokter Firdaus segera mengambil jarum spinal panjang. Fokusnya kini berada pada titik yang sangat krusial. "Aku akan melakukan infiltrasi ke ganglion trigeminal untuk memutus jalur nyerinya secara total. Riana, dengerin gue... kalau tanganmu meleset satu milimeter saja saat membuang jaringan di area temporal, kamu akan memotong saraf motoriknya. Jangan sampai dia lumpuh wajah permanen!"

Dokter Riana menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri. Mata tajamnya di balik kacamata bedah kembali fokus. "Aku tahu resikonya! Tapi kalau aku terlalu lambat, asam ini akan memakan sampai ke tulang tengkoraknya. Dokter Anestesi! Tambah dosis epinefrin! Kita tidak boleh kehilangan dia sekarang!"

Di tengah kekacauan medis itu, Dokter Firdaus sempat membisikkan sesuatu yang bukan bagian dari prosedur medis, seolah-olah ingin menembus alam bawah sadar pasiennya. "Naira... bertahanlah. Suamimu sedang menunggu di luar dengan nyawa yang hampir hilang juga. Jangan biarkan operasi ini jadi perpisahan."

Tangan Dokter Riana akhirnya berhenti pada satu titik jaringan yang bersih. "Got it! Jaringan nekrotik berhasil diangkat seluruhnya. Firdaus, sekarang giliranmu menstabilkan tekanan intrakranialnya. Aku akan mulai proses skin graft untuk menutupi luka yang menganga."

Ajaibnya, seiring dengan masuknya obat-obatan penstabil saraf, bunyi monitor ECG yang tadinya liar perlahan-lahan mulai stabil. Iramanya kembali melambat ke detak yang normal, meski masih lemah.

Dokter Firdaus menghela napas panjang, keringat bercucuran di dahinya hingga membasahi penutup kepalanya. "Tekanan darah mulai naik. Sarafnya merespons. Kita punya peluang, Riana. Tapi ini akan jadi malam yang sangat panjang untuk kita semua."

Sementara di luar ruangan, koridor VVIP rumah sakit itu tampak seperti area militer. Dimas berdiri tegak di depan pintu, sementara beberapa anak buah Nevan berjaga di setiap sudut. Namun, sosok yang paling menarik perhatian adalah Nevan sendiri.

Sang CEO yang biasanya selalu tampil necis dengan jas jutaan rupiah, kini duduk di lantai koridor dengan kemeja yang penuh noda darah Naira dan bau asam yang menyengat. Ia tidak peduli. Matanya yang merah menatap kosong ke lantai, kedua tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Mas... minum dulu," Dimas menyodorkan sebotol air mineral.

Nevan tidak bergeming. "Gue nggak butuh minum, Dim. Gue cuma butuh pintu itu terbuka dan dokter bilang istri gue selamat."

Suaranya rendah, namun mengandung kepedihan yang sanggup merobek hati siapa pun yang mendengarnya. Tak lama, langkah kaki terburu-buru terdengar. AKP Fabian datang dengan wajah yang penuh amarah sekaligus simpati.

"Nadia sudah di sel isolasi, Mas. Dia sempat mencoba menyerang petugas, jadi saya minta dia diborgol ke jeruji besi," lapor Fabian. "Dan bapaknya... Irjen itu... dia mencoba menggunakan kekuasaannya untuk menunda penahanan, tapi Pak Darmawan bergerak lebih cepat. Berkas kasus ini sudah sampai ke tangan Kapolri. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Nadia kali ini."

Nevan mendongak, matanya berkilat dengan kegelapan yang mengerikan. "Penjara terlalu mewah buat dia, Fabian. Gue mau dia ngerasain apa yang Naira rasain. Rasa sakit yang nggak ada habisnya."

Tiga jam kemudian, lampu merah di atas pintu operasi akhirnya padam. Pintu otomatis terbuka, mengeluarkan aroma antiseptik yang tajam. Dokter Firdaus dan Dokter Riana keluar dengan langkah gontai, menunjukkan betapa melelahkannya peperangan yang baru saja mereka lalui.

Nevan langsung melompat berdiri, hampir saja jatuh karena kakinya yang kesemutan. "Dokter... Istri saya... Naira?"

Dokter Firdaus melepas maskernya, memberikan senyum tipis yang penuh kelegaan. "Operasinya berhasil, Pak Nevan. Kami berhasil menyelamatkan saraf utamanya. Edema di otaknya juga sudah mulai mereda."

Dokter Riana menyambung, "Untuk luka bakarnya, kami sudah melakukan prosedur rekonstruksi tahap awal. Memang tidak akan langsung sempurna, tapi kami akan melakukan yang terbaik agar bekas lukanya seminimal mungkin. Yang terpenting sekarang, dia sudah melewati masa kritisnya."

Nevan menutup matanya, tangannya gemetar hebat. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit, air matanya jatuh tanpa suara. "Terima kasih... terima kasih, Dok."

"Dia akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi 24 jam. Pak Nevan boleh melihatnya sebentar, tapi pastikan dalam kondisi steril," tambah Dokter Firdaus.

Saat brankar Naira didorong keluar, Nevan melihat istrinya. Wajah Naira terbalut perban tebal di bagian kanan, menyisakan hanya mata kiri yang terpejam dan bibir yang pucat. Nevan mendekat, mencium tangan Naira yang terpasang berbagai macam selang.

"Kamu hebat, Sayang," bisik Nevan di telinga Naira. "Mas di sini. Mas nggak akan pernah pergi. Kita bakal lalui ini bareng-bareng."

Malam itu, mansiun Wiratama mungkin masih terasa dingin karena sang permaisuri belum pulang. Namun, di koridor rumah sakit ini, api harapan kembali menyala. Nevan tahu, jalan pemulihan akan sangat panjang dan menyakitkan, tapi ia bersumpah akan menjadi benteng paling kokoh bagi Naira. Siapa pun yang mencoba meruntuhkannya, harus bersiap menghadapi kehancuran total di tangan Sang Kaisar.

Keheningan di lorong rumah sakit itu bukan jenis keheningan yang menenangkan, melainkan jenis sunyi yang mencekam, seolah-olah udara di sana mengandung serpihan kaca yang siap melukai siapa saja yang berani bernapas terlalu dalam. Nevan duduk di kursi tunggu dengan tatapan kosong. Tangannya yang masih menyisakan noda merah kecokelatan akibat darah Naira yang mengering, terus gemetar hebat. Ia tidak peduli pada bau asam yang menyengat dari kemejanya yang koyak. Pikirannya hanya terpaku pada satu titik: lampu operasi yang masih menyala.

Suasana mendadak berubah drastis saat suara langkah kaki yang tegas dan berirama bergema di lorong. Langkah itu bukan langkah orang yang sedang berduka, melainkan langkah orang yang datang untuk mengambil alih kendali.

Adhitama Wiratama, sang patriark keluarga Wiratama, muncul dengan setelan jas rapi seolah baru saja keluar dari ruang rapat dewan direksi, meski jam menunjukkan pukul dua pagi. Wajahnya keras, tanpa ekspresi, seperti patung marmer yang dipahat untuk menunjukkan otoritas. Di sampingnya, Clarissa Devina, ibunda Nevan, berjalan anggun dengan gaun malam yang ditutupi coat mahal. Sorot matanya tajam, memindai kekacauan di depan mereka seperti seorang jenderal yang sedang mengaudit medan perang yang kalah.

Clarissa berhenti tepat di depan Nevan. Ia menatap bercak darah dan cairan kimia di kemeja putranya dengan tatapan tak suka.

"Lihat dirimu, Nevan. Kamu kacau," suara Clarissa tenang, namun dinginnya sanggup menembus sumsum tulang. "Bagaimana bisa pewaris Wiratama Group membiarkan situasi lepas kendali seperti ini di tempat umum? Citra kita bisa hancur kalau media tahu menantu keluarga ini menjadi korban penyiraman air keras di sebuah restoran soto biasa."

Nevan mendongak. Matanya yang merah padam akibat tangis dan amarah menatap ibunya dengan rasa tidak percaya. "Mama... yang Mama pikirkan cuma citra? Naira sedang meregang nyawa di dalam! Wajahnya hancur, Mah! Dia disiksa di depan mata Nevan!"

"Cukup." Adhitama memotong pembicaraan dengan suara berat yang berwibawa. Ia berdiri tegak, menjulang di depan Nevan yang tampak ringkih. "Clarissa, diamlah. Dan kamu, Nevan... berdiri. Seorang Wiratama tidak menunjukkan kelemahan dengan duduk meringkuk di lantai rumah sakit. Musuhmu akan tertawa melihatmu hancur seperti ini."

Nevan berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki, kakinya sempat goyah namun ia berhasil berdiri tegak, menantang langsung mata sedingin es milik ayahnya.

"Aku bukan sedang rapat bisnis, Pah! Aku sedang menunggu istriku! Aku yang membawanya ke sana, aku yang membiarkannya pergi ke toilet sendiri. Ini salahku! Aku gagal melindunginya!" suara Nevan naik satu oktaf, menggema di lorong VVIP yang sepi.

Adhitama tidak berkedip. Ia menatap Nevan dengan pandangan menilai yang kejam. "Penyesalan adalah untuk orang lemah yang tidak punya visi. Sekarang fokus pada solusi. Aku sudah perintahkan tim hukum dan keamanan untuk menutup akses informasi. Tidak boleh ada satu pun jurnalis yang tahu. Tidak boleh ada berita yang keluar sebelum aku yang mengizinkannya. Dimas!"

Dimas Arya Pranoto, yang sejak tadi berdiri di kegelapan sudut lorong, segera melangkah maju dan membungkuk hormat. "Ya, Tuan Adhitama?"

"Pastikan AKP Fabian melakukan tugasnya dengan bersih. Aku tidak ingin ada drama di persidangan nanti. Nadia harus dilenyapkan secara sistematis dari semua lini bisnis kita. Cabut semua investasi ayahnya, buat keluarga mereka menjadi paria di kota ini dalam 24 jam ke depan," perintah Adhitama tanpa keraguan sedikit pun.

Clarissa melangkah mendekat, ia mengusap bahu Nevan dengan gerakan yang terkontrol, namun terasa sangat selektif. Ia tidak memeluk putranya yang sedang hancur, ia hanya merapikan kerah baju Nevan yang berantakan.

"Nevan, Mama sudah bilang dari dulu, keamanan adalah prioritas. Kamu terlalu lembek membiarkan dia hidup seperti orang biasa," Clarissa menghela napas pendek.

"Sekarang, kalaupun dia selamat... kamu tahu kan posisi kita? Menantu keluarga Wiratama harus tampil sempurna di setiap gala, di setiap foto media. Jika wajahnya tidak bisa kembali seperti semula, ini akan menjadi masalah besar bagi posisi sosialmu sebagai calon CEO utama."

Nevan merasakan kemarahan yang luar biasa meledak di dadanya. Ia melepaskan tangan ibunya dengan kasar, hingga Clarissa sedikit terhuyung.

"Cukup! Aku nggak peduli soal posisi sosial, gala, atau citra keluarga sampah ini!" Nevan berteriak, air mata amarah jatuh di pipinya.

"Mau wajah Naira kembali atau tidak, mau dia cacat sekalipun, dia tetap istriku! Dia ibu dari Arkana! Kalau Papa dan Mama ke sini cuma untuk bicara soal bisnis dan reputasi, mending Papa dan Mama pergi! Sekarang!"

Adhitama melangkah maju, memperpendek jarak dengan Nevan hingga mereka berdiri sangat dekat. Aura dominannya menekan udara di sekitar.

"Jaga bicaramu. Aku mendidikmu untuk menjadi kuat agar saat badai seperti ini datang, kamu bisa tetap berdiri tegak memimpin," Adhitama menatap tajam ke dalam manik mata putranya. "Jika kamu tetap emosional seperti ini, kamu tidak akan bisa melindungi apa pun—termasuk istrimu. Musuh tidak takut pada air matamu, Nevan. Mereka takut pada pedangmu."

1
Ani Basiati
lanjut thor
yuningsih titin: makasih sudah mau mampir kak
total 1 replies
Ani Basiati
lanjut thor semangat
yuningsih titin: makasih kak sudah mampir🙏🙏
total 1 replies
Ani Basiati
bikin mewek thor😍😍
yuningsih titin: jangan mewek kak, happy dong🤭🤭🤭
total 1 replies
yuningsih titin
makasih kak
Quinncy Lin
jangan lupa mampir juga ya thorrrr
yuningsih titin: siap kak👍
total 1 replies
Quinncy Lin
hadir thorrrr
샤롷툴 밯디얗
perasaan dulu pas pertama ketemu arkan 4thn terus dia pa's waktu ketemu kakeknya juga sudah bisa baca hitung, dan lalu menikah kenapa jadi 2thn dan kecelakaan terjadi dan d sabotase keluarga nevan dan nevan lumpuh dan telah berlalu 3thn harusnya nevan kurang lebih umur 7thnn menjelang 8thn paling tidak arkan dah sd y thor.... maaf mungkin q yg salah
yuningsih titin: makasih semangat nya kak... makasih juga sudah mau mampir... sukses selalu buat kita semua.... 👍💪💪
total 3 replies
Ani Basiati
lanjut thor
yuningsih titin: makasih sudah mampir
total 1 replies
yuningsih titin
naira mau dipaksa kawin jadi istri ke empat tuan Tommy...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!