Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pertemuan Tak Terduga di Puncak
Malam itu, Lin Feng tidak langsung memulai kultivasinya. Dia duduk dalam keheningan, membiarkan tubuhnya beradaptasi sepenuhnya dengan fondasi barunya. Pengalamannya selama puluhan ribu tahun memberitahunya bahwa kesabaran adalah kunci dari jalan kultivasi yang panjang. Tergesa-gesa hanya akan meninggalkan kelemahan tersembunyi.
Keesokan paginya, tepat saat fajar menyingsing, ketukan pelan terdengar di pintu daruratnya. Lin Feng membukanya dan menemukan diaken Aula Obat berdiri di sana dengan gugup, memegang sebuah kantong kecil.
"Tuan Lin Feng, ini pil untuk hari ini," bisik diaken itu sambil menyerahkan kantong.
Lin Feng mengambilnya tanpa sepatah kata pun dan menutup pintu, meninggalkan diaken yang kemudian pergi dengan tergesa-gesa. Di dalam kantong, ada lima botol giok kecil, masing-masing berisi satu Pil Pengumpul Roh.
Namun, Lin Feng tidak berniat berkultivasi di halamannya yang terbuka dan rawan gangguan. Dia membutuhkan tempat yang tenang dengan energi spiritual yang lebih padat. Mengandalkan ingatan pemilik tubuh ini, ada satu tempat yang ideal: Puncak Bambu Hijau di pegunungan belakang kompleks Klan Lin.
Itu adalah area latihan yang jarang dikunjungi karena medannya yang sulit dan jauh, tetapi energi spiritual di sana adalah yang paling murni di seluruh wilayah klan.
Menyimpan pil-pil itu dengan aman, Lin Feng menyelinap keluar dari halamannya dan menuju ke pegunungan belakang. Dengan kekuatan fisiknya yang baru, perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam bagi murid biasa, ia tempuh hanya dalam waktu dua puluh menit.
Dia tiba di sebuah hutan bambu yang rimbun dan tenang. Udara di sini terasa segar dan sejuk, dan konsentrasi energi spiritualnya memang beberapa kali lebih padat daripada di kompleks klan. Dia menemukan sebuah tempat tersembunyi di antara rumpun bambu raksasa, di samping sebuah air terjun kecil yang gemericiknya membantu menyamarkan suara apa pun.
"Tempat yang bagus."
Tanpa membuang waktu, dia duduk bersila, mengeluarkan satu Pil Pengumpul Roh, dan menelannya.
Begitu pil itu masuk ke perutnya, gelombang energi spiritual murni yang hangat menyebar ke seluruh meridiannya. Bagi kultivator biasa, mereka harus dengan hati-hati memandu dan menyerap energi ini sedikit demi sedikit.
Tetapi bagi Lin Feng, prosesnya berbeda.
Dia langsung menjalankan Kitab Suci Kekacauan Abadi. Pusaran tak kasat mata di Dantiannya mulai berputar dengan kecepatan tinggi. Energi dari pil itu, alih-alih diserap secara pasif, justru ditarik secara paksa, dikompres, dan dimurnikan oleh pusaran tersebut. Kotoran dalam energi pil yang tidak bisa dideteksi oleh orang biasa, dibuang, hanya menyisakan esensi energi yang paling murni.
Esensi energi ini kemudian diubah menjadi seutas tipis Qi Kekacauan berwarna emas pucat, yang menyatu dengan Qi yang sudah ada di Dantiannya, membuatnya sedikit lebih tebal.
Satu pil habis dalam waktu kurang dari lima belas menit!
Lin Feng membuka matanya, kilatan cahaya melintas. Dia bisa merasakan kekuatannya telah meningkat secara signifikan. Dia sudah mencapai puncak Alam Penempaan Tubuh tingkat dua.
"Efisiensi Kitab Suci Kekacauan Abadi memang tak tertandingi," gumamnya puas. Jika murid lain yang melakukannya, satu pil mungkin butuh waktu berjam-jam untuk diserap sepenuhnya.
Dia menelan pil kedua. Proses yang sama terulang. Energi murni membanjiri tubuhnya. Kali ini, setelah menyerap seluruh esensi dari pil kedua, Dantiannya tiba-tiba bergetar.
BOOM!
Sebuah gelombang kejut energi yang samar menyebar dari tubuhnya, membuat daun-daun bambu di sekitarnya berdesir. Belenggu tingkat dua telah hancur. Dia telah berhasil menembus ke Alam Penempaan Tubuh, Tingkat Ketiga!
Kekuatan fisiknya dan ketajaman inderanya meningkat ke tingkat yang baru. Dia merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tepat saat dia hendak melanjutkan dengan pil ketiga, telinganya yang kini jauh lebih tajam menangkap suara langkah kaki yang sangat ringan mendekat.
Lin Feng tidak bergerak. Dia tetap duduk bersila dengan mata terpejam, tetapi seluruh kewaspadaannya telah aktif.
Beberapa saat kemudian, sesosok tubuh anggun dalam balutan gaun putih muncul dari balik hutan bambu. Dia memiliki wajah yang sangat cantik, kulit seputih salju, dan aura dingin yang membuatnya tampak seperti peri es yang tidak tersentuh oleh dunia fana.
Mata Lin Feng sedikit terbuka. Dia mengenali wanita itu.
Liu Xue'er. Tunangannya yang telah membatalkan pertunangan mereka. Sang jenius nomor satu di antara generasi muda Klan Lin.
Liu Xue'er juga melihatnya. Alisnya yang indah sedikit berkerut. Dia tidak menyangka akan ada orang lain di tempat latihan pribadinya ini. Ketika dia mengenali wajah itu, kerutan di alisnya berubah menjadi ekspresi jijik dan dingin yang tidak disembunyikan.
"Kau?" suaranya sedingin es. "Sampah sepertimu, beraninya kau mengotori tempat ini? Enyahlah."
Dia telah mendengar desas-desus tentang Lin Feng yang mengalahkan Lin Wei dan Lin Hu, tetapi dia menganggapnya sebagai omong kosong. Di matanya, sampah akan selalu menjadi sampah. Mungkin Lin Feng hanya menggunakan trik murahan untuk mengejutkan mereka.
Lin Feng meliriknya, tatapannya tenang dan acuh tak acuh, seolah sedang melihat orang asing, atau lebih tepatnya, sebutir debu di pinggir jalan. Dia kemudian menutup matanya lagi, mengabaikannya sepenuhnya, dan bersiap untuk melanjutkan kultivasinya.
Sikap pengabaian total ini jauh lebih menghina daripada makian apapun.
Wajah cantik Liu Xue'er langsung menjadi dingin. Sejak kecil, dia selalu menjadi pusat perhatian, dipuja dan dikagumi. Tidak pernah ada yang berani mengabaikannya seperti ini, apalagi oleh sampah yang pernah berlutut memohon padanya untuk tidak membatalkan pertunangan.
"Aku bilang, enyahlah!" katanya lagi, kali ini suaranya membawa jejak kemarahan. Aura kuat dari seorang ahli tingkat enam Alam Penempaan Tubuh meledak darinya, menekan ke arah Lin Feng.
Udara di sekitar menjadi berat. Namun, Lin Feng yang berada di pusat tekanan itu tetap duduk tak bergerak, punggungnya lurus, tidak terpengaruh sama sekali.
Dia perlahan membuka matanya sekali lagi. Kali ini, tidak ada lagi ketenangan di dalamnya. Yang ada hanyalah kedalaman yang dingin dan tak terbatas, seperti langit malam abadi yang memandang rendah semua makhluk hidup.
"Tempat ini bukan milikmu," katanya dengan suara datar. "Jika kau ingin berlatih, cari tempat lain. Jangan menggangguku."