NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Balik Jendela Kaca

​​Lampu utama ruang tamu Apartemen 402 sengaja dipadamkan, menyisakan pendar temaram dari lampu sudut yang memberikan siluet panjang pada dinding. Di luar, hujan turun makin deras, menghantam kaca jendela besar dengan ritme yang monoton, seolah mencoba ikut masuk ke dalam ketegangan yang menyelimuti ruangan itu.

​Ziva duduk meringkuk di sofa, menyilangkan kakinya dan memeluk lutut. Ia mengenakan jaket hoodie milik Arkan yang terlalu besar di tubuhnya—sebuah tindakan spontan yang ia lakukan karena merasa dingin oleh rasa takut, bukan karena suhu udara. Di sampingnya, Arkan duduk dengan laptop yang menyala di pangkuan, namun matanya tidak tertuju pada layar. Ia menatap lurus ke arah kegelapan kota di balik jendela.

​"Ar," panggil Ziva lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh suara guntur di kejauhan.

​Arkan menoleh pelan. "Ya?"

​"Lo beneran nggak takut?" Ziva menatap Arkan dengan mata yang masih sedikit sembab.

"Maksud gue... kalau besok Clarissa beneran maju ke depan aula, terus dia nampilin foto nikah kita di layar proyektor... lo tahu kan itu akhir dari segalanya? Reputasi lo, beasiswa lo, jabatan lo... semuanya hancur dalam sedetik."

​Arkan menutup laptopnya perlahan, meletakkannya di meja kopi, lalu bergeser mendekati Ziva. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Arkan bisa mencium aroma stroberi dari rambut Ziva yang bercampur dengan aroma parfum maskulin dari jaketnya sendiri.

​"Takut itu manusiawi, Ziva," ucap Arkan, suaranya rendah dan tenang, tipe suara yang selalu berhasil menjinakkan kepanikan Ziva.

"Tapi aku lebih takut kalau aku nggak melakukan apa-apa dan membiarkan kamu hancur sendirian. Soal jabatan... itu cuma titipan. Soal beasiswa... Papa punya banyak cara untuk urusan itu. Tapi soal kamu? Itu tanggung jawabku yang nggak bisa digantikan oleh siapa pun."

​Ziva menunduk, memainkan ujung tali hoodie-nya. "Gue ngerasa jahat, Ar. Gara-gara perjodohan ini, hidup lo yang tadinya sempurna jadi berantakan. Lo harus bohong, lo harus berantem sama bokap lo, dan sekarang lo harus ngadepin psikopat kayak Clarissa."

​Arkan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh dagu Ziva dan mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.

"Lihat aku, Ziva."

​Mata mereka bertemu. Di bawah cahaya remang, mata Arkan tidak lagi terlihat dingin. Ada kilatan protektif yang sangat dalam.

​"Hidupku yang dulu mungkin 'sempurna' di mata orang, tapi itu hambar. Aku cuma robot yang jalanin perintah Papa. Tapi setelah ada kamu... meskipun berantakan, meskipun tiap hari aku harus mikirin alasan buat hukum kamu padahal aku pengen lindungin kamu... aku ngerasa hidup."

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang hanya ditujukan untuk Ziva.

"Kamu itu anomali yang paling aku syukuri, Ziv."

​Ziva merasakan dadanya bergemuruh. Tanpa sadar, ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Arkan tidak menolak, ia justru melingkarkan lengannya di bahu Ziva, menariknya lebih dekat hingga mereka bisa merasakan detak jantung masing-masing.

​"Terus rencana besok gimana?" tanya Ziva lagi, suaranya teredam di bahu Arkan.

​"Clarissa punya foto, tapi aku punya rekaman penyusupan," jawab Arkan dengan nada yang kembali tegas.

"Dia pikir dia memegang kartu as, padahal dia baru saja masuk ke jebakan tikus. Aku sudah koordinasi dengan Gibran. Dia akan pegang kontrol ruang operator aula. Begitu Clarissa mencoba menyambungkan ponselnya ke proyektor, Gibran akan memutus aksesnya dan menggantinya dengan rekaman CCTV penyusup di apartemen ini."

​"Tapi kalau dia teriak di depan mic?"

​"Mic itu juga di bawah kendali Gibran. Begitu dia buka mulut untuk hal yang nggak seharusnya, suaranya akan mati," Arkan mengusap rambut Ziva dengan lembut.

"Kita akan permalukan dia dengan caranya sendiri. Dia akan dituduh melakukan pelecehan privasi dan penguntitan terhadap Ketua OSIS. Sekolah nggak akan mentoleransi itu, apalagi Papa sudah bicara dengan Kepala Sekolah tadi sore."

​Ziva menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa sesak di dadanya. "Lo bener-bener mikirin semuanya ya, Pak Ketos."

​"Harus. Karena lawannya bukan cuma Clarissa, tapi seluruh ego sekolah ini," Arkan mengecup puncak kepala Ziva. "Sekarang kamu tidur. Besok kita butuh tenaga ekstra buat akting terakhir kita."

​"Gue nggak mau tidur di kamar, Ar," gumam Ziva, makin mengeratkan pelukannya di pinggang Arkan. "Gue takut kalau bangun nanti, ini semua cuma mimpi buruk dan gue beneran sendirian."

​Arkan terdiam sejenak, lalu ia merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, membawa Ziva ikut bersandar di dadanya.

"Ya sudah. Tidur di sini. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku akan jaga pintu, jaga kamu, jaga kita."

​Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, di dalam Apartemen 402 tercipta kedamaian kecil. Dua orang yang awalnya saling benci, kini terlelap dalam satu pelukan di sofa, bersiap menghadapi perang besar yang akan pecah dalam beberapa jam ke depan. Mereka tidak tahu, bahwa di rumah lain, Clarissa sedang menatap foto pernikahan mereka dengan mata merah, penuh kebencian, tidak menyadari bahwa ajalnya sebagai "ratu sekolah" sudah di depan mata.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
perasaan keluarga dari Arkan Ziva kok ga pernah di munculkan cuma sekali² itupun ortunya Ziva doang sedangankan dari ortunya Arkan ga ada sama sekali sampe saat ada masalah besar dan Ziva lahiran.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ada paragraf di ulang Thor jadinya dobel.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ziva masih saja manggil pake nama Gue Lo sedangkan Arkan Aku Kamu, saling bertolak belakang padahal Arkan sebagai suami sudah lebih lembut panggilannya Thor harusnya Ziva bisa lebih ngehargai juga.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
selamat berjuang menempuh kehodupan baru ujian baru juga, moga kalian lulus melewatinya... karna bakal ada hama dalam hidup rt kalian.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
pasangan yang dewasa meski masih remaja tapi saling melengkapi.👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
terbaik.👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
langsung di penjarakanlah ngapain di kasih longgar padahal sudah di kasih kesempatan malah lebih parah lagi si hama Clarisa...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmm... 👏👏👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Uhuuyyy romantisnya Arkan... semangat Arkan Ziva kalian pasti bisa ngadepin hama Clarisa dan antek² lainnya kalau kalian berdua sama² bersatu saling menguatkan dan melindungi.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau bener punya bukti kuat penjarakan Clarisa lah jangan gampang di maafkan karna dia sudah masuk ranah privasi bahkan nyuri.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mending jadi manusia dan suami yang bisa jadi pelindung istri dari pada jadi robot sekolah dengan banyak aturan tapi ga bisa belain Ziva di saat sulit Kan percuma jadi Osis kalau status pangkat kamu disekolah ga guna
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Clarisa nama yang sama dengan nama belakang Ziva thor emang ga ada nama lain lagi tah.🙏🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hayoo loohh mau nyangkal apa lagi buat nyembunyiin kebohongan kalian.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
maaf thor kalau bisa di koreksi karna ada kalimat yang harusnya cuma spasi malah jadi lompat jauh.🙏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: sama² kak.🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!