NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis Di Ujung Penyesalan

Langkah Kanaya hari itu jauh dari kata tenang.

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah, jantungnya berdegup tidak beraturan. Tangannya berkali-kali menggenggam ponsel, membaca ulang pesan dari ibunya.

Nayara demam. Rewel sejak siang.

Pesan itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat dunia Kanaya terasa runtuh.

“Cepat, Fatan,” ucapnya dengan suara yang sulit disembunyikan kepanikannya.

Fatan yang duduk di kursi pengemudi langsung mengangguk.

“Baik, Bu.”

Ia menambah kecepatan mobil, namun tetap berusaha menjaga kendali.

Melalui kaca spion, ia bisa melihat jelas

wajah Kanaya pucat.

Tatapannya kosong.

Dan tangannya terus gemetar.

Fatan menelan napas pelan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun dalam hatinya, ia ikut cemas.

Mobil berhenti di halaman rumah dengan suara rem yang sedikit mendadak.

Belum sempat Fatan turun, Kanaya sudah lebih dulu membuka pintu dan berlari masuk ke dalam rumah.

"bu!” panggilnya panik.

Ibunya segera keluar dari kamar sambil menggendong Nayara

“Kanaya…”

Kanaya langsung menghampiri.

“Kenapa panasnya tinggi sekali?” suaranya bergetar saat menyentuh dahi anaknya.

Nayara tampak lemas.

Wajah kecil itu memerah, bibirnya kering, dan tangisnya tidak lagi sekuat biasanya.

“Dari siang sudah demam,” ujar ibunya cemas. “Dia juga tidak mau minum susu.”

Kanaya langsung panik.

“Kenapa tidak langsung dibawa ke rumah sakit?”

“ibu sudah mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif…”

Kalimat itu langsung menghantam hati Kanaya.

Ia terdiam sesaat.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku… aku ada meting Bu, ponselnya aku matikan…” bisiknya lirih.

Namun itu bukan alasan.

Bukan untuk seorang ibu.

Kanaya langsung menggendong Naraya dari pelukan ibunya.

“Ayo ke rumah sakit sekarang.”

Suaranya tegas, namun jelas dipenuhi ketakutan.

Fatan yang sejak tadi berdiri di belakang langsung maju.

“Mobil sudah siap, Bu.”

Kanaya mengangguk cepat.

“Ayo.”

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang.

Nayara terus merengek lemah di pelukan Kanaya.

Setiap suara kecil dari anaknya terasa seperti pisau yang menusuk dadanya.

“Maaf… maafkah mamah sayang…” bisiknya berulang kali.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Fatan mempercepat laju mobil, namun tetap fokus.

Tatapannya sesekali beralih ke kaca spion.

Melihat Kanaya…

yang benar-benar hancur saat itu.

Begitu sampai di rumah sakit, Kanaya langsung berlari masuk sambil menggendong Naraya.

“Dokter! Tolong anak saya!” suaranya nyaris berteriak.

Perawat segera membawa mereka ke ruang pemeriksaan.

Fatan mengikuti dari belakang, langkahnya cepat namun tetap menjaga jarak.

Dokter segera memeriksa kondisi Nayara

Suasana menjadi tegang.

Kanaya berdiri di samping ranjang, tangannya terus menggenggam tangan kecil anaknya.

“Bagaimana, Dok?” tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter menatapnya serius.

“Anak ini mengalami dehidrasi cukup berat.”

Kanaya langsung tertegun.

“Dehidrasi?”

Dokter mengangguk.

“Dia kekurangan cairan. Ditambah demam tinggi, kondisinya jadi menurun drastis.”

Kanaya menutup mulutnya.

Air mata langsung jatuh deras.

“Kenapa bisa sampai seperti ini…” bisiknya.

Dokter menatapnya sebentar sebelum berkata,

“Apakah anak ini sulit minum sejak kemarin?”

Kanaya terdiam.

Ia tidak tahu.

Ia bahkan tidak benar-benar memperhatikan.

Karena ia sibuk.

Sangat sibuk.

Dadanya terasa sesak.

“saya… saya tidak tahu…” jawabnya pelan.

Kalimat itu terasa begitu menyakitkan.

Seorang ibu yang tidak tahu kondisi anaknya sendiri.

Kanaya langsung menangis.

“Maaf…” suaranya pecah. “Maafkan Mama…”

Nayara hanya menangis lemah.

Dokter segera memberi instruksi pada perawat.

“Kita pasang infus sekarang.”

Kanaya mundur sedikit, tubuhnya terasa lemas.

Tangisnya semakin menjadi saat melihat jarum mulai dipasang di tangan kecil anaknya.ia memeluk ibunya erat dan menangis sejadi jadinya

“Aku ibu yang buruk…” ucapnya sambil menangis.

Fatan yang sejak tadi berdiri di belakang tidak bisa lagi hanya diam.

"tenangkan dirimu nak,Nayara akan baik baik saja dia adalah anak yang kuat "ucap ibunya

Fatan terlihat melangkah mendekat perlahan.

“Bu…” panggilnya pelan.

Kanaya melirik Fatan yang masih dalam pelukan ibunya

"ibu yang sabar,Nayara pasti baik baik saja"

“Aku tidak ada saat dia butuh aku…” suaranya bergetar hebat. “Aku bahkan tidak tahu dia sakit sejak kapan, padahal aku ada di dekatnya tapi aku tidak tahu kondisinya,karena terlalu fokus karena pekerjaan…”

Fatan berdiri di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia ada.

“Ibu tidak seperti itu,” ucapnya tenang.

Kanaya langsung menggeleng.

“Aku lalai… aku sibuk dengan pekerjaanku…”

Tangisnya semakin keras.

“Aku bahkan tidak tahu anakku dehidrasi…”

Fatan menunduk sedikit.

Ia mengerti rasa bersalah itu.

Sangat mengerti.

Namun melihat Kanaya seperti ini…

dadanya ikut terasa sakit.

“Ibu bekerja untuk masa depan nayara,” katanya pelan. “Itu bukan kesalahan.”

"iya nak,Fatan benar,kuatkan dirimu,Nayara juga pasti tidak menginginkan kamu seperti ini"

Kanaya menatapnya dengan mata penuh air mata.

“Kalau masa depan itu dibayar dengan kesehatannya sekarang, itu tetap salah…”

Kalimat itu membuat Fatan terdiam,juga ibunya

Ia tidak punya jawaban untuk itu.

Karena itu bukan sekadar logika.

Itu perasaan seorang ibu.

Fatan menghela napas pelan.

“Nayara masih di sini,” katanya lembut. “Masih bersama kita, berdoalah agar Nayara cepat pulih dan kembali ceria seperti biasa.”ucap ibunya kanaya

Kanaya menatap Nayara yang kini mulai terpasang infus.

Tangannya gemetar saat menyentuh pipi kecil itu.

“Maafkan Mama…” bisiknya lagi.

Fatan berdiri diam.

Namun hatinya bergejolak.

Melihat Kanaya menangis seperti itu…

melihat Nayara terbaring lemah…

ada sesuatu dalam dirinya yang ikut runtuh.

Ia ingin mengatakan lebih banyak.

Ingin menenangkan.

Ingin…

melindungi.

Namun ia tahu batasnya.

Ia hanya seorang sopir.

Tidak lebih.

Fatan menunduk pelan.

Namun tanpa sadar, tatapannya kembali pada Nayara

Dan lagi

perasaan itu muncul.

Ikatan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat.

Berusaha menahan sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti.

Sementara di depannya

Kanaya masih menangis di samping anaknya.

Dan malam itu…

untuk pertama kalinya, Fatan merasa

bahwa rasa sakit yang ia lihat di depan matanya…

bukan hanya milik Kanaya seorang,tetapi juga milik dirinya

Lorong rumah sakit terasa begitu dingin malam itu.

Lampu putih menyala terang, namun tidak mampu menghangatkan suasana yang dipenuhi kecemasan. Kanaya duduk di kursi tunggu dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat.

Matanya sembab.

Tangisnya memang sudah mereda, tetapi rasa takut itu masih jelas terpancar dari wajahnya.

Fatan berdiri tidak jauh dari sana.

Diam.

Menjaga jarak seperti biasa.

Namun tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Kanaya… dan pintu ruang perawatan di depannya.

Di dalam sana

Nayara sedang diperiksa lebih lanjut.

Setiap detik terasa panjang.

Setiap suara langkah dokter membuat jantung Kanaya berdegup lebih cepat.

Tiba-tiba, suara langkah tergesa terdengar dari ujung lorong.

“Kanaya!”

Viktor datang dengan napas sedikit tersengal, wajahnya jelas dipenuhi kecemasan.

Kanaya langsung mengangkat wajah.

“Viktor…”

Pria itu segera mendekat.

“Bagaimana kondisi Nayara?” tanyanya cepat.

Kanaya menelan ludah pelan

“Dokter masih melakukan pemeriksaan lanjutan,” jawabnya lirih.

Viktor mengernyit.

“Kenapa belum selesai juga?”

Kanaya menggeleng pelan.

“Demamnya belum turun… dan tadi dokter bilang kondisinya belum stabil.”

Suaranya kembali bergetar.

Viktor langsung duduk di sampingnya.

“Hey…” ucapnya pelan sambil menggenggam tangan Kanaya. “Tenang.”

Namun jelas

dirinya sendiri juga tidak benar-benar tenang.

“Seharusnya aku datang lebih cepat,” gumam Viktor pelan.

Kanaya menunduk.

“Aku yang salah…” bisiknya. “Aku tidak memperhatikan dia.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”

“Tapi ini salahku.”

Air mata Kanaya kembali jatuh.

“Aku ibunya… tapi aku bahkan tidak tahu dia sakit sejak kapan…”

Viktor menghela napas panjang.

Ia menarik Kanaya sedikit lebih dekat.

“Kita akan melewati ini,” katanya tegas. “Nayara kuat.”

Kanaya hanya mengangguk lemah.

Sementara itu, Fatan berdiri diam di belakang mereka.

Ia menyaksikan semuanya.

Cara Viktor menggenggam tangan Kanaya.

Cara pria itu menenangkannya.

Dan cara Kanaya bersandar dalam kecemasannya.

Pemandangan itu…

terasa begitu jelas.

Begitu nyata.

Seolah memang seharusnya seperti itu.

Fatan menunduk pelan.

“Memang itu tempatnya…” batinnya.

Namun entah kenapa

dadanya tetap terasa sesak.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!