Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Delapan
Hana diam cukup lama setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Arsaka. Suasana di antara mereka terasa aneh, tegang, canggung, tapi juga penuh sesuatu yang belum terucap.
Arsaka sedikit memiringkan kepalanya, menatap Hana tanpa berkedip. “Kamu pasti masih ingat denganku?” ulangnya, suaranya rendah tapi jelas.
Hana menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tatapannya berubah—tidak lagi sekadar kaget, tapi mulai ada jarak.
“Mau apa Bapak datang ke sini?” tanya Hana akhirnya, nada suaranya lebih tegas. “Dan dari mana tahu alamat rumah saya?”
Arsaka tidak langsung tersinggung. Justru, sudut bibirnya sedikit terangkat, seperti menganggap pertanyaan itu wajar.
“Tak ada yang sulit bagiku mencari seseorang,” jawabnya santai, “Kalau itu memang yang aku inginkan.”
Hana mengerutkan kening. Jawaban itu tidak membuatnya tenang, justru sebaliknya. Seolah pria yang berdiri di depannya ini bukan orang sembarangan.
“Lalu kenapa datang ke sini?” desaknya lagi.
Arsaka melangkah sedikit lebih dekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Hana harus mendongak untuk menatapnya.
“Untuk menjemputmu.”
Hana langsung terdiam. Kata-kata itu terasa janggal di telinganya. “Menjemput?” ulangnya, hampir seperti tidak percaya.
“Ya,” jawab Arsaka singkat. “Aku ingin kamu ikut denganku. Akan aku siapkan rumah nanti.”
Hana menatap pria itu lama. Berusaha mencari tanda-tanda apakah ini lelucon, atau sesuatu yang lebih serius.
Namun wajah Arsaka tetap datar. Tidak main-main. “Kenapa aku harus ikut Bapak?” tanya Hana akhirnya, nada suaranya mulai dingin.
Arsaka tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Karena aku menginginkannya.”
Jawaban itu membuat Hana tercekat. Bukan karena manis. Bukan karena meyakinkan. Tapi karena terdengar seperti perintah.
“Siap-siaplah,” lanjut Arsaka tanpa memberi ruang untuk bantahan. “Aku tak biasa ditolak.”
Hana langsung mengangkat alis. “Maaf, saya—”
“Aku tunggu satu jam dari sekarang,” potong Arsaka. “Nanti akan ada yang menjemputmu.”
Hana menatapnya tidak percaya. “Pak, saya belum—”
Namun Arsaka sudah berbalik. Seolah keputusan sudah selesai, tanpa perlu persetujuan dari Hana. Langkahnya mantap meninggalkan rumah itu.
“Halo? Pak!” panggil Hana, sedikit kesal.
Tapi Arsaka tidak menoleh lagi. Dan dalam hitungan detik, ia sudah menjauh.
Hana masih berdiri di depan pintu. Diam. Bingung. Dan sedikit kesal.
“Apa-apaan sih …,” gumamnya pelan. "Siapa ia, kenapa aku harus ikut dengannya?"
Ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar sebentar di sana. Matanya kosong menatap lantai.
“Aku belum mengenalnya … aku nggak tahu niatnya apa … tiba-tiba datang, terus nyuruh ikut," ucapnya pada diri sendiri.
Ia menggeleng pelan. “Biarkan saja. Aku tak harus mengikuti katanya.”
Seolah mencoba mengakhiri semuanya, Hana berbalik dan berjalan ke dapur. Aktivitas sederhana itu jadi pelariannya.
Ia mulai memasak. Memotong bahan. Menyalakan kompor. Mengaduk masakan.
Tapi pikirannya tidak benar-benar di situ. Sesekali, ia berhenti. Menatap kosong. Mengingat kembali wajah Arsaka.
Dan kata-katanya. Menjemputmu. Tanpa sadar, tangannya menyentuh perutnya sendiri. Perasaannya makin tidak tenang.
Waktu berjalan begitu cepat. Hampir satu jam. Dan tepat seperti yang dikatakan Arsaka, beberapa saat setelah satu jam berlalu, suara ketukan kembali terdengar.
Hana yang baru saja selesai memasak langsung menoleh ke arah pintu. Wajahnya berubah bingung.
“Hari ini banyak banget tamu …,” gumamnya.
Ia berjalan ke arah pintu. Kali ini lebih waspada. Begitu pintu dibuka, seorang pria berdiri di sana. Hana langsung mengenalinya.
“Eh … Bapak?” ucapnya spontan. “Yang kemarin mobilnya mogok?”
Han tersenyum sopan. “Iya, Bu. Sudah bisa dijalankan lagi.”
Hana mengangguk pelan. Sedikit lega karena bukan orang asing sepenuhnya.
“Terus … ada apa ya, Pak?”
Han menarik napas sebentar sebelum menjawab. “Saya datang untuk menjemput Ibu.”
Hana langsung membeku. “Menjemput saya?” ulangnya pelan.
“Iya, Bu. Pak Arsaka yang menyuruh. Katanya Ibu sudah setuju.”
Alis Hana langsung naik. “Siapa yang setuju?” jawabnya cepat. “Saya nggak mau ikut.”
Suasana langsung berubah. Han sedikit tampak panik.
“Saya nggak kenal kamu, dan juga Bapak itu,” lanjut Hana, nada suaranya mulai tajam. “Jadi kemarin itu … kamu pura-pura mogok, ya?”
Han tidak langsung menjawab. Ia hanya diam sejenak, lalu berkata dengan suara lebih rendah,
“Bu … ikutlah dengan saya. Jangan mempersulit pekerjaan saya.”
Hana makin tidak terima. Kenapa harus ia yng disalahkan.
“Lho, apa urusannya saya sama Anda?” balasnya. “Kenapa juga saya harus ikut? Saya bahkan nggak tahu kalian ini siapa sebenarnya!”
Han menghela napas pelan. Sepertinya ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Bu … percayalah pada saya,” ucap Han dengan sedikit penekanan. “Pak Arsaka orang baik.”
Hana hampir tertawa mendengarnya. “Orang baik? Datang ke rumah orang, maksa ngajak pergi, itu baik?”
Han menatap Hana lurus. “Pak Arsaka hanya ingin Ibu dan bayinya terjamin kehidupan dan kesehatannya.”
Kalimat itu langsung membuat Hana diam. Suasana mendadak menjadi sunyi. Dunia seakan berhenti lagi untuk kedua kalinya hari itu.
“Apa maksudnya ini ...,” bisik Hana pelan.
Han tidak mengalihkan pandangannya. “Pak Arsaka sudah tahu, Bu.”
Jantung Hana berdegup sangat kencang. Tangannya refleks memegang perutnya.
“Jadi … dia tahu …,” ucap Hana dalam hati.
Pikirannya langsung kacau. Bagaimana bisa? Sejak kapan? Apa saja yang sudah dia ketahui?
Hana mundur satu langkah.
Tatapannya berubah. Tidak lagi sekadar marah. Tapi juga takut. Dan bingung. Semua campur menjadi satu.
“Aku … harus gimana?” gumamnya dalam hati.
Han tetap berdiri di depan pintu. Menunggu. Ia tidak memaksa. Tapi jelas tidak akan pergi begitu saja.
“Bu …,” panggilnya pelan. “Saya cuma menjalankan perintah.”
Hana menatapnya lama. Semua terasa terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba. Dan terlalu besar untuk ia putuskan dalam satu waktu.
Ia belum mengenal Arsaka. Ia tidak tahu niat pria itu sebenarnya. Dan sekarang pria itu tahu tentang bayinya. Bayi yang selama ini ia jaga sendirian.
Hana menggigit bibirnya pelan. Langkahnya masih tertahan di tempat. Pikirannya penuh pertanyaan. Dan tidak satu pun punya jawaban.
"Apakah ia harus ikut dan percaya dengan Arsaka?"
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....