NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: NOTIFIKASI PEMBUNUH MOOD

Trigger Warning: Bab ini mengandung deskripsi panjang tentang kecemasan sosial, overthinking level dewa, dan satu jempol yang akan mengubah segalanya. Bacalah dengan risiko sendiri.

---

Hidup, menurut Ardi, adalah rangkaian keputusan-keputusan salah yang beruntun.

Contoh nyata: keputusannya tiga jam yang lalu untuk membuka sekantong keripik bawang dengan keyakinan bahwa, “Ah, cuma makan satu biji, kok.” Sekarang, dia terjaga di jam 2:47 dini hari, dengan mulut yang terasa seperti kandang gerbil, tenggorokan yang dibakar oleh asam lambung yang memberontak, dan sebuah tugas makalah Manajemen Operasi yang masih seputih jiwa rapuhnya.

Layar laptopnya menyala dengan sinar biru yang menusuk mata, memamerkan dokumen Word dengan satu judul dan tiga titik di bawahnya. Itu saja. Sudah 45 menit.

Di sebelah kanan layar, sebelas tab Chrome terbuka. Satu untuk materi kuliah yang tidak dibaca. Sepuluh sisanya untuk: ulasan laptop gaming, tutorial vocal mixing gratis, lirik lagu yang stuck di kepalanya, dan enam artikel “Cara Menghilangkan Rasa Galau Setelah Ditolak Audisi” dengan varian judul yang berbeda-beda.

“Basisically, gue benar-benar tidak basic dalam hal fokus,” gerutnya sendiri, suaranya parau di kesunyian kamar kosnya yang berantakan. Kaos kaki berserakan seperti mayat di medan perang. Gelas kopi bertumpuk di pojokan. Bau keringat dan harum semu fabric softener menciptakan aroma khas “mahasiswa semester ganjil”.

HP nya bergetar. Bukan telepon. Tapi notifikasi Instagram. Dari @kinanstudies.

Dadanya langsung berdebar kencang, bukan dengan debar romantis, tapi dengan debar “oh tidak, dia post lagi, gue harus like tapi jangan keliatan desperate”.

Kinan. Si Ratu Aesthetic. Feed nya adalah taman surga yang dikurasi rapi: buku-buku dengan post it warna-warni, latte art yang sempurna, tangan dengan kuku nude memegang highlighter, dan quote-quote tentang self growth yang bikin Ardi merasa dirinya adalah sampah masyarakat yang tidak berkembang. Follower 25.7k. Setiap like nya terasa seperti anugerah. Setiap story nya adalah tutorial hidup yang tidak pernah dia ikuti.

Ardi membuka notifikasi itu. Itu adalah story Kinan. Sebuah boomerang slow motion dari tangannya yang sedang menulis di planner, dengan filter cahaya matahari yang terlalu sempurna untuk diterima di kamar kos Depok. Captionnya: “When your own progress is the only validation you need. ✨ #SelfLoveSunday”

Ardi mendengus. Hari ini Senin dini hari.

Tapi jempolnya, yang dikendalikan oleh otak reptil yang haus validasi, sudah bergerak lebih dulu. TAP. Sebuah like kecil tersimpan. Dia lalu membuka profil Kinan, seperti ritual tengah malamnya. Scroll, scroll, scroll. Melihat kehidupan yang begitu tertata. Merasa sekaligus terinspirasi dan ingin menangis.

Lalu, tanpa disengaja, jempolnya yang mulai lelah itu menekan terlalu lama sebuah foto. Foto itu enlarged. Dan itu bukan foto biasa.

Itu adalah foto yang seharusnya tidak ada di sana.

Foto dengan potongan rambut bowl cut yang sangat parah, alis yang belum pernah disentuh oleh pinset, dan senyum polos dengan behel warna-warni. Kinan, tapi versi yang tampaknya berasal dari dimensi lain di mana aesthetic belum ditemukan. Caption foto itu: “Throwback to when I thought this was a slay. 🙈 #GlowUp”

Tanggal unggahan: 147 MINGGU YANG LALU.

“Astaga,” Ardi bergumam pelan, sebuah senyum kecil muncul karena melihat sisi relatable dari sang dewi. Refleksnya, karena otaknya sudah setengah mati dan dipenuhi keripik bawang, adalah memberi apresiasi pada keberaniannya. Jempolnya menekan ikon hati.

DING.

Suara notifikasi like nya sendiri terdengar nyaring di kamar yang hening. Hatinya yang tadi tersenyum, langsung membeku.

Tunggu.

Tunggu dulu.

Apa yang barusan gue lakukan?

Matanya membelalak ke layar. Di sana, di bawah foto bowl cut mematikan itu, tertulis dengan jelas: disukai oleh ardi.pras.

Waktu seakan berhenti.

“ENGGAK!” teriaknya, suaranya pecah di tengah. Jarinya langsung menari-nari panik di atas layar. Unlike! Unlike! Cepat, unlike! Tapi Instagram, aplikasi yang terkenal lancar itu, tiba-tiba menjadi sangat lambat. Ikon hati berwarna merah muda itu hanya berkedip, seolah mengejek.

“Please, please, please,” desisnya, mengetuk-ngetuk layar seperti orang kesurupan.

Akhirnya, ikon itu kembali kosong. Tapi apakah sudah terlambat? Apakah Kinan dapat notifikasi? Apakah dia melihat?

Mungkin enggak, bisik hatinya yang penuh harap. Mungkin dia tidur. Orang yang aesthetic pasti punya jam tidur yang aesthetic juga, jam 9 malem udah tidur.

Lalu, HP nya bergetar lagi.

Bukan notifikasi like. Bukan notifikasi story.

Tapi NOTIFIKASI DIRECT MESSAGE.

Dari @kinanstudies.

Dingin. Seluruh tubuh Ardi diselimuti rasa dingin yang lebih tajam dari AC murah di kosannya. Jantungnya berdebar kencang sampai-sampai dia bisa mendengarnya di gendang telinga.

Dengan tangan gemetar, dia membuka DM itu.

Bukan satu baris. Bukan dua.

Tapi PARAGRAF PANJANG.

kinanstudies: Hi. Saya perhatikan ada aktivitas seperti dari akun ini di postingan lama saya. Saya ingin mengingatkan tentang pentingnya digital boundaries dan respect atas ruang privasi setiap orang. Kita semua berhak merasa aman di ruang online kita. Melihat konten lama seseorang bisa dianggap sebagai bentuk invasive behavior yang tidak nyaman. Saya harap kita bisa sama-sama belajar untuk menjadi pengguna media sosial yang lebih mindful dan conscious. Let’s spread kindness, not discomfort. ✨

Ardi membacanya tiga kali. Setiap kata seperti pukulan kecil. Invasive behavior. Digital boundaries. Spread kindness.

Dia merasa dirinya bukan lagi Ardi, mahasiswa biasa. Dia adalah seorang penjahat digital. Seorang stalker. Monster yang mengintai dari balik layar hp bekasnya.

Dia harus membalas. Harus minta maaf. Menjelaskan bahwa ini kesalahan. Kecelakaan. Tapi otaknya yang panik blank total. Apa yang harus ditulis? “Maaf kak, saya cuma kecelakaan, abisnya lagi ngantuk dan bau mulut”? Tidak. Itu tidak cukup aesthetic.

Dia mengetik, menghapus. Mengetik lagi, menghapus lagi. Keringat dingin membasahi keningnya. Di luar, ayam jago sudah mulai berkokok, seolah mengejek kekacauannya.

Akhirnya, dalam keputusasaan, dia menekan kirim.

ardi.pras: maaf ka kinan bgt ini kesalahan teknis tp sbnrnya aku bisa relate bgt sm perasaan ka, aku jg lg down banget ni karena tugas managemen operasi ini literally bikin mental health gua anjlok, basically gue gabisa move on dr deadline ini

Dia menatap pesan yang terkirim. Otaknya baru memproses kata per kata.

“Literally bikin mental health gua anjlok.”

“Basically gue gabisa move on.”

Itu bukan bahasanya. Itu adalah bahasa mantan Kinan, si youtuber podcaster yang sering dia stalk (diam-diam) karena penasaran. Bahasa yang sering dijadikan bahan story Kinan sebagai contoh “toxic positivity” dan “emotional dumping”.

Dia baru saja menggunakan bahasa mantan pacarnya untuk minta maaf karena accidental like.

Tambah. Parah.

Dia menjatuhkan kepalanya ke meja dengan suara “dug”. Ini bukan lagi kesalahan. Ini adalah bencana berlapis. Sebuah multi level marketing of embarrassment.

HP nya bergetar lagi. Sekali. Dua kali.

Kinan sedang mengetik balasan.

Ardi memejamkan mata, tidak berani melihat. Di dalam gelapnya, dia sudah membayangkan berbagai kemungkinan: dilaporkan ke cyber crime, di expose di story, dikirimkan quote tentang red flags.

Getar terakhir. Pesan masuk.

Dengan satu mata terbuka, dia melihat.

kinanstudies: …Wait. Who are you? And how do you know those words?

Dan di bawahnya, notifikasi kedua:

kinanstudies memulai panggilan video...

“YA AMPUN!” teriak Ardi, melemparkan HP nya ke atas kasur seperti benda panas. HP itu mendarat di tumpukan kaos kotor, dengan layar masih menampilkan permintaan panggilan yang berdenyut-denyut, seperti bom digital.

Di luar, matahari mulai menyingsing, menyinari hari yang baru. Bagi Ardi, hari ini bukan hari baru. Ini adalah hari kiamat digitalnya yang pertama.

Dan di seberang kota, Kinan menatap layar HP nya dengan mata berkaca-kaca, tidak karena sedih, tapi karena marah campur penasaran level 100. Siapa pria misterius dengan profile picture burung hantu ini, dan kenapa dia tahu bahasa rahasia luka lamanya?

#SalahFollow bukan dimulai dari cinta pada like pertama. Tapi dari panik pada like yang salah, dan sebuah DM yang bikin ingin menghapus diri dari muka bumi atau setidaknya, dari Instagram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!