NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Kepulan asap menguar di udara, menemani keriuhan yang terjadi di kantin organisasi mafia Blade. Banyak anggota yang sedang melaksanakan makan siang setelah latihan berat yang di lakukan mereka dari pagi.

Di antara banyaknya orang-orang tersebut, terdapat satu sosok yang senang menyendiri dan di jauhi oleh anggota lainnya. Dia Clara Agatha.

Wanita berumur 24 tahun yang mampu mengalahkan asisten pribadi ketua organisasi tersebut, sejak kejadian itu tatapan iri dan benci sering kali dia dapatkan.

Seperti saat ini, sekelompok anggota kelas B mendatangi meja Clara lalu meletakan nampan berisi sisa makanan mereka.

"Sepertinya, kau kurang makan." Suara dari pria bernama Dova menggema di kantin itu. "Nih, aku masih ada sisa makanan. Lumayan untuk menambah gizimu."

Terdengar tawa di seluruh ruangan itu, nampan yang Dova sodorkan berisi tulang iga sapi dan juga beberapa potong cabai merah serta nasi yang sudah di acak-acak.

Clara tak menggubris, dia paling malas meladeni hal murahan seperti itu. Namun, Dova bukanlah pria yang mudah menyerah. Dia terus memprovokasi Clara, dan mengejeknya seakan Clara adalah sampah masyarakat.

"Kenapa diam saja? Kau terharu?" Ejek Dova.

Tak ada jawaban, Clara masih saja menunduk dan memakan jatah makanannya dengan tenang seakan Dova tidak ada di sana.

"Wah, rupanya anjing ketua organisasi kita tuli."

Kata-kata Dova itu sontak memancing gelak tawa yang lebih ramai. Suara sendok garpu terhenti, semua perhatian kini mengarah pada satu meja kecil yang ditempati Clara. Namun perempuan itu tetap diam, tak bergeming sedikit pun.

Sikapnya membuat beberapa anggota semakin kesal. Bagi mereka, ketidakpedulian Clara bukanlah bentuk kelembutan seorang wanita melainkan penghinaan.

Dova menyeringai lebar, merasa telah mendapatkan panggung di hadapan teman-temannya.

"Kau benar-benar tidak punya harga diri ya?" katanya sambil menyikut bahu rekannya yang lain.

Clara masih tak menanggapi. Tangannya tetap bergerak perlahan, menyuapkan makanan seadanya ke mulut. Sikap tenangnya begitu kontras dengan riuhnya kantin, membuat banyak anggota justru merinding. Mereka semua tahu siapa Rora.

Mereka tahu apa yang telah dia lakukan. Bahkan Dova sendiri tahu… hanya saja, dia merasa aman karena statusnya sebagai anak buah dari asisten ketua.

Sebuah kesalahan yang akan dia sesali.

"Hey, aku bicara denganmu, Clara!" teriak Dova sambil menepukkan tangannya ke meja.

Nampan Clara bergeser sedikit, namun dia tetap duduk tegak. Dari samping, terlihat rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu.

"Dia diam karena tahu diri," sahut anggota lain sambil tertawa.

"Atau mungkin dia takut?" tambah yang lain, suaranya cempreng dan menggelitik telinga.

Dova memutar bola mata dan mendengus. "Takut? Dia? Hah! Dia cuma sampah yang kebetulan punya keberuntungan bisa menang melawan asisten ketua. Itu pun mungkin karena si asisten sedang tidak fit."

Beberapa anggota mengangguk. Ada pula yang memperkuat ejekan itu.

"Benar. Mana mungkin perempuan seperti dia menang kalau tidak dibantu keberuntungan?"

"Atau dia memakai cara curang?"

"Sihir mungkin?"

Suara-suara itu bertumpuk, semakin gaduh, semakin tajam. Namun Clara tetap diam. Hanya sedikit gerakan jari pada sendok yang menunjukkan bahwa dia mulai kehilangan kesabaran.

"STOP!"

Suara berat itu menggema dari pintu kantin.

Beberapa anggota langsung menegakkan tubuh. Tapi Dova masih terlalu asyik mengolok Clara hingga tidak menyadari kehadiran orang tersebut.

Laki-laki bertubuh tinggi dengan mata kelam itu berjalan mendekati kerumunan. Namanya Kryson, tangan kanan ketua Blade. Wibawanya membuat ruangan menjadi dingin seketika.

"Dova."

Satu kata, cukup membuat pria itu menegakkan tubuh.

"T-Tuan Kryson… saya hanya—"

"Berkelahi di luar latihan diperbolehkan jika ada alasan jelas. Tapi mengganggu orang saat makan? Itu hal yang menjijikkan."

Dova menelan ludah. Sorot mata Kryson membuatnya ciut. Namun, demi menyelamatkan harga diri, dia berusaha tetap terlihat keras kepala.

"Aku hanya… memberikan jatah makanan lebih, Tuan."

Kryson menatap nampan berisi tulang dan nasi sisa. Rahangnya mengeras.

"Sungguh?" Suara itu terdengar tenang, namun mengintimidasi.

"Y-Ya…"

"Maka makanlah."

Semua orang terdiam.

"A… apa?" suara Dova tercekat.

"Makanlah," ulang Kryson santai, "kau memberi makanan itu dengan niat baik, bukan? Atau kau ingin aku menyuapi?"

Tawa menekan mulai terdengar dari beberapa sudut. Dova langsung pucat pasi.

"T-Tuan, ini kehormatan—"

"Kalau kau tidak menghormati makananmu sendiri, jangan sodorkan ke orang lain," ujar Kryson dingin. "Atau… kau sengaja membuat masalah dengan orang yang sudah jelas-jelas melebihi kemampuanmu?"

Semua tatapan beralih pada Clara.

Perempuan itu tetap duduk di kursinya, menatap makanan tanpa minat, seolah kejadian ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.

"A-Aku…" Dova memudarkan suara.

Kryson menunduk sedikit, menyamakan tinggi wajahnya dengan Dova. Meski tersenyum, matanya sama sekali tidak ramah.

"Makan. Atau keluar dari Blade sekarang juga."

Dova tahu pilihannya. Perlahan, dengan gemetar, dia mengambil nampan itu. Tawa anggota mulai pecah ketika dia mencium bau busuk dari sisa-sisa makanan tersebut.

"Kau tak perlu memaksanya."

Suara Clara tiba-tiba terdengar.

Semua orang langsung hening. Udara seakan membeku.

Clara mengangkat wajahnya yang tenang. Mata gelapnya bersinar tajam bagaikan bilah belati. Suaranya sangat pelan, namun cukup untuk menghentikan tawa yang tadi muncul di kantin.

"Aku tidak butuh pembelaan dari siapa pun."

Kryson mengerutkan kening. "Clara, kau tidak—"

"Dia punya dua tangan, dua kaki, dan mulut yang berfungsi," potong Clara tanpa menatap Kryson. "Kalau dia mencari mati, biarkan saja. Aku bisa mengambil salah satunya, atau seluruh organ tubuhnya tergantung dia ingin yang mana."

Suasana kembali riuh. Beberapa anggota tertawa semakin keras melihat Dova semakin gemetar.

"C-Clara… jangan sombong…" geram Dova, memaksakan diri berbicara meski jelas takut.

Clara berdiri perlahan. Gerakannya membuat beberapa orang mundur tanpa sadar.

Dia mengambil nampan makanannya sendiri, lalu dengan tenang mendorong kursinya kembali. Suaranya datar, tapi aura membunuhnya mulai terasa jelas.

"Aku tidak peduli apa pun omonganmu. Tapi sekali lagi kau menganggu makanku, maka jangan heran jika keesokan paginya kau sudah cacat." Dia berjalan perlahan mendekati Dova.

"Dova…" Clara berhenti tepat di depannya.

Jaraknya begitu dekat hingga Dova bisa melihat pantulan dirinya pada mata Clara.

"Satu hal yang harus kau tahu. Jika aku ingin membalasmu…" dia meraih kerah Dova dengan satu tangan. "Kau tak akan sempat mengeluarkan suara."

Dova terangkat beberapa centimeter dari lantai. Para anggota terhenyak.

"K-kurang ajar!!" jerit Dova hampir menangis.

Tangan Clara mencengkeram lebih keras. Ada suara retakan kecil dari kerah baju Dova. Napas Dova memburu, wajahnya memerah.

"Kalau kau masih punya nyali untuk datang padaku lagi…" Clara mendekat, berbisik di telinganya, "...pastikan dulu aku sedang dalam suasana hati yang baik."

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!