Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Langit sore mulai berubah jingga ketika Arisa Salsa Bila, yang akrab dipanggil Acha, berdiri di depan minimarket tempatnya bekerja. Sesekali dia melirik layar ponselnya yang sejak tadi belum juga menunjukkan balasan dari seseorang yang paling dia tunggu.
"Ayolah, Ka... sekali ini aja," gumamnya pelan.
Jarinya kembali mengetik pesan.
"Hai Sayang, bagaimana kabar kamu sekarang aku kangen?."
"Kamu kemana aja sih, kok gak pernah mengabari aku sih"
Beberapa menit berlalu. Tak ada balasan.
Acha mengembuskan napas panjang. Dia mengenal Raka sebagai sosok yang baik, tetapi terkadang terlalu sibuk dengan dunianya hingga sering mengabaikan hal-hal kecil yang menurut Acha sangat berarti.
Ponselnya akhirnya bergetar.
"Kamu tuh ngapain sih telpon telpon aku, kan aku udah bilang jangan pernah telpon aku duluan kecuali aku yang telpon kamu. Kalau orang tua aku tahu gimana kan kamu tahu aku gak di bolehin dulu pacaran sebelum aku dapat pekerjaan."
Seketika wajah Acha berubah murung. Dia langsung menekan tombol panggil.
"Halo kamu dengar aku gak sih?" suara Raka terdengar lelah dari seberang.
"Ya mau bagaimana lagi. Habisnya kamu gak pernah ada kabar sama aku. Aku harus cari kamu kemana?. Pesan dari aku aja gak ada satu pun yang kamu bales kan!"
"Yah kamu sabaran dikit dong nanti juga aku bales, kalau nanti aku udah gak sibuk lagi. Kamu kan tahu sendiri kalau aku lagi cari kerja, lagian dunia aku juga bukan cuma kamu doang tahu, aku juga punya kehidupan sendiri."
Suasana di ujung telepon mendadak hening. Raka menghela napas panjang.
"Aku ngelakuin ini juga kan buat kita. Kalau Aku udah dapet pekerjaan juga kan buat masa depan kita nanti biar bisa main sama-sama lagi."
"Iya deh aku yang salah?" Ucap Acha menarik nafasnya perlahan-lahan karena Acha tidak mau memperpanjang permasalahannya dengan Raka
"Iya, gak papa, tapi lain kali jangan kaya gitu lagi yah." Jawab Raka acuh dengan suara dinginnya tidak menunjukkan kehangatan.
"Kamu mau kan temenin aku ke acara pertunangannya Teh Sonia" Ucap Acha sedikit ragu karena suasana hati Raka sekarang sedang tidak baik-baik saja, bahkan tidak ada jawaban disebrang sana sehingga membuat Acha sedikit takut.
"Kapan" Tanya Raka singkat.
Ada raut kebahagiaan diwajahnya Acha karena ternyata ada secercah harapan untuk Raka mau datang ke acara pertunangan.
"Sekarang, bisa yah!!, aku gak mau datang ke sana sendirian, lagian kalau aku datang sendirian ke sana pasti si Aa nanyain kamu, terus aku harus jawab apa?"
"Kamu tuh kebiasaan banget sih, kalau ada acara di keluarga kamu tuh selalu dadakan, kalau aku bilang gak bisa gimana " Ucap Raka marah-marah.
"Salah lagi kan, kenapa sih gue selalu salah dimatanya" Gerutu Acha didalam hatinya dan mencoba bersabar dan bersikap biasa saja.
"Ya mau gimana lagi kalau aku ngomong nya dari jauh-jauh harinya juga kan yang ada kamu menghindar terus dan banyak aja alesannya, kaya waktu aku ngajakin kamu acara bukber bareng keluarga aku juga kamu kaya gitu kan banyak alasannya" Keluh Acha mengeluarkan keluhannya.
"Aku gak bisa, sibuk" Ucap Raka dengan ketusnya banyak basabasi.
"Yaudah kalau kamu gak bisa aku suruh aja Aa aku buat ngomong langsung sama kamu, mumpung dia ada di sebelah aku nih" Ucap Acha mengancam Raka usil berharap Raka bisa terpengaruh dengan ucapannya Acha.
Dan benar saja kan Raka langsung mengiyakan ajakannya Acha tanpa mengeles lagi membuat Acha merasa senang karena rencananya berhasil dengan melibatkan kata Alfian kakaknya Acha.
Telepon pun berakhir. Acha tersenyum lega tanpa menyadari bahwa hari itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang mengubah hidupnya.
Tanpa menunggu waktu lama lagi Acha langsung bersiap-siap untuk pergi ke acara pertunangannya Sonia dan Basith.
Tak lama kemudian, Raka datang dengan kemeja polos berwarna biru tua. Dia tersenyum sopan lalu menyalami Yanto dan ibunda Acha sebelum duduk di sofa.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam. Duduk, Raka," jawab Yanto singkat.
Beberapa saat suasana masih dipenuhi obrolan ringan. Namun, raut wajah Yanto perlahan berubah serius.
"Raka," panggilnya.
"Iya, Pak?"
"Katanya kemarin masih cari kerja. Sekarang gimana? Sudah dapat pekerjaan belum?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sejenak. "Belum, Pak. Saya masih berusaha melamar ke beberapa tempat."
Yanto mengangguk pelan. "Kalau laki-laki itu harus punya pekerjaan tetap. Jangan cuma modal niat. Masa depan anak saya juga harus dipikirkan."
Raka hanya mampu mengangguk sambil menundukkan kepala. "Iya, Pak. Saya mengerti."
"Kenapa setiap datang ke sini yang ditanyakan selalu pekerjaan? Apa memang itu saja yang mereka lihat dari diri gue?" Gerutu Raka dalam hatinya.
Meski jawaban itu terdengar tenang, dadanya terasa sesak. Dia sadar pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan keraguan seorang ayah terhadap dirinya.
Suasana ruang tamu mendadak canggung, beruntung, suara langkah kaki dari arah kamar memecah keheningan. Semua mata langsung menoleh.
Acha keluar mengenakan gaun panjang berwarna sage yang sederhana namun anggun. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin manis.
"Wah, cantik banget," puji Yanto sambil tersenyum.
Acha tersipu malu. "Aku berangkat ya, pah."
Yanto mengangguk. "Iya. Jangan sampai telat. Hari ini kan acara pertunangan Sonia sama Basit."
Sonia adalah putri dari Umi Nani, besannya keluarga mereka. Hari itu menjadi momen yang membahagiakan karena Sonia resmi bertunangan dengan Basith.
Di acara itu pula, Alfian—kakak laki-laki Acha—akan hadir bersama keluarga besarnya untuk mendampingi prosesi pertunangan.
Acha melirik Raka yang masih terlihat murung akibat pertanyaan Yanto beberapa menit lalu. Dengan senyum kecil, dia menggenggam tangan Raka sebentar, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Acha keluar dengan gaun panjang yang telah dipilihnya sejak semalam. Dia berdandan sederhana, memakai riasan tipis dan sedikit lipstik berwarna lembut.
Berkali-kali dia bercermin sebelum keluar karena berharap seseorang akan mengatakan bahwa hari itu dia terlihat sangat cantik.
Begitu melihat Raka, senyum Acha langsung mengembang. "Gimana? Cantik, nggak?" tanyanya penuh harap.
Namun, Raka yang masih kesal karena harus menunggu dan merasa tertekan oleh pertanyaan Yanto hanya menghela napas.
"Cha, kamu tuh lama banget sih dandannya. Aku dari tadi nungguin kamu. Jadinya aku harus ngobrol terus sama papah kamu, kamu tahu sendiri kan aku tuh gak suka lama-lama nunggu dirumah kamu!!."
Ucapan itu membuat senyum Acha perlahan memudar.
Acha sempat menatap wajah Raka beberapa detik. Dalam hatinya, Acha berharap akan mendengar kalimat sederhana seperti, "Kamu cantik hari ini."
Namun, harapan itu tidak pernah keluar dari bibir Raka. Yang terdengar hanyalah keluhan.
Acha menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
Dadanya terasa sesak, tetapi dia tidak ingin memperkeruh suasana sebelum mereka berangkat ke acara pertunangan Sonia dan Basit.
Dengan suara lirih, Acha hanya berkata, "Maaf ya, sayang... aku cuma ingin tampil rapi aja."
Raka terdiam. Dia baru menyadari nada bicara Acha berubah begitu pelan.
Namun, Acha sudah lebih dulu memaksakan sebuah senyum. "Yuk, nanti kita terlambat." Tak ada lagi yang dia ucapkan.
Di balik senyum yang terlihat biasa, Acha sedang menelan kecewa yang begitu dalam. Dia belajar satu hal pada hari itu—terkadang, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk tampil cantik, bukan demi dipuji banyak orang.
Melainkan hanya ingin mendengar satu kalimat sederhana dari orang yang paling dicintainya. Sayangnya, hari itu, kalimat yang dia nantikan tak pernah datang.
Semua itu menjadi luka kecil yang disimpan Acha seorang diri. Dia memilih diam, bukan karena tidak sakit, tetapi karena dia takut jika mengungkapkan perasaannya, hari yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah menjadi pertengkaran.
Rumah Umi Nani tampak ramai dipenuhi keluarga dan para tamu undangan. Tenda putih berdiri megah di halaman, dihiasi rangkaian bunga berwarna krem dan putih.
Tawa para tamu bercampur dengan alunan musik yang membuat suasana pertunangan Sonia dan Basit terasa hangat.
Acha berjalan perlahan sambil membawa segelas es teh manis. Sesekali dia menyapa saudara yang dikenalnya.
Di sisi lain, Raka lebih sibuk memainkan ponselnya. Dia hanya mengangguk saat beberapa orang mengajaknya berbincang.
Acha sempat melirik ke arah Raka, berharap dia mau menemaninya berkeliling. Namun Raka tetap fokus pada layar ponselnya.
"Ya sudah..." gumam Acha pelan.
Saat hendak berbalik, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria yang baru saja membawa beberapa kotak hantaran.
Bruk!
"Gelasnya...!"
Es teh di tangan Acha tumpah dan membasahi kemeja putih pria itu.
"Astaga... maaf! Maaf banget, aku benar-benar nggak sengaja," ucap Acha panik sambil mengambil tisu dari dalam tasnya.
Pria itu justru tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, kok. Ini cuma baju, nanti juga kering."
"Tapi jadi kotor begini..."
"Serius, nggak masalah."
Sikap tenang pria itu membuat Acha sedikit lega. Dia tetap membantu mengusap noda yang menempel di lengan kemeja pria tersebut.
Dari kejauhan, Raka melihat kejadian itu. Namun dia hanya melirik sekilas, lalu kembali menundukkan kepala menatap ponselnya, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Acha sempat berharap Raka datang menghampiri atau sekadar bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Sayangnya, harapan itu kembali pupus.
"Kalau begitu, aku permisi ya. Sekali lagi maaf," kata Acha.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum ramah. "Iya, hati-hati."
Acha melangkah pergi, tetapi bayangan wajah pria itu masih teringat di kepalanya. Dia merasa asing karena belum pernah melihatnya di setiap acara keluarga Umi Nani.
Beberapa saat kemudian, Acha menghampiri Suci, kakak iparnya, yang sedang membantu merapikan hantaran.
"Teh (dalam bahasa Sunda yang artinya kakak)."
"Iya, Cha?"
"Itu tadi siapa, ya? Yang bajunya kena tumpahan minuman aku. Aku jadi merasa gak enak nih teh sama dia."
Suci menoleh ke arah pria yang dimaksud lalu tersenyum. "Oh... itu Nathan."
"Nathan?"
"Iya. Namanya Andra Nathan Ardimana."
Acha mengangguk pelan. "Pantas aja aku nggak pernah lihat."
Suci tersenyum hangat. "Nathan memang jarang ikut kumpul keluarga. Dia lebih sering sibuk kerja. Lagipula, dia bukan anak kandung Umi Nani."
Acha tampak terkejut. "Maksudnya?"
"Dia anak angkat Umi Nani. Dari kecil sudah dirawat dan dibesarkan seperti anak sendiri. Walaupun begitu, semua keluarga menyayanginya seperti keluarga kandung."
Acha kembali menatap Nathan dari kejauhan.
Di tengah kesibukan acara, Nathan terlihat membantu memindahkan kursi, mengangkat konsumsi, hingga menyambut tamu tanpa sedikit pun mengeluh. Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya.
Entah mengapa, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan dalam hati Acha.
Dia belum mengenal Nathan, tetapi keramahan dan ketulusannya membuat pria itu tampak berbeda dari orang-orang yang pernah dia temui sebelumnya.
Acara pertunangan Sonia dan Basit akhirnya usai menjelang sore. Acha berpamitan kepada Umi Nani, Fitri, dan keluarga lainnya sebelum pulang ke rumah.
"Kamu kenapa sih jutek banget sama aku, kamu masih marah gara-gara aku ajak ke acara pertunangannya teh Sonia" Ucap Acha berdiri dihadapannya Raka yang sudah siap menjalankan motornya.
"Itu tahu sendiri terus kenapa masih banyak tanya, udah cepet pakei helm nya panas tahu cuacanya, aku gak mau kelamaan disini".
Raka memberikan helmnya kepada Acha tanpa memperdulikan perasaan Acha saat ini yang sedang campur aduk tentang hubungannya yang akan dibawa ke mana.
Sepanjang perjalanan, suasana di antara Acha dan Raka terasa begitu hening. Tidak banyak percakapan yang mereka lakukan.
Sesampainya di konternya Alfian, Acha langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Raka yang masih diatas motornya.
Raka nampak biasa-biasa saja seperti tidak merasa bersalah melihat sikapnya Acha yang sedang ngambek kepadanya dan Raka memilih untuk pulang kerumahnya.
Acha langsung masuk ke kamar dan melepas heels dan mengganti gaunnya dengan baju daster agar nyaman.
Acha langsung menghamburkan badannya keatas kasur dan menangis sejadi-jadinya karena perlakuan Raka yang semakin kesini malah semakin kasar.
Pada saat Acha sedang menangis panggilan telepon dari Ranti mamahnya. Acha langsung pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan segera meminum air putih agar suaranya tidak serak agar tidak ketahuan karena sudah menangis.
"Hallo Acha kok kamu lama banget sih angkat telponnya, kamu gak papa kan. Kok pulangnya malah kerumah Alfian sih bukannya kerumah" Ucap Ranti dan Acha masih terdiam tidak menjawab sehingga membuat Ranti manaruh kecurigaan.
"Kamu gak lagi berantem kan sama Raka" Ucap Raka perkataannya membuat Acha mengingat kembali kejadian dimana Raka memperlakukan Acha dengan kasar.
"Acha kamu dengerin mamah gak sih, kok gak ada suaranya sih" Ucap Ranti membuyarkan lamunan Acha, tak lupa Acha mengusap air matanya yang jatuh.
"Ah, Iyyaa iya aku dengar kok mah, iya tadi aku lagi ganti baju dulu jadi gak sempat Terima panggilan telpon dari mamah deh" Ucapnya terbata-bata dan sudah dipastikan kalau Ranti menyadari sikapnya Acha yang berubah.
"Kamu tadi pergi sama siapa ke acara pertunangannya Sonia" Tanya Ranti mengalihkan pembicaraan dengan Acha karena dari tadi Acha diam saja.
"Ya sama Raka lah mah, sama siapa lagi emangnya" Ucapnya Acha.
"Kok gak pamit dulu sih sama mamah" Ucap Ranti penuh selidik.
"Kamu beneran gak lagi berantem kan sama dia"
"Gak kok mah, tadi aku panggil panggil mamah tapi gak nyaut nyaut juga mamah nya, papah bilang mamah lagi solat, jadi aku pamit sama papa aja deh" Ucap Acha menjelaskan.
"Syukur deh kalau gitu" Ucap Ranti.
"Mamah tumbuh nelpon aku siang-siang begini biasanya mamah selalu sibuk masak kalau jam segini" Ucap Acha mengalihkan pembicaraan agar Ranti tidak membahas soal Raka lagi.
"Oh iya mamah samapai lupa kan sama tujuan mamah nelpon kamu itu karena mau minta tolong sama kamu soal biaya perpisahannya Fitri, gak papa kan kamu yang bayarin dulu soalnya jualannya papa lagi sepi" Ucap Ranti.
"Boleh lah mah, lagian kan akhir akhir ini Acha sering lembur kerjanya jadi gajihan ny ditambahin sama uang bonus aku lembar mah" Ucap Acha.
"Emangnya mamah butuh berapa" Tanya Acha.
"700 rb, tapi kalau kamu gak ada juga gak papa kok, sebisanya aja kamu jangan maksain yah" Ucap Ranti merasa tidak enak.
Udah mamah gak usah khawatir, udah aku transfer tuh 500 rb, nanti sisanya aku langsung kasih besok soalnya aku baru gajihan nya besok" Ucap Acha
"Gak papa kok sayang itu juga udah jauh lebih cukup kok, makasih yah" Ucap Ranti merasa senang disebrang sana sampai Acha bisa merasakan kesenangan yang dirasakan Ranti saat ini.
"Coba mamah cek dulu udah masuk belum" Ucap Acha.
"Bentar yah mamah cek dulu" Ucapnya.
Ranti mengecek rekening yang masuk dan ternyata ada transferan 500 rb dari Acha.
"Udah nih, udah masuk, makasih yah Cha kamu memang anak mamah yang bisa diandalkan" Ucap Ranti.
Dia merasa bangga dengan anaknya disaat dia dan Yanto sedang kesusahan Acha tidak pernah perhitungan dan selalu mengutamakan keluarganya.
"Iya sama sama mah, eh mah udah dulu yah buk ema tiba-tiba telpon nih, aku angkat telpon dulu yah" Ucap Acha.
"Iyaa Cha, sekali lagi makasih yah" Ucap Ranti mematikan sambungan teleponnya dan Acha mengangkat panggilan telpon dari Ibu Ema atasannya Acha.
"Halo buk" Ucap Acha mengangkat panggilan telpon dari atasnya.
"Gini Cha, hari ini tuh warung lagi rame banget Tasya sampai kewalahan gara-gara Amina tiba-tiba sakit, kamu mau gak masuk kerja menggantikan Amina, soalnya ibu gak bisa jaga warung karena harus mengambil rapotnya Dek Hilwa" Ucap Ibu Ema menjelaskan panjang lebar.
"Bisa kok buk, kebetulan aku juga udah pulang dari acara pertunangannya teh Sonia" Ucap Acha.
"Makasih yah Acha, nanti ibu tambahin deh gajihan nya" Ucap Ibu Ema.
"Beneran buk, makasih yah buk" Ucap Acha penuh semangat.
"Iya sama-sama, kalau gitu ibu tunggu yah di warung" Ucap Ibu Ema.
"Iya buk, Siap-siap aku langsung ke sana" Ucap Acha langsung bersiap-siap memakai baju seragamnya setelah panggilan telepon berakhir.
Acha berangkat kerja sambil berjalan santai menuju minimarket tepatnya bekerja karena jarak dari rumah ke tempat kerja cuma memakan waktu 10 menit saja.
Acha disambut dengan kedatangan sales yang sedang menurunkan barang kedalam minimarket.
"Teh tolong cek barang-barang yang diturunin di mobil dong takutnya ada yang kurang sama struk belanjaannya" Ucap Tasya sedang sibuk dengan pelanggan yang sedang mengantri dimeja kasir.
Acha mengecek barang-barang satu persatu dengan yang ada di dalam struk belanjaannya takutnya ada barang yang sudah ditulis namun barangnya tidak dikirimkan.
"Barangnya sudah sesuai kan mbak" Ucap sales yang baru saja selesai menurunkan barang-barang didalam mobilnya.
"Iya udah kok aman" Ucap Acha memberikan tandatangan dan cap logo toko minimarketnya setelah itu sales pun pergi dan membawa struk belanjaan yang sudah di periksa barang-barangnya sama Acha.
Acha langsung membereskan barang-barang yang tadi diturunkan oleh sales ke dalam rak dan sisanya disimpan di gudang.
"Lembur yah teh" Ucap Tasya mengagetkan Acha yang sedang sibuk memasukkan mie instan kedalam rak belanjaan yang sudah hampir habis stok barangnya.
"Iya nih itung-itung nemenin kamu juga kan, kesian tahu dari pada kamu bengong sendirian di sini" Ucap Acha sedikit tertawa dan masih sibuk menata barang kedalam rak.
"Hmm masa sih, bilang aja di paksa kan sama bu Ema" Tanya Tasya penuh selidik.
"Gak juga kok, gabut aja di kontakan sendiri lagi pada sibuk sama acara pertunangannya Teh Sonia" Ucap Acha meninggalkan Tasya dan pergi ke gudang merapihkan stok barang-barang yang berantakan.
"Lah emangnya teh Acha gak ikut ke acara pertunangannya yah" Ucap Tasya malah membuntuti Acha kemampuan Acha pergi.
"Udah deh dari pada kepo mending kamu jaga di depan kasir aja takutnya ada yang beli gak kedengaran tahu" Ucap Acha menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Lagian emangnya kamu gak takut apa kepergok sama Ibu Ema di kamera CCTV" Ucap Acha memandang kamera CCTV-nya yang sedang menghadap ke arah Acha dan Tasya.
"Teh Acha nih gak asik. Banget ah" Ucap Tasya cemberut dan pergi ke depan kasir sedangkan Acha tertawa karena telah membuat Tasya merasa kesal.
Tak terasa jam istirahat pun tiba, mereka menutup dulu minimarket untuk mencari makan siang.
"Kita mau makan siang apa nih teh bingung nih" Ucap Tasya sedang mensekrol handphonenya berniat untuk memesan delivery.
"Makan seblak aja yuk, lagi pengen yang pedes-pedes nih, mungkin karena mau datang bulan kali yah" Ucap Acha selesai mengunci pintu minimarket.
"Boleh juga tuh teh" Ucap Tasya.
Mereka pergi ke tempat seblak teh Ida kakanya Mila mereka menikmati perjalanannya dengan berjalan kaki sekalian membakar kalori ditengah teriknya matahari.
Sesampainya disana Acha dan Tasya langsung memesan seblak mumpung masih sepi karena biasanya jam-jam istirahat selesai rame karena banyak anak sekolah yang nongkrong disini.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menunggu seblak nya jadi, pesanan mereka pun datang dan mereka langsung menyantapnya karena mereka sudah kelaparan walupun makannya masih panas.
Dering telpon berbunyi terdapat notifikasi panggil telpon dari handphonenya Acha tetapi yang punya handphone masih sibuk menyantap seblak yang masih berasap.
"Teh handphonenya bunyi tuh" Ucap Tasya menyenggol lengan nya Acha yang terlihat sibuk dengan makanannya.
"Nanti deh lagi enak-enaknya nih" Ucap Acha tak memperdulikan handphonenya yang terus menerus berdering mungkin sudah beberapa kali panggil itu berbunyi.
"Angkat dulu Teh, berisik tahu" Ucap Tasya melirik ponselnya Acha terus-terusan berdering dan melihat nama Fitri di handphonenya namun nampak Acha enggan untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Teh, aku yang angkat nih" Ucap Tasya. Kali ini sambil menyodorkan ponselnya Acha kepada sang pemilik dibarengi dengan seblaknya Acha yang sudah habis. Jadi Acha bisa langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya hallo Fit, kenapa loh telpon telpon gue, kangen yah" Ucap Acha kepada Fitri adiknya.
Mereka memang tidak pernah berkata sopan layaknya kakak adik, mungkin karena perbedaan umur yang cukup 2 tahun jadi seperti layaknya teman sendiri.
"Najis, apaan sih loh geer banget" Ucap Fitri tak kalah sewotnya dari Acha.
Mungkin kalau mereka keluar berdua juga tidak akan pernah ada yang sadar kalau mereka kakak beradik, karena memang wajah Acha dan Fitri sangat jauh dari kata mirip.
Acha yang memiliki perawakan yang berisi dan pendek sedangkan Fitri lebih ke kurus dan tinggi, bahkan banyak yang mengira Acha adalah adiknya mungkin karena Fitri yang selalu memakai make-up sedangkan Acha yang selalu tampil sederhana.
Tetapi perbedaan mereka tidak menjamin itu semua karena Acha sangat bahagia memiliki Fitri adiknya yang bisa mendengarkan curhatannya, sedangkan Fitri juga merasa hal yang sama karena Acha bisa mengabulkan apapun yang Fitri mau.
"Terus loh ngapain telpon gue dijam kerja" Ucap Acha sambil meregot es teh yang dia pesan sambil mengunyah es batu seperti tidak ada rasa ngilu di giginya.
"Ini gue mau ngomong sama loh soal masalah kelulusan gue Cha" Ucap Fitri merendahkan suaranya seperti sedang bersedih.
"Udah gue transfer uangnya sama mamah tadi, loh gak usah sedih gitu ah" Ucap Acha menghibur Fitri.
"Dari pada sedih mending loh sekarang perawatan kaya maskeran atau meni pedih luluran apa lah itu gue gak ngerti, yang biasa loh lakuin itu loh, kan loh mau wisuda tuh biar tambah cantik kan" Ucap Acha yang membuat Fitri tersenyum dengan perkataannya Acha.
"Makasih yah Cha, jujur sebenarnya gue pengen banget loh datang ke acara kelulusan gue, terus loh bawa buket dan kita foto studio bareng" Ucap Fitri merengek sperti anak kecil.
"Tumben banget loh ajak gue, lagian gue gak bisa" Ucap Acha menolaknya mentah-mentah karena memang dari dulu Fitri tidak pernah mengajak Acha ke acaranya Fitri.
"Gue iri sama teman-teman gue, katanya dia bakal dikasih buket sama kakaknya terus mereka merayakan bareng-bareng" Ucap Fitri to the point karena Fitri orangnya tidak mau kalah saing dari yang lain.
"Owh jadi kesana arah pembicaraannya" Ucap Acha menganggu paham.
"Jadi loh mau kan datang ke acara wisuda gue teh trus bawain gue buket" Ucap Fitri memohon kepada Acha dengan sangat.
"Iya nanti gue usahain yah" Ucap Acha singkat.
"Beneran yah, awas kalau loh bohong sama gue, gue aduin loh sama mamah" Ucap Fitri kali ini mengancam Acha.
"Iyaa iya nanti gue datang ah, udah dulu yah gue mau lanjut kerja dulu nih" Ucap Acha.
"Iya, semangat kerjanya yah teteh aku yang paling cantik" Ucap Fitri merah geli dengan perkataannya sendiri.
"Yehhh giliran ada maunya aja" Ucap Acha mendumel dan mengakhiri panggilan teleponnya.
Fitri tidak memperdulikan ocehan Acha yang jelas rencananya akan berhasil dengan tampil diacara wisudanya.
Karena Fitri sudah menyusun satu-persatu rencananya agar wisudanya menjadi momen paling meriah diantara teman-temannya.
Be to continued