Che Tian, seorang Saint terkuat di alam dewa, kecewa ketika kekasihnya, Yuechan, direbut oleh Taiqing, penguasa alam dewa yang dipilih oleh Leluhur Dao. Merasa dihina, Che Tian menantang Taiqing dan dihukum, diturunkan ke bumi untuk mencari kekuatan yang lebih besar. Dengan senjata sakti, Mandala Yin Yang dan Kipas Yin Yang, Che Tian membangun kekuatan baru dan mengumpulkan murid-murid yang setia. Dalam perjalanannya, ia menghadapi pengkhianatan dan rahasia alam semesta, sambil memilih apakah akan membalas dendam atau membawa keseimbangan yang lebih besar bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tian Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kejatuhan Seorang Saint
Di alam dewa tak terbatas, segala sesuatu berada di bawah penguasaan para Saint—makhluk yang diciptakan oleh Leluhur Dao untuk menjaga keseimbangan kekuatan alam semesta. Dari sekian banyak Saint, Che Tian adalah salah satu yang terkuat, lebih unggul dibandingkan kebanyakan lainnya. Namun, meskipun kekuatannya luar biasa, ia selalu berada di bawah bayang-bayang Taiqing, penguasa alam dewa yang dipilih oleh Leluhur Dao. Taiqing yang jauh lebih rendah dari Che Tian dalam hal kekuatan fisik, namun karena takdir, ia dipilih untuk menjadi pemimpin. Sebuah keputusan yang menghancurkan kebanggaan Che Tian.
Hari itu, suasana di ruang pusat alam dewa terasa sangat berbeda. Biasanya penuh dengan kebijaksanaan dan kekuatan yang tenang, namun kali ini, ada ketegangan yang meluap di udara. Che Tian berdiri di depan Taiqing, dengan wajah yang keras dan mata yang memancarkan kemarahan. Di samping Taiqing berdiri Yuechan, kekasih yang sangat ia cintai, namun ekspresinya kosong, seolah dia tak lagi mengenali diri Che Tian. Sesuatu yang telah lama ia rasakan akhirnya menjadi kenyataan yang tak bisa ia hindari.
Che Tian melihat ke arah Yuechan. Wajahnya, yang dulu selalu penuh dengan kehangatan dan cinta, kini hanya bisa menatapnya dengan keheningan yang menyakitkan. Rasa sakit yang menyelusup ke dalam dirinya semakin menjeratnya. “Taiqing… apa yang telah kau lakukan?” Suara Che Tian bergema, namun di dalamnya ada rasa kebingungan yang dalam. Ia merasa seperti ada yang salah, sangat salah.
Taiqing, dengan senyum yang sangat tidak biasa, tidak menjawab langsung. Ia hanya melirik Yuechan dan mengangguk, seolah memberi isyarat yang lebih dari cukup untuk menjelaskan segalanya. “Apa yang terjadi dengan Yuechan, Che Tian?” tanya Taiqing, dengan nada yang tidak peduli.
Saat itu, Che Tian merasakan dunia seakan runtuh di sekelilingnya. Hatinya yang keras dan penuh kebijaksanaan kini dipenuhi oleh kebingungannya yang mendalam. "Kau… merebutnya dariku?" Pertanyaan itu terlepas begitu saja dari bibirnya, penuh dengan penyesalan dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Yuechan, kekasih yang telah ia cintai dengan tulus, hanya bisa menunduk, tidak berani menatapnya. Perasaan itu membuat dada Che Tian semakin sesak. "Apa… apa yang terjadi? Mengapa?" tanya Che Tian, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Namun, ia ingin mendengarnya dari mulut Yuechan. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang memekakkan telinga.
Kecewa dan hancur, Che Tian merasa ada sesuatu yang runtuh dalam dirinya. Di hadapannya, Taiqing berdiri dengan sikap yang penuh dominasi, dengan senyuman yang sangat meyakinkan seakan menganggap segala hal ini wajar saja. "Dia adalah pilihanku, Che Tian," kata Taiqing, dengan nada yang penuh keyakinan.
Kata-kata itu begitu tajam, lebih tajam daripada pedang manapun. Che Tian bisa merasakan hatinya yang retak semakin jauh terpecah. Selama ini, ia percaya bahwa ia dan Yuechan adalah takdir yang telah ditentukan, tetapi kenyataan ini—kenyataan bahwa ia telah kehilangan segalanya—membuatnya kehilangan arah.
Rasa sakit yang luar biasa itu membakar dirinya. “Kenapa dia? Kenapa bukan aku?” Che Tian berteriak, suaranya penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Ia tahu bahwa ini bukan hanya soal Yuechan. Ini soal pengkhianatan, soal ketidakadilan yang ia rasakan begitu dalam.
Taiqing hanya menatapnya tanpa ekspresi, seolah semua ini hanyalah bagian dari sebuah permainan yang tak ada artinya. “Karena aku dipilih, dan kau tidak.” Jawabannya begitu singkat, namun begitu menyakitkan. Semuanya terasa seperti luka yang begitu dalam, yang tidak akan pernah bisa sembuh.
Saat itu, Che Tian merasakan amarah yang menggelegak dalam dirinya. Perasaan tak berdaya yang biasanya tidak ia rasakan kini menguasainya. Tanpa bisa menahan diri, ia maju dengan cepat, tatapannya tajam. "Aku menantangmu, Taiqing! Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Seketika, ruang dewa yang penuh dengan energi tersebut seakan membeku. Semua yang hadir di sana menahan napas, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, sebelum pertarungan dapat dimulai, sebuah suara yang sangat dalam dan berat terdengar, menggema di seluruh alam dewa.
“Cukup, Che Tian.” Suara Leluhur Dao menggema, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia muncul di hadapan mereka dengan sikap tenang, namun jelas menunjukkan bahwa ini adalah masalah yang lebih besar dari yang Che Tian pahami. “Kau berani menantang Taiqing, penguasa alam dewa?”
Che Tian menggigit bibirnya, menahan amarah yang semakin memuncak. Ia merasa tubuhnya seperti dipenuhi dengan Api yang siap membakar segala sesuatu di hadapannya. Namun, dia tahu konsekuensi dari tindakannya. Ini bukan hanya soal kekasihnya. Ini tentang keberanian dan harga dirinya.
“Kenapa bukan aku? Kenapa dia yang kau pilih?!” Teriak Che Tian dengan penuh amarah.
Leluhur Dao hanya memandang Che Tian dengan tatapan yang penuh makna, namun sangat berat. “Karena kau harus turun ke bumi. Di sana, di dunia yang lebih rendah, kau akan belajar sesuatu yang lebih penting daripada kekuatan. Di sana, kau akan menemukan kekuatan yang jauh lebih besar, jika kau pantas.”
Che Tian merasakan tubuhnya mulai tertarik ke bawah, menuju dunia yang lebih rendah. Ketika ia merasa seolah tubuhnya terhisap ke dalam jurang, ia berusaha melawan, namun sia-sia. Sebelum ia sepenuhnya hilang, matanya sempat menangkap sosok Yuechan yang menunduk, wajahnya dipenuhi dengan penyesalan yang mendalam.
“Yuechan… mengapa?” Itu adalah kata terakhir yang ia ucapkan sebelum tubuhnya benar-benar menghilang ke dunia yang jauh lebih rendah.
Che Tian terjatuh ke tanah, tubuhnya terasa sangat lelah dan patah, namun pikirannya tetap tajam. Dunia ini jauh lebih lemah daripada alam dewa, dan sepertinya tidak ada yang bisa ia percayai di sini. Tetapi satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan oleh takdir. Ia akan mencari kekuatan, lebih besar dari sebelumnya, dan ia akan kembali ke alam dewa. Kali ini, ia akan menjadi yang tak terkalahkan.
Dengan Mandala Yin Yang dan Kipas Yin Yang yang masih berada di tangannya, Che Tian bangkit, memutuskan untuk berjalan. “Aku akan kembali… lebih kuat dari sebelumnya.” Kata-kata itu bergema di dalam hatinya, dan tak ada yang bisa menghentikan langkahnya menuju takdir yang lebih besar.
Gambar Mandala Yin Yang