Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
“Mas, hentikan,” Anna terus meminta untuk menyudahi hubungan panas yang terjadi antara dirinya dengan suaminya, Liam.
Tidak memperdulikan Liam tengah menikmati permainannya, pria itu terus memacu tubuh Anna yang sangat nikmat baginya. Meskipun Anna terus meminta untuk menyudahi dibawah sana tapi Liam tetap menggempur sampai mendapatkan puncak.
“Tunggu, Sayang… Sebentar lagi aku akan sampai, aaaaahhhhhh!” tubuh Liam menegang sempurna karena mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.
Anna langsung mendorong tubuh Liam hingga penyatuan tubuh mereka terlepas. Dorongan Anna mendapatkan tatapan sangat tajam dan penuh menyelidik dari Liam. Seolah merasa jijik dan benci, padahal Liam adalah suaminya sendiri.
Apa yang membuat Liam heran, ya karena mereka menikah berdasarkan cinta bukan perjodohan. Sudah lebih dari seminggu Anna terus bersikap sama setiap melakukan hubungan suami istri. Seperti enggan melayani dan seperti benci kepada Liam. Sebenarnya hal apa yang membuat Anna seperti itu?
“Aku boleh bertanya padamu, Anna,” Liam mulai membicarakan masalah yang sangat menganggu pikirannya beberapa hari ini.
Anna tengah memakai pakaiannya kembali, tanpa menoleh kearah Liam sedikitpun. Hanya diam duduk membelakangi pria tersebut, tanpa Liam sadari jika Anna tengah menyembunyikan perasaan bersalahnya.
“Ntah aku yang berlebihan atau tidak, tapi sepertinya sudah seminggu ini kau seakan tidak mau melayani aku,” ucap Liam ekspresi wajahnya sangat tajam tapi ada kesedihan dimata tajam itu.
Susah payah Anna menelan ludahnya karena apa yang Liam tanyakan. Sudah lama Anna menunggu Liam membahas semua ini, akhirnya yang ia tunggu datang juga tapi anehnya kenapa Anna malah takut.
“Apa ada yang salah pada setiap sentuhanku? Katakan jika memang seperti itu, Anna,” Liam memegang tangan Anna dengan sangat erat.
Pegangan Liam membuat hati Anna semakin berantakan, ia sangat berat untuk mengatakan hal selanjutnya. “Mas, pertama aku akan mengatakan jika tidak ada masalah dalam setiap sentuhan yang kau berikan.”
“Lalu kenapa kau seakan diam seperti pohon setiap aku menyentuhmu?”
Anna memberanikan diri menatap Liam, dan jantungnya berdebar sangat kencang. “Sudah seminggu, Anna. Sudah seminggu kau terus bertingkah sama seperti ini, jika memang ada kekurangan… tolong kau katakan saja.”
Tidak ada yang bisa mendeskripsikan seperti apa perasaan hati Anna saat ini. Tangan Anna menggenggam erat tangan Liam, tapi tidak lama karena ia terus menjauhkan tangan suaminya tersebut. Semua tindakan Anna mendapatkan perhatian aneh dari Liam, bukan tindakan yang sering Anna berikan padanya.
“Aku tidak bergairah padamu, lebih tepatnya kau tidak membuatku puas dalam hal ranjang, Mas.”
“Apa? Co… cob… Coba katakan sekali lagi, Anna,” Liam masih belum percaya lebih tepatnya merasa jika semua yang Anna katakan hanyalah candaan belaka.
Anna menatap intens Liam, tanpa kedip dan penuh keberanian ia menatap pria yang sangat ia cintai itu. “Aku tidak bernapsu padamu, Mas. Semuanya hanya palsu, aku tidak puas dalam hal ranjang.”
“Kau tahu, Anna… Semua yang kau katakan ini sangat menyakiti hatiku,” ucap Liam, ia bangkit dari duduknya hingga kini dalam posisi menatap Anna. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan sangat mudah dan apa yang kau katakan tadi… tidak bernapsu?” Liam tertawa kencang tapi terdengar sangat menyakitkan di telinga Anna.
Hanya sebentar Liam tertawa, ia memegang pundak Anna terus menggoyangkan pundak wanita yang sangat ia cintai. Seolah meminta penjelasan pada Anna, mengapa bisa merasakan hal seperti yang sama sekali tidak pernah ia duga.
“Kau bohongkan, Sayang?” Liam ingin memastikan lagi jika semua ini hanya candaan saja.
Tidak ada seperti tanda-tanda jika lagi bercanda diwajah cantik Anna. Wanita cantik berusia 26 tahun itu menatap Liam sangat serius dan sangat dalam, tidak ada tatapan penuh cinta lagi.
“Aku serius, Mas. Maafkan aku selama ini berpura-pura seperti sangat menyukai sentuhanmu.”
“Kau berpura-pura menyukainya?” Liam berdecak, ia menekan kuat pundak Anna mungkin saja ulahnya itu akan menciptakan rasa sakit.
“Demi membuat hatimu senang, satu hal yang paling penting. Karna aku tidak puas denganmu jadi aku ingin kita segera bercerai, Mas,” tanpa ragu Anna mengatakan itu, ia sudah sangat yakin dengan pilihan hidupnya.
Tangan Liam menjauh dari pundak Anna, seolah bergetar menahan rasa sakit didadanya. Ia menatap tidak menyangka kepada Anna yang kini sudah bangkit menuju lemari mengambil tas besar.
“Anna, hentikan. Jangan lakukan tindakan kejam ini, aku tidak bisa hidup tanpamu, Anna!” pinta Liam, ia terus merayu Anna untuk jangan pergi atau bahkan meminta bercerai.
Anna seakan tuli, ia membuka tas besar tersebut memasukkan pakaian tidak terlalu banyak. Karena Anna merasa semua pakaian mewah yang terpajang di lemari mahal tersebut bukanlah harta miliknya.
“Tidak akan ada yang bisa menghentikan keinginanku kali ini, Mas. Aku sangat ingin berpisah murni karena aku tidak puas pada setiap sentuhanmu!” Anna mencoba menjelaskan kepada Liam yang tidak kunjung mengerti.
Kepala Liam terus menggeleng tidak percaya dengan apa yang Anna katakan. Merebut paksa tas besar tersebut, ia meraih tangan Anna ya meskipun terus mendapatkan penolakan.
“Aku akan belajar lebih lagi agar kau menyukai dan merasakan puas, Anna. Tolong jangan pergi dariku,” pinta Liam dengan sesungguhnya.
Hati Anna sangat sakit melihat Liam yang sangat kacau didepannya, dari pertama kali mereka bertemu hingga menikah selama tiga bulan tidak pernah sedikitpun Anna merasa kekurangan kasih sayang dan cinta dari Liam. Hanya saja masa mereka untuk bersama sudah habis, tidak ada hal yang bisa membuat mereka bisa tetap menjalani pernikahan lagi.
“Aku tetap mau kita berpisah, Mas. Aku tidak mau hidup denganmu lagi, semakin lama aku hanya semakin muak padamu,” ucap Anna dengan penuh kebohongan.
“Sampai kapan aku harus terus hidup dalam pura-pura? Terus bersikap seolah sangat mencintaimu padahal yang membuat aku bertahan adalah karna hartamu saja.”
“Tidak mungkin!”
“Itulah faktanya, Liam! Kau harus menerima itu, aku memang tidak mencintaimu. Yang dikatakan Ibumu benar, jika aku… Anna tidak pernah mencintaimu dengan tulus!” Anna bangkit merebut tasnya dari tangan Liam kembali memasukkan baju bajunya yang tergeletak di lantai.
Tangan Liam saling mengepal erat menatap Anna yang tetap kekeh dengan pilihan sepihaknya. Dengan sangat kejam meminta cerai disaat Liam sendiri sangat mencintai Anna tanpa kurang sedikitpun. Bagi Liam kebahagiaan akan adalah utama, jika memang Anna tidak bahagia dalam hidupnya maka Liam harus tetap bisa melepaskannya.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu. Kita akan bercerai sesuai dengan keinginanmu, pergilah dari hidupku jika itu yang bisa membuatmu bahagia.”