Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Lanjut lagi.
...~•Happy Reading•~...
《 Sebelumnya
Pada suatu malam, Darel yang seorang leader boyband dari Korea Selatan bertemu dengan Dara seorang programmer dari Indonesia yang sedang menemui temannya bernama Manche di cafe hotel milik Darel. Pada pertemuan tersebut, terjadi accident diantara mereka, karena Darel telah dikerjai oleh teman wanita yang ingin tidur dengannya.
Rencana wanita itu tidak terlaksana, karena Darel menyadari kondisi tubuhnya tiba-tiba tidak baik. Dia segera kembali ke kamarnya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Sehingga bisa merusak reputasi dan nama baiknya, yang bisa berimbas pada Melo, boyband yang dipimpin.
Saat kembali ke kamar, di lift Darel bertemu dengan Dara yang baru selesai bertemu dengan temannya, Manche. Melihat kondisi Darel yang tidak sehat, Dara berusaha menolong Darel yang tidak bisa mengendalikan diri, agar tidak diketahui para media dan jadi pusat pemberitaan.
Dara dengan senang hati mau menolong dan berani melakukannya, karena mengenal Darel sebagai idol yang diidolakannya, 'bias'nya dari boyband 'Melo'. Sehingga tanpa ragu menolongnya ke kamar.
Dari pertemuan itu, dan kondisi Darel sudah terpengaruh obat yang diberikan penyanyi yang bernama Lanna, membuat Darel melampiaskan hasratnya kepada Dara yang polos. Tanpa curiga terhadap Darel yang dikagumi, baik hati dan idolanya.
Pertemuan yang singkat dan tidak diduga itu membuat Dara hamil dan melahirkan anak kembar bernama Efraim dan Efrima. Darel tidak mengetahui kehamilan Dara, karena selain hidup di negara yang berbeda, Dara tidak pernah menghubungi atau memberitahukan. Walaupun Darel berusaha mencarinya dengan berbagai cara, dia tidak bisa mengetahui keberadaan Dara.
Setelah hidup terpisah bertahun-tahun, Darel tidak berhenti berharap. Dia tetap percaya, suatu saat akan bertemu dengan Dara yang telah merebut hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, tanpa diduga Darel bertemu dengan putranya yang sedang ikut festival musik di Korea Selatan. Putranya bernama memiliki kemampuan yang sama seperti Darel. Bisa bernyanyi dan bermain alat musik, terutama piano.
Dari pertemuan itu, Darel bisa menemui Dara yang sengaja menyembunyikan anak-anaknya atas bantuan putra mereka, Efraim.
Sekarang 》
Setelah Darel melakukan konferensi pers untuk memberitahukan status pernikahan dan juga memperkenalkan istri dan kedua anaknya, publik Korea selatan terbelah. Ada yang bisa menerima, ada juga yang bersikap sinis kepada Darel yang merahasiakan status pernikahannya kepada publik. Pihak-pihak yang tidak suka dengan kesuksesan Darel, mulai memanaskan situasi.
Banyak artis dan penyanyi yang menaruh hati kepada Darel, jadi kecewa dan patah hati. Begitu juga dengan para karyawan wanita yang bekerja di perusahaan dimana Darel sebagai CEO. Mereka yang sudah berusaha menarik perhatian Darel menjadi kecewa dan putus asa, melihat cara Darel memperlakukan istrinya.
Publik Korea Selatan yang hanya mengetahui Darel sebagai member boyband Melo, jadi terkejut saat mengetahui Darel bukan saja mantan leader boyband Melo, tetapi juga putra pemilik Jion Company. Publik tidak berani bersikap secara Frontal atau mengucapkan kata-kata kasar atau menghujat apa yang dilakukan Darel. Karena pada umumnya, publik mengenal dan menghormati Pak Darpha, Papa Darel sebagai pebisnis yang baik hati dan dermawan.
Begitu juga dengan publik di Indonesia. Setelah melihat konferensi pers yang diadakan Darel, jadi tranding. Ada yang gembira, tetapi banyak yang tidak terima, terutama para Melons. Mereka tidak rela, Darel menikah dengan Dara. Wanita dari kalangan biasa dan hanya seorang programmer di perusahan IT yang tidak terlalu besar.
Karyawan kantor dimana Dara bekerja juga terbelah, ada yang berkata sinis, karena iri hati. Ada yang merasa tidak enak hati bahkan malu, karena telah menyindir Dara dengan kata-kata kasar dan tidak pantas saat mengetahui dirinya sedang hamil, tapi belum menikah.
Tetapi ada juga yang senang, terutama di ruang programmer dimana Dara bekerja. Mereka semua berkumpul dan tertawa senang sambil bersyukur, karena tidak berkata kasar atau berpikiran negatif kepada Dara saat mengetahui tentang kehamilannya dan belum menikah.
Mereka makin menggumi dan sayang kepada Dara yang tidak mengumbar sesuatu yang benar untuk menyelamatkan nama baiknya. Dia menyimpan dan menanggungnya sendiri, tanpa mengeluh.
Menyadari situasi yang tidak baik akibat konferensi pers yang dilakukannya, Darel meminta Mikha untuk menyiapkan makan siang dipindahkan ke restoran hotel. Padahal Mikha sudah mengatur, agar mereka sekeluarga makan siang di Relka Restaurant, Mall mereka.
Mikha mengangguk mengerti, karena sudah melihat reaksi publik setelah konferensi pers Darel jadi viral dan dibicarakan dimana-mana. "Kalau begitu, kau tunggu di ruangan private yang ditempati tadi. Aku akan hubungi manager restoran, agar bisa mengaturnya dengan cepat." Mikha berkata serius, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Kalian berempat jangan kemana-mana, supaya kita bisa makan siang tanpa banyak gangguan." Mikha mengingatkan Darel, karena sekarang bukan dia saja yang jadi pusat perhatian, tetapi juga istri dan kedua anak kembarnya.
"Jangan lama-lama atau mau siapkan menu khusus untuk acara ini. Nanti di rumah saja kita lakukan itu. Kau lihat Efri, dia bisa tidur saat makan." Darel berkata cepat kepada Mikha, karena melihat putrinya sudah mulai mengantuk dan Dara sedang berusaha berbicara dengan kedua anaknya, agar tetap terjaga. Mikha mengangguk mengerti, lalu berbicara dengan asistennya untuk mengaturnya.
Tidak lama kemudian, mereka dibawa ke restoran hotel dikawal oleh security hotel yang diperintahkan Mikha. Setelah berada di bagian restoran yang diperuntukan untuk mereka sekeluarga, Darel menarik nafas lega.
Mereka bisa lolos dengan mulus ke restoran hotel, melihat para wartawan mulai berdatangan di lobby hotel untuk mencari informasi tentang Darel dan pernikahannya.
Saat menunggu para pelayan restoran menyajikan menu yang dipesan Mikha, Darel memiringkan kepalanya ke arah Dara di samping kirinya. "Kau mau ke kamar tempat kita pertama kali bertemu?" Tanya Darel pelan sambil memandang Dara dan memainkan kedua alisnya.
Kandara mendorong pelan bahu Darel dengan wajah yang mulai memerah, karena mengerti ucapan Darel. Dia belum bisa kembali ke kamar dimana pertama bertemu dengan Darel. Melihat sikap Darel dan Dara yang sedang merasa jenga, Bu Richel menegur Darel yang terus mengganggu Dara.
"Darel, belum cukup tadi di ruang konferensi pers, kau membuat kami semua merona dengan ucapan dan sikapmu itu? Sekarang kau sedang lakukan apa lagi pada Dara, sampai wajahnya seperti itu?" Mommy Darel bertanya karena melihat gelagat ada rasa tidak enak dan malu di wajah Dara yang merona.
"Mommy akan senang, kalau tahu hasil pembicaraan kami. Doakan saja, Dara mau acc permintaanku." Darel berkata ke arah Mommy nya dengan wajah tersenyum. Mikha hanya bisa menggelengkan kepala, karena mengetahui apa yang dikatakan Darel kepada Dara. Semua yang terjadi puluhan tahun lalu kembali teringat di ingatannya.
"Dara, biarkan saja mereka semua pulang ke rumah, kita ke kamarku di sini. Mungkin saja akan lahir si kembar lagi, jika kita bermalam di sini." Darel berharap mereka bisa mengulang apa yang terjadi dengan mereka sepuluh tahun lalu di kamar yang sama, dalam kondisi yang baik dan normal sebagai suami istri yang sah.
...~•••~...
...~●○♥︎○●~...
Terimakasih buat authornya..