Menorehkan tinta di atas kanvas, tak selalu hitam juga putih, akan ada banyak warna yang menghiasi.
Namun, fatal bila salah menorehkan warna, karena akan menjadi noda yang akan merusak nilai estetik lukisan itu sendiri. Berani melukis cinta, juga harus berani menerima risikonya.
Alvin Daran, Pria berparas tampan yang telah menorehkan noda dan merusak sketsa lukisan yang telah susah payah Miya Patrisia rangkai. Akankah Alvin mampu mengubah Noda menjadi indah?, hingga pantas disebut sebagai lukisan, yang akan membuat senyum Miya kembali merekah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berawal nahas part 01
***
"Kok kak Anan kesini, bu-bukannya yang mau nemuin aku adalah kak Alvin," ujar Miya canggung.
Miya Patrisia, adalah seorang gadis berparas cantik, dengan tubuh yang ideal. Namun, kecantikkan serta kemolekkan tubuhnya, menjadikan ia dibenci oleh seluruh siswa yang selalu iri dengan kelebihannya. Selalu sendiri dan tak punya teman, itu hal biasa bagi Miya. Kini, Miya sudah berusia 17 tahun.
Disebuah gudang yang terletak di atap sekolah, sangat jauh dari keramaian. Disitulah tempat dimana Miya akan menghabiskan waktunya selama jam istirahat berlangsung. Tak ada makanan ataupun jajanan yang bisa ia santap sebagai makan siang. Hanya sebotol air putih yang akan ia minum ketika rasa lapar mendatanginya. Tak lupa buku-buku pelajaran yang ia bawa serta, untuk ia belajar sendiri di gudang yang selalu ia bersihkan setiap harinya.
"Miya, apa kamu tidak lapar?" Tanya Anan mendekati Miya. Anan Leon, biasa disapa Anan. Dia adalah murid laki-laki yang terkenal playboy. Miya reflek memundurkan langkahnya kala Anna semakin mendekat padanya.
"Ka-kak Anan mau apa?" Tanya Miya ketakutan.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini padamu." Ucap Anna memberikan sebotol minuman dan satu bungkus roti berukuran besar kepada Miya.
"Ini apa?" Tanya Miya ragu.
"Ini makanan untukmu. Ini bukan dari aku, ini adalah hadiah pemberian Alvin, dia bilang ini hadiah ucapan terimakasih, karena kamu sudah membantunya meminta izin saat ia terlambat tadi pagi. Ini, ambillah." Jelas Anan meyodorkan minuman dan roti itu pada Miya.
"Ti-tidak usah, Kak. Aku hanya membantunya saja." Tolak Miya sopan.
"Terimalah, Miya. Ini amanah darinya, dia akan marah padaku bila kamu menolaknya," tawar Anan, membuat Miya terpaksa menerima makanan itu.
"Kalau begitu aku terima. Terimakasih, Kak. Sampaikan juga ucapan terimakasihku kepada Kak Alvin."
"Sama-sama, nanti akan aku sampaikan." Jawab Anan tersenyum penuh arti menatap Miya. "Ayo, minum dan makanlah. Dia memerintahku untuk memastikan bahwa kamu benar-benar memakan, makanan pemberiannya." Tambah Anan lagi.
"Ba-baiklah, kak." Jawab Miya langsung membuka minuman dan langsung meneguknya tanpa rasa curiga sedikitpun kepada Anan.
"Kenapa minuman ini rasanya pahit dan Asin. Apa hanya lidahku saja yang aneh," batin Miya berkata setelah meneguk minuman kemasan itu.
"Ada apa Miya? Apa kamu sakit," Tanya Annan seraya tersenyum licik.
"Astaga, ada apa ini. Kenapa tubuhku begitu lemas." Batin Miya, minuman dan juga roti pemberian Anan terlepas dari genggaman Miya kala ia tak lagi sangup menahan tubuhnya yang mulai malemas.
Bruukk
Miya terjatuh kedalam pelukkan Anan. Miya masih tersadar, matanya masih terbuka walau tatapannya sayu. Ia sangat lelah, ia juga tidak dapat mengontrol tubuhnya. Ia bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi. Tapi, ia tak dapat berbuat banyak. Tenaganya benar-benar menghilang entah kemana.
Miya manatap Anan nanar, ada kemarahan dan kebencian dimatanya. Tapi, ia tak bisa menyela apalagi melawan. Anan mengangkat tubuhnya sambil menatap wajahnya penuh nafsu Miya ketakutan kala Anan membaringkannya di lantai dingin itu.
Miya terus menatap wajah Anan dalam, menggambarkan wajah itu dengan begitu detail diingatkannya. Seakan tidak ingin melupakan wajah dengan senyuman miring itu.
"GBH (gamma-hydroxybutyrate) memang sangat bagus untuk melumpuhkan perempuan. Kamu sangat cantik Miya, liat bagaimana caraku memuaskanmu." Jelas Miya bisa melihat, bisa mendengar ucapan lelaki biadab yang kini mengukung tubuhnya. Ingin sekali ia menampar wajah bajingan itu. Tapi, ia tak dapat berbuat apapun selain menangis-menangis dan terus menangisi nasibnya. Anan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah mulus Miya.
"Bruukk ......
ceritamu kali ini agak beda, namun malah semakin luar biasa..
keren dah pokoknya.. 🥰🥰🥰
yg ini g ada sekuelnya ya???
oke deh lanjut cerita berikutnya..
sehat2 terus kakak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰🤩😍
ga tll panjang to bener2 berkesan 🥰