Hari-Hari Keke
Lampu-lampu di kawasan SCBD mulai menyala seperti ribuan berlian yang tumpah di atas aspal hitam. Dari lantai dua puluh lima gedung Office Tower yang megah, Keke menatap pantulan dirinya di kaca jende
0
1
Di Bawah Flyover Casablanca
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya berdenyut pelan dalam kemacetan yang melelahkan. Di bawah Flyover Casablanca, saat matahari mulai tergelincir di balik gedung-gedung beton Sudirman, as
0
1
Cahaya Berkejaran di Langit Istambul
Di sebuah ruang kerja yang pengap oleh bau perkamen tua dan debu marmer, Mimar Sinan sedang melakukan sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar menghitung beban kubah. Ia sedang menghitung rindu. Jar
0
1
Makam Sejuta Kenangan
Agra di bulan November tidak pernah benar-benar dingin, namun angin yang berhembus dari arah Sungai Yamuna pagi itu sanggup membuat jemari Arka kaku di atas bodi kamera Nikon tuanya. Baginya, Taj Maha
0
1
Apart No. 12B (Part 2)
Aris tidak pernah menyangka bahwa satu folder berlabel "Dokumentasi Akademik" di laptop Rian akan menjadi awal dari perjalanan panjang menuju dasar neraka. Sebagai detektif yang sudah menangani ratusa
0
1
Apart No. 12B
Detektif Aris menatap papan tulis putih di ruang unit Jatanras yang kini penuh dengan foto-foto pria muda berwajah cerah. Ada mahasiswa berprestasi, model paruh waktu, hingga pekerja kerah putih. Kesa
0
1
Ambrosia dan Mahkota Kristal
Thalia selalu merasa dunianya terlalu sempit untuk jiwanya yang sering melanglang buana. Di usianya yang ke-14, ia lebih suka menghabiskan waktu di taman belakang sekolah, berbicara dengan kucing-kuci
0
1
Di Santa Maria Dolorosa (Part 3)
Lantai apartemen Pandu kini bukan lagi sekadar kayu, melainkan hamparan daging dan nanah yang mengering. Bau amisnya begitu padat hingga udara terasa seperti lendir. Di sudut ruangan, boneka Dina dan
0
1
Di Santa Maria Dolorosa (Part 2)
Si penjelajah baru itu bernama Pandu. Ia adalah seorang pria ambisius yang menganggap horor hanyalah komoditas digital. Baginya, boneka kain berwajah Dina yang ia temukan di loker Panti Asuhan Santa M
0
1
Di Santa Maria Dolorosa
Dina selalu percaya bahwa sebuah tempat tidak benar-benar mati selama ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya. Baginya, kegiatan Urban Exploring bukan sekadar hobi, melainkan ritual pengumpulan nyawa.
0
1
Pasien Nomor 0
"Gue nggak paham sama orang yang hobinya Urban Exploration atau Urbex. Itu tuh hobi paling nggak masuk akal setelah hobi koleksi struk belanja minimarket tapi nggak pernah diklaim ke kantor pajak. Nga
0
1
Di Dalam Sinar Abadi
Malam itu, Subang seperti sedang menghembuskan nafas dingin yang berbau tanah basah dan karet terbakar. Sugeng, pria paruh baya dengan garis wajah sedalam aspal pantura, mencengkeram kemudi bus "Sinar
0
1
Mahkota Salju di Seoul (Part 3)
Hana berdiri di depan gerbang Museum Nasional Korea, menatap deretan gedung pencakar langit Seoul yang berkilau. Di pergelangan tangannya, kain biru dari jubah Yi-Sun masih terikat, sebuah anomali sej
0
1
Mahkota Salju di Seoul (Part 2)
Salju di bukit belakang kediaman pengasingan itu mulai mengeras, namun bara api di dalam paviliun kayu itu justru semakin panas. Hana duduk bersila di depan sebuah meja rendah, sementara di hadapannya
0
1
Mahkota Salju di Seoul
Hana terbangun dengan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Rasanya kayak baru aja dilempar ke dalam freezer raksasa. Pandangannya burem, tapi yang jelas, pemandangan laboratorium restorasi di Se
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah (Part 3)
Dua minggu setelah hilangnya Maya, seorang jurnalis investigasi bernama Reno datang ke Bukit Duri. Reno tidak percaya pada hantu; ia percaya pada konspirasi, perdagangan manusia, atau skema pencucian
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah (Part 2)
Suara denting palu itu kini tidak lagi berasal dari luar. Ia beresonansi di dalam rongga dada Andra, berdetak seirama dengan jantungnya yang kian melemah. Setiap kali logam berkarat itu menghantam pak
0
1
Denting Palu di Kandang Bubrah
Andra tidak pernah percaya pada takhayul. Baginya, jin dan setan hanyalah alasan bagi orang-orang malas untuk tidak bekerja. Sebagai seorang desainer grafis freelance yang hidup di apartemen minimalis
0
1
Benci Bilang Cinta (Part 3)
Lantai marmer rumah itu tidak lagi terasa dingin, namun atmosfer di dalamnya mendadak mencekam saat bel pintu berbunyi di suatu sore yang tenang. Nayila, yang baru saja melepas jas putihnya setelah gi
0
1
Benci Bilang Cinta (Part 2)
Kehidupan pernikahan Arlan dan Nayila tidak lagi berjalan di atas duri yang tajam, melainkan di atas hamparan kasih sayang yang kian hari kian mendalam. Namun, cinta yang dewasa bukan hanya tentang ke
0
1