Di bawah langit Punjab yang merona tembaga, di mana debu-debu jalanan menari mengikuti irama angin muson yang gelisah, sebuah kisah tentang penyesalan sedang digali dari reruntuhan ego. Seperti gaya bercerita para begawan sastra India yang gemar menyelami palung penderitaan manusia—di mana cinta dan kutukan sering kali merupakan dua sisi dari koin yang sama—kisah ini bermula dari sebuah kutukan yang basah.
Malam itu, aroma melati yang kental di udara terasa menyesakkan. Anjali berdiri mematung di ambang pintu haveli tua milik keluarganya. Di depannya, Shankar—lelaki dengan mata yang menyimpan badai dan aroma arak yang pekat—berdiri dengan botol tembaga di tangan. Itu bukan arak. Itu adalah air suci dari sungai Gangga yang telah didoakan dengan kemarahan yang suci pula.
"Kau menghancurkan segalanya, Anjali!" suara Shankar parau, pecah oleh duka yang tak tertanggungkan atas kematian ayahnya. "Kau mengkhianati persahabatan kita demi gaun pengantin sutra dan kalung emas yang tak punya jiwa!"
Dengan satu sentakan tangan yang kasar, Shankar menyiramkan air suci itu ke wajah Anjali. Air itu dingin, namun di kulit Anjali, ia terasa membakar seperti lelehan logam. Bersamaan dengan tetesan air yang jatuh ke lantai marmer, sebuah sumpah meluncur dari bibir Shankar yang bergetar.
"Aku mengutukmu dengan rasa bersalah yang akan memakan jantungmu sendiri! Kau tak akan pernah menemukan kedamaian dalam pelukan lelaki manapun, karena di setiap desah napasmu, kau akan mendengar suara tangis ayahku yang kau telantarkan!"
Shankar berbalik, langkahnya limbung, menghilang ke dalam kegelapan malam yang tak berujung. Anjali jatuh tersungkur. Rencana pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya dari Delhi, yang seharusnya digelar esok hari, seketika terasa seperti upacara pemakaman. Frustrasi yang luar biasa menghantamnya. Ia membatalkan pernikahan itu di depan altar yang sudah dihias megah, mengabaikan teriakan murka ayahnya dan tangis malu ibunya.
Dia mulai mencari Shankar. Ia mendatangi gubuk-gubuk kumuh di pinggiran kota, kuil-kuil yang tersembunyi di balik pohon beringin tua, hingga kedai-kedai minuman paling kotor tempat para pemimpi yang patah hati berkumpul. Namun, Shankar telah lenyap seperti asap dupa. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang kematian ayah Shankar—seorang lelaki tua yang malang, yang meninggal dalam kesunyian saat Anjali sibuk memilih motif henna untuk tangannya.
Penyesalan adalah racun yang bekerja lambat. Anjali mulai terjebak dalam labirin mentalnya sendiri. Ia merasa hidup dalam kutukan yang nyata. Setiap malam, ia bermimpi melihat tangan Shankar yang basah oleh air suci, dan setiap kali ia bangun, ia merasakan beban dosa yang begitu berat seolah-olah seluruh pegunungan Himalaya menindih dadanya.
Dalam keadaan hancur, Anjali mulai melakukan hal yang paling ia benci dari Shankar: ia mulai mencari perlindungan dalam botol. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan Shankar. Ia ingin memahami kegelapan yang membuat sahabat masa kecilnya itu memilih jalan kehancuran. Anjali yang dulu anggun, kini sering ditemukan duduk di sudut kamar yang gelap, aroma arak murah menggantikan wangi cendana di tubuhnya. Ia bukan sedang mabuk karena kesenangan; ia sedang melakukan ritual penghukuman diri.
"Aku tidak mencintainya seperti itu," bisiknya pada botol di tangannya, air mata mengalir membasahi pipinya yang cekung. "Aku hanya menyayanginya sebagai teman. Kenapa dia tidak mengerti?"
Tragedi mereka adalah tragedi miskomunikasi yang agung. Shankar menganggap kasih sayang Anjali sebagai janji masa depan, sementara bagi Anjali, Shankar adalah akar tempatnya berpijak, bukan dahan tempatnya bersandar. Mereka adalah dua garis paralel yang dipaksa bersilangan oleh takdir, hanya untuk kemudian saling melukai saat pertemuan itu terjadi.
Bulan-bulan berlalu, dan tubuh Anjali mulai menyerah. Ia jatuh sakit. Demam yang tak kunjung turun dan batuk yang menyesakkan dada membuatnya layu seperti bunga kamboja yang dipetik sebelum waktunya. Ayahnya, yang hatinya telah mengeras oleh rasa malu namun masih menyimpan sisa-sisa cinta seorang orang tua, tidak sanggup lagi melihat putrinya membusuk hidup-hidup dalam rasa bersalah.
Tanpa persetujuan penuh dari Anjali yang setengah sadar, ayahnya memanggil kembali bekas tunangan yang dulu ditinggalkan Anjali. Lelaki itu, yang entah karena cinta yang tulus atau ego yang ingin menang, setuju untuk menikahi Anjali meski kondisinya memprihatinkan.
Pernikahan itu terjadi dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada musik shehnai yang riang, tidak ada tarian bhangra. Hanya ada pertukaran janji yang hambar. Dan dalam kehidupan pernikahan yang dipaksakan itu, dalam sebuah malam yang tidak diinginkan di mana Anjali hanya bisa pasrah pada takdirnya sebagai seorang istri, ia hamil.
Kandungan itu bukan membawa kebahagiaan, melainkan pengingat yang menyakitkan. Saat ia mengelus perutnya yang mulai membuncit, Anjali menatap ke luar jendela, ke arah kebun yang kini gersang. Ia tahu, secara biologis itu adalah anak dari suaminya yang sekarang. Namun, dalam jiwanya yang sakit, ia merasa anak itu adalah perwujudan dari kutukan Shankar—sebuah ikatan yang akan mengikatnya selamanya pada masa lalu yang tak pernah ia selesaikan.
Ia meratapi persahabatan yang hancur, meratapi ayah Shankar yang kini hanya jadi gundukan tanah, dan meratapi dirinya sendiri yang harus menanggung beban kehamilan tanpa ada cinta yang mendasarinya. Anjali menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia memang benar-benar tidak mencintai Shankar sebagai kekasih, dan ketidakcintaan itulah yang menjadi belati paling tajam yang menusuk mereka berdua.
Kini, di bawah bayang-bayang pohon beringin yang dulu menjadi saksi tawa mereka saat kecil, Anjali hanya bisa menunggu. Menunggu anak itu lahir, menunggu kutukan itu mereda, atau mungkin menunggu sampai maut menjemputnya dan mempertemukannya kembali dengan Shankar di dunia di mana tidak ada lagi kata-kata yang salah dimengerti.
---