Malam di Ibu Kota Wakanda tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Ksatria Mahardika, cahaya lampu jalanan terasa seperti mata-mata yang mengintai. Ia baru saja keluar dari kantor LBH yang sempit di sudut kota yang pengap. Di tas ranselnya, tersimpan berkas-berkas digital tentang konsesi lahan di pulau B, di wilayah utara Wakanda, yang baru saja dicaplok oleh Wakanda Corp untuk proyek "Hutan Energi" yang sebenarnya hanyalah kedok bagi penebangan kayu ilegal berskala masif.
Ksatria, atau yang akrab dipanggil Satria, sudah kenyang dengan intimidasi. Tiga hari lalu, sebuah paket misterius mendarat di depan pintu kontrakannya. Bau busuknya menyengat hingga ke tulang. Ketika dibuka, sebuah kepala babi yang sudah gosong menghitam menatapnya dengan lubang mata yang kosong. Di mulut babi itu terselip secarik kertas basah bertuliskan: “Mulutmu lebih busuk dari bangkai ini. Berhenti atau kau yang kami bakar.”
Ponselnya tidak berhenti bergetar. Notifikasi Twitter (X) miliknya meledak. Ribuan akun dengan foto profil pemandangan atau karakter anime—pasukan buzzer Wakanda Corp—menyerangnya secara personal. Mereka menyebarkan fitnah bahwa Satria adalah agen asing yang dibayar untuk menghambat kemajuan ekonomi bangsa. Tagar #SatriaPengkhianat menjadi trending topic selama berjam-jam, dipompa oleh algoritma yang dibeli dengan uang haram hasil tebangan pohon Meranti.
“Kau oke, Sat?” tanya Aris, rekan seperjuangannya, sambil mengunci pintu kantor.
“Hanya sedikit lelah, Ris. Mereka mulai menyerang keluarga. Foto ibu saya di kampung diunggah dengan narasi yang menjijikkan,” jawab Satria datar. Matanya merah, kurang tidur selama berminggu-minggu karena memantau titik api kebakaran hutan yang sengaja disulut oleh perusahaan satelit Wakanda Corp.
“Hati-hati pulang. Aura kota malam ini tidak enak. Politik sedang lapar-laparnya, Sat. Mereka butuh tumbal agar investasi tetap lancar,” Aris memperingatkan.
Satria hanya mengangguk pelan. Ia menyalakan motor bebeknya yang butut. Suara mesinnya yang kasar membelah keheningan jalanan. Saat ia melewati jembatan layang yang megah—monumen kebanggaan rezim yang dibangun di atas keringat buruh yang tak dibayar layak—ia merasa sebuah bayangan mengikutinya. Sebuah motor sport hitam tanpa plat nomor membuntuti dari jarak lima puluh meter.
Satria mencoba tenang. Ia sudah biasa dibuntuti intel atau orang suruhan. Namun, malam ini berbeda. Ada bau kimia yang samar tercium di udara, mengalahkan aroma knalpot. Saat ia melambat untuk berbelok ke arah gang sempit menuju rumahnya, motor hitam itu tiba-tiba memacu kecepatannya.
Suara raungan mesin itu memekakkan telinga. Dalam hitungan detik, motor itu sudah sejajar dengan Satria. Sosok yang dibonceng, yang mengenakan jaket hoodie gelap dan helm tertutup, mengulurkan sebuah wadah plastik yang terbuka.
“Woi!” teriak sosok itu.
Satria menoleh secara refleks. Saat itulah dunia seakan melambat. Cairan bening, yang terlihat seperti air biasa namun memiliki kekentalan yang aneh, meluncur di udara. Cairan itu menghantam sisi kiri wajah, leher, dan bahu Satria.
Awalnya, rasanya dingin. Hanya sekejap.
Lalu, neraka bocor di kulitnya.
Satria terjatuh dari motornya. Ia tidak sempat berteriak pada detik pertama karena paru-parunya seolah berhenti berfungsi akibat syok. Rasa panas yang tak terlukiskan mulai menggerogoti dagingnya. Itu bukan panas api, melainkan panas korosif yang memakan lapisan epidermis hingga ke saraf-saraf terdalam. Ia bisa mendengar suara mendesis, suara jaringan tubuhnya yang mendidih dan hancur seketika.
“AAAGGGHHHH!!! TOLOOOONG!!!”
Terikannya membelah malam, namun jalanan itu sepi. Para pelaku sudah melesat pergi, menghilang ke dalam labirin kota yang acuh tak acuh. Satria berguling-guling di aspal yang kasar. Cairan itu—asam sulfat pekat—terus bekerja. Ia mencoba menyentuh wajahnya, namun jari-jarinya justru merasakan tekstur daging yang sudah melunak seperti bubur. Matanya yang kiri seketika buram, lalu gelap total saat cairan itu menembus kornea.
Asap tipis mengepul dari pakaian dan kulitnya yang menghitam. Bau daging terbakar yang amis memenuhi indra penciumannya yang tersisa. Dalam rasa sakit yang membuat kesadarannya nyaris putus, Satria teringat pada kepala babi gosong itu. Mereka benar-benar melakukannya. Mereka membakar dirinya tanpa api.
Saat warga mulai keluar karena mendengar jeritannya, Satria sudah tidak menyerupai manusia. Sebelah wajahnya telah lumer, telinganya mengecil, dan bajunya menyatu dengan kulit bahu yang terkelupas. Seseorang menyiramkan air dari ember, berniat menolong, namun air yang bertemu asam kuat itu justru menimbulkan reaksi eksotermik yang makin menyiksa. Satria hanya bisa mengerang parau, suara yang keluar dari tenggorokan yang sudah teriritasi uap asam.
Berita tentang penyiraman air keras itu menyebar dengan cepat, namun keajaiban teknologi dan uang bekerja lebih cepat lagi. Sebelum foto Satria yang mengerikan sampai ke layar publik secara luas, narasi tandingan sudah disiapkan.
Di markas besar Wakanda Corp, di sebuah ruangan ber-AC dingin dengan layar-layar monitor raksasa, seorang koordinator buzzer memberikan komando.
“Narasi utama: Ini adalah rekayasa untuk menjatuhkan kredibilitas proyek strategis nasional. Bilang kalau itu cuma air aki biasa atau bahkan cuma kosmetik efek film untuk cari simpati. Serang sisi moralnya. Cari celah masa lalunya,” perintah si koordinator sambil menyeruput kopi mahal.
Dalam hitungan jam, di saat Satria sedang meregang nyawa di ruang ICU dengan perban membungkus seluruh kepalanya, jagat maya Wakanda dipenuhi dengan teori konspirasi.
“Ah, itu palingan setingan. Mau jadi pahlawan kesiangan ya gitu caranya,” tulis akun @WakandaMaju.
“Kenapa dia keluar malam-malam sendirian? Pasti mau transaksi gelap soal lahan hutan. Jangan-jangan dia disiram temannya sendiri karena pembagian uang sogokan tidak rata,” sahut akun lainnya dengan ribuan retweet.
Ibu Satria yang datang dari desa hanya bisa menangis di depan pintu ruang steril. Ia tidak diizinkan masuk karena risiko infeksi sangat tinggi. Dokter mengatakan bahwa Satria butuh puluhan kali operasi rekonstruksi, dan itupun tak akan pernah mengembalikan wajahnya. Satria kehilangan satu mata, satu telinga, dan kemampuan untuk menutup mulutnya dengan sempurna karena kulit yang mengerut akibat parut permanen.
Di dalam kesunyian rumah sakit, Satria sadar sepenuhnya. Rasa sakit itu kini bermigrasi dari fisik ke jiwa. Ia mendengar berita dari televisi di ruang tunggu yang samar-samar terdengar sampai ke telinganya. Menteri Keamanan Wakanda memberikan pernyataan: “Kami prihatin, namun jangan mempolitisasi musibah ini. Kita harus fokus pada investasi yang masuk. Jangan sampai kegaduhan ini mengganggu kenyamanan investor asing.”
Kenyamanan investor. Itulah harga dari wajah Satria.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan polisi berjalan di tempat. Kamera CCTV di lokasi kejadian tiba-tiba dinyatakan rusak. Saksi-saksi kunci mendadak lupa ingatan setelah dikunjungi orang-orang berambut cepak. Sementara itu, di pedalaman hutan Wakanda, alat berat terus meraung, menumbangkan pohon-pohon yang telah berdiri ratusan tahun. Asap dari pembakaran lahan mulai menutupi langit, membuat anak-anak di sana sesak napas, namun di bursa saham, angka-angka milik Wakanda Corp terus meroket hijau.
Satria akhirnya diizinkan pulang ke rumah kontrakan setelah dua bulan. Saat ia bercermin untuk pertama kalinya, ia tidak menangis. Ia tidak bisa lagi menangis karena saluran air matanya di sebelah kiri telah hancur. Yang tersisa di cermin adalah monster. Wajahnya adalah peta ketidakadilan: tarikan kulit yang tidak simetris, bercak-bercak merah dan putih yang mengerikan, serta tatapan satu mata yang tajam dan penuh dendam yang murni.
Ia membuka laptopnya dengan jemari yang masih kaku. Ia melihat akun-akun *buzzer* itu masih merayakan penderitaannya. Mereka memanggilnya "Si Muka Aspal" atau "Zombie HAM". Dunia politik Wakanda benar-benar telah menjadi karnaval predator yang memakan sesamanya demi sepotong daging kekuasaan.
Ksatria Mahardika menarik napas panjang. Paru-parunya terasa sempit, namun tekadnya meluas. Ia menyadari bahwa di negeri di mana hukum bisa dibeli dan kemanusiaan bisa dikubur dalam nikel dan kayu, berwajah manusia adalah sebuah kerentanan. Mereka ingin melenyapkan wajahnya agar suaranya hilang. Mereka ingin menjadikannya monster agar orang takut mendekatinya.
“Kalian salah,” bisiknya dengan suara serak yang mengerikan. “Kalian hanya menghancurkan wajahku, tapi kalian memberi aku alasan untuk tidak pernah menutup mata lagi.”
Ia mulai mengetik. Bukan lagi sekadar advokasi, melainkan perang informasi. Ia mengunggah foto wajahnya yang hancur tanpa sensor ke media sosial internasional. Ia menyandingkan foto luka bakarnya dengan foto hutan-hutan yang gundul dan menghitam di Wakanda.
“Lihatlah wajah ini,” tulisnya. “Ini adalah wajah demokrasi di Wakanda. Ini adalah harga dari setiap batang kayu yang kalian curi. Kulitku yang mendidih adalah cermin dari bumi yang kalian bakar. Kalian bisa membungkam satu Ksatria, tapi kalian telah melahirkan ribuan orang yang tidak lagi punya rasa takut, karena kami sudah kehilangan segalanya.”
Unggahan itu menjadi liar. Melampaui batas-batas negara Wakanda. Rakyat yang selama ini diam karena takut mulai merasa mual melihat kekejian yang begitu telanjang. Kemarahan yang selama ini terpendam seperti sekam mulai membara. Buzzer-buzzer Wakanda Corp mencoba menyerang balik, namun kali ini narasi mereka terasa hambar di hadapan visual penderitaan yang begitu nyata.
Namun, di Wakanda, kekuasaan tidak pernah menyerah dengan mudah. Malam itu, saat Satria sedang mengetik, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal. Hanya gambar sebuah peti mati kecil dan koordinat GPS rumah ibunya di kampung.
Satria terdiam. Ia mematikan lampu kamarnya. Di kegelapan, bekas luka air keras itu tidak terlihat, namun rasa perihnya seolah kembali menyala. Ia tahu, di negeri ini, menjadi benar adalah sebuah kejahatan. Kekuasaan yang rakus tidak hanya ingin mengambil tanah dan hutan, mereka ingin mengambil jiwa, keluarga, dan ingatan.
Ia berdiri, berjalan ke arah jendela, dan menatap langit kota yang kini merah karena asap hutan dan polusi. Ia tahu mereka akan datang lagi. Mungkin bukan lagi dengan air keras, tapi dengan sesuatu yang lebih mematikan. Namun Ksatria Mahardika tidak lagi bersembunyi. Ia adalah monumen hidup dari sebuah ketidakadilan yang luar biasa. Selama jantungnya masih berdetak, ia akan menjadi pengingat bagi setiap politikus dan pengusaha bahwa ada hal yang tidak bisa larut oleh asam paling pekat sekalipun: kebenaran yang haus akan pembalasan.
Di luar, suara motor sport terdengar lagi. Satria tidak lari. Ia justru membuka pintu lebar-lebar, membiarkan cahaya lampu jalan menerangi wajahnya yang rusak. Ia menanti mereka. Karena di dunia yang sudah kehilangan kewarasannya, menjadi monster adalah satu-satunya cara untuk melawan para iblis yang memakai dasi dan seragam safari.
Wakanda tidak sedang baik-baik saja, dan Satria Mahardika adalah luka yang menolak untuk sembuh di tubuh bangsa itu.
---