Tahun 1998 di ambang pintu, dan Jakarta sedang demam tinggi. Di saat nilai rupiah terjun bebas seperti orang yang melompat dari gedung tinggi, Clara Marsha justru sedang berada di puncak rantai makanan. Di balik perannya sebagai pemuja kegelapan di Ordo Lilith, Clara menjalankan imperium yang jauh lebih cair dan berbahaya: *The Silk Cord*. Ini bukan sekadar jaringan prostitusi; ini adalah bursa saham manusia di mana kebijakan negara ditukarkan dengan desah napas di balik sprei sutra.
Clara adalah mucikari paling elit yang pernah dikenal Jakarta. Ia tidak mencari wanita di pinggir jalan; ia merekrut mahasiswi-mahasiswi tercantik dari kampus-kampus ternama, model-model yang haus ketenaran, hingga pramugari yang butuh biaya hidup tambahan. Mereka bukan sekadar simpanan, melainkan "perpanjangan tangan" Ordo Lilith untuk menjerat leher para pejabat yang terlalu licin untuk ditangkap hukum.
"Ingat, Sayang," ucap Clara suatu sore di butik pribadinya kepada seorang gadis muda bernama Desi, "kau bukan sedang menjual tubuhmu. Kau sedang membeli informasi. Setiap desahannya adalah pasal undang-undang, dan setiap tetes keringatnya adalah rahasia anggaran negara."
Namun, di tengah kesibukan Clara mengatur bidak-bidak cantiknya, ada satu anomali yang selalu membuatnya geregetan namun tetap bergairah: suaminya sendiri, Jenderal Bramantyo Bagaskaraputra. Bram adalah antitesis dari pejabat korup yang buncit dan membosankan. Di usianya yang menginjak kepala empat, tubuhnya tetap gagah perkasa, hasil dari latihan militer yang keras dan kecanduannya pada olahraga polo. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan kumis tipis yang rapi seringkali membuatnya terlihat seperti bintang film laga era 90-an yang tersesat di gedung kementerian.
Lucunya, Bram adalah *playboy* kelas internasional yang tak bisa diam. Jika Clara mengedarkan wanita untuk menjerat pejabat, Bram justru menjadi target utama para wanita dari berbagai belahan dunia. Bram adalah pemain yang lincah; hari ini ia bisa sedang "rapat koordinasi" di Singapura dengan seorang model asal Rusia, minggu depan ia sudah berada di Paris untuk "studi banding" bersama sosialita lokal yang haus belaian jenderal gagah.
"Clara, Sayang, aku harus ke Zurich. Ada urusan logistik pertahanan yang mendesak," pamit Bram suatu pagi sambil merapikan baretnya di depan cermin. Ia mencium kening Clara dengan aroma parfum *Davidoff Cool Water* yang segar dan maskulin.
Clara hanya tersenyum simpul, meskipun ia tahu Zurich berarti seorang janda kaya pemilik galeri seni di Swiss. "Hati-hati, Jenderal. Jangan sampai logistikmu 'bocor' di sana."
Bram tertawa terbahak-bahak, tawanya yang berat dan magnetis selalu berhasil meluluhkan kecurigaan sesaat. Mereka berdua memiliki kesepakatan tak tertulis: *Don't ask, don't tell*. Bram tahu Clara punya rahasia gelap, dan Clara tahu Bram punya selera yang terlalu besar untuk satu rahim. Yang tidak disadari Bram adalah, sebagian besar wanita yang ia tiduri di Jakarta sebenarnya adalah "anak didik" istrinya sendiri. Clara seringkali tertawa sendirian saat membaca laporan intelijen pribadinya tentang bagaimana suaminya sendiri masuk ke dalam perangkap madu yang ia buat.
Kejutan besar terjadi pada suatu malam di sebuah hotel berbintang di kawasan Senayan. Ordo Lilith sedang menyiapkan ritual besar untuk menyambut gejolak politik yang diprediksi akan pecah di bulan Mei. Ibu Baron meminta tumbal yang lebih tinggi: pengkhianatan dari dalam darah sendiri.
Malam itu, Clara mengirimkan Desi—gadis kesayangannya yang paling cerdas—untuk melayani seorang pejabat tinggi yang disebut-sebut memegang kunci dana taktis militer untuk pengamanan ibu kota. Clara memantau dari ruang kontrol melalui kamera tersembunyi yang dipasang di kamar *presidential suite*.
Saat pintu kamar terbuka, jantung Clara seolah berhenti berdetak sesaat. Pria yang masuk bukan pejabat buncit yang ia bayangkan. Pria itu adalah Bramantyo.
Bram masuk dengan langkah tegap, melepaskan seragam jenderalnya yang penuh lencana, menampakkan otot-otot dadanya yang bidang dan perut yang rata. Ia nampak begitu perkasa, begitu tampan di bawah cahaya temaram lampu hotel. Di sisi lain, Desi sudah menunggu dengan gaun malam transparan, siap menjalankan Protokol Kemurnian: menyuntikkan racun pembuat gairah yang akan membuat targetnya mengakui segala rahasia.
"Jenderal... akhirnya kita bertemu lagi," Desi berbisik, merayap di dada Bram.
Clara, yang menonton dari layar monitor, merasa sebuah emosi asing merayap di dadanya. Bukan cemburu—karena ia sudah lama membuang perasaan itu di altar iblis—tapi kemuakan yang bercampur dengan kegembiraan yang mengerikan. Ini adalah momen yang sempurna. Suaminya, sang *playboy* elit, akan menjadi tumbal utama bagi Ordo Lilith melalui tangan simpanan yang ia bentuk sendiri.
Namun, kejutan tidak berhenti di sana. Saat Desi mulai mencium leher Bram, Bram tiba-tiba menangkap tangan gadis itu dengan gerakan kilat. Wajah tampannya berubah menjadi dingin dan mematikan.
"Desi, sampaikan pada Clara... permainannya sudah selesai," ucap Bram dengan suara yang dalam dan tenang.
Clara terlonjak dari kursinya. Bagaimana Bram bisa tahu?
Bram menatap langsung ke arah kamera tersembunyi, seolah-olah ia bisa melihat mata Clara di balik layar. "Kau pikir aku selama ini tidak tahu tentang Ordo Lilith, Clara? Kau pikir aku berkeliling dunia hanya untuk mencari wanita? Aku melacak aliran dana okultismemu dari Zurich sampai Paris. Kau menggunakan 'anak didikmu' untuk menjerat rekanku, tapi kau lupa... aku adalah Jenderal Intelijen sebelum aku menjadi suamimu."
Huru-hara pecah di hotel itu. Pasukan khusus berseragam hitam merangsek masuk ke ruang kontrol Clara. Di saat yang sama, Ibu Baron di Wisma Jelaga dikepung oleh pasukan anti-teror. Bramantyo ternyata bukan sekadar *playboy* hedon; ia menggunakan gaya hidupnya sebagai kedok untuk memetakan jaringan Ordo Lilith yang telah menyusup ke jantung negara.
Clara tertawa histeris saat ditangkap. "Kau terlambat, Bram! Iblis itu sudah punya rahim batu! Kau hanya menangkap raga kami, tapi kebijakan negara ini sudah berlumuran jelaga!"
Bram berjalan masuk ke ruang kontrol, menatap istrinya yang masih nampak cantik namun mengerikan itu. Ia mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Clara terdiam membeku. "Rahim batu itu bisa dihancurkan, Clara. Dan mengenai keabadianmu... mari kita lihat seberapa lama kau bisa tetap cantik di dalam sel yang tidak pernah tersentuh matahari."
Malam itu, Jakarta membara. Bukan karena kerusuhan massa, tapi karena sebuah operasi pembersihan besar-besaran terhadap sekte elit yang telah membusukkan negara. Bramantyo Bagaskaraputra berdiri di bawah guyuran hujan, sosoknya yang gagah tetap nampak perkasa meskipun hatinya mungkin terluka oleh pengkhianatan istrinya sendiri.
Clara Marsha, sang mucikari elit dan pemuja setan, akhirnya tertunduk. Di balik jeruji besi, tanpa ritual darah, kecantikannya mulai memudar dengan sangat cepat. Setiap pagi, ia melihat bayangannya di air keruh dalam bak selnya; ia melihat seorang wanita tua yang keriput, dengan mata yang merah oleh kebencian.
Sementara itu, Bramantyo tetap menjadi simbol ketampanan dan kekuatan, namun kini ia hidup dalam kesunyian yang dalam. Ia menyadari bahwa di Jakarta tahun 90-an, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang memegang senjata di jalanan, melainkan mereka yang memegang kebijakan sambil menyembah kegelapan di atas ranjang-ranjang mewah Menteng.
Tobat memang menjadi jalan bagi sebagian orang yang tersisa, namun bagi Clara, tobat adalah hantu yang terus mengejarnya di dalam kegelapan sel, di mana tidak ada lagi berlian, tidak ada lagi simpanan, hanya ada penyesalan yang mengais-ngais di dinding hati yang telah membatu.
---