Tahun 2016 seharusnya menjadi tahun yang tenang bagi siapa pun, termasuk bagiku. Aku adalah tipe orang yang lebih percaya pada logika, pada apa yang bisa disentuh indra, dan pada penjelasan sains yang masuk akal. Hantu? Bagiku itu hanyalah residu ketakutan masa kecil atau proyeksi dari otak yang kelelahan. Namun, rumah peninggalan orang tuaku ini punya cara sendiri untuk meruntuhkan kesombongan logikaku. Rumah ini berdiri tepat di pinggir sebuah kebun luas yang ditumbuhi pepohonan liar dan semak belukar yang tak terurus. Kamar tidurku berada di posisi paling ujung, di mana dindingnya berbatasan langsung dengan tanah kebun yang lembap itu.
Kejadian itu dimulai pada suatu malam di bulan Oktober. Udara sedang dingin-dinginnya, dan suara jangkrik di luar biasanya menjadi pengantar tidur yang paling mujarab. Namun, sekitar jam satu dini hari, aku terbangun. Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena haus. Aku terbangun karena sebuah suara yang sangat ritmis.
*Sret... dug. Sret... dug.*
Aku mengucek mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. Suara itu berasal dari balik dinding kamarku. Suara logam yang menghujam tanah, lalu suara tanah yang disingkapkan ke samping. Seseorang sedang mencangkul. Jelas sekali. Aku melirik jam dinding digital di atas meja rias; angka merahnya menunjukkan pukul 01:12. Siapa yang mencangkul kebun di jam seperti ini? Pikiranku saat itu masih mencoba mencari pembenaran logis. Mungkin Pak RT sedang membenarkan saluran air? Atau mungkin ada tetangga yang baru pulang kerja dan merasa harus membereskan tanaman yang menghalangi jalan?
Suara itu terus terdengar. Sret... dug. Konsisten. Berat. Seolah-olah pencangkul itu sedang menggali sesuatu yang sangat dalam. Aku mendengarkannya selama kira-kira lima belas menit. Karena rasa kantuk yang lebih besar daripada rasa penasaran, aku akhirnya menarik selimut tinggi-tinggi dan kembali terlelap. Besok pagi aku akan mengeceknya, pikirku.
Keesokan harinya, aku pergi ke kebun itu. Sinar matahari pagi membuat segalanya tampak normal. Aku memeriksa area di balik dinding kamarku. Tidak ada bekas galian. Tidak ada tanah yang berceceran. Semak-semak masih berdiri tegak dengan embun yang menggantung. "Mungkin aku cuma berhalusinasi," gumamku sambil tertawa kecil pada diri sendiri. Logikaku kembali menang.
Namun, kemenangan itu hanya bertahan sampai malam berikutnya. Di jam yang hampir sama, pukul satu dini hari lewat sedikit, telingaku menangkap suara itu lagi. Sret... dug. Sret... dug.
Kali ini, bulu kudukku meremang tanpa permisi. Suara itu tidak hanya terdengar seperti logam menghantam tanah, tapi aku bisa mendengar napas yang berat di antara sela-sela dentuman cangkul itu. Napas yang pendek-pendek, seolah orang di luar sana sedang memaksakan tenaganya untuk menggali lubang yang besar. Aku mematung di atas tempat tidur. Ruangan kamarku tiba-tiba terasa sangat sempit dan oksigen seolah menipis. Aku tidak berani bergerak sedikit pun. Bahkan suara gesekan kakiku di sprei terasa seperti pengkhianatan yang bisa memberitahu "sesuatu" di luar sana bahwa aku terjaga.
Setiap dentuman cangkul itu seolah menghantam dadaku. Aku menghitung setiap detiknya. Satu menit, lima menit, sepuluh menit. Suara itu berhenti tepat setelah lima belas menit berlalu. Kesunyian yang mengikuti setelahnya justru lebih mengerikan daripada suara mencangkul itu sendiri. Aku baru bisa memejamkan mata saat adzan subuh mulai berkumandang dari masjid jauh.
Siangnya, aku menceritakan kejadian ini kepada saudara-saudaraku saat kami berkumpul di rumah kakak tertuaku. Aku bicara dengan nada serius, bahkan mungkin sedikit memohon agar mereka percaya. Namun, tanggapan mereka justru tawa kecil yang meremehkan.
"Ah, kamu palingan cuma denger suara musang atau kucing berantem, Dek," kata kakakku sambil menyeruput kopi.
"Atau mungkin suara dahan pohon yang kena angin lalu nabrak dinding. Kamar kamu kan emang nempel kebun," timpal yang lain.
Rasanya sesak sekali tidak dipercaya. Mereka menganggapku sedang mencari perhatian atau sekadar paranoid karena tinggal sendiri. Aku tahu apa yang kudengar. Itu bukan suara hewan. Itu bukan suara dahan. Itu adalah suara manusia—atau sesuatu yang menyerupai manusia—yang sedang bekerja keras di balik dinding kamarku setiap tengah malam.
Ketakutan itu mulai menggerogoti mentalku. Malam-malam berikutnya menjadi siksaan. Aku mulai mengalami insomnia akut. Setiap kali jarum jam mendekati angka satu, jantungku mulai berdegup kencang, tanganku berkeringat dingin, dan aku akan meringkuk di pojok tempat tidur dengan lampu menyala terang. Suara mencangkul itu tidak pernah absen. Dia selalu datang. Terkadang suaranya terdengar sangat dekat, seolah-olah mata cangkul itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalaku, terhalang oleh tembok bata yang tipis.
Karena merasa tidak tahan dan hampir gila karena kurang tidur, aku meminta mbakku untuk menginap. Aku tidak memberitahunya tentang suara itu secara mendetail, aku hanya bilang aku merasa tidak enak badan dan takut sendirian. Mbakku setuju. Malam itu, kami tidur di kamarku.
Pagi harinya, aku terbangun dan melihat mbakku sudah duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat. Matanya merah, tanda dia tidak tidur nyenyak.
"Nul... semalam kamu denger?" suaranya bergetar.
"Denger apa, Mbak?" tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.
"Ada orang nyangkul di kebun sebelah. Jam satu malam. Suaranya jelas banget, kayak orang lagi gali lubang kubur. Mbak sampe nggak berani nafas," ceritanya dengan suara lirih.
Ada rasa lega yang aneh saat tahu bahwa aku tidak gila. Ada saksi hidup. Tapi rasa lega itu segera berganti dengan horor yang lebih nyata. Jika mbakku juga mendengarnya, berarti suara itu objektif. Sesuatu benar-benar terjadi di sana.
Kabar ini pun menyebar ke telinga keponakanku yang masih muda dan penuh rasa penasaran. Dia tipe anak muda yang skeptis dan hobi menonton konten horor di YouTube. "Masa sih? Aku mau coba denger sendiri," tantangnya. Akhirnya, dia menginap di rumahku malam berikutnya. Dia bahkan membawa senter besar dan berniat mengintip ke luar jendela jika suara itu terdengar.
Tepat jam satu malam, suara itu kembali. Sret... dug.
Keponakanku yang tadinya duduk santai bermain ponsel, langsung melempar ponselnya ke kasur. Wajahnya yang biasanya penuh tawa berubah tegang. Dia mematikan lampu kamar agar bisa mengintip lewat celah gorden tanpa terlihat dari luar. Dia mengarahkan senternya ke arah kebun melalui jendela samping.
"Gimana? Ada orangnya?" bisikku dengan suara tertahan.
Keponakanku terdiam lama. Tangannya yang memegang senter gemetar hebat. Dia tidak menyalakan senternya. Dia justru mundur perlahan dari jendela, wajahnya penuh ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Nggak ada siapa-siapa, Tante," bisiknya. "Kebunnya kosong. Tapi... suara nyangkulnya masih ada tepat di depan mukaku."
Malam itu kami berdua tidak tidur. Kami hanya duduk berpelukan di atas kasur, mendengarkan simfoni kematian itu berlangsung selama lima belas menit. Suara tanah yang digali, suara cangkul yang menghujam, namun tak ada wujud yang terlihat. Itu adalah teror psikologis yang paling hebat yang pernah kualami sepanjang hidupku.
Teror itu berlangsung terus selama tiga minggu. Setiap malam, tanpa jeda. Aku mulai terbiasa dengan ketakutan itu dalam cara yang sangat menyedihkan. Aku akan menyiapkan diri setiap jam satu malam, menunggu lima belas menit masa hukuman itu selesai, lalu menangis dalam diam sampai pagi. Aku merasa rumahku bukan lagi tempat berlindung, melainkan penjara dengan sipir tak kasat mata yang sibuk menggali di sampingku.
Lalu, di minggu ketiga, setelah malam yang paling bising di mana suara mencangkul itu terdengar seperti dilakukan oleh sepuluh orang sekaligus, suara itu hilang.
Tiba-tiba saja. Senyap.
Malam berikutnya, aku menunggu dengan waswas. Pukul satu lewat satu menit... lewat sepuluh menit... sampai pukul dua. Tidak ada suara. Hanya suara jangkrik yang kembali normal. Besoknya pun sama. Seminggu, sebulan, setahun berlalu, suara itu tidak pernah kembali lagi.
Hingga saat ini, di tahun 2026, jika aku mengingat kejadian tahun 2016 itu, tanganku masih sering bergetar. Aku masih sering bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang digali? Apakah "sesuatu" itu sudah menemukan apa yang dicarinya? Atau... apakah lubang yang digali selama tiga minggu itu sebenarnya sudah selesai, dan sekarang sesuatu sedang terkubur di sana, tepat di balik dinding kamarku, menunggu dalam diam?
Aku masih tidak terlalu percaya hantu dalam definisi film-film horor, tapi aku percaya bahwa dunia ini memiliki lapisan-lapisan misteri yang tidak ingin kita singkap. Dan terkadang, misteri itu hanya berjarak satu dinding bata dari tempat kita merebahkan kepala.
---