Lampu neon di langit-langit kafe berkedip-kedip, seirama dengan detak jantungku yang tak beraturan. Di depanku, sebuah undangan pernikahan dengan ukiran emas timbul terasa sangat berat, seolah-olah terbuat dari lempengan timah.
"Sembilan tahun, Sis," bisikku pada bayanganku sendiri di cermin wastafel. "Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian yang berakhir dengan jawaban 'tidak tahu'."
Aku teringat sore itu, dua tahun yang lalu. Saat hujan turun membasahi seragam kerja kami yang masih melekat. Aku menatap mata pria yang sudah bersamaku sejak seragam kami masih putih abu-abu. Aku bertanya tentang kepastian, tentang pelaminan, tentang kapan dia akan menjemputku dengan janji suci. Dan jawabannya tetap sama: "Aku belum tahu, Sis. Jangan paksa aku."
Hari itu, dengan sisa keberanian yang kukumpulkan dari reruntuhan harga diriku, aku memilih berhenti. Aku memilih jalan pulang yang berbeda. Sembilan tahun cinta, aku balut dengan kain kafan perpisahan. Dan kini, dua tahun setelah napas lega itu berhembus, aku berdiri di sini, menatap undangan yang dikirimkan oleh seseorang dari masa lalu itu.
---
Undangan itu bukan dari dia. Undangan itu dari sahabat SMA-ku, Raka. Raka adalah orang yang selalu ada di lingkaran yang sama denganku dan mantan kekasihku, Gilang. Dalam undangan itu tertulis: *Raka & Amira*.
Aku tersenyum tipis. Setidaknya, ada orang yang berhasil menemukan pelabuhannya. Aku memutuskan untuk datang. Aku ingin menunjukkan pada dunia, dan mungkin pada Gilang—jika dia ada di sana—bahwa Sisi yang sekarang sudah sembuh. Sisi yang sekarang adalah wanita yang sudah merdeka dari bayang-bayang penantian sembilan tahun.
Malam resepsi itu begitu megah. Harum bunga lili memenuhi aula hotel berbintang. Aku mengenakan gaun berwarna marun yang elegan, rambutku disanggul modern, menonjolkan leherku yang jenjang. Aku berjalan dengan dagu tegak.
Di sudut ruangan, aku melihatnya. Gilang.
Dia tampak lebih kurus, matanya kuyu, mengenakan setelan jas yang tampak kebesaran di tubuhnya. Saat mata kami bertemu, ada kilatan duka yang begitu dalam di sana. Dia berjalan mendekatiku.
"Si... apa kabar?" suaranya masih sama, lembut namun kali ini terdengar sangat rapuh.
"Baik, Lang. Alhamdulillah, aku sangat baik," jawabku dengan nada yang kupastikan terdengar tegas namun tetap sopan. "Kamu? Kapan menyusul Raka?"
Gilang tertawa getir. "Aku masih tidak tahu, Si. Seperti biasa, kan?"
Aku tersenyum simpul, lalu berpamitan untuk menyalami mempelai. Dalam hati, aku bersyukur telah mengambil keputusan dua tahun lalu. Menunggu pria yang 'tidak tahu' hanya akan membuatku layu sebelum musimnya.
---
Saat aku berada di pelaminan untuk menyalami Raka dan Amira, Raka membisikkan sesuatu yang membuat darahku berdesir.
"Si, terima kasih sudah datang. Gilang bercerita banyak padaku. Dia... dia titip ini buat kamu." Raka menyelipkan sebuah amplop kecil ke telapak tanganku.
Aku menepi ke balkon hotel yang sepi untuk membaca isi amplop itu. Pikiranku berkecamuk. Apakah ini surat cinta? Apakah dia akan meminta balikan?
Aku membuka amplop itu. Isinya bukan surat. Melainkan sebuah kartu asuransi kesehatan yang sudah usang dan sebuah surat keterangan dokter tertanggal sepuluh tahun yang lalu.
Aku membaca baris demi baris diagnosis di sana. Chronic Myeloid Leukemia.
Tanganku gemetar. Tanggalnya... ini adalah tahun kedua kami berpacaran di SMA.
Di balik surat dokter itu, ada tulisan tangan Gilang yang cakar ayam, khas dirinya:
"Sisi, sembilan tahun aku membiarkanmu membenciku karena aku 'tidak tahu' kapan bisa menikahimu. Sebenarnya aku tahu. Aku tahu aku mungkin tidak akan punya cukup umur untuk melihatmu menua di sampingku. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi janda di usia muda. Aku ingin kamu yang memutus ikatan ini, agar kamu merasa kuat, agar kamu merasa sanggup hidup tanpaku. Maafkan pengecut ini yang memilih menjadi antagonis agar kamu bisa menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri. Alhamdulillah, dua tahun ini aku melihatmu bahagia. Itu cukup."
Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung. Sembilan tahun dia menanggung beban itu sendirian. Dia bukan tidak mau menikahiku karena tidak cinta; dia tidak mau menikahiku karena dia terlalu mencintaiku hingga tak sanggup meninggalkan luka permanen jika maut menjemputnya saat kami baru saja memulai.
Aku segera berlari kembali ke dalam aula, mencari sosok Gilang. Aku ingin memeluknya, aku ingin mengatakan bahwa aku tidak peduli jika hanya sehari menjadi istrinya. Aku mencarinya ke setiap sudut, namun dia tidak ada.
Aku menghampiri Raka dengan napas tersengal. "Raka! Gilang mana? Di mana dia?!"
Raka menatapku dengan tatapan yang sangat aneh. Sedih, namun juga bingung. "Si... apa yang kamu bicarakan?"
"Gilang! Dia tadi di sini, dia bicara denganku di sudut aula!" teriakku histeris.
Raka memegang bahuku, mencoba menenangkanku. Tamu-tamu mulai memperhatikan kami. "Sisi, tenanglah. Gilang sudah meninggal enam bulan yang lalu, Si. Dia menyerah setelah perjuangan panjangnya. Undangan yang aku kirimkan ke rumahmu itu sebenarnya bukan undangan pernikahan. Itu adalah undangan peringatan seratus hari meninggalnya Gilang yang diadakan bersamaan dengan syukuran pernikahanku."
Duniaku serasa runtuh. "Tapi... tapi aku bicara dengannya tadi! Dia pakai jas hitam, dia tanya kabarku!"
Raka menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Sisi, sejak kamu masuk ke ruangan ini, kamu berdiri sendirian di sudut itu. Kamu bicara sendiri, Si. Kami semua mengira kamu masih sangat terpukul sehingga kamu berhalusinasi. Surat di tanganmu itu... itu memang dititipkan Gilang padaku sebelum dia pergi, untuk diberikan padamu hari ini."
Aku menatap telapak tanganku. Amplop cokelat itu nyata. Surat dokter itu nyata. Tapi pria yang bicara denganku tadi?
Tiba-tiba, seorang pelayan menghampiriku. "Maaf, Ibu. Tadi ada seorang pria berpakaian jas hitam yang keluar lewat pintu belakang, dia menitipkan ini untuk Ibu."
Pelayan itu memberikan sebuah benda kecil: sebuah cincin perak sederhana dengan inisial S & G di bagian dalamnya. Cincin yang kami beli di pasar malam saat SMA dengan harga sepuluh ribu rupiah.
"Dia bilang," lanjut si pelayan, "Sekarang Ibu sudah tahu jawabannya. Dan dia bilang, 'Selamat memulai hidup yang baru'."
Aku terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Di antara riuh rendah pesta pernikahan, aku menyadari satu hal. Sembilan tahun kami bersama, dua tahun kami berpisah, dan selamanya kami akan terikat oleh rahasia yang ia bawa ke liang lahat.
Kejutan terbesar dalam hidupku bukanlah kegagalan pernikahanku, melainkan kenyataan bahwa pria yang kusangka menghancurkan hatiku, justru adalah orang yang paling keras menjaganya—bahkan setelah napas terakhirnya.
---