Kematian Laras bukanlah akhir dari penderitaan keluarga Bagaskaraprayogia; itu hanyalah pembuka pintu neraka yang lebih dalam bagi Miranti dan Arga. Jika kasus-kasus korupsi besar lainnya masih menyisakan simpati tipis atau kemewahan tersembunyi, Salindia telah menghabiskan seluruh cadangan empati publik. Masyarakat tidak hanya marah; mereka muak. Kebencian itu bermutasi menjadi teror sosial yang sistematis, sebuah pengucilan massal yang membuat keluarga Sandra Dewi atau siapa pun tampak seperti berada di surga dibandingkan mereka.
Setelah pemakaman Laras yang hanya dihadiri Miranti dan Arga—di bawah sorakan makian orang-orang yang melempari peti mati kecil itu dengan koin-koin berkarat sebagai simbol 'uang curian'—semua pintu tertutup. Aset mereka disita habis. Bukan hanya rumah dan mobil, tapi hingga perhiasan mahar dan tabungan pendidikan yang paling dasar. Mereka diusir dari lingkungan elit dengan pengawalan yang lebih mirip pengarakan pelaku kriminal.
“Lihat wajah-wajah pemakan uang rakyat ini!” teriak seorang pria saat Miranti dan Arga berjalan keluar dari gerbang rumah mereka dengan hanya membawa dua koper pakaian bekas. “Anakmu mati itu peringatan, Miranti! Sekarang giliranmu merasakan bagaimana rasanya tidak bisa membeli nasi!”
Mereka pindah ke sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota, di sebuah gang yang baunya menusuk hidung oleh limbah pabrik. Namun, jejak digital Salindia adalah kutukan yang mengekor. Arga, yang dulu merupakan lulusan terbaik dari London, mencoba melamar pekerjaan apa saja—menjadi kuli panggul, tukang cuci piring, hingga pembersih selokan. Namun, setiap kali namanya disebut, orang-orang akan meludah.
“Bagaskaraprayogia? Kamu anak si rampok itu?” tanya seorang pemilik gudang beras. “Pergi! Aku lebih baik mempekerjakan anjing daripada memberi makan anak koruptor. Pergi sebelum kuhajar!”
Arga pulang dengan tangan kosong dan perut melilit. Di rumah, ia mendapati Miranti sedang duduk di sudut ruangan yang lembap. Kulit Miranti yang dulu dirawat dengan krim jutaan rupiah kini kusam, pecah-pecah, dan ditumbuhi koreng akibat air tanah yang tercemar. Tekanan batin yang luar biasa membuat mentalnya hancur. Ia sering berhalusinasi melihat Laras memanggil-malingnya dari balik tembok yang berjamur.
“Arga... Laras lapar, Ga... Ayah mana? Kenapa Ayah tidak bawakan oksigen?” igau Miranti dengan tatapan kosong.
Suatu malam, kondisi Miranti memburuk. Luka di kakinya akibat infeksi air kotor mulai mengeluarkan nanah yang berbau busuk. Arga tidak punya uang sepeser pun. Ia nekat pergi ke apotek terdekat, mencoba memohon belas kasihan.
“Tolong, Bu... Ibu saya sakit parah. Infeksinya sudah sampai ke tulang. Saya akan bekerja apa saja untuk membayar obat ini,” Arga memohon di depan apotek.
Apoteker itu menatapnya, lalu mengenali wajah Arga dari berita televisi yang masih memutar ulang skandal Salindia setiap pagi. “Oh, anak pejabat kaya itu? Mana tas Hermes ibumu? Jual saja itu! Oh, sudah disita ya? Bagus. Rasakan bagaimana rasanya memohon untuk nyawa, seperti rakyat yang mati karena obat-obatan yang kalian korupsi!”
Arga diusir dengan kasar. Ia berjalan pulang menembus hujan asam, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Di tengah jalan, ia melihat kerumunan orang sedang menonton layar besar di sebuah kafe. Di sana, Candrikarana Aurakasihaniah sedang diwawancarai secara eksklusif. Wanita itu tampil anggun, mengenakan berlian baru, dan dengan tenang berkata, “Saya adalah korban manipulasi Salindia. Saya sudah mendonasikan sebagian harta saya untuk amal sebagai bentuk penebusan. Saya memulai hidup baru.”
Darah Arga mendidih. Dunia begitu tidak adil. Ayahnya membusuk di sel, adiknya mati di lantai mandi, ibunya mengais nyawa di atas tumpukan nanah, sementara sang Dewi Ular yang memicu semua ini justru dipuja sebagai pahlawan yang berani bicara.
Keadaan semakin tragis saat Miranti, dalam kondisi setengah sadar karena sepsis, mencoba berjalan keluar rumah untuk mencari Laras. Ia terjatuh di selokan gang. Orang-orang yang lewat bukan menolong, malah mengambil video. Mereka menertawakan 'Ibu Pejabat' yang kini bermandikan air selokan dan darah dari lukanya yang terbuka.
“Ayo, bu! Mana gaya sosialitamu?” teriak seorang pemuda sambil menyiramkan air kotor ke arah Miranti. “Dulu kamu makan uang kami, sekarang makanlah lumpur itu!”
Arga menemukan ibunya dalam kondisi mengenaskan. Ia menggendong Miranti yang sudah kehilangan kesadaran. Darah dan nanah dari kaki ibunya merembes ke baju Arga, menciptakan bau kematian yang nyata. Ia tidak punya pilihan. Ia membawa ibunya ke depan gerbang penjara tempat ayahnya ditahan.
“SALINDIA! LIHAT ISTRI ANDA!” Arga berteriak di depan gerbang besi, suaranya parau oleh tangis dan amarah. “LIHAT HASIL KELAKUANMU! KITA MATI, AYAH! KITA MATI SEMENTARA KAU MASIH BISA MAKAN DI DALAM SANA!”
Petugas keamanan menyeret Arga menjauh. Miranti tergeletak di aspal panas, matanya terbuka sedikit, menatap langit kelabu. Di saat-saat terakhirnya, ia tidak memanggil nama suaminya. Ia hanya membisikkan satu kata: “Laras...”
Miranti menghembuskan napas terakhirnya di trotoar jalanan, hanya beberapa meter dari tempat suaminya mendekam dalam kehinaan. Tidak ada ambulans yang mau datang dengan cepat untuk keluarga 'terkutuk' itu. Arga hanya bisa memeluk mayat ibunya yang dingin dan berbau busuk di bawah tatapan benci orang-orang yang lewat.
Keluarga Bagaskaraprayogia telah habis. Salindia di dalam sel kini hanyalah raga tanpa jiwa. Setiap kali ia makan jatah makanannya yang sederhana, ia teringat bahwa setiap suapan itu dibayar dengan nyawa anak dan istrinya yang tewas dalam kemelaratan yang paling hina. Penderitaan mereka melampaui segala deskripsi tragis yang pernah ada—sebuah kehancuran lahir batin di mana kematian dianggap sebagai kemewahan yang sulit dicapai. Mereka tidak hanya bangkrut secara finansial, tapi mereka telah dihapus dari kemanusiaan oleh dosa satu orang yang merasa dirinya di atas hukum.
Arga kini hidup menggelandang, matanya kosong, jiwanya sudah mati bersama ibu dan adiknya. Ia adalah monumen hidup dari sebuah skandal yang membuktikan bahwa harta haram tidak akan pernah membawa bahagia, melainkan kutukan yang mengais hingga ke liang lahat.
---