Malam di kota ini selalu terasa seperti sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh kabut. Di sebuah studio kecil yang dipenuhi rak buku dan peralatan rekaman sederhana, aku duduk menatap layar monitor. Namaku Aris, dan bagi ribuan pendengar setia siniar (podcast) "Suara Tengah Malam", aku adalah sosok tanpa wajah yang menemani kesepian mereka dengan barisan kata-kata puitis dan nada suara yang, menurut banyak orang, sangat menenangkan.
"Assalamualaikum, selamat malam para pencari ketenangan," ucapku lembut ke arah mikrofon kondensor di depanku. "Semoga kalian yang sedang mendengarkan, di mana pun berada, senantiasa diberikan kesehatan dan hati yang lapang."
Aku mulai membacakan sebuah naskah tentang kehilangan dan penerimaan. Tentang bagaimana jodoh adalah misteri yang sudah tertulis di balik tirai langit. Sesaat setelah siaran langsung itu berakhir, kolom komentar di platformku mulai dibanjiri pesan. Mataku tertuju pada satu nama akun: *Ami Hesti*.
“Assalamualaikum Kak Aris, betul itu... semua orang pasti ada jodohnya masing-masing. Kalau emang belum jodohnya mau dibilang apa. Semoga kita mendapatkan jodoh yang lebih baik dari sebelumnya. Salam sehat buat Kakak di sana... maaf sebelumnya Kak, jangan GR ya, aku senang mendengar suara Kakak, sangat lembut hee.”
Aku tersenyum kecil. Pesan seperti ini sering mampir, tapi ada sesuatu pada komentar Ami yang terasa tulus dan berbeda. Aku memutuskan untuk membalasnya secara pribadi melalui pesan langsung. Sebuah tindakan yang jarang kulakukan.
“Waalaikumussalam, Ami. Terima kasih atas doanya. Sehat selalu juga untukmu di sana. Senang kalau suaraku bisa menemani malammu.”
Percakapan itu tidak berhenti di sana. Hari demi hari, kami mulai bertukar cerita. Ami adalah seorang wanita yang baru saja bangkit dari kegagalan pernikahan. Ia bercerita tentang betapa dunianya hancur setahun yang lalu, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana ia belajar mencintai dirinya kembali. Suaraku, katanya, adalah terapi baginya.
"Suaramu seperti pelukan yang tidak pernah kuterima dari mantan suamiku," tulisnya suatu malam.
Aku pun mulai merasa nyaman. Aku bercerita padanya bahwa aku adalah seorang penyendiri yang lebih suka bicara pada mesin daripada manusia nyata. Aku merasa Ami adalah sosok yang lembut, penuh pengertian, dan sangat menghargai privasi. Kami tidak pernah bertukar foto. Kami sepakat bahwa biarlah hubungan ini tumbuh di atas fondasi kata-kata dan frekuensi suara.
---
Satu bulan berlalu. Aku merasa ada ikatan yang semakin kuat. Aku mulai membayangkan Ami sebagai sosok wanita dengan senyum manis dan mata yang teduh. Namun, sebuah kejadian aneh mulai mewarnai hari-hariku.
Beberapa kali aku merasa diikuti. Saat aku pulang dari minimarket, atau saat aku berjalan di taman kota dekat apartemenku. Pernah sekali, aku menemukan sebuah amplop cokelat di depan pintuku. Isinya hanya selembar kertas bertuliskan tangan: “Suaramu lebih indah jika didengar dari dekat.”
Aku langsung menghubungi Ami. “Ami, apakah kau tahu alamatku? Ada seseorang yang mengirimkan surat aneh ke rumahku.”
Ami membalas dengan cepat, tampak khawatir. “Astaga, Kak! Aku sama sekali tidak tahu. Aku di luar kota, Kak tahu itu kan? Mungkin itu penggemar fanatikmu yang lain. Tolong hati-hati, Kak Aris.”
Kekhawatiranku mereda, tapi rasa waspada itu tetap ada. Hingga suatu malam, sebuah pesan masuk dari Ami.
“Kak Aris, aku punya kejutan. Besok aku ada urusan pekerjaan di kotamu. Bolehkah kita bertemu? Aku ingin sekali melihat pemilik suara lembut ini secara langsung. Di kafe biasa yang sering Kakak ceritakan di siaran? Jam 7 malam?”
Jantungku berdegup kencang. Ini saatnya. Aku mengiyakan.
---
Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Aku duduk di sudut kafe "Lensa Waktu", mengenakan jaket biru tua kegemaranku. Aku menunggu dengan gelisah. Pukul tujuh lewat lima belas, seorang wanita cantik dengan jilbab berwarna pastel masuk ke dalam kafe. Ia melihat sekeliling, lalu matanya terpaku padaku.
Ia berjalan mendekat. Senyumnya persis seperti yang kubayangkan. "Kak Aris?" tanyanya lembut.
"Ami?" aku berdiri, sedikit gugup.
Kami menghabiskan dua jam berbicara. Semuanya terasa sempurna. Ami adalah pendengar yang baik, persis seperti kesan yang ia berikan di komentar media sosialnya. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Berkali-kali, Ami melihat ke arah jendela besar kafe dengan tatapan yang sedikit cemas.
"Ada apa, Ami?" tanyaku.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa... ah, lupakan saja. Mungkin aku hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu," jawabnya sambil tersipu.
Sebelum kami berpisah, Ami menggenggam tanganku sebentar. "Terima kasih untuk malam ini, Aris. Kamu jauh lebih nyata daripada yang kubayangkan. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, aku benar-benar menyukai suaramu."
Kalimat itu terdengar seperti perpisahan yang permanen.
---
Saat aku berjalan pulang menuju apartemen, perasaan diikuti itu kembali muncul. Kali ini lebih kuat. Aku mempercepat langkah. Begitu sampai di lobi, aku langsung masuk ke lift. Di dalam lift yang berdinding cermin, aku melihat pantulan diriku sendiri. Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Bukan pesan teks, tapi sebuah rekaman suara.
Aku menempelkan ponsel ke telinga. Suara yang terdengar adalah suaraku sendiri. “Assalamualaikum, selamat malam para pencari ketenangan...”
Lalu, suara itu berubah menjadi tawa kecil yang mengerikan. Tawa seorang pria.
Aku berlari menuju kamarku, mengunci pintu, dan menyalakan semua lampu. Aku segera membuka laptop dan memeriksa profil Ami Hesti. Aku menyadari sesuatu yang kulewatkan selama sebulan ini. Foto profil Ami—sebuah pemandangan gunung—ternyata adalah foto stok dari internet.
Aku mulai melacak alamat IP dari pesan-pesan terakhir Ami melalui sebuah perangkat lunak sederhana yang biasa kugunakan untuk manajemen teknis siniar. Hasilnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Alamat IP pengirim pesan Ami Hesti selama satu jam terakhir berasal dari... ruangan di sebelah apartemenku.
Unit 402. Kamar yang selama ini kukira kosong karena pemiliknya sedang renovasi.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di dinding yang membatasi kamarku dengan unit 402. Pelan, berirama. Lalu, suara seorang pria terdengar dari balik dinding, sangat tipis namun jelas.
"Suaramu memang sangat lembut, Aris... persis seperti yang kubayangkan di penjara."
Darahku membeku. Itu suara yang sangat kukenal. Itu suara mantan narapidana kasus penguntitan yang pernah kulaporkan tiga tahun lalu karena ia terobsesi pada salah satu narasumber di siaranku. Namanya bukan Ami. Namanya adalah Hesti—Hestianto.
Lalu siapa wanita yang kutemui di kafe tadi?
Ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan teks dari nomor tak dikenal.
“Aris, ini aku, Ami. Maaf aku harus berbohong. Aku bukan Ami Hesti yang kamu kenal di komentar. Aku adalah detektif swasta yang disewa oleh keluargamu karena mereka curiga kamu sedang diincar oleh seseorang dari masa lalumu. Wanita yang kamu temui tadi adalah aku. Aku berpura-pura menjadi 'Ami' untuk memancing siapa pengirim surat ancaman itu ke tempat umum.”
Aku membaca pesan itu dengan tangan gemetar.
“Tapi Aris, ada plot twist yang harus kamu tahu,” lanjut pesan itu. “Pria di sebelah kamarmu itu... dia bukan penguntitmu yang sebenarnya. Dia hanya orang bayaran. Penguntitmu yang asli adalah orang yang sangat dekat denganmu. Orang yang tahu setiap jadwal siaranmu dan setiap detail naskahmu.”
Aku terdiam. Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Tidak terkunci? Padahal aku yakin sudah memutar kunci tadi.
Di ambang pintu, berdirilah manajer siniarku sendiri, sosok yang selama ini membantuku menyiapkan peralatan, naskah, dan teknis siaran. Ia memegang sebuah botol kecil berisi cairan bening dan sebuah alat perekam.
"Aris," katanya dengan suara yang sama lembutnya dengan suaraku. "Aku bosan hanya mengedit suaramu. Aku ingin memilikinya sepenuhnya. Aku ingin kamu diam selamanya, agar hanya rekaman-rekamanmu yang tersisa untuk dunia. Dan hanya aku yang punya akses ke sana."
Ia tersenyum. "Terima kasih sudah membalas komentar 'Ami Hesti' buatanku. Itu cara termudah untuk memastikan kamu tetap berada di apartemen malam ini sementara Hestianto—orang bayaranku—membuatmu ketakutan di sebelah."
Aku menyadari satu hal terakhir sebelum kegelapan menyergap: di dunia digital, suara yang paling lembut sekalipun bisa menjadi jerat yang paling mematikan. Dan jodoh? Terkadang jodoh kita bukan orang yang kita cintai, melainkan orang yang paling ingin menghancurkan kita.
---