Ruang sidang Pengadilan Tipikor hari itu sesak oleh aroma keringat, parfum mahal yang memuakkan, dan kilatan lampu kamera yang haus akan kehancuran. Di kursi terdakwa, Salindia Bagaskaraprayogia tampak seperti singa yang telah dipatahkan taringnya. Rompi oranye itu membungkus tubuh gagahnya dengan hina, kontras dengan wajahnya yang pucat dan rahang yang terus mengatup rapat. Di barisan kursi pengunjung terdepan, Miranti duduk mematung dengan cadar hitam tipis, sementara di sampingnya, Arga merangkul erat adiknya, Laras, yang baru berusia sepuluh tahun. Tubuh kecil Laras terus gemetar, ia tidak mengerti mengapa semua orang menatap ayahnya seolah-olah pria itu adalah iblis.
“Hadirkan saksi kunci, Candrikarana Aurakasihaniah!” seru Jaksa Penuntut Umum.
Pintu ruang sidang terbuka. Langkah kaki dengan sepatu *stiletto* merah menyala berdetak di atas lantai pualam, menciptakan irama yang mencekam. Candrikarana masuk dengan gaun sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna—gaun yang dibeli dengan uang hasil suap proyek alat kesehatan yang kini menjerat Salindia. Ia duduk di kursi saksi, melempar senyum tipis yang sarat akan racun ke arah Salindia.
“Saksi, jelaskan hubungan Anda dengan terdakwa,” perintah Hakim Ketua.
Candrikarana memutar helai rambutnya yang legam. “Hubungan kami? Salindia menyebutnya 'investasi hati', Pak Hakim. Tapi bagi saya, dia hanyalah mesin ATM yang luar biasa gagah. Dia memberikan saya segalanya—apartemen di pusat kota, mobil mewah, hingga aliran dana rutin lima ratus juta per bulan. Semuanya ia katakan sebagai 'biaya operasional cinta'.”
Gumam riuh penonton pecah. Miranti memejamkan mata, tangannya mencengkeram tas tangannya hingga buku-bukunya memutih.
“Apakah Anda tahu dari mana sumber uang tersebut?” tanya Jaksa.
“Tentu saja,” jawab Candrikarana dengan nada santai yang membuat mual siapa pun yang mendengarnya. “Salindia sering membual di tempat tidur setelah kami bercinta. Dia bilang, 'Candri, satu tanda tanganku di proyek RSUD itu cukup untuk membelikanmu berlian ini. Rakyat tidak akan sadar kalau harga satu tabung oksigen aku naikkan dua kali lipat, mereka terlalu sibuk memuja wajah tampanku di baliho'.”
“BAJINGAN!” Arga berteriak dari kursi penonton, berdiri dengan mata menyala. Petugas keamanan segera menenangkannya. Laras mulai menangis terisak, menutup telinganya dengan kedua tangan kecilnya.
Salindia akhirnya meledak. Ia berdiri, menunjuk Candrikarana dengan telunjuk yang bergetar. “Kau pelacur pengkhianat! Kau yang memintaku! Kau yang bilang ingin hidup bak ratu! Aku melakukan semua ini karena kau bilang tidak bisa hidup miskin!”
“Aku tidak pernah memaksamu mencuri uang rakyat, Bagaskara,” balas Candrikarana dingin, matanya kini menatap Miranti dengan tatapan penuh kemenangan yang keji. “Kau melakukannya karena kau ingin merasa seperti Tuhan. Kau ingin memiliki istri terhormat di rumah, dan memiliki dewi di ranjang. Kau rakus, dan sekarang kau harus bayar harganya sendiri.”
Persidangan itu menjadi karnaval penderitaan. Satu per satu bukti dibuka: foto-foto pesta seks yang dibiayai uang negara, rekaman suara Salindia yang merendahkan rakyat miskin sebagai 'semut-semut pemakan pajak', hingga daftar aset yang disita yang nilainya mampu menghidupi satu provinsi selama setahun.
Namun, tragedi sesungguhnya terjadi di luar ruang sidang yang dingin itu. Nama keluarga Bagaskaraprayogia telah menjadi kotoran di mata masyarakat. Di sekolah, Laras menjadi sasaran perundungan yang biadab. Teman-temannya melemparkan koin ke wajahnya sambil berteriak, “Ini untuk makan bapakmu yang pencuri!” atau mengirimkan potongan kliping berita perselingkuhan ayahnya ke dalam tas sekolahnya.
Seminggu setelah kesaksian Candrikarana yang menghancurkan itu, rumah mewah yang telah disita negara itu terasa sunyi seperti liang lahat. Miranti sedang berada di kantor pengacara untuk mengurus perceraian, sementara Arga sedang keluar mencari pekerjaan kasar karena semua tabungan mereka telah dibekukan. Laras ditinggalkan sendirian bersama rasa malu yang terlalu berat untuk bahu sekecil itu.
Laras masuk ke kamar mandi utama. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang dulu sering digunakan ayahnya untuk merapikan dasi mahal. Ia melihat wajah ayahnya pada wajahnya sendiri, dan itu membuatnya mual. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil botol cairan pembersih lantai yang pekat dan beberapa butir obat tidur dosis tinggi milik ibunya.
Saat Arga pulang sore itu, ia menemukan pintu kamar mandi terkunci. “Laras? Dik, buka pintunya. Kakak bawakan martabak kesukaanmu,” panggilnya lembut.
Tak ada jawaban. Arga mulai panik. Ia mendobrak pintu itu dengan bahunya. Suara kayu yang patah mengiringi jeritan Arga yang membelah langit-langit rumah itu. Laras tergeletak di lantai marmer dingin. Cairan biru berbusa keluar dari mulutnya yang kecil, bercampur dengan muntahan dan sisa-sisa pil. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah kertas gambar sekolah. Di sana ia menggambar sebuah keluarga utuh dengan krayon warna-warni, namun wajah ayahnya dicoret dengan tinta hitam pekat hingga kertas itu robek.
Di bawah gambar itu, tertulis pesan singkat dengan tulisan tangan anak-anak yang belum sempurna: *“Ibu, Kak Arga, Laras minta maaf. Laras tidak mau punya wajah seperti Ayah. Laras mau tidur saja supaya tidak ada yang memanggil Laras anak pencuri lagi.”*
Berita bunuh diri Laras meledak di media massa. Publik yang tadinya murka pada Salindia, kini terdiam dalam duka yang mencekam. Saat kabar itu sampai ke sel tahanan, Salindia Bagaskaraprayogia meraung seperti binatang liar, membenturkan kepalanya ke dinding beton hingga berdarah. Namun, itu tidak mengubah apa pun. Keperkasaannya telah membunuh putrinya sendiri.
Di sisi lain kota, Candrikarana Aurakasihaniah terlihat di sebuah bar mewah, menyesap sampanye bersama seorang pria pengusaha baru. Ia membaca berita kematian Laras di ponselnya, hanya mendesah kecil, lalu menyesap minumannya kembali. “Dunia memang keras untuk orang-orang yang terlalu perasa,” gumamnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Satu keluarga hancur. Seorang anak tak berdosa mati karena dosa ayahnya dan ketamakan seorang wanita simpanan. Salindia kini membusuk di penjara dengan bayang-bayang wajah Laras yang membiru setiap kali ia memejamkan mata. Inilah harga dari sebuah pengkhianatan: bukan hanya tahta yang hilang, tapi darah daging yang terbuang sia-sia ke lubang kehinaan yang paling dalam.
---