Di atas sajadah beludru berwarna hijau zamrud, Marni menatap pantulan dirinya di cermin besar berkulit kayu jati yang terukir rumit. Ia masih mengenakan kebaya putih brokat yang payetnya berkilau terkena cahaya lampu kristal di langit-langit kamar. Umurnya baru dua puluh satu tahun, namun malam ini, ia telah resmi menyandang gelar sebagai istri dari Haji Husin, seorang pria yang usianya enam puluh lima tahun—usia yang bahkan lebih tua dari ayahnya sendiri.
Di luar kamar, sayup-sayup masih terdengar sisa keriuhan pesta pernikahan di pelataran rumah luas milik Haji Husin. Mahar yang diberikan bukan main-main: satu set perhiasan berlian seberat seratus gram, sebuah mobil SUV keluaran terbaru, sertifikat sebidang tanah perkebunan kelapa sawit, dan tabungan atas nama Marni yang jumlahnya cukup untuk menghidupi tujuh turunan keluarganya di desa.
Awalnya, Marni menolak dengan air mata yang mengalir deras. Ia merasa harga dirinya sedang dibeli. "Aku bukan barang dagangan, Mak!" teriaknya pada ibunya sebulan yang lalu. Namun, hatinya yang hancur karena pengkhianatan pacar-pacar sebayanya membuatnya lelah. Sebelum Haji Husin datang, Marni adalah korban dari janji-janji manis cowok-cowok seumurannya yang hanya pandai bersilat lidah.
Mantan pacar terakhirnya, seorang pemuda pengangguran yang hobinya main game hingga pagi, tidak hanya selingkuh dengan sahabat Marni sendiri, tapi juga mencuri uang tabungan Marni untuk membayar cicilan motornya. Kejadian itu berulang; setiap pria muda yang mendekatinya hanya datang dengan dua wajah: pemalas yang ingin menumpang hidup, atau peselingkuh yang haus akan tubuhnya tanpa ada niat bertanggung jawab. Marni hampir trauma, merasa bahwa cinta hanya akan membawanya pada luka yang menganga.
Lalu datanglah Haji Husin. Pria itu datang bukan dengan rayuan, melainkan dengan ketulusan yang tenang. "Marni, saya tidak ingin membelimu. Saya hanya ingin menjagamu. Saya butuh teman di hari tua saya, dan saya berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis karena kekurangan atau pengkhianatan," ucapnya kala itu dengan suara berat yang penuh wibawa.
Pintu kamar terbuka pelan. Haji Husin masuk dengan langkah yang masih sangat tegap. Tidak ada bungkuk di punggungnya. Tubuhnya masih terlihat gagah dalam balutan jas hitam, rambutnya yang memutih justru menambah kesan bijaksana dan tampan secara klasik. Wajahnya cerah, sisa dari kedisiplinan hidup dan air wudhu yang tak pernah putus.
"Marni, kamu terlihat cantik sekali malam ini," ucap Haji Husin sambil duduk di tepi ranjang besar yang empuk.
Marni menunduk, jantungnya berdebar kencang. Ia teringat cerita orang-orang tentang mendiang istri Haji Husin yang telah meninggal lima tahun lalu karena sakit. Pria ini setia merawat istrinya sampai napas terakhir. Ketiga anaknya pun sudah sukses, semuanya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Haji Husin hidup dalam kesunyian yang mewah, sampai ia menemukan Marni yang bekerja di toko emas milik kerabatnya.
Haji Husin mendekat, aroma parfum kayu cendana yang mahal tercium dari tubuhnya. Ia tidak langsung menuntut haknya. Dengan lembut, ia melepas satu per satu perhiasan di leher dan telinga Marni. "Jangan takut. Saya bukan mereka yang hanya tahu cara mengambil tanpa memberi. Mulai malam ini, apa yang milikku adalah milikmu."
Marni mulai merasakan getaran yang berbeda. Ketenangan Haji Husin membuatnya merasa aman—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari pemuda manapun. Dan saat malam semakin larut, Marni menemukan kejutan yang tak pernah ia bayangkan. Meski sudah berusia enam puluh lima tahun, Haji Husin masih memiliki kekuatan dan keperkasaan yang luar biasa. Ia adalah pria yang tahu cara menghargai wanita. Tidak ada ketergesaan yang kasar; yang ada hanyalah sentuhan yang sarat akan pengalaman dan gairah yang matang. Haji Husin menunjukkan bahwa usia hanyalah angka, sementara stamina adalah hasil dari jiwa yang sehat dan cinta yang tulus.
Bulan-bulan berlalu, dan hidup Marni berubah drastis. Ia tak lagi harus bangun subuh untuk mengantre angkutan umum demi kerja lembur. Sekarang, ia bangun di samping pria yang selalu mencium keningnya sebelum berangkat ke masjid. Marni hidup dalam gelimang kemewahan, namun yang membuatnya benar-benar bahagia bukan sekadar emas atau tanah yang ia miliki.
Kebahagiaannya berasal dari rasa dihargai. Saat ia sakit ringan, Haji Husin sendiri yang menyuapinya bubur, bukan malah menghilang seperti mantan-mantan pacarnya yang dulu. Saat Marni ingin melanjutkan kuliah, Haji Husin langsung mendaftarkannya di universitas terbaik tanpa keraguan sedikit pun.
Anak-anak Haji Husin yang awalnya skeptis, perlahan luluh melihat bagaimana Marni mengurus ayah mereka dengan sepenuh hati. Mereka melihat ayah mereka yang dulunya sering murung, kini kembali bersemangat dan tampak lebih muda sepuluh tahun.
"Terima kasih sudah membuat Ayah bahagia kembali, Marni," ucap putra tertua Haji Husin suatu hari saat acara makan malam keluarga.
Marni hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Haji Husin di bawah meja. Ia menyadari satu hal: cinta tidak selalu harus datang dari mereka yang seumur. Terkadang, cinta justru ditemukan di pelukan pria yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, yang tahu bagaimana memperlakukan wanita sebagai ratu, bukan sekadar objek.
Pengkhianatan masalalu kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh. Marni tidak lagi trauma. Ia telah menemukan pelabuhannya pada sosok kakek perkasa yang super baik ini. Di balik mahar yang melimpah, ada hati yang jauh lebih mahal harganya. Marni bahagia, sangat bahagia, menenun hari-hari indahnya bersama Haji Husin yang tetap gagah menantang usia, membuktikan bahwa di musim gugur sekalipun, bunga cinta tetap bisa mekar dengan begitu indahnya.
---