Malam itu, hening di kediaman mewah keluarga Bagaskaraprayogia pecah bukan oleh petir, melainkan oleh suara bantingan pintu jati yang mengguncang pondasi martabat keluarga. Salindia Bagaskaraprayogia berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lapangan bola. Jas mahalnya tampak kusut, dan sorot mata yang biasanya tajam penuh wibawa kini meredup, digantikan oleh ketakutan yang menjalar seperti bisa ular. Di hadapannya, Ibu Miranti, istrinya yang selama dua puluh tahun menjaga kehormatan nama keluarga, berdiri dengan tangan bergetar memegang gawai yang menampilkan foto-foto syur suaminya bersama Candrikarana Aurakasihaniah di sebuah resor privat di Maladewa.
"Jadi ini alasan kenapa anggaran renovasi rumah sakit daerah itu menguap, Salindia? Untuk membiayai kulit porselen wanita simpananmu ini?" suara Miranti serak, menahan tangis yang pecah menjadi amarah yang dingin. "Dua puluh tahun aku membangun citramu sebagai pejabat jujur, sebagai suami teladan, sementara kau menyuapi jalang ini dengan uang rakyat yang kau rampok!"
Salindia mencoba mendekat, tangannya yang gagah perkasa mencoba meraih bahu istrinya, namun Miranti mundur dengan tatapan jijik seolah melihat bangkai. "Dengar dulu, Miranti. Ini semua konspirasi politik. Candrikarana itu hanya perantara bisnis, dia memegang aset-halal kita—"
"Aset halal katamu?!" tiba-tiba suara lain menyambar dari arah tangga. Arga, putra sulung mereka yang baru saja pulang dari studinya di London, menatap ayahnya dengan mata merah. "Aku baru saja melihat berita di portal nasional, Ayah. Rekening Candrikarana dibekukan, dan di sana tercatat aliran dana dari vendor alat kesehatan yang sedang diselidiki KPK. Kau bukan hanya berselingkuh dari Ibu, kau berselingkuh dari negaramu! Kau koruptor, Yah! Kau pencuri!"
"Tutup mulutmu, Arga! Kamu sekolah di London, pakai mobil sport di sana, itu semua dari keringat Ayah!" bentak Salindia, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai kepala keluarga yang otoriter.
"Keringat? Atau darah rakyat yang mati karena oksigen di rumah sakit tidak terbeli gara-gara uangnya kau pakai untuk membelikan apartemen mewah buat Candrikarana?" Arga meludah ke lantai marmer yang mahal. "Aku malu punya nama belakang Bagaskaraprayogia. Di kampus, semua orang membicarakan video Candri yang memamerkan koleksi tas Hermes-nya dan menyebutnya sebagai pemberian dari 'Papa Pejabat Tersayang'. Itu kau, kan?"
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang didanai dari hasil korupsi, Candrikarana Aurakasihaniah sedang duduk tenang sambil menyesap wine merah. Di hadapannya, beberapa koper bermerek sudah terisi penuh. Saat bel pintu berbunyi, dia tidak mendapati Salindia, melainkan segerombolan pria dengan rompi bertuliskan institusi hukum. Salindia yang malang tidak tahu bahwa Candrikarana telah memberikan semua data rahasia di laptop pribadinya kepada penyidik sejak sebulan lalu demi kesepakatan *justice collaborator*.
"Selamat malam, Mbak Candrikarana. Sesuai perjanjian, Anda akan kami bawa sekarang untuk pengamanan saksi," ujar salah satu penyidik.
Candrikarana tersenyum tipis, sebuah senyum yang dulu membuat Salindia bertekuk lutut dan rela menjual jiwanya. "Silakan. Katakan pada Pak Salindia, aku mencintai kemewahannya, bukan orangnya. Lagipula, matahari yang terlalu panas memang harus segera dipadamkan sebelum membakar semuanya, bukan?"
Kembali ke rumah keluarga Bagaskaraprayogia, situasi semakin mencekam. Putri bungsu Salindia, yang masih berusia sepuluh tahun, turun ke bawah sambil memeluk boneka, menangis melihat ibunya yang jatuh terduduk di lantai sambil meraung-raung. "Ibu, kenapa di sekolah teman-teman bilang Ayah akan dipenjara? Kenapa mereka bilang Ayah orang jahat?"
Salindia merasa jantungnya diremas. Keperkasaannya seolah luntur seketika. Dia melihat istrinya yang hancur, anak lelakinya yang menatapnya dengan dendam, dan putrinya yang ketakutan. Saat itulah, sirine mobil polisi mulai meraung-raung di depan pagar besi rumah mereka yang megah. Lampu rotator biru dan merah memantul di dinding kaca, menghapus segala kedamaian yang tersisa.
"Salindia Bagaskaraprayogia, Anda kami tahan atas dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang," suara lantang dari pengeras suara kepolisian terdengar sampai ke dalam ruang tamu.
Salindia menatap pintu rumahnya yang kokoh. Pintu yang dulu ia lewati dengan kepala tegak sebagai pahlawan bangsa, kini menjadi pintu menuju liang lahat karirnya. Dia menoleh pada Miranti untuk terakhir kalinya. "Maafkan aku..."
Miranti tidak menoleh. Dia hanya memeluk putrinya erat-erat. "Pergilah. Pergi dengan wanita simpananmu dan uang harammu itu. Mulai detik ini, tidak ada lagi Bagaskaraprayogia di rumah ini. Kau telah mati bagi kami sebelum kau masuk ke sel itu."
Salindia melangkah keluar dengan tangan yang diborgol, wajahnya yang tampan dan gagah kini tertutup oleh kilatan kamera wartawan yang sudah mengepungnya seperti burung hering yang siap mencabik bangkai. Di kejauhan, melalui layar televisi di dalam penjara nantinya, dia hanya akan melihat Candrikarana yang melenggang bebas, sementara keluarganya sendiri harus menanggung malu dan kemiskinan karena seluruh asetnya disita negara. Itulah akhir dari sang Bagaskara, sang matahari yang tenggelam bukan karena senja, melainkan karena keserakahan yang membutakan mata hatinya.
---