Lembayung senja membungkus gedung-gedung tua bernuansa serba ungu di sudut kota yang terkenal dengan romansa pelajarannya. Kampus Magenta, begitulah orang-orang menyebutnya karena dominasi warna catnya yang ikonik. Di koridor Fakultas Ilmu Sosial, seorang gadis bernama Arumi melangkah terburu-buru. Wajahnya yang cerah kini ditekuk masam karena buku referensi yang dicarinya raib dari perpustakaan.
"Arumi! Pelan-pelan, nanti nabrak dosen killer," sebuah suara berat namun jenaka mencegatnya. Itu Gibran, mahasiswa tingkat akhir Teknik Mesin yang lebih sering terlihat memegang kunci inggris daripada pulpen. Gibran adalah definisi energi matahari; ceria, berisik, dan selalu punya cara membuat Arumi tertawa meski di tengah badai tugas akhir.
"Gibran, aku pusing! Buku metodologiku hilang!" keluh Arumi.
Gibran terkekeh, tangannya reflek mengacak rambut Arumi yang rapi. "Dunia nggak kiamat cuma gara-gara satu buku, Mi. Mending ikut aku ke belakang kantin. Ada 'rahasia' yang baru netes."
Arumi mengernyit, namun rasa penasarannya menang. Di belakang kantin yang rimbun dengan pohon kamboja, ia melihat pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk skripsi. Seekor induk ayam dengan bulu cokelat mengkilap sedang mengasuh enam anak ayam yang masih berbentuk bola kapas kuning.
"Inilah dia, 'ayam kampus' yang paling jujur di universitas ini," bisik Gibran sambil jongkok. "Namanya Siti. Dia saksi bisu aku ngerjain tugas sampai begadang di sini. Kemarin dia baru lahiran, lucu kan?"
Arumi tertawa renyah, beban di pundaknya seolah meluruh melihat anak-anak ayam itu berlarian mengejar induknya. "Kamu ini, aku pikir 'ayam kampus' yang gimana. Ternyata beneran ayam!"
Namun, suasana hangat itu terusik saat seorang pria dengan jas almamater yang sangat rapi berjalan mendekat. Ardan. Mahasiswa berprestasi dari Fakultas Hukum, calon pengacara masa depan yang kaku, disiplin, namun memiliki tatapan mata yang selalu berhasil membuat Arumi salah tingkah. Ardan adalah kutub utara bagi Gibran yang merupakan kutub selatan.
"Arumi, aku sudah meminjamkan buku yang kamu cari. Ada di meja belajarmu," ucap Ardan tanpa basa-basi, melirik sekilas ke arah Gibran yang masih asyik memberi makan anak ayam dengan remahan biskuit.
"Oh... terima kasih, Dan. Kamu kok tahu aku lagi cari itu?" Arumi merona.
"Aku selalu tahu apa yang kamu butuhkan sebelum kamu menyadarinya sendiri," jawab Ardan datar namun penuh penekanan. Ia menatap Gibran. "Dan Gibran, sebaiknya kamu jangan biarkan ayam-ayam itu di sini. Area ini harus tetap steril sesuai regulasi kebersihan kampus."
Gibran berdiri, menepuk debu di celananya. "Halah, Dan. Hidup jangan terlalu banyak regulasi. Siti dan anak-anaknya ini justru yang bikin kampus kita punya nyawa. Mereka nggak butuh IPK buat jadi bahagia."
Ketegangan antara keduanya terasa nyata. Arumi berdiri di tengah-tengah, merasa seperti ditarik oleh dua gravitasi yang berbeda. Gibran menawarkan tawa dan kebebasan, sementara Ardan menawarkan kepastian dan perlindungan yang kokoh.
Minggu-minggu berikutnya di Kampus Magenta menjadi panggung drama yang campur aduk. Suatu hari, Arumi mendapati Gibran sedang beradu argumen dengan petugas kebersihan yang ingin mengusir Siti si ayam kampus karena keluhan dari pihak dekanat—yang ternyata bersumber dari laporan Ardan demi "ketertiban umum".
"Kamu keterlaluan, Dan!" bentak Arumi di depan gedung rektorat. "Siti itu hiburan buat anak-anak yang stres skripsi. Kenapa harus sejahat itu?"
Ardan menatap Arumi dengan tatapan terluka yang jarang ia tunjukkan. "Aku melakukan ini supaya lingkunganmu bersih, Mi. Supaya kamu bisa fokus. Gibran hanya memberimu distraksi yang tidak berguna."
"Tapi kebahagiaan bukan soal berguna atau tidak!" balas Arumi.
Sore itu, hujan turun deras di Kota Magenta. Arumi duduk di halte kampus, sendirian dan menangis. Ia merasa bersalah pada Ardan yang sebenarnya berniat baik dengan caranya yang kaku, namun ia juga terluka karena Siti dan anak-anaknya menghilang.
Tiba-tiba, sebuah jaket denim yang bau oli namun hangat tersampir di bahunya. Gibran berdiri di sana, basah kuyup, dengan sebuah kardus di pelukannya. Di dalam kardus itu, Siti dan enam anak ayamnya berhimpitan dengan selamat.
"Aku mencuri mereka sebelum dibawa ke pasar oleh petugas," bisik Gibran sambil nyengir meski giginya gemeretak kedinginan. "Aku titipkan di gudang bengkel mesin. Ardan nggak akan berani masuk ke sana."
Arumi tertawa di tengah tangisnya. Ia melihat betapa tulusnya Gibran menjaga hal-hal kecil yang berarti baginya. Namun, saat ia mendongak, ia melihat Ardan berdiri di seberang jalan dengan payung hitam, mematung melihat kebersamaan mereka. Ardan tidak mendekat, ia hanya meletakkan sebuah kantong plastik berisi obat flu dan cokelat hangat di bangku halte terjauh, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Trenyuh, sedih, dan haru bercampur menjadi satu di dada Arumi. Ia menyadari bahwa cinta segitiga ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi tentang bagaimana dua orang dengan cara yang sangat berbeda mencoba mencintai satu hati yang sama. Gibran dengan petualangan liarnya bersama ayam kampus, dan Ardan dengan perhatian diam-diamnya yang terstruktur.
Di Kampus Magenta, kisah mereka terus berlanjut seperti warna ungu yang melambangkan kemewahan sekaligus duka. Arumi masih sering mengunjungi Siti di gudang bengkel, terkadang ia menemukan cokelat dari Ardan di sana—tanda bahwa sang calon pengacara akhirnya memilih untuk "menutup mata" demi kebahagiaan gadis yang dicintainya. Sebuah kompromi cinta yang lucu, mengharukan, dan sangat manusiawi di bawah langit ungu kota pendidikan.