Sore itu, langit di atas gang sempit yang dihuni Arga dan mayat ibunya tampak muram, sewarna dengan masa depan mereka yang telah hancur lebur. Bau busuk limbah pabrik beradu dengan bau kematian yang menguar dari tubuh Miranti yang kaku di aspal. Arga terduduk di samping jasad ibunya, matanya kosong, tangannya yang kotor menggenggam tangan Miranti yang dingin dan penuh koreng bernanah.
Kerumunan orang masih bertahan, menonton dengan tatapan benci dan cemoohan. “Ayo, angkat ibumu! Jangan buat kotor jalanan kami!” teriak seorang wanita sambil melempar kulit pisang ke arah Arga. “Dulu makan uang negara, sekarang mati di selokan. Keadilan Tuhan itu nyata!”
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah memecah kegaduhan gang. Sebuah sedan hitam mengkilap, simbol kemewahan yang dulu sangat akrab dengan keluarga Bagaskaraprayogia, berhenti tepat di depan kerumunan. Pintu terbuka, dan langkah kaki dengan sepatu *stiletto* merah menyala berdetak di atas aspal kotor.
Candrikarana Aurakasihaniah turun dari mobil. Ia mengenakan kacamata hitam besar, gaun sutra putih yang melambangkan kesucian semu, dan tas tangan seharga ratusan juta rupiah—perhiasan yang dibeli dengan uang suap yang sama yang telah membunuh Laras dan Miranti.
Kerumunan terdiam seketika. Candrikarana, sang 'korban manipulasi' yang kini dipuja media sebagai simbol keberanian, berjalan mendekati Arga dan jasad ibunya. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Miranti dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat, lalu beralih ke Arga.
“Arga... Sayang,” suara Candrikarana terdengar lembut, namun sarat akan racun yang mematikan. “Aku baru mendengar kabar duka ini. Aku datang untuk berbela sungkawa.”
Arga mendongak. Matanya yang merah menyala menatap Candrikarana dengan dendam yang begitu pekat. “Kau... Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di sini? Kau dewi ular pengkhianat!”
Candrikarana mendesah pelan, sebuah sandiwara yang sempurna. Ia berjongkok di samping Arga, mengabaikan bau busuk yang menguar dari tubuh Miranti. “Arga, aku tahu kamu marah. Tapi aku juga korban. Ayahmu yang memanipulasi aku. Aku hanya seorang wanita lemah yang terjebak dalam keserakahannya.”
“BOHONG!” Arga berteriak, suaranya parau oleh tangis dan amarah. “Kau yang meminta apartemen mewah itu! Kau yang meminta berlian itu! Kau yang bilang ingin hidup bak ratu! Aku melihat semua pesanmu di laptop Ayah! Kau yang mendesak Ayah untuk menaikkan harga alat kesehatan itu!”
Candrikarana tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang keji. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arga, berbisik pelan agar kerumunan tidak mendengar. “Arga, Sayang. Dunia ini panggung sandiwara. Ayahmu memilih untuk menjadi penjahat, dan aku memilih untuk menjadi pahlawan. Aku sudah mendonasikan sebagian harta 'halal' yang kuterima dari Salindia untuk amal, dan media memujaku. Sedangkan kamu dan ibumu... kalian hanya sampah yang harus dibersihkan.”
Darah Arga mendidih. Ia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia menerjang Candrikarana, tangannya mencengkeram leher wanita itu. “AKU AKAN MEMBUNUHMU! AKU AKAN MEMBUNUHMU SEPERTI KAU MEMBUNUH ADIK DAN IBUMU!”
Candrikarana berteriak histeris, sebuah sandiwara yang meyakinkan. “TOLONG! ANAK KORUPTOR INI INGIN MEMBUNUHKU! DIA SAMA JAHATNYA DENGAN AYAHNYA!”
Kerumunan orang yang tadi hanya menonton, kini bergerak. Mereka tidak menolong Arga, melainkan mengeroyoknya. “Hajar anak pencuri ini! Dia ingin membunuh saksi kunci yang berani bicara!”
Arga babak belur. Wajahnya bengkak, darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Ia tersungkur di samping jasad ibunya, tidak berdaya. Candrikarana berdiri, merapikan gaun sutra putihnya yang sedikit kotor, lalu menatap Arga dengan tatapan jijik yang nyata.
“Arga, Sayang,” ucap Candrikarana dengan nada kasihan yang dibuat-buat. “Aku akan membiayai pemakaman ibumu. Tapi dengan satu syarat: kau harus tampil di media dan menyatakan bahwa aku adalah korban manipulasi Ayahmu, dan bahwa kau memaafkan aku.”
“Nggak... Nggak akan...” gumam Arga di tengah rasa sakitnya.
Candrikarana tersenyum keji. “Pikirkan baik-baik, Arga. Ibumu membusuk di trotoar. Kau tidak punya uang sepeser pun untuk memakamkannya. Jika kau menolak, aku akan membiarkan jasad ibumu ini menjadi tontonan dan santapan anjing-anjing liar. Pilihan ada di tanganmu.”
Candrikarana berjalan kembali ke mobil mewahnya, meninggalkan Arga yang hancur lebur di samping jasad ibunya. Kerumunan orang perlahan membubarkan diri, menyisakan Arga sendirian dengan rasa malu, dendam, dan penderitaan yang tiada tara.
Malam itu, Arga duduk di samping jasad ibunya di bawah guyuran hujan asam. Ia menatap wajah Miranti yang kaku, lalu teringat pesan terakhir ibunya sebelum meninggal: “Tobat... Tobat adalah jalan, Arga...”
Pagi harinya, Arga pergi ke kantor polisi. Ia bukan untuk melaporkan pengeroyokan yang dialaminya, melainkan untuk menyerahkan diri. Ia mengakui semua keterlibatannya dalam tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang dilakukan ayahnya. Ia juga menyerahkan semua bukti percakapan Candrikarana di laptop ayahnya yang sempat ia amankan.
Kabar penyerahan diri Arga dan bukti-bukti baru yang diserahkannya meledak di media massa. Publik yang tadinya murka pada keluarga Bagaskaraprayogia, kini mulai melihat kebenaran yang sesungguhnya. Candrikarana, sang 'pahlawan' yang dipuja media, kini diburu oleh pihak otoritas.
Salindia di dalam sel tahanan menangis tersedu-sedu saat mendengar kabar penyerahan diri putrunya. Ia menyadari bahwa ia telah menghancurkan seluruh hidupnya dan keluarganya karena keserakan dan nafsu dunianya. Ia pun mulai bertobat, mengakui semua kesalahannya, dan bersedia bekerja sama dengan pihak otoritas untuk mengungkap jaringan korupsi yang lebih besar.
Keluarga Bagaskaraprayogia telah habis. Namun, di tengah puing-puing kehancurannya, masih tersisa secercah harapan: harapan akan kebenaran, keadilan, dan pertobatan yang tulus. Penderitaan mereka telah menjadi pelajaran pahit bagi semua orang, sebuah pengingat bahwa harta haram tidak akan pernah membawa bahagia, melainkan kutukan yang mengais hingga ke liang lahat.