Jakarta, 1996. Sebuah kota yang sedang mabuk oleh beton dan asap knalpot, namun di sudut-sudut tertentu, ia menyimpan keheningan yang purba dan mematikan. Di balik pagar-pagar tinggi kawasan Menteng yang rimbun oleh pohon beringin tua, kemewahan bukan lagi soal pameran harta, melainkan soal bagaimana cara menghentikan waktu.
Clara Marsha berdiri di depan cermin kristal setinggi langit-langit di kamar ganti pribadinya. Ia menyesap Martini yang dingin, matanya yang tajam menatap bayangan dirinya sendiri. Di usia yang seharusnya sudah menunjukkan kerutan halus di sudut mata, kulit Clara masih sekencang porselen yang baru keluar dari pembakaran. Rambut hitamnya yang disasak tinggi khas sosialita Orde Baru nampak berkilau, memantulkan cahaya lampu gantung yang temaram.
"Hanya sedikit lagi," bisiknya pada bayangannya. Ia meraba lehernya yang jenjang. "Hanya sedikit pengorbanan, dan Jakarta akan tetap berada di bawah tumit stiletto-ku selamanya."
Malam itu adalah malam Jumat Kliwon yang jatuh di bulan Suro. Bagi kebanyakan orang, ini adalah waktu untuk mengunci pintu, tapi bagi anggota Ordo Lilith, ini adalah waktu untuk pesta pora yang paling gelap. Ordo Lilith adalah perkumpulan rahasia paling eksklusif di Jakarta. Anggotanya hanya dua belas wanita. Mereka kaya, mereka independen, mereka adalah istri-istri menteri, pengusaha properti, dan bintang film papan atas yang memiliki satu kesamaan: mereka menolak menjadi "inang". Bagi mereka, rahim adalah penjara, dan anak adalah parasit yang hanya akan menghisap kecantikan serta kebebasan mereka.
"Anak hanya akan membuat payudaramu kendur dan hidupmu membosankan," itulah motto tidak tertulis mereka. Sebagai gantinya, mereka memuja sesuatu yang lebih tua dari peradaban manusia. Sesuatu yang menjanjikan kemudaan abadi sebagai imbalan atas pengabdian tanpa syarat.
Clara menaiki sedan *Mercedes-Benz* hitamnya. Sopirnya, seorang pria dengan lidah yang sudah dipotong agar tidak bisa bicara, membawanya menuju sebuah rumah kolonial tua di jalan yang tidak tercatat di peta kota. Rumah itu dikenal dengan sebutan "Wisma Jelaga". Di sana, musik *jazz* lembut mengalun dari piringan hitam, bercampur dengan aroma kemenyan yang disamarkan oleh wangi parfum *Chanel No. 5*.
Di dalam wisma, sebelas wanita lainnya sudah menunggu. Mereka mengenakan jubah sutra merah darah yang sengaja dibiarkan terbuka di bagian dada. Di tengah ruangan, sebuah meja altar dari marmer hitam berdiri angkuh. Di atasnya, bukan makanan mewah yang tersaji, melainkan sebuah bejana perak berisi cairan kental yang beraroma karat dan mawar.
"Clara, kau terlambat," suara serak dari sudut ruangan mengejutkannya. Itu adalah Ibu Baron, pemimpin Ordo sekaligus wanita tertua yang nampak seperti gadis berusia dua puluh tahun jika dilihat dari belakang.
"Jalanan Jakarta semakin macet oleh rakyat jelata yang sok sibuk, Ibu," jawab Clara santai sambil melepaskan jubah bulunya.
"Malam ini adalah malam penentuan," Ibu Baron melangkah ke tengah cahaya lilin yang bergoyang. "Iblis tidak meminta harta kita, karena dia yang memberikannya. Dia meminta apa yang paling berharga bagi wanita fana: kesuburan yang kita tolak, dan darah yang mengalir dari kesombongan kita."
Ritual dimulai. Lampu-lampu listrik dimatikan. Hanya ada api lilin yang membentuk bayangan-bayangan aneh di dinding. Mereka tidak berdoa dengan bahasa yang dikenal manusia. Mereka merapal mantra dalam bahasa Sumeria kuno yang membuat udara di ruangan itu terasa berat dan dingin, seolah-olah oksigen dihisap keluar oleh lubang hitam tak kasat mata.
Clara maju ke depan altar. Ini adalah gilirannya. Ia ingin tetap menjadi dewi hedonisme Jakarta. Ia ingin setiap pesta di hotel berbintang lima tetap menjadikannya pusat perhatian. Ia tidak sudi melihat kulitnya mengendur. Ia lebih suka memuja iblis daripada harus menggendong bayi yang akan merusak bentuk perutnya yang rata.
Ibu Baron mengeluarkan sebuah belati kecil bertahtakan batu delima. "Kau tahu taruhannya, Clara. Sekali kau meminum jelaga ini, rahimmu akan mengering dan menjadi batu. Kau tidak akan pernah bisa memberi kehidupan, tapi kau sendiri tidak akan pernah menua. Kau akan menjadi patung hidup yang terus haus akan kesenangan."
Clara tersenyum penuh gairah. "Kehidupan adalah beban. Kematian adalah kepastian. Tapi kecantikan... kecantikan adalah satu-satunya tuhan yang aku kenal."
Ibu Baron menyayat telapak tangan Clara. Darah segar menetes ke dalam bejana perak, bercampur dengan cairan hitam yang mulai bergolak seolah mendidih tanpa api. Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Es mulai terbentuk di permukaan gelas-gelas kristal. Di sudut ruangan, sebuah bayangan besar dengan tanduk melengkung mulai terbentuk dari asap kemenyan. Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya dua lubang merah yang menatap penuh lapar.
Para wanita itu berlutut. Mereka mulai mencabik-cabik baju mereka sendiri dalam histeria setan. Suara tawa yang tidak manusiawi menggema, tumpang tindih dengan suara musik jazz yang sekarang terdengar seperti jeritan ribuan jiwa yang tersiksa.
Clara meminum cairan dari bejana itu. Rasanya seperti menelan bara api yang membekukan. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap dari kerongkongannya menuju rahimnya. Ia menjerit, tapi bukan jeritan kesakitan, melainkan jeritan kenikmatan yang gelap. Ia merasa setiap sel di tubuhnya diperbarui oleh kegelapan.
Namun, horor yang sesungguhnya baru dimulai. Saat Clara membuka matanya, ia melihat ke arah cermin di ujung ruangan. Bayangannya di cermin tidak lagi cantik. Di dalam cermin, ia melihat dirinya sebagai mayat yang membusuk namun tetap bergerak, dengan belatung yang keluar dari pori-pori wajahnya. Namun saat ia meraba wajah aslinya, kulitnya terasa sehalus sutra.
"Itu adalah dirimu yang sebenarnya di mata Tuhan," bisik Ibu Baron di telinganya. "Tapi bagi dunia, kau akan tetap menjadi Clara Marsha yang paling mempesona."
Pesta horor itu berlanjut dengan cara yang paling menjijikkan. Mereka mulai memakan daging mentah yang entah berasal dari mana, sambil berdansa di bawah bayangan iblis yang kini nampak duduk di kursi kebesaran di ujung ruangan. Tidak ada cinta di sini, hanya nafsu yang hampa dan pemujaan pada kehampaan.
Huru-hara terjadi ketika salah satu anggota baru, seorang model muda yang baru bergabung, mulai histeris karena melihat bayangan anak-anak kecil tanpa wajah yang merangkak di langit-langit ruangan. Anak-anak yang tak pernah dilahirkan oleh rahim-rahim mereka, kini menuntut pengakuan.
"Mereka haus, Clara!" teriak model muda itu sambil mencakar wajahnya sendiri. "Mereka ingin masuk kembali!"
Ibu Baron hanya tertawa. "Biarkan mereka. Mereka adalah tumbal bagi keabadian kita."
Malam itu berakhir dengan Clara yang tergeletak di lantai marmer, bermandikan keringat dan sisa-sisa ritual. Saat fajar menyingsing di langit Jakarta yang berpolusi, ia pulang ke rumahnya. Di depan cermin kamarnya, ia melihat wajahnya kembali. Ia nampak sepuluh tahun lebih muda. Kerutan kecil di dahi yang ia khawatirkan kemarin telah hilang sepenuhnya.
Ia tertawa, tawa yang terdengar sangat mirip dengan tawa Ibu Baron.
Beberapa minggu kemudian, Jakarta gempar. Beberapa bayi dari panti asuhan di pinggiran kota hilang tanpa jejak. Polisi bingung. Tidak ada bukti, tidak ada saksi. Sementara itu, di klub malam paling elit di Jakarta Selatan, Clara Marsha tampil dengan gaun merah yang begitu menyilaukan. Semua mata tertuju padanya. Ia berdansa dengan lincah, menyesap sampanye termahal, dan tertawa lepas.
Hanya Arga, seorang jurnalis foto yang sempat memotret Clara malam itu, yang menyadari sesuatu yang janggal. Saat ia mencuci film fotonya di ruang gelap, ia melihat bayangan hitam di belakang Clara. Sebuah tangan kurus dengan kuku panjang nampak melingkar di leher Clara, dan di dalam pantulan mata Clara yang terekam kamera, Arga melihat tumpukan tulang belulang bayi yang disusun membentuk tahta.
Arga tidak pernah mempublikasikan foto itu. Keesokan harinya, ia ditemukan tewas di kamar kosnya dengan kondisi jantung yang meledak, seolah-olah ia baru saja melihat setan.
Clara Marsha tetap hidup dalam kemewahannya. Ia tetap menjadi sosialita nomor satu yang tak pernah tua. Namun, setiap kali ia melewati cermin di rumahnya yang sepi, ia harus menutupinya dengan kain hitam. Karena di balik kain itu, ada "Clara yang asli" yang terus membusuk, menangis tanpa suara, dan dikelilingi oleh ribuan janin yang membeku dalam kegelapan.
Jakarta tahun 90-an terus melaju menuju krisis, tapi bagi Clara dan Ordo Lilith, waktu telah berhenti. Mereka adalah pemuja keindahan yang telah kehilangan kemanusiaan, menukar rahim mereka dengan tahta jelaga, dan membiarkan iblis berdansa di atas harta mereka yang berlumuran darah.
---