Lampu-lampu kristal di ruang tamu itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, hampir sama silau dengan senyum Jasmine Amilie saat ia membagikan amplop-amplop tebal kepada rekan-rekan sosialitanya. Di Jakarta tahun itu, nama Jasmine adalah sinonim dari kemewahan, keanggunan, dan—yang paling krusial—solusi.
Jasmine bukan sekadar aktris senior yang dihormati karena aktingnya yang menyayat hati di layar perak. Di kehidupan nyata, ia adalah "ibu" bagi lingkaran arisan para pesohor. Jika ada seorang penyanyi muda yang gagal membayar iuran bulanan karena cicilan mobil mewah yang menunggak, Jasmine akan tersenyum lembut dan berkata, "Pakai uangku dulu, Sayang. Bulan depan saja diganti."
Namun, di balik keharuman parfum mahalnya, Jasmine sedang menghirup aroma busuk kehancurannya sendiri.
---
Malam itu, hujan turun membasahi jendela paviliun rumahnya yang megah. Jasmine duduk di depan meja rias, menatap pantulan wajahnya yang mulai digerogoti usia dan kecemasan. Di depannya berserakan buku catatan kecil bersampul kulit. Isinya bukan naskah film, melainkan angka-angka merah yang berteriak meminta pertanggungjawaban.
Dana talang. Dua kata itu kini terasa seperti jerat yang perlahan mencekik lehernya.
Semuanya bermula dari rasa tidak enak hati. Sebagai sosok yang dituakan, Jasmine merasa memikul beban moral untuk menjaga nama baik lingkaran pertemanannya. Ketika satu per satu teman artisnya mulai mangkir dari kewajiban arisan, Jasmine menutupinya dengan tabungan pribadinya. Ia meminjam ke sana-sini, menggadaikan perhiasan yang ia beli dari tetesan keringat di lokasi syuting, hanya demi menjaga agar putaran uang arisan itu tetap berjalan.
"Mbak Jasmine, ini ada tagihan dari bank..." suara pembantunya, Bi Ijah, terdengar ragu dari balik pintu.
Jasmine memejamkan mata. "Letakkan saja di atas meja, Jah."
Ia tahu apa isinya. Surat teguran ketiga. Rumahnya, tempat perlindungan terakhirnya, terancam disita. Ironisnya, di saat ia berdarah-darah mempertahankan martabat orang lain, orang-orang yang ia bantu justru sedang berpesta di tempat lain, memamerkan tas baru yang dibeli dari uang arisan yang sebenarnya "ditalangi" oleh Jasmine.
Beberapa hari sebelumnya, Jasmine mencoba menghubungi mereka.
"Halo, Jeng... aku sedang butuh sekali uang yang kemarin ditalangi. Bisa ditransfer sore ini?" suaranya bergetar, mencoba tetap terdengar anggun meski harga dirinya sudah compang-camping.
"Aduh, Mbak Jasmine... maaf banget, aku lagi ada cicilan apartemen. Minggu depan ya, Mbak? Mbak kan kaya, masa uang segitu saja ditagih terus," jawab seorang aktris muda dengan nada meremehkan sebelum mematikan telepon.
Jasmine terpaku. Kaya? Mereka hanya melihat permukaannya. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam Jasmine harus menghitung sisa beras di dapur sementara ia masih harus memikirkan bagaimana membayar iuran arisan kelompok lainnya besok siang.
---
Puncaknya terjadi pada sebuah acara gala di sebuah hotel berbintang. Jasmine datang dengan gaun yang paling indah, menyapa semua orang dengan kehangatan yang telah menjadi merek dagangnya. Namun, di tengah kerumunan, ia mendengar bisik-bisik yang menghujam jantungnya.
"Kalian tahu tidak? Jasmine Amilie itu sebenarnya sudah bangkrut. Dia cuma berlagak sok suci jadi dana talang supaya tetap dianggap penting di kalangan kita."
"Iya, aku dengar dia sampai pinjam ke rentenir untuk menutupi arisan bulan lalu. Kasihan ya, sudah tua tapi masih haus pengakuan."
Tawa kecil mengikuti bisikan itu. Jasmine merasakan dunianya berputar. Orang-orang yang ia lindungi, orang-orang yang ia anggap sahabat, ternyata hanya menganggapnya sebagai mesin uang yang bisa mereka tertawakan saat ia mulai rusak.
Malam itu, Jasmine pulang dengan kehampaan yang luar biasa. Ia berjalan masuk ke kamarnya, tidak lagi menyalakan lampu. Cahaya bulan yang masuk lewat celah gorden menerangi koleksi piala penghargaannya yang berjejer rapi. Penghargaan untuk Aktris Terbaik.
"Aku memang aktris terbaik," bisiknya pedih. "Aku telah memerankan peran 'wanita bahagia' dengan sangat sempurna hingga aku sendiri lupa bagaimana cara menjadi manusia yang jujur pada penderitaannya."
Ia membuka laci meja riasnya. Di sana terdapat seutas tali jemuran yang ia beli sore tadi. Tangannya gemetar saat menyentuh tekstur kasar tali itu. Pikirannya melayang pada masa-masa sulit saat ia merintis karier, pada janji-janji manis teman-temannya, dan pada kesunyian yang kini menjadi satu-satunya temannya.
Jasmine mengambil secarik kertas. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menuliskan surat terakhirnya. Bukan surat wasiat yang rumit, melainkan sebuah pesan singkat yang ditujukan untuk rekan-rekan arisannya.
"Untuk kalian yang selalu aku cintai... maafkan jika peranku di dunia ini harus berakhir lebih cepat. Aku sudah tidak sanggup lagi menutup luka dengan senyuman. Semoga uang yang kalian simpan bisa membawa kebahagiaan yang tidak sempat aku miliki."
Air matanya jatuh membasahi tinta kertas itu, mengaburkan kata "kebahagiaan".
---
Keesokan harinya, berita itu meledak seperti bom di tengah gemerlapnya ibu kota. Jasmine Amilie, sang legenda, ditemukan tergantung di kamar pribadinya.
Dunia hiburan berduka. Tangis buatan menyeruak di depan kamera televisi. Sahabat-sahabat sosialitanya datang ke pemakaman dengan kacamata hitam besar, mengusap air mata sambil bercerita pada wartawan betapa baiknya sosok Jasmine.
"Dia adalah malaikat," ucap aktris muda yang tempo hari menolak membayar utangnya. "Kami sangat kehilangan."
Namun, di balik kacamata hitam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap nisan Jasmine dengan jujur. Mereka semua tahu, ada sepotong utang dalam amplop arisan mereka yang telah dibayar oleh Jasmine dengan nyawanya sendiri.
Di paviliun yang kini sepi, hanya ada Bi Ijah yang menangis tersedu-sedu sambil membersihkan kamar majikannya. Di bawah tempat tidur, ia menemukan sebuah amplop arisan yang belum sempat dibagikan. Di dalamnya tidak ada uang. Hanya ada sobekan naskah lama Jasmine yang bertuliskan: Panggung sandiwara ini terlalu mahal untukku.
Jasmine Amilie telah pergi, meninggalkan gemerlap yang palsu untuk menemukan kedamaian yang nyata. Ia mati bukan karena kekurangan uang, melainkan karena kelebihan rasa tidak enak hati dan pengkhianatan dari mereka yang ia sebut sebagai keluarga.
---