Lampu kristal di ruang kerja pribadi Salindia Bagaskaraprayogia tidak pernah benar-benar padam. Di rumah mewahnya yang berdiri angkuh di kawasan elit Jakarta, cahaya itu adalah simbol kekuasaan yang tak kenal waktu. Salindia, atau yang akrab disapa Sang Bagaskara oleh kolega politiknya, adalah sosok yang tampak sempurna. Tubuhnya tegap, produk dari jam-jam disiplin di sasana pribadi dan diet ketat. Wajahnya yang tegas dengan rahang yang kokoh sering menghiasi layar televisi sebagai representasi pejabat muda yang visioner dan penuh integritas.
Namun, di balik setelan jas seharga ratusan juta rupiah itu, tersimpan lubang hitam yang rakus. Salindia bukan sekadar pejabat; dia adalah dirigen dalam orkestra korupsi sistematis yang melibatkan proyek-proyek infrastruktur fiktif. Baginya, uang negara adalah upeti bagi ketampanan dan pengaruhnya yang luar biasa.
"Kekuasaan tanpa harta adalah singgasana yang keropos, Sayang," bisik Salindia suatu malam di sebuah penthouse tersembunyi.
Di pelukannya, Candrikarana Aurakasihaniah tersenyum manja. Candrikarana bukan sekadar simpanan biasa. Dia adalah wanita dengan kecantikan yang mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang menatapnya. Kulitnya seputih porselen, matanya menyimpan misteri malam, dan suaranya adalah madu yang mematikan. Sebagai seorang sosialita yang tiba-tiba muncul di pergaulan kelas atas, Candrikarana adalah "investasi" paling mahal bagi Salindia.
Cinta mereka adalah persekutuan yang lahir dari dosa. Salindia mencurahkan segala kemewahannya kepada Candrikarana: tas kulit buaya edisi terbatas, apartemen mewah di pusat kota, hingga jam tangan bertahtakan berlian yang harganya setara dengan anggaran pembangunan sepuluh sekolah di pelosok negeri. Sebagai imbalannya, Candrikarana menjadi muara bagi segala kelelahan Salindia setelah seharian bersilat lidah di gedung parlemen.
Tragedi ini bermula ketika keserakahan Salindia mulai melampaui batas kewajaran. Dia mulai merasa tak tersentuh. Skema korupsinya kali ini melibatkan pengadaan alat kesehatan saat pandemi masih menyisakan luka di masyarakat. Miliaran rupiah mengalir masuk ke rekening-rekening luar negeri atas nama Candrikarana. Salindia berpikir, menggunakan nama sang kekasih adalah cara paling aman untuk mencuci uang panasnya.
"Atas namamu semua ini kubangun, Candri. Kau adalah mahar dari kejayaanku," ujar Salindia sambil memberikan kunci sebuah vila mewah di Bali kepada wanita itu.
Namun, sejarah selalu punya cara untuk meruntuhkan menara gading. Seorang jurnalis muda yang gigih mulai mencium aroma busuk dari kekayaan Candrikarana yang tidak masuk akal. Foto-foto mereka yang sedang berlibur secara rahasia di Paris beredar di forum-forum gelap internet. Keperkasaan Salindia mulai goyah ketika lembaga antirasuah mulai membekukan rekening-rekening yang terkait dengannya.
Malam itu, hujan turun sangat deras, seolah langit ingin mencuci kotoran yang menempel di kota ini. Salindia datang ke apartemen Candrikarana dengan napas memburu. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan.
"Kita harus pergi, Candri. Mereka sudah tahu soal aliran dana ke rekeningmu," suara Salindia gemetar, sebuah nada yang belum pernah didengar Candrikarana sebelumnya.
Tetapi, pengkhianatan dalam dunia gelap adalah hal yang lazim. Candrikarana, yang selama ini tampak begitu mencintai Salindia, menatap pria itu dengan tatapan dingin. Di belakangnya, telah berdiri beberapa pria berpakaian sipil namun dengan tatapan yang sangat dikenal Salindia: para penyidik.
Candrikarana ternyata telah melakukan kesepakatan dengan pihak otoritas beberapa hari sebelumnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia menyerahkan semua bukti percakapan, nomor rekening, dan aset-aset fiktif yang diatasnamakan dirinya.
"Maafkan aku, Bagaskara. Tapi matahari tidak bisa terus bersinar jika ia membakar semua yang ada di bawahnya," ucap Candrikarana tanpa sedikit pun penyesalan di matanya.
Kejatuhan Salindia Bagaskaraprayogia terjadi dalam semalam. Sosok gagah itu kini dibalut rompi oranye, wajahnya yang tampan tertunduk lesu di bawah kilatan lampu kamera wartawan yang dulu memujanya. Kekayaannya disita, pengaruhnya menguap, dan nama besarnya terkubur dalam kehinaan.
Tragisnya, Candrikarana pun tak benar-benar bebas. Meski mendapat keringanan karena menjadi saksi kunci, dia kehilangan semua kemewahan yang pernah dia banggakan. Dia kembali menjadi bukan siapa-siapa, dihantui oleh bayang-bayang pria yang pernah dia hancurkan demi kelangsungan hidupnya sendiri.
Masyarakat hanya bisa menonton dengan getir. Sebuah pengingat pahit bahwa di balik wajah tampan dan kata-kata manis seorang pejabat, terkadang tersembunyi monster yang memakan hak-hak rakyat untuk membiayai cinta yang salah dan kekuasaan yang semu.
---