Pemandangan di dalam kontrakan sempit itu berubah seketika menjadi arena perburuan. Satria berdiri tegap di ambang pintu, wajahnya yang separuh hancur—perpaduan antara daging parut kemerahan, kulit yang melumer hingga menyatu dengan leher, dan satu mata yang melotot penuh dendam—terpapar cahaya lampu jalan. Suara motor sport di luar mendadak diam.
Detik berikutnya, pintu ringkih itu dihantam dari luar. Brak! Satria tersentak mundur saat dua orang bertopeng ski menerobos masuk. Mereka tidak membawa air keras kali ini. Mereka membawa pentungan besi dan bilah parang yang berkilau dingin.
Ini bukan intimidasi politik biasa. Ini adalah eksekusi.
“Mati kau, anjing negara!” hardik salah satu penyerang, suaranya parau, jelas sudah dicuci otak oleh narasi kebencian dari markas Wakanda Corp.
Pentungan besi berayun, mengincar kepala Satria yang sudah cacat. Satria merunduk cepat, naluri bertahan hidupnya yang telah terasah oleh siksaan rasa sakit selama berbulan-bulan mengambil alih. Besi itu menghantam tembok kusam, merontokkan plesteran. Penyerang kedua mengayunkan parang secara horizontal, mengincar leher. Satria mundur, parang itu hanya berjarak satu sentimeter dari dagunya yang kaku.
Satria tahu dia tidak bisa menang secara fisik. Tubuhnya masih lemah akibat serangkaian operasi dan trauma. Namun, kemarahan yang membakar di dadanya lebih panas dari api mana pun. Ia menyambar kursi kayu tua, satu-satunya perabotan yang ia miliki, dan menghantamkannya ke wajah penyerang berpantungan besi. Kursi itu hancur, namun berhasil membuat penyerang itu limbung.
Penyerang berparang tidak memberi ampun. Ia menusuk. Satria menghindar, namun ujung parang merobek lengan jaketnya, menggores kulit tipis di bahu kirinya. Darah merembes, memperkeruh bau amis daging terbakar yang sudah menjadi aroma tubuhnya.
Dalam kegelapan, Satria merasa seperti binatang buruan yang tersudut. Tapi binatang yang terluka adalah yang paling mematikan. Ia melihat botol bir kosong di sudut ruangan. Ia menyambarnya, memecahkannya ke pinggiran meja, menciptakan senjata tajam dari beling.
“Ayo! Maju kalian! Aku sudah pernah ke neraka! Kalian tidak menakutiku!” geram Satria, suara parau yang keluar dari tenggorokan yang rusak terdengar seperti geraman iblis dari kedalaman bumi.
Penyerang berparang ragu sejenak melihat tatapan satu mata Satria. Mata itu tidak memancarkan ketakutan, melainkan kegilaan murni. Di dunia politik yang rakus, mereka biasa berhadapan dengan lawan yang ketakutan, yang bisa disuap atau diancam. Tapi mereka tidak tahu bagaimana menghadapi pria yang sudah kehilangan wajahnya dan tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
Ragu itu fatal. Satria menerjang, beling di tangannya menancap di paha penyerang berparang. Pria itu berteriak, parangnya terjatuh. Penyerang pertama, yang sudah pulih, menghantam punggung Satria dengan pentungan besi. Satria tersungkur, rasa sakit yang melumpuhkan menjalar di tulang belakangnya.
Mereka mulai mengeroyoknya di lantai. Tendangan dan pukulan mendarat di tubuhnya yang ringkih. Mereka mengincar wajahnya yang sudah rusak, seolah-olah ingin menghapus jejak kejahatan mereka sebelumnya. Setiap hantaman memicu kilatan rasa sakit yang membuat kesadaran Satria naik turun.
Di tengah gempuran itu, Satria meraba-raba lantai, mencari sesuatu, apa saja. Jarinya menyentuh gagang parang yang terjatuh tadi. Dengan sisa tenaga, ia mengayunkan parang itu secara buta. Ujung parang mengenai pergelangan kaki salah satu penyerang. Teriakkan kesakitan kembali terdengar.
Pintu kontrakan tiba-tiba didobrak lagi. Tapi kali ini bukan musuh. Aris, rekan LBH Satria, muncul dengan balok kayu di tangannya, diikuti oleh beberapa warga kampung yang akhirnya berani keluar.
“Woi! Berhenti! Polisi sudah di jalan!” teriak Aris, bohong, karena dia tahu polisi tidak akan pernah datang tepat waktu untuk mereka.
Melihat kerumunan warga, kedua penyerang itu panik. Mereka melarikan diri melalui jendela belakang, meninggalkan Satria yang terkapar di lantai, bersimbah darah dan ludah, tapi masih bernapas.
---
Pagi harinya, Wakanda gempar. Bukan karena serangan ke rumah Satria, tapi karena rilis data konsesi lahan terbaru yang bocor secara global. Data itu tidak hanya mencakup Wakanda Corp, tapi juga keterlibatan langsung keluarga pejabat tinggi negara dalam pembakaran hutan. Dokumen digital yang disimpan Satria sebelum serangan air keras, ternyata telah tersebar melalui jaringan aktivis internasional yang ia bangun dari tempat tidurnya.
Narasi di media sosial bergeser drastis. *Buzzer-buzzer* Wakanda Corp kewalahan. Tagar #WakandaCorpMembakar dan #KeadilanUntukSatria meledak. Narasi tandingan mereka tentang “rekayasa” tidak lagi mempan dihadapan bukti otentik berupa koordinat satelit dan dokumen bank yang sah.
Pemerintah Wakanda, dalam upaya panik untuk mengendalikan situasi, mengumumkan investigasi tingkat tinggi. Tapi rakyat tidak lagi percaya. Mereka melihat wajah Satria yang rusak sebagai simbol kebohongan negara.
Satria, yang kini dirawat di rumah sakit yang lebih aman di bawah perlindungan jaringan internasional, duduk di tempat tidurnya. Perban baru membungkus tubuhnya. Ia melihat layar ponselnya yang retak. Ribuan pesan dukungan masuk. Tapi dia tidak tersenyum. Dia tahu ini baru permulaan.
Kekuasaan di Wakanda tidak akan jatuh hanya dengan kebocoran data. Mereka seperti ular berkepala seribu; potong satu kepala, tumbuh dua yang baru. Mereka akan menyusun strategi baru, menggunakan hukum sebagai senjata untuk mengkriminalisasi aktivis, dan terus memompa uang ke mesin *buzzer* untuk memutarbalikkan fakta.
“Sat, kita menang satu pertempuran kecil. Tapi perang ini masih panjang dan brutal,” kata Aris, wajahnya terlihat kuyu dan penuh kecemasan.
Satria menatap Aris dengan mata tunggalnya. “Kita tidak sedang berperang, Ris. Kita sedang membersihkan nanah dari luka yang sudah membusuk terlalu lama. Dan nanah itu, tidak akan pernah mau pergi dengan sukarela.”
Ia mengambil laptopnya. Jari-jarinya yang kaku mulai mengetik lagi. Rasa sakit di tubuhnya adalah bahan bakarnya. Setiap bekas luka adalah bukti kejahatan kekuasaan yang rakus. Ia tidak lagi peduli dengan wajahnya yang hilang. Ia telah menjadi entitas yang berbeda: bukan lagi Satria Mahardika sang aktivis HAM, tapi simbol perlawanan yang liat, barbar, dan tak kenal kompromi.
Di pedalaman Wakanda, alat berat masih bekerja, namun kini di bawah pengawasan ketat mata-mata sipil yang terinspirasi oleh Satria. Asap hutan masih mengepul, namun kini setiap kepulannya menjadi bukti kejahatan yang direkam dan disebarkan ke seluruh dunia.
Politik di Wakanda mungkin rakus, tapi Ksatria Mahardika telah mengajarkan satu hal: bahkan daging yang sudah membusuk akibat asam pekat, masih bisa digunakan untuk mencekik leher kekuasaan yang tiran. Perang narasi baru saja dimulai, dan kali ini, suaranya akan lebih mengerikan dari raungan mesin penebang pohon mana pun.