Jakarta masih terlelap dalam selimut polusi ketika Clara Marsha menyesap espresso pahitnya di balkon griya tawang kawasan Kuningan. Di bawah sana, kota nampak seperti sirkuit elektronik yang berdenyut, namun bagi Clara, itu hanyalah sebuah peternakan besar. Di tangannya, sebuah amplop hitam berbahan beludru dengan stempel lilin berbentuk rahim yang terbelah—simbol Ordo Lilith—tergeletak angkuh. Isinya bukan sekadar ajakan pesta, melainkan instruksi "Protokol Kemurnian" yang akan mengubah wajah kebijakan negara di tahun 1997.
Clara tidak hanya cantik; ia adalah penghubung antara dunia gaib dan meja-meja bundar tempat para petinggi negeri menentukan nasib jutaan rakyat. Suaminya, seorang Jenderal bintang tiga yang mengurusi logistik nasional, hanyalah bidak catur yang ia gerakkan dengan bisikan di telinga saat malam-malam penuh peluh.
Malam itu, Wisma Jelaga di Menteng nampak lebih mencekam. Tidak ada musik jazz. Yang ada hanya suara detak jam besar yang seirama dengan detak jantung para pengabdi kegelapan. Ibu Baron berdiri di depan peta besar Indonesia yang terbentang di meja marmer. Di atas peta itu, terdapat beberapa titik merah yang ditandai dengan darah kering.
"Negara ini sedang menuju kebangkrutan ekonomi," suara Ibu Baron parau, namun berwibawa. "Dan iblis kita tidak suka dengan kemiskinan yang kotor. Dia menyukai penderitaan yang estetik. Dia meminta tumbal kolektif melalui kebijakan."
Clara melangkah maju, jemarinya yang lentik menyentuh titik merah di wilayah Jakarta. "Jadi, kenaikan harga bahan pokok itu bukan karena inflasi, Ibu?"
Ibu Baron terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada tulang. "Inflasi adalah bahasa untuk orang awam. Kenaikan harga adalah ritual pencabutan 'napas' dari rakyat. Semakin mereka lapar, semakin besar energi yang mengalir ke rahim batu kita. Malam ini, kita kedatangan tamu agung."
Pintu kayu jati yang berat itu terbuka. Masuklah seorang pria paruh baya dengan setelan safari abu-abu—sosok yang wajahnya setiap hari muncul di koran sebagai arsitek ekonomi negara. Ia tidak terlihat takut; ia justru membungkuk hormat pada Ibu Baron dan mencium tangan Clara dengan penuh nafsu yang dingin.
"Semua sudah siap," ucap pria itu. "Kebijakan pengalihan dana kesehatan akan segera ditandatangani. Uang yang seharusnya untuk imunisasi bayi-bayi di desa akan dialirkan ke yayasan 'palsu' milik Ordo. Sebagai gantinya, saya meminta satu malam lagi bersama keabadian."
Clara menatap pria itu dengan jijik yang disamarkan oleh senyuman. Inilah cara kerja *Ordo Lilith*. Mereka mengontrol negara dengan menjanjikan kemudaan dan kekuasaan tanpa batas kepada para elit politik yang haus akan eksistensi. Kebijakan-kebijakan yang terlihat salah sasaran atau korup, sebenarnya adalah tumbal yang disusun rapi untuk memuaskan sang Iblis Tanpa Wajah.
Ritual dimulai di ruang bawah tanah yang dilapisi marmer putih—yang kini memerah oleh percikan cairan ritual. Kali ini, bukan hanya bejana perak yang tersedia. Di tengah ruangan, terdapat sebuah inkubator kaca yang di dalamnya tersimpan "Janin Jelaga"—sebuah entitas hitam legam hasil dari energi kebencian rakyat yang mereka kumpulkan melalui kebijakan-kebijakan penindasan.
"Dengar suaranya," bisik Ibu Baron.
Suara itu bukan tangisan bayi, melainkan suara ribuan orang yang sedang mengantre beras, suara jeritan ibu-ibu yang kehilangan anaknya karena kurang gizi, dan suara amarah yang tertahan di balik jeruji besi. Suara-suara itu diubah menjadi frekuensi yang membuat dinding-dinding wisma bergetar.
Clara merasakan kekuatan itu merambat masuk melalui pori-porinya. Ia merasa lebih kuat, lebih berkuasa. Ia membayangkan dirinya berdiri di atas panggung dunia, tidak pernah tua, tidak pernah rapuh, sementara orang-orang di sekitarnya membusuk dimakan waktu.
Namun, kejutan sesungguhnya terjadi saat ritual mencapai puncaknya. Si arsitek ekonomi itu tiba-tiba tersungkur, kulitnya mulai menghitam dan mengelupas seperti kertas terbakar.
"Apa yang terjadi?!" Clara berteriak, mundur selangkah.
"Dia meminta lebih, Clara," ucap Ibu Baron dingin. "Iblis tidak lagi menginginkan darah dari luar. Dia menginginkan darah dari dalam sistem. Kebijakan yang dia buat tidak cukup. Dia harus menjadi bagian dari tumbal itu sendiri agar *Ordo* tetap bisa menjaga keseimbangan negara ini di bawah bayang-bayang."
Pria itu berteriak tanpa suara saat tubuhnya diserap oleh inkubator kaca. Janin Jelaga itu nampak membesar, detak jantungnya kini terdengar seperti dentuman meriam. Di saat yang sama, di luar sana, kerusuhan mulai pecah di beberapa titik di Jakarta. Asap hitam mengepul dari gedung-gedung yang dibakar. Rakyat yang lapar mulai turun ke jalan, tidak menyadari bahwa amarah mereka adalah bahan bakar bagi kecantikan abadi Clara Marsha.
"Ini adalah simfoni kehancuran, Clara," Ibu Baron menatap ke arah jendela. "Tahun depan, negara ini akan runtuh secara ekonomi, tapi kita... kita akan tetap bersinar di atas puing-puingnya. Kita akan tetap menjadi sosialita yang paling dipuja saat rakyat saling membunuh demi sesuap nasi."
Clara menatap bayangannya di dinding inkubator. Wajahnya nampak begitu bercahaya, namun di balik matanya, ia melihat ribuan jiwa yang sedang meronta. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai sosialita hanyalah topeng bagi peran yang lebih besar: dia adalah pendeta wanita dari sebuah sekte yang mengendalikan urat nadi sebuah bangsa melalui keserakahan dan penindasan.
Huru-hara di luar semakin menjadi. Suara tembakan terdengar di kejauhan. Clara mengambil jubah merahnya, menutupi tubuhnya yang baru saja diperbarui oleh energi gelap. Ia berjalan keluar dari Wisma Jelaga, melewati mayat si elit politik yang kini hanya tersisa sebagai abu di lantai.
Saat ia memasuki mobilnya, sopir bisunya menyerahkan sebuah koran pagi. Judul utamanya: *“Kebijakan Ekonomi Baru Disahkan: Rakyat Diminta Prihatin.”*
Clara tertawa kecil. Prihatin adalah kata lain dari persembahan. Ia menyalakan rokoknya, menatap Jakarta yang mulai membara. Di matanya, api yang membakar toko-toko di pinggir jalan itu nampak seperti lilin-lilin pesta ulang tahun yang tak akan pernah berakhir.
Ia tahu, sebentar lagi Orde ini akan berganti, tapi *Ordo Lilith* tidak akan pernah mati. Mereka akan terus ada, bersembunyi di balik kebijakan-kebijakan menteri yang baru, di balik undang-undang yang merugikan rakyat, dan di balik kecantikan para wanita yang menolak tua dengan memakan masa depan sebuah bangsa.
Clara Marsha, sang Dewi Jelaga, siap menyambut krisis dengan senyuman yang paling menawan. Karena baginya, penderitaan massal adalah perawatan kecantikan yang paling mahal yang pernah diciptakan oleh sejarah manusia.
---