Taman kota pagi itu masih berkabut. Rumput basah dan tanah mengeluarkan aroma yang segar. Alana duduk di bangku kayu di bawah pohon besar. Di pangkuannya ada papan jalan dan beberapa lembar kertas kosong.
Dia sengaja datang lebih pagi. Tempat ini jauh lebih tenang daripada ruang OSIS atau perpustakaan sekolah. Alana mencoba fokus pada angka-angka di kertasnya. Namun pikirannya masih kembali ke kejadian di tribun kemarin.
Langkah kaki akhirnya terdengar di jalan setapak.
Gavin datang mengenakan hoodie abu-abu. Kali ini dia tidak membawa motor sportnya. Tangannya masuk ke saku jaket saat berjalan mendekat.
Dia berhenti di depan Alana.
Sebuah kantong kertas kecil disodorkan ke arahnya.
Alana membuka kantong itu. Di dalamnya ada dua bakpao coklat yang masih hangat. Aroma manisnya langsung terasa.
"Sarapan dulu," kata Gavin santai.
"Otak lo nggak bakal kerja kalau cuma diisi emosi."
Alana tidak membantah. Dia langsung menggigit bakpao itu. Cokelat hangatnya cukup membuat perutnya tenang.
Gavin duduk di sebelahnya.
Beberapa menit mereka hanya makan dalam diam. Suara burung dan langkah pelari terdengar dari jalur taman. Kabut pagi mulai perlahan menghilang.
Gavin akhirnya membuka tasnya.
Dia mengeluarkan tablet.
Beberapa grafik muncul di layar.
Alana mendekat agar bisa melihat lebih jelas. Bahu mereka hampir bersentuhan. Dia mencoba tetap fokus pada grafik di layar.
Gavin menunjuk beberapa pola.
Alana menulis angka di papan jalannya dengan hati-hati.
"Lo terlalu kaku," kata Gavin.
"Matematika itu soal pola."
Dia mengambil papan jalan itu dari tangan Alana.
Gavin menggambar bentuk geometri dengan garis yang rapi. Sketsanya cepat dan bersih. Alana memperhatikan gerakan tangannya.
"Gue nggak nyangka lo bisa gambar juga," kata Alana.
Gavin hanya mengangkat bahu.
"Kenapa lo selalu maksa jadi nomor satu?" tanya Alana tiba-tiba.
Gavin berhenti menggambar.
Dia menatap danau kecil di depan mereka cukup lama.
Pulpennya diletakkan di atas papan.
"Karena buat bokap gue, nomor dua itu sama aja gagal," jawab Gavin.
Suaranya terdengar datar.
Alana tidak langsung menjawab.
Dia baru sadar Gavin tidak pernah bercanda soal hal itu.
Gavin akhirnya menoleh lagi.
Dia melihat Alana masih memperhatikannya.
Tangannya naik sebentar.
Dia mengacak rambut Alana pelan.
"Jangan pasang muka kasihan gitu," katanya.
"Gue masih lebih pintar dari lo, Sang Seniman."
Alana langsung menepis tangannya.
Namun sudut bibirnya sedikit naik.
Matahari mulai muncul di atas pepohonan. Kabut perlahan hilang dari taman. Cahaya pagi membuat rumput terlihat lebih cerah.
Mereka kembali mengerjakan soal.
Diskusi berjalan lebih santai.
Sesekali mereka masih berdebat soal rumus.
Beberapa jam kemudian mereka mulai merapikan barang. Alana memasukkan kertasnya ke dalam tas. Gavin menutup tablet dan berdiri.
Dia menahan tali tas Alana sebentar.
"Lusa pengumuman hasil simulasi."
Alana menatapnya.
"Kalau gue menang," lanjut Gavin,
"lo harus gambar gue tanpa tanduk setan."
Alana mendengus pelan.
Dia mengangkat tasnya ke bahu.
"Liat nanti."
Alana berjalan duluan meninggalkan bangku taman.
Gavin hanya berdiri sambil memperhatikan punggungnya menjauh.
Senyum kecil muncul di wajahnya.