Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Hari ini Hari Ahad, dimana mereka merencanakan akan melamar Arum. Ammar pagi itu menelpon Fitri istrinya bahwa dia akan berangkat melamar Arum.
" Assalamualaikum istriku." Sapa Ammar.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh. Gimana Mas? Sudah siap berangkat?" Tanya Fitri.
" Iya ini masih siap-siap, nunggu Abu dan Ummu Sholih yang mendampingi nanti." Jawab Ammar datar. Kemudian Ammar melanjutkan..
" Kamu beneran gak papa aku nikah lagi?" Tanya Ammar.
" Ya papa sih, tapi demi masa depan anak-anak, dan kelegaan ku, biar aku tenang dan fokus pengobatan, dan kalau sewaktu-waktu aku pergi, aku dah tenang menitipkan kalian kepada orang yang tepat." Jawab Fitri.
" Baiklah aku berangkat dulu ya, doakan agar semua berjalan lancar." Ammar menyudahi.
*****
Di rumah Arum sudah disiapkan tempat seperti biasanya di ruang tengah. Karena yang datang juga tidak terlalu banyak juga. Hanya Ammar, ibu Ammar, Salman, Hanna, Abu dan Ummu Sholih. Sedangkan dari keluarga Arum hanya Arum, Rayhan, Ayah, Ibu dan Mas Dimas kakaknya, kakak pertama Arum tidak bisa datang karena ada pekerjaan mendadak.
Rombongan keluarga Ammar pun tiba, mereka memakai dress code yang sama dengan keluarga Arum yaitu navy. Ayah Arum dan mas Dimas menyambut para tamu di teras, menyalami tamu laki-laki dan mempersilahkan semua tamu masuk.
Salman dan Hanna segera diajak Rayhan main di kamar atas. Dan yang lain duduk di ruang tengah.
" Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Kata Abu Sholih membuka acara.
Mereka semua menjawab..
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh."
" Perkenalkan saya Abu Sholih teman kajian Mas Ammar Abu Salman, yang bersama istri saya Ummu Sholih telah menjadi perantara ta'aruf Mas Ammar dan Mba Arum." Abu Sholih memperkenalkan diri.
" Dan maksud kedatangan kami kemari tidak lain adalah ingin melamar Mba Arum untuk dinikahi Mas Ammar, perlu diketahui Mas Ammar saat ini masih punya istri yang sedang sakit, namun tentu saja sudah mendapat izin dari istri pertama untuk menikah lagi. Dan memang pernikahan ini adalah permintaan dari istri pertama Mas Ammar yaitu Mba Fitri. Dan sekarang bagaimana Mba Arum dan keluarga apakah menerima lamaran kami?" Ucap Abu Sholih.
" Bismillahirrahmanirrahim, saya Yunus ayahnya Arum, cukup kaget sebenarnya waktu anak kami, meminta izin bertaaruf dengan seseorang yang masih punya istri. Kami takut pandangan orang tentang istri kedua, karena masih banyak yang memandang sebelah mata. Tapi kami kembalikan ke Anak kami Arum lagi karena dia yang akan menjalani. Bagaimana Nak, kamu menerima lamaran Nak Ammar?" Ayah Arum bertanya kepada Arum.
" Bismillahirrahmanirrahim, iya saya terima lamaran dari Mas Ammar untuk menjadi istri kedua." Jawab Arum.
" Alhamdulillah." semua serentak mengucap syukur, kecuali Ibunya Ammar yang masih belum menerima Arum.
" Dan selanjutnya, akad nikahnya telah disepakati in syaa Allah Hari Jumat pekan ini. Bagaimana? Apakah ada keberatan?" Abu Sholih menanyakan lagi.
" Kalau sudah disepakati kami ikut saja. Yang penting kita doakan saja semua berjalan dengan baik." Jawab Ayah Arum.
Setelah itu Ibu Ammar menyematkan cincin di jari manis kiri Arum, ibunya terdiam tidak berkata sepatah katapun. Arum jadi merasa ibunya Ammar tidak begitu menyukainya.
*****
Malam itu rumah kembali sepi, ayah dan ibunya sudah pulang, begitu juga kakaknya. Rayhan sudah tidur di kamarnya, Arum masuk kamarnya juga, melihat di sana banyak sekali barang seserahan dari Ammar.
Arum menatap jari manisnya, ada cincin dengan berlian kecil namun indah dilihat, di bagian dalam cincin itu terukir nama Ammar. Arum memain-mainkan cincin itu, dia senang sekaligus gugup karena sebentar lagi akan memasuki babak baru dalam hidupnya.
*****
Esoknya Arum menjalani rutinitas seperti biasanya. Ketika Arum sarapan dengan Rayhan, mereka berbincang-bincang...
" Mas Rayhan, kalau Ummi sudah menikah dengan Abu Salman, misalnya nanti mereka minta tinggal di sini ga papa ya?" Tanya Arum.
" Iya ga papa ma, tambah ramai rumahnya." Jawab Rayhan senang.
" Tapi misalnya Mas Rayhan pindah ke kamar atas berdua sama Salman mau ga? Kamar yang di bawah ini buat adik Hanna, kan kalau adik Hanna di kamar atas sendirian kasian ya?" Arum bernegosiasi dengan Rayhan.
" Iya Mi ga papa, yes! Aku ada temennya tidur." Seru Rayhan senang.
Setelah sarapan Arum berangkat mengantarkan Rayhan berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah bersamaan juga Ammar mengantar Salman dan Hanna. Arum yang parkir motornya agak jauh dari Ammar segera mengambil goody bag di motornya dan menyerahkan pada Rayhan.
" Mas Rayhan, ini tolong berikan ke Abinya Mas Salman ya, ini baju seragam akad buat Salman dan Hanna." Kata Arum sambil menyerahkan goody bag itu.
Rayhan mengangguk sambil berlari ke arah Ammar.
" Assalamualaikum Abu Salman, ini bajunya Salman sama dik Hanna untuk acara akad, dibuatin sendiri lho sama Ummi." Kata Rayhan sambil menyerahkan pada Ammar.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, terimakasih ya Rayhan." Jawab Ammar.
Rayhan segera berlari menghampiri ibunya. Dan bertanya penasaran...
"Ummi, kenapa Ummi gak langsung berikan sendiri ke Abinya Salman?" Tanya Rayhan.
" Nak, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram itu dilarang berikhtilat atau berkhalwat ( bercampur dan berduaan) walaupun hanya percakapan di HP, makanya sampai sekarang Ummi sama Abinya Salman belum bertukar nomor HP, dan itulah kenapa alasannya juga kelas kamu terpisah dengan kelas anak perempuan." Arum menjelaskan.
" Ooo, tapi nanti kalau sudah menikah boleh ya Mi?" Tanya Rayhan lagi.
" Iya sayang, nah itu Salman dan Hanna menghampiri, kalian masuk sama-sama ya." jawab Arum sambil menunjuk Salman dan Hanna.
" Assalamualaikum Ummu Rayhan." Sapa Salman dan Hanna sambil mencium tangan Arum.
" waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, semangat semua ya sekolahnya." Jawab Arum menyemangati.
Ketiga anak itupun masuk ke area kelas mereka. Arum segera bersiap pulang, dia tidak melihat motor Ammar lagi karena Ammar sudah pergi.
Pulang dari sekolah, Arum langsung merapikan kamar Rayhan dilepasnya sprei dan sarung bantalnya. Diganti dengan sprei warna pink motif bunga cantik dan menaruh boneka-bonekanya yang ia miliki waktu masih muda, walaupun sudah lama tapi masih bagus bonekanya. Dan Arum memindahkan baju dan barang-barang Rayhan ke kamar lantai atas.
Arum cukup bersemangat, karena dia suka anak-anak. Cita-citanya memiliki anak perempuan akan terwujud walaupun bukan lahir dari rahimnya sendiri.
Arum menuju kamar atas, di sana ada dipan Sorong dan dua lemari kecil. Dia mengganti sprei dengan sprei warna biru motif bola-bola. Mereka sebenarnya belum sepakat tinggal dimana setelah menikah, tapi Arum hanya menyiapkan kalau mereka mau tinggal di rumah ini.
*****
Besok sudah hari Jum'at yang disepakati sebagai hari akad nikah Ammar dan Arum. Rumah Arum mulai ramai dengan keluarganya. Dan semua sibuk menata ruang dan teras untuk tempat duduk tamu. Mereka tidak mengundang banyak tamu, hanya keluarga, tetangga, teman kantor, dan teman kajian mereka.
Di depan teras rumah Arum terpasang tenda namun tidak sampai menutup jalan. Kursi-kursi berbaris rapi yang nantinya akan digunakan untuk tamu laki-laki, dan di dalam rumah dipasang karpet-karpet untuk tamu perempuan.
*****
Esok paginya hari akad nikah tiba. Arum di kamarnya sedang dirias sahabatnya dari SMA yang juga sekarang menjadi teman mengajinya, Namanya Sarah.
" Selamat ya say, bentar lagi jadi nyonya lagi, kamu udah dua kali, aku belum pernah." kata Sarah sambil manyun.
" Kamu sih terlalu pilih-pilih, berapa kali kamu ta'aruf, kurang ini kurang itu, manusia ga ada yang sempurna say." Arum menyalahkannya.
" Iya sih, semoga nanti ketemu jodoh di sini. Aamiin." Sarah mengharap sambil memoles lipstik di bibir Arum.
Hari itu Arum sangat lain, karena tidak pernah ber-make up. Sarah meriasnya dengan baik, tanpa bulu mata, tanpa cukur alis, Arum tetap cantik.
" Ini lipstiknya waterproof kan Sar?" tanya Arum.
" Iya, kamu pegang pakai tangan juga gak bakal membekas." Sarah menjelaskan.
" Sip, berarti kena cadar g nempel lipstik nya." kata Arum lega.
Walaupun dirias secantik itu, tetap dia menutup wajahnya untuk lelaki yang bukan mahramnya.
******
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap