Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Dingin, Tuan...
"Cepat sekali tuan datang!" gumam Marco dari balik kemudi mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, aku lupa kalau jadwal meeting tuan tadi di perusahaan properti yang ada di sekitar sini. Pantas saja dia sampai secepat kilat."
Marco bergegas turun dari mobil. Langkahnya tertahan saat melihat atmosfer di depan gerbang sudah mendingin hingga ke titik beku.
Dua pria dominan itu berdiri berhadapan, dengan seorang gadis basah kuyup yang terhimpit di tengah-tengah mereka.
Meski Dominic sudah berdiri dengan aura yang mengancam nyawa, Damian sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Keyla.
Seolah-olah nyawanya tergantung pada genggaman itu.
"Lepaskan dia. Ini peringatan terakhir," desis Dominic.
"Dia kekasihku, Tuan Frederick! Aku yang lebih dulu mengenalnya daripada kau yang datang sebagai orang asing dalam hidupnya!" sahut Damian dengan menantang.
"Dan dia istriku! Milikku secara sah di mata hukum!" Dominic membalas dengan nada yang jauh lebih tajam. "Jangan membuatku harus mengibarkan bendera perang pada keluarga Alfred hanya karena kecerobohanmu hari ini."
Damian terkekeh, suara tawanya terdengar hambar dan penuh ejekan. "Bendera perang? Kau pikir aku takut? Bukankah kau sendiri yang sudah merebut kekasihku dengan cara yang licik? Kau menikahinya bahkan tanpa cinta. Sementara aku? Aku sangat mencintainya. Aku bahkan tak tega menduakannya dengan wanita lain, tidak seperti kau yang serakah!"
Mendengar itu, Dominic terdiam sesaat. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Tangan kanannya yang berada di saku jas terkepal sangat erat.
Ucapan Damian memang menghantam telak egonya. Fakta bahwa ia menikahi Keyla tanpa cinta memang benar, tapi haruskah ia peduli pada perasaan itu sekarang?
"Tutup mulutmu!" Dominic mulai terpancing emosi.
"Kenapa? Kau merasa terhina dengan ucapanku? Bukankah yang kukatakan itu sebuah kenyataan? Jangan jadi pria serakah dengan memiliki dua wanita sekaligus di bawah satu atap! Selama yang aku tahu, di keluarga besar Frederick yang terhormat, tidak ada yang beristri dua kecuali kau, bukan? Kau adalah aib bagi prinsip keluargamu sendiri."
Damian tersenyum sinis, senyum mengejek yang merobek sisa-sisa harga diri Dominic.
Dor!
Tanpa ada peringatan atau gertakan lebih lanjut, Dominic menarik pistolnya dan melepaskan satu tembakan tepat ke arah lengan atas Damian.
"Shit!" Damian mengerang kesakitan. Tubuhnya limbung, ia jatuh bertumpu pada lututnya sembari memegangi lengannya yang mulai bersimbah darah.
Seketika, pegangan eratnya pada tangan pun Keyla terlepas.
"Damian!" teriak Keyla histeris. Ia hendak menghampiri pria itu, namun lengan kekar Dominic lebih dulu menyambar pinggangnya dan menyeretnya menuju mobil Rolls-Royce hitam yang terparkir di pinggir jalan.
"Masuk! Kita pulang sekarang!" perintah Dominic dingin. Ia mendorong Keyla masuk ke kursi penumpang depan tanpa bisa dibantah.
"Anda jahat! Kenapa Anda melukainya?! Dia bahkan tidak melakukan sesuatu yang berbahaya padaku!" teriak Keyla sambil terisak.
Dominic tidak menghiraukan teriakan itu. Ia membanting pintu mobil, berputar ke kursi pengemudi dan menginjak gas hingga ban mobil berdecit kuat.
Sembari menyetir dengan satu tangan, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Marco yang masih berdiri mematung di pinggir jalan.
"Ya, Tuan?" jawab Marco cepat.
"Urus keluarga Clara sekarang juga! Pastikan mereka tidak berani menyentuh gadis kecilku lagi. Jika perlu, buat mereka kehilangan akses ke semua aset mereka sampai aku memberi perintah baru!"
"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan."
Panggilan terputus.
Fokus Dominic saat ini sepenuhnya tertuju pada jalanan di depannya, meski sesekali matanya melirik ke arah Keyla.
Gadis itu meringkuk di pojok kursi, menggigil kedinginan dengan wajah yang pucat pasi. Rambutnya yang basah menempel di pipi, dan isak tangisnya mulai mereda berganti dengan napas yang berat.
Melihat itu, Dominic meraih jas mahalnya yang tersampir di kursi belakang dengan satu tangan, lalu melemparnya ke tubuh Keyla.
"Pakai itu. Jangan sampai kau mati kedinginan sebelum aku memberimu pelajaran karena sudah berani menemui pria lain di belakangku," ucap Dominic tanpa menoleh.
"Aku cuma ingin bertemu Ayah..." lirih Keyla di balik balutan jas Dominic.
"Lalu kenapa kau hampir berakhir di pelukan Damian Alfred?"
Keyla terdiam, tidak mampu menjawab. Dalam kondisi Dominic yang sedang meledak seperti ini, penjelasan apa pun hanya akan terdengar seperti pembelaan yang sia-sia.
"Maaf..."
"Hanya itu yang bisa kau katakan setelah membuatku hampir meledakkan kepala orang?!" seru Dominic dengan wajah kesal.
Cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Amarahnya masih di ubun-ubun, tapi melihat Keyla yang gemetar seperti kucing kecebur got, ada rasa sesak yang aneh di dadanya.
"Lalu aku harus bilang apa?" cicit Keyla dengan gigi bergemeletuk karena kedinginan.
"Diam saja! Simpan tenaga mu itu untukku nanti. Jangan berani-berani pingsan sebelum kita sampai!" gertak Dominic.
Keyla hanya mengangguk pasrah. Ia tidak peduli lagi jika Dominic ingin memarahinya habis-habisan atau mengurungnya. Yang ia inginkan hanyalah pakaian kering dan kehangatan. Rasanya seluruh tulang belulangnya sudah membeku.
Dominic sengaja tidak membawa Keyla kembali ke mansion. Ia membelokkan mobilnya menuju penthouse pribadinya.
Dominic butuh ruang di mana tidak ada gangguan dari Clara, Siska, atau celotehan genius Zoey. Ia ingin menginterogasi sekaligus mengamankan gadisnya ini sendirian.
Begitu sampai, Dominic membopong Keyla masuk karena gadis itu sudah lemas. "Dingin... Tuan, rasanya dingin sekali," racau Keyla saat mereka masuk ke kamar utama.
"Aku sudah mematikan pendingin udaranya," ucap Dom ketus, meski tangannya sibuk mencari selimut tebal.
"Tapi masih dingin." Keyla menggigit bibir bawahnya yang mulai membiru, sementara tubuhnya bergetar hebat di atas ranjang.
Melihat kondisi itu, Dominic tidak punya pilihan. Ia mendudukkan Keyla di tepi ranjang dan mulai membuka kancing pakaian gadis itu yang basah kuyup.
"Jangan dilepas! Malu," gumam Keyla lemas seraya menahan tangan Dominic dengan jari-jarinya yang kaku.
"Cih! Kau masih punya rasa malu setelah apa yang kita lakukan malam itu?" ejek Dom, meskipun matanya tak bisa bohong kalau dia sedang khawatir. "Biarkan aku melepaskannya sekarang, atau kau mau mati kedinginan dan menghantuiku sebagai hantu?!"
"Tapi, aku tidak bawa baju ganti."
"Kau ini cerewet sekali! Pikirkan itu nanti! Pakai kemejaku saja!" maki Dom frustrasi.
Keyla akhirnya hanya bisa pasrah, membiarkan Dominic melepaskan pakaiannya satu per satu demi keselamatan nyawanya.
Sebagai pria normal dengan hormon yang sehat, Dominic harus menelan ludah berkali-kali. Pemandangan di depannya benar-benar menguji iman dan imun.
Kulit putih mulus Keyla yang terkena cahaya lampu adalah godaan tingkat tinggi.
"Tahan, Dom! Tahan! Dia sedang sakit, jangan jadi serigala sekarang! Jadilah pria jantan yang tahu situasi!" batinnya berteriak, meski tangan dan pikirannya mulai tidak sinkron.
"Selesai," ucap Dom dengan napas sedikit memburu setelah memakaikan kemeja kebesarannya pada Keyla. "Sekarang masuklah ke dalam selimut dan jangan bergerak sebelum aku membawakan mu teh hangat!"
Keyla meringkuk di balik selimut besar, hanya matanya yang terlihat. "Tuan..."
"Apa lagi?!"
"Terima kasih..."
Dominic hanya mendengus kasar dan bergegas keluar kamar sebelum pertahanannya benar-benar runtuh melihat bibir pucat Keyla yang nampak menggemaskan itu.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃