"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Dapur Pagi Hari
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden jendela penthouse mewah milik Arthur, memantulkan cahaya hangat di atas lantai marmer. Ini adalah hari pertama mereka resmi tinggal bersama kembali sebagai sebuah keluarga yang utuh setelah malam lamaran yang menggemparkan jagat maya itu.
Di dalam kamar utama, Elena perlahan membuka matanya. Aroma harum yang sedikit bercampur dengan bau gosong menyengat indra penciumannya. Elena mengernyitkan dahi, melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul enam pagi. Dengan rasa penasaran, dia memakai jubah tidurnya dan melangkah keluar menuju sumber bau.
Begitu sampai di area dapur terbuka yang super canggih, langkah Elena seketika terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan ajaib di hadapannya.
Arthur Arkananta sang penguasa bisnis Asia Tenggara sedang berdiri di depan kompor induksi. Pria itu masih mengenakan celana tidur beludru hitam, namun tubuh atasnya dilapisi oleh apron masak berwarna merah muda bergambar kelinci imut milik Lia yang tampak sangat kekecilan di tubuh kekarnya. Rambut hitamnya acak-acakan, wajah tampannya coreng-moreng oleh tepung terigu, dan tangannya sedang memegang sebuah spatula silikon dengan posisi siaga satu bagai sedang memegang senjata api.
Di atas meja konter dapur, belasan telur ayam pecah berantakan, tiga bungkus pancake instan tumpah, dan sebuah teflon mahal tampak mengeluarkan asap hitam tipis karena gosong.
"Arthur... apa yang sedang kamu lakukan pada dapurku?!" seru Elena setengah berteriak antara syok dan ingin tertawa.
Arthur tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan spatulanya. Dia menoleh dengan cengiran canggung yang sangat jarang atau tidak pernah dia perlihatkan kepada dunia. "Eh, Elena... kamu sudah bangun? Aku... aku sedang mencoba membuatkan sarapan pancake blueberry kesukaanmu dan si kembar dari resep internet."
"Dan kamu hampir membakar penthouse ini hanya untuk beberapa keping pancake?" Elena berjalan mendekat, merebut spatula dari tangan Arthur lalu mematikan kompor yang berasap. Dia menggelengkan kepalanya melihat kekacauan di atas meja. "Tuan Arkananta, kekuasaanmu mungkin bisa membeli sepuluh jaringan hotel mewah, tapi kekuasaanmu jelas tidak berlaku di depan kompor."
"Aku hanya ingin menjadi suami dan ayah yang baik, Elena," gumam Arthur dengan suara rendah, terdengar sangat bersalah sambil mengusap hidungnya, yang malah membuat noda tepung di wajahnya makin melebar. Pria garang itu kini tampak seperti beruang besar yang tertangkap basah mencuri madu.
Pfff... Hahaha!
Tawa Elena pecah seketika. Dia tidak bisa lagi menahan rasa gelinya melihat sisi domestik Arthur yang begitu kikuk namun sangat tulus ini. Mendengar tawa merdu Elena yang sudah lima tahun tidak dia dengar, sepasang mata elang Arthur melembut, menatap wanita itu dengan binar cinta yang mendalam.
Tak lama kemudian, Leon dan Lia keluar dari kamar mereka dengan pakaian santai. Mereka berdua langsung berhenti di depan meja makan, menatap sarapan pagi yang tersaji: beberapa keping pancake yang bentuknya tidak simetris dan sedikit terlalu cokelat di bagian pinggirnya.
"Papa yang membuat ini?" tanya Leon sambil menusuk pancake itu menggunakan garpu dengan ekspresi penuh selidiki, seolah sedang memeriksa barang bukti kejahatan siber.
"Tentu saja. Ini pancake spesial buatan Papa untuk anak-anak Papa tercinta," ucap Arthur bangga, menaruh segelas susu cokelat di depan mereka masing-masing setelah dia membersihkan wajahnya dari tepung.
Lia memotong sedikit pancake tersebut, mengunyahnya perlahan, lalu tersenyum manis dengan mata berbinar. "Enak, Papa! Sedikit pahit seperti cokelat hitam, tapi Lia suka!"
Arthur tersenyum lebar, merasa menang. Namun, tatapannya beralih pada Leon yang masih belum menyentuh makanannya. Bocah kecil itu justru sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya, membuat dahi Arthur mengernyit. "Leon, kenapa tidak dimakan? Apa ada yang salah?"
Leon mendongak, menatap Arthur dengan pandangan miring yang mematikan. "Tuan Arthur, aku baru saja menyadap log panggilan di ponsel kantormu. Mengapa ada nama 'Marco', perancang busana asal Milan, yang menelepon Mama sebanyak tiga kali tadi subuh? Dan mengapa dia mengirimkan pesan teks bertuliskan 'I miss you, Bella'?"
Uhuk!
Arthur yang sedang minum kopi seketika tersedak hebat. Wajahnya yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita. Jiwa posesif dan cemburu butanya langsung bangkit bergolak seketika. Dia menoleh menatap Elena yang sedang mengoles selai di seberang meja dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Marco? Siapa Marco, Elena? Dan kenapa dia memanggilmu Bella di jam tiga subuh?!" suara bariton Arthur meninggi oleh rasa cemburu yang kentara sekali.
Elena hanya memutar bola matanya malas, menyesap teh hangatnya dengan tenang. "Dia adalah rekan kerja sekaligus sahabat baikku selama di Milan, Arthur. Dia memanggil semua wanita dengan sebutan Bella, itu hal yang biasa di Italia."
"Tidak ada yang biasa kalau pria lain merindukan istriku!" ketus Arthur, mengepalkan tangannya di atas meja. Dia langsung mengambil ponselnya sendiri, mengetik sesuatu dengan cepat. "Aku akan memerintahkan Evan untuk membeli butik tempat Marco bekerja di Milan, lalu memindahkannya ke cabang terjauh di pedalaman Afrika agar dia tidak bisa menghubungimu lagi."
Leon menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ayahnya. "Sangat tidak efisien dan kekanak-kanakan, Tuan Arthur. Cukup bayar aku setengah dari harga butik itu, dan aku akan menghapus nomor kontak pria Milan itu dari seluruh jaringan satelit Eropa agar dia tidak bisa menelepon Mama selamanya."
Elena menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan, merasa pusing menghadapi dua singa Arkananta yang tingkat posesifnya sudah berada di luar nalar manusia normal. "Kalian berdua, cukup! Jika ada yang berani mengacaukan kontak bisnisku, aku bersumpah akan tidur di kamar terpisah selama satu bulan penuh!"
Ancaman Elena seketika membuat Arthur dan Leon membeku. Ayah dan anak itu saling lirik, lalu dengan kompak menurunkan ponsel mereka ke atas meja secara bersamaan. Di depan Elena, dua penguasa itu mendadak menjadi sangat penurut.
"Baiklah, demi kedamaian rumah tangga kita, aku membatalkan rencana itu," ucap Arthur berdehem pelan, mencoba mengembalikan wibawanya.
Lia yang melihat kelakuan ayah dan kakaknya hanya tertawa cekikikan sambil menikmati pancakenya. Meskipun pagi mereka diwarnai oleh drama dapur gosong dan kecemburuan berskala internasional, Elena tidak bisa menyangkal bahwa kebahagiaan sejati yang sempat hilang kini telah benar-benar kembali mengelilingi hidupnya.