NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar

Langkah kaki mereka berdua kini terhenti tepat beberapa sentimeter di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pepohonan mahoni di seberang jalan.

​Dari luar, gorden tipis berwarna putih transparan yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit memberikan celah visual yang sangat sempurna bagi lensa tele sang fotografer pengintai.

​Kyle berdiri di belakang Nadine, sengaja memposisikan tubuh tegapnya sedemikian rupa hingga bayangan mereka menyatu dengan sangat dramatis di bawah siraman pencahayaan temaram dari dalam ruangan.

​Nadine bisa merasakan embusan napas hangat Kyle yang menerpa tengkuk lehernya, mengirimkan sensasi geli yang aneh sekaligus mendebarkan.

​"Jangan bergerak terlalu banyak, fotografer itu sedang memutar fokus lensanya ke arah kita sekarang."

​Kyle berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan intim yang sengaja dirancang untuk merusak konsentrasi Nadine.

​Tangan besar Kyle perlahan terangkat, meraba sisi wajah Nadine dengan gerakan yang teramat lembut dan sensual, seolah-olah dia sedang menyentuh barang porselen yang sangat berharga.

​Nadine menegang seketika, matanya melebar saat merasakan jemari hangat Kyle yang bergerak perlahan menyusuri garis rahangnya hingga berhenti di dagunya.

​(Pria ini... sentuhannya terasa terlalu natural untuk ukuran sebuah akting di depan kamera mata-mata.)

​Meskipun otaknya berteriak untuk segera menepis tangan Kyle, sifat keras kepalanya memaksa Nadine untuk tetap diam demi membuktikan bahwa dirinya tidak terpengaruh sama sekali oleh kedekatan ini.

​"Pak Kyle, sentuhan Anda sudah melewati batas draf kesepakatan visual darurat ini."

​"Diamlah, Nadine, kamera itu membutuhkan gambar yang dinamis untuk terlihat nyata, bukan pose kaku seperti patung semen."

​Kyle melangkah maju satu langkah lagi, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga bagian depan tubuh tegapnya menempel sempurna pada punggung anggun Nadine.

​Ia menundukkan kepalanya perlahan, mendekatkan wajah tampannya ke telinga Nadine seolah-olah sedang membisikkan kata-kata cinta yang paling manis di dunia.

​Padahal, yang keluar dari bibir kokoh pria es itu hanyalah kalimat jail yang sengaja dirancang untuk memancing emosi Nadine.

​"Parfum melati Anda hari ini terasa sangat murah, apakah Anda sedang mencoba menghemat pengeluaran bulanan dengan membeli produk diskonan?"

​Nadine langsung menggertakkan giginya kesal, kemarahan instan mengalahkan rasa canggung yang sempat menguasai dirinya beberapa detik lalu.

​"Ini parfum organik premium dengan harga impor lima ratus dolar per botol, Tuan Ernest yang terhormat, mata keuangan Anda benar-benar butuh diaudit ulang!"

​"Oh ya? Tapi di hidung saya, wanginya tidak berbeda dengan pengharum ruangan di taksi online."

​Kyle tersenyum smirk di tengah kegelapan yang sengaja ia ciptakan di sudut wajahnya yang tidak menghadap ke jendela, merasa sangat puas karena berhasil menjahili istrinya lagi.

​Dari seberang jalan, dari balik kaca minibus hitam yang gelap, sang fotografer bayaran terus menekan tombol rana kameranya dengan kecepatan tinggi.

​@Cekrek! Cekrek! Cekrek!@

​Gambar-gambar yang tertangkap di layar LCD kamera menunjukkan visual yang sangat intim: Kyle Ernest yang sedang memeluk mesra istrinya dari belakang, dengan tangan yang membelai lembut wajah Nadine di depan jendela kamar yang remang-remang.

​Bagi siapa pun yang melihat foto tersebut, tidak akan ada yang meragukan bahwa pasangan suami istri ini sedang menikmati momen pagi hari yang dipenuhi oleh kehangatan cinta yang mendalam.

​(Luar biasa, foto-foto ini justru menjadi bukti pamungkas bahwa rumor tentang hubungan dingin mereka adalah kebohongan total yang dibuat oleh pihak oposisi.)

​Fotografer itu menghela napas frustrasi, menyadari bahwa tugasnya untuk mencari celah kelemahan pernikahan palsu ini justru menghasilkan dokumentasi kemesraan yang tak terbantahkan.

​||||

​Tanpa disadari oleh sang pengintai yang sedang sibuk merutuki nasibnya, dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor resmi mendadak berhenti tepat di depan dan di belakang minibus sewaan miliknya.

​Beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam segera turun dari mobil-mobil tersebut, mengepung minibus hitam itu dalam hitungan detik dengan gerakan yang sangat terlatih.

​Pintu kemudi minibus ditarik paksa dari luar, menampilkan wajah dingin Pak Beni yang memegang tanda pengenal keamanan Ernest Group dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.

​"Silakan turun dari kendaraan Anda secara kooperatif, atau kami akan menyerahkan rekaman pengintaian ilegal Anda ini langsung ke unit siber kepolisian dalam waktu lima menit."

​Fotografer bayaran itu seketika pucat pasi, menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam perangkap keamanan yang dipasang tanpa celah oleh pihak rumah Menteng.

​Di dalam ruang kerja lantai dua, Kyle perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Nadine setelah melihat dari sudut matanya bahwa minibus di seberang jalan telah berhasil diamankan oleh timnya.

​Nadine segera melangkah mundur sejauh tiga meter dengan gerakan cepat, mengembuskan napas panjang seolah-olah baru saja lolos dari situasi yang sangat menguras energi fisiknya.

​"Operasi pengintaian selesai, silakan kembali ke meja kerja Anda, Pak Kyle, dan jangan harap ada sesi foto gratis seperti ini lagi di masa depan."

​Kyle hanya memasang kembali ekspresi cueknya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya dengan keangkuhan es yang kembali membeku sempurna di wajahnya.

​"Sesi foto ini dilakukan demi menyelamatkan aset investasi Anda sendiri, Nona Nadine, jadi sayalah yang seharusnya menuntut kompensasi atas waktu luang saya yang terbuang."

​"Kompensasi Anda sudah termasuk dalam biaya sewa rumah dan fasilitas mewah ini, jadi jangan mencoba memeras konsultan keuangan Anda sendiri."

​Nadine memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Kyle dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan keras di atas lantai kayu koridor.

​(Pria es menyebalkan itu, dia benar-benar menguji batas kesabaran finansial dan mental saya hari ini.)

​Kyle menatap kepergian Nadine dengan pandangan kelabu yang kian menggelap, dipenuhi oleh rasa posesif yang mendalam yang masih tertinggal di ujung jemarinya setelah menyentuh kulit lembut istrinya tadi.

​Ia tahu bahwa dinding es Nadine masih sangat kokoh, namun kelicikan halusnya hari ini telah berhasil membuat retakan kecil yang tak kasat mata pada pertahanan logis wanita itu.

​Sungguh sebuah permainan catur romansa yang sangat lambat, namun Kyle Ernest adalah seorang master catur yang tidak pernah terburu-buru untuk mendapatkan kemenangan mutlaknya.

​Sementara itu, di sebuah kediaman mewah di kawasan berkelas lainnya, Kinara Inka sedang menunggu dengan cemas di depan layar ponselnya yang masih sunyi dari kabar keberhasilan.

​@Panggilan masuk: Nomor tidak dikenal...@

​Kinara segera menggeser tombol hijau dengan terburu-buru, mengharapkan berita kemenangan yang akan meruntuhkan martabat Nadine Lavena di depan publik.

​Namun, suara yang terdengar dari seberang telepon justru merupakan suara dingin yang sangat asing bagi pendengarannya.

​"Nona Inka, kamera mainan Anda sudah kami amankan, dan kami menyarankan Anda untuk segera menyiapkan tim pengacara terbaik yang bisa dibeli oleh sisa uang Anda."

​Brak!

​Ponsel di tangan Kinara terjatuh di atas lantai marmer yang dingin, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa sangat mencekam bagi masa depannya yang kian di ujung tanduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!