Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tapak Kaki di Atas Aspal Membara
Matahari kota metropolitan tidak pernah ramah pada pendatang baru, terlebih bagi seorang gadis yang hanya membawa satu koper usang berwarna biru pudar yang ritsletingnya sudah setengah rusak.
Kirana berdiri di sudut trotoar yang padat, menyeka keringat yang menetes di pelipisnya dengan punggung tangan. Deru mesin kendaraan, klakson yang bersahutan, dan kepulan asap knalpot menjadi ucapan selamat datang yang bising sekaligus menyesakkan dada.
Bagi gadis berusia dua puluh tahun itu, kota ini adalah perjudian terbesar dalam hidupnya. Sebagai seorang anak yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan pinggiran kota kecil, Kirana tidak memiliki siapa-siapa untuk diandalkan.
Ketika panti asuhan tempatnya bernaung terpaksa ditutup karena masalah biaya, Kirana tahu bahwa ia harus melangkah keluar. Ia memiliki modal yang tidak banyak, namun berharga: paras wajah yang sangat cantik dengan mata bulat yang berbinar cerdas, mental baja yang terbentuk dari kerasnya kehidupan, dan seulas senyum riang yang hampir tidak pernah pudar dari wajahnya.
"Satu pekerjaan ke pekerjaan lain, Kirana. Kamu pasti bisa," gumamnya pada diri sendiri, memberikan suntikan semangat yang sangat ia butuhkan saat ini.
Langkah kakinya membawa Kirana menyusuri lorong-lorong pertokoan. Target pertamanya hari ini adalah sebuah rumah makan padang yang sedang mencari tenaga pelayan tambahan.
Ia tidak memilah-milih pekerjaan. Baginya, asalkan halal dan bisa menghasilkan uang untuk membayar sewa kamar kos petak yang sempit di pinggiran rel kereta, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati.
Namun, realitas seringkali lebih kejam daripada bayangan. Di tempat pertama, sang pemilik menggelengkan kepala karena menganggap perawakan Kirana terlalu lemah untuk pekerjaan fisik yang berat.
Di tempat kedua, sebuah toko kelontong, lowongan ternyata sudah terisi sejak pagi buta. Kirana tidak patah arang. Dengan sifatnya yang sedikit keras kepala dan pemberani, ia terus berjalan hingga matahari mulai condong ke barat, mengubah warna langit menjadi jingga keunguan.
Malam mulai turun, dan Kirana akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai pencuci piring paruh waktu di sebuah kedai mi ayam yang cukup ramai. Upahnya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan dua kali sehari dan menyambung hidup untuk beberapa hari ke depan. Namun, Kirana menjalaninya dengan riang.
Ia menyanyi kecil sambil menggosok tumpukan mangkuk kotor, sesekali melempar candaan segar pada rekan kerja sesama buruh cuci yang tampak lesu. Sifatnya yang ceria bagai magnet yang membawa sedikit kehangatan di dapur kedai yang pengap itu.
Tiga minggu berlalu dengan ritme yang sama, namun nasib malang kembali mengetuk pintunya. Kedai mi ayam tersebut gulung tikar karena pemiliknya terlilit utang judi.
Kirana kembali terlempar ke jalanan, mencari peruntungan baru. Ia sempat menjadi buruh angkut barang di pasar subuh, menjadi sales kosmetik keliling yang harus menahan terik matahari hingga kulitnya memerah, hingga menjadi pelayan di sebuah kafe kopi modern.
Di setiap pekerjaan itu, Kirana selalu belajar hal baru. Ia mengamati cara orang berbicara, mengamati taktik berbisnis skala kecil, dan mengasah ketajaman otaknya. Ia bukan gadis bodoh yang bisa ditipu dengan mudah.
Kecerdasannya seringkali membantunya lolos dari potongan upah sepihak oleh mandor-mandor yang culas. Dan yang paling penting, di balik senyum ramahnya, Kirana memiliki keberanian untuk melawan jika dirinya atau haknya diusik.
Hingga pada suatu malam yang naas, di bulan kedua ia merantau, sebuah ujian besar datang menghadang jalannya.
Kirana baru saja menyelesaikan sif terakhirnya sebagai pengantar susu botolan di sebuah kompleks perumahan kelas menengah. Jam dinding digital di ponselnya menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan setapak menuju halte bus terdekat sudah sangat sepi, hanya diterangi oleh beberapa lampu jalan yang berkedip-kedip mau mati.
Saat ia melewati sebuah lorong gelap di antara dua bangunan gudang tua, langkah kakinya mendadak terhenti. Tiga orang pria berambut gondrong dengan pakaian lusuh dan aroma alkohol yang menyengat keluar dari kegelapan, menutup jalannya.
"Wah, lihat apa yang kita temukan di sini," ujar salah satu preman yang memiliki tato ular di lehernya. Matanya menatap Kirana dengan pandangan lapar dan menjijikkan. "Nona manis, mau ke mana malam-malam begini sendirian? Menemani abang-abang di sini sepertinya lebih seru."
Kirana memundurkan langkahnya, namun dari arah belakang, dua orang preman lain sudah muncul, mengunci ruang geraknya. Ia terjebak di tengah lorong gelap itu.
Meskipun jantungnya berdegup kencang bak genderang perang, Kirana menolak untuk memperlihatkan rasa takut. Ia menegakkan bahunya, menatap tajam pria bertato ular tersebut dengan berani.
"Minggir. Saya tidak punya urusan dengan kalian," suara Kirana terdengar tegas, tanpa ada getaran sedikit pun.
"Galak sekali," celetuk preman lainnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi gadis galak seperti ini biasanya lebih menantang di atas ranjang. Serahkan tasmu, lalu ikut kami!"
Pria bertato ular itu melangkah maju, tangannya yang kotor terulur kasar hendak mencengkeram rahang Kirana. Kirana tidak tinggal diam. Menggunakan insting bertahan hidup yang kuat, ia mengayunkan tas kain tempat botol susu kosong miliknya dengan sekuat tenaga, tepat mengenai pelipis pria itu hingga terhuyung ke belakang.
"Sialan! Tangkap pelacur ini!" umpat pria itu sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Keempat preman lainnya langsung bergerak maju dengan amarah yang memuncak. Kirana bersiap dengan posisi kuda-kuda seadanya, tahu bahwa secara fisik ia kalah jumlah dan kekuatan, namun ia menolak untuk menyerah tanpa perlawanan.
Tepat saat situasi genting itu memuncak, seberkas cahaya lampu mobil yang sangat terang memecah kegelapan lorong. Suara derit ban mobil yang bergesekan keras dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Sebuah mobil SUV hitam mewah berukuran besar berhenti mendadak hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Pintu mobil terbuka dengan cepat. Belum sempat para preman itu mencerna apa yang terjadi, enam orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi melompat turun. Di tangan mereka, senapan serbu laras pendek hitam legam terkokang dengan bunyi klik yang dingin dan mematikan. Semua senjata itu langsung mengarah tepat ke kepala para preman.
Suasana seketika menjadi hening mencekam. Para preman yang tadinya beringas langsung mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi, wajah mereka memucat pasi seketika saat menyadari bahwa orang-orang yang baru datang ini berada di level yang jauh berbeda dari sekadar kriminal jalanan.
Kemudian, dari pintu penumpang bagian belakang SUV tersebut, seorang pria melangkah turun secara perlahan.
Kirana menahan napasnya. Waktu seolah melambat saat pria itu berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kemeja hitam pekat yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah berdesain minimalis namun bernilai fantastis.
Perawakannya tinggi tegap, dengan rahang tegas dan wajah yang ketampanannya mampu membuat siapa saja terpana. Namun, bukan ketampanannya yang membuat Kirana terpaku, melainkan sepasang matanya.
Mata pria itu berwarna hitam kelam, begitu dingin, tajam, dan tidak memiliki riak emosi sedikit pun. Sorot matanya memancarkan aura kekejaman dan otoritas mutlak yang sanggup membuat lutut siapa pun lemas hanya dengan sekali pandang. Pria itu memandang para preman seolah-olah mereka tak lebih dari tumpukan kecoak yang mengganggu jalannya.
"Tuan... Tuan Muda..." salah satu preman berbisik dengan suara gemetar hebat, tampaknya mengenali siapa sosok di hadapan mereka dari lambang kecil berbentuk naga perak yang tersemat di kerah jas anak buahnya.
Pria yang dipanggil Tuan Muda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memberikan isyarat kecil dengan dua jarinya.
Brak! Buk!
Tanpa ampun, anak buah bersenjata lengkap itu menghantamkan pospor senjata dan melepaskan tendangan keras ke tubuh para preman hingga mereka tersungkur di tanah, mengerang kesakitan dengan tulang yang patah. Itu adalah demonstrasi kekuatan yang sangat dingin dan efisien.
Setelah memastikan para pengganggu lumpuh, pandangan dingin Tuan Muda itu beralih, bergeser perlahan hingga mengunci sepasang mata Kirana.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Kirana merasakan desiran aneh yang menjalar di seluruh aliran darahnya. Rasa takut? Tidak. Di dalam dada Kirana, yang bergejolak bukanlah rasa takut terhadap pria bengis ini, melainkan sebuah ketertarikan yang luar biasa dalam, sebuah obsesi instan yang meletup seketika.
Sifat nakal dan berani dalam diri Kirana bangkit. Alih-alih menunduk takut seperti orang normal, Kirana justru membalas tatapan dingin pria itu dengan pandangan mata yang intens, berani, dan penuh selidik, seolah ingin menguliti misteri di balik dinding es pria tersebut.
Tuan Muda itu tampaknya sedikit terkejut melihat reaksi Kirana yang tidak biasa, namun ekspresi wajahnya kembali datar dalam sekejap mata. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik badan, masuk kembali ke dalam mobil mewahnya.
Pintu tertutup, dan dalam hitungan detik, rombongan mobil itu melesat pergi meninggalkan lorong, menyisakan Kirana yang berdiri terpaku dengan jantung yang berdegup kencang karena alasan yang sama sekali baru.
Kirana menggigit bibir bawahnya, tersenyum kecil di kegelapan malam. "Siapa kamu, Tuan Muda dingin?" bisiknya pada angin malam.