Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serangan balik
Seperti yang dikhawatirkan Arka, Pak Haris tidak menunggu lama. Serangan datang dengan cepat dan keras.
Pagi itu, berita mengejutkan muncul di koran dan media daring. Terdengar kabar bahwa perusahaan Pak Budi terlibat dalam kasus penipuan dan pelanggaran kontrak besar-besaran. Tuduhan itu datang dari sebuah perusahaan yang dikendalikan Pak Haris. Isinya menyatakan bahwa perusahaan Pak Budi telah melakukan kesalahan fatal dalam pengiriman barang, menyebabkan kerugian miliaran rupiah, dan kini harus membayar ganti rugi yang jumlahnya jauh melebihi aset perusahaan itu sendiri.
"Kalau ganti rugi ini harus dibayar, kita pasti bangkrut total. Tidak ada jalan keluar lagi," kata Pak Budi dengan wajah pucat pasi saat rapat darurat. Dia sudah menyerah, pikirannya sudah habis.
Seluruh karyawan panik. Dinda menatap Arka dengan pandangan memohon, berharap dia punya keajaiban lagi. Arka tetap tenang, meski di dalam hatinya dia tahu ini adalah serangan pribadi Pak Haris kepadanya. Pak Haris tidak peduli dengan uang ganti rugi itu, dia hanya ingin melihat Arka gagal dan menderita melihat orang-orang yang dia lindungi hancur.
"Ini semua rekayasa, Pak. Bukti-bukti yang mereka tunjukkan itu palsu, dimanipulasi sedemikian rupa agar terlihat nyata," jelas Arka.
"Tapi bagaimana kita membuktikannya? Pengacara mereka yang terbaik, uang mereka tak terbatas. Kita tidak punya kekuatan melawan mereka," jawab Pak Budi putus asa.
"Saya yang akan mengurus masalah hukumnya. Saya punya kenalan pengacara yang sangat andal dan jujur. Dan yang paling penting, saya punya bukti bahwa perusahaan penuduh itu sendiri yang melakukan pelanggaran dan memalsukan data," ucap Arka tegas.
Berkat bantuan Clara, Arka mendapatkan akses ke dokumen-dokumen internal yang membongkar skema pemalsuan itu. Pak Haris terlalu percaya diri, dia tidak menyembunyikan jejak dengan baik karena mengira tidak ada yang berani atau mampu memeriksanya.
Siang itu, Arka dan Clara bekerja sama mengumpulkan semua bukti. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang menuntut adalah perusahaan cangkang yang dibuat khusus untuk menjebak perusahaan Pak Budi. Semua transaksi dan dokumen diatur sedemikian rupa. Namun, ada satu celah kecil yang terlewat: jejak digital pembayaran yang mengarah langsung ke rekening pribadi Pak Haris.
"Ini bukti yang kita butuhkan. Kalau ini terungkap, dia tidak hanya kalah di pengadilan, tapi juga bisa masuk penjara," kata Clara dengan mata berbinar.
Namun, Pak Haris bukan orang yang mudah dikalahkan. Dia tahu bahwa Arka sedang mengumpulkan bukti. Dia menggunakan pengaruhnya untuk menekan pihak pengadilan, polisi, dan bahkan media. Dia juga mengirimkan peringatan keras.
Malam itu, saat Arka pulang ke apartemennya, dia menemukan pintu terbuka dan ruangan berantakan. Di atas meja, ada selembar kertas bertuliskan ancaman: Berhenti campur urusan, atau orang-orang di sekitarmu akan menanggung akibatnya.
Arka mengertakkan gigi. Ancaman ini menyalakan api kemarahan di dadanya. Pak Haris berani mengancam keselamatan orang-orang yang dia sayangi. Itu adalah kesalahan terbesarnya.
"Kau mau main kotor? Baiklah. Aku akan tunjukkan siapa pemilik asli tempat ini," gumam Arka dingin.
Malam itu juga, Arka mengirimkan pesan ke seluruh jajaran direksi Grup Wijaya. Dia memanggil rapat umum dewan direksi untuk besok pagi. Dia akan muncul secara resmi, mengumumkan identitasnya, dan mengambil alih kendali penuh secara terbuka. Saatnya bagi CEO tersembunyi untuk menampakkan wujud aslinya dan membersihkan perusahaan dari hama yang merusak.
Langkah ini berisiko tinggi. Kehidupannya yang tenang akan berakhir selamanya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Demi ayahnya, demi karyawan Grup Wijaya, demi Pak Budi, Dinda, dan semua orang yang dia lindungi, dia harus maju ke depan.