NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

studing pertaruhan

Di balik tatapan matanya yang menggelap, Alden sebenarnya juga merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di dalam benaknya, sebuah pertanyaan besar mendadak muncul tanpa jawaban: Kenapa gue bisa kayak gini?

Alden tidak mengerti kenapa ia bisa bersikap seposesif dan sekejam ini kepada seorang perempuan yang baru ia kenal—bahkan mereka baru pertama kali bertemu dan saling mengenal hanya lewat sebuah tatapan mata. Mengapa tatapan singkat dari seorang siswi baru bisa memicu obsesi sebesar ini di dalam dirinya hingga ia nekat menyekapnya?

Rasa asing dan dorongan yang tak terkendali ini membuat Alden sendiri frustrasi, namun egonya menolak untuk mundur.

"Melupakan semuanya?" Alden mengulangi ucapan Aleta dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.

Senyum ramah di wajahnya kini benar-benar hilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang sarat akan ketegasan mutlak. Ia maju satu langkah lagi, membuat Aleta terpaksa bersandar sepenuhnya pada pagar besi di belakangnya.

"Gue gak akan biarkan lo lupain gue, Aleta. Dan gue gak akan pernah lepasin lo untuk kembali ke kehidupan lo yang biasa, seolah-olah gak ada hal besar yang terjadi di antara kita," ujar Alden dingin tidak ada kata aku kamu lagi yang keluar dari mulut alden, jemarinya terangkat perlahan, hampir menyentuh dagu Aleta namun ia tahan di udara.

Alden melirik jam tangannya sekilas, lalu beralih menatap Aleta

"Lo mau ikut MPLS hari ini? Oke, gue kabulin

Kita ke sekolah bareng sekarang. Tapi ingat satu hal," Alden menunduk, menatap tajam langsung ke manik mata Aleta,

"Jangan pernah berpikir untuk kabur atau mengadu ke siapa pun di sana, karena lo tahu betul apa yang bisa gue lakuin ke lo dan keluarga lo."

Alden tidak peduli dengan penolakan atau tatapan protes Aleta. Begitu mendengar perlawanan gadis itu, ia menarik tangan Aleta dengan cengkeraman yang cukup kuat namun tidak kasar, memaksanya berbalik dan berjalan kembali menuju rumah.

"Lo mau sekolah kan?" tanya Alden singkat di sela-sela langkah mereka, suaranya terdengar dingin dan tidak menerima sanggahan. "Kalau gitu, pakai seragam yang udah gue siapin"

Aleta mencoba melepaskan tangannya, namun sia-sia. Alden terus menyeretnya masuk ke dalam rumah yang hening, menaiki anak tangga dengan cepat, dan membawanya kembali ke dalam kamar.

Begitu sampai di tengah ruangan, Alden melepaskan tangan Aleta dan langsung mendorong gadis itu ke arah pintu kamar mandi yang tadi ia tinggalkan. Ia menunjuk ke arah tumpukan baju seragam sekolah yang sudah tertata rapi menggantung dia atas lemari lalu menunjuk ke arah pintu kayu di depannya.

"Masuk," perintah Alden mutlak.

"Ganti baju lo. Gue tunggu di luar. Kalau lo berani buka pintu kamar mandi tanpa pakai seragam itu, atau mencoba cari celah buat lari lagi... lo tahu konsekuensinya, Aleta."

Alden menutup pintu kamar mandi itu tepat di depan hidung Aleta, lalu menyilakan lengannya di depan dada, berdiri bersandar di depan pintu kamar mandi tersebut, memastikan bahwa kali ini tidak ada lagi jalan bagi Aleta untuk mencoba meloloskan diri. Ia menatap ke arah pintu kayu itu dengan pandangan yang sulit diartikan; rasa posesifnya semakin memuncak melihat Aleta yang kini benar-benar terperangkap di bawah kendalinya.

🌍🌍🌍

Di dalam kamar mandi yang tertutup rapat, Aleta menyandarkan punggungnya ke pintu. Napasnya perlahan mulai teratur seiring dengan otaknya yang mulai berpikir jernih. Kemarahan yang menggebu-gebu tadi kini berganti menjadi sebuah strategi yang dingin.

Ya, Aleta harus ke sekolah.

Dia menyadari bahwa terus memberontak di rumah mewah ini adalah hal yang sia-sia. Rumah Alden bagaikan benteng dengan gerbang otomatis dan penjagaan ketat yang mustahil ia tembus sendirian tanpa ponsel dan uang. Tapi sekolah? Sekolah adalah tempat umum. Di sana akan ada ratusan siswa baru, kakak kelas, guru-guru, dan yang paling penting: keramaian. Alden mungkin berkuasa sebagai Ketua OSIS, tapi dia tidak akan bisa mengawasinya setiap detik di depan ribuan pasang mata, bukan?

Sekolah adalah kesempatan terbaiknya untuk kabur, mencari perlindungan, atau bahkan meminjam ponsel seseorang untuk menghubungi ibunya.

Aleta memandang seragam sekolah barunya yang kini ada di dekapannya. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, ia mulai menanggalkan pakaian tidurnya dan mengenakan seragam tersebut. Ia merapikan rambutnya di depan cermin, memastikan penampilannya terlihat normal agar tidak memicu kecurigaan siapa pun nanti.

Setelah selesai, Aleta menarik napas dalam-dalam, memasang wajah sepasrah mungkin untuk mengelabui Alden, lalu memutar knop pintu.

Klik.

Pintu kamar mandi terbuka. Alden, yang sejak tadi berdiri bersandar di dinding koridor kamar sambil bersedekap dada, langsung menegakkan tubuhnya. Tatapan tajam cowok itu langsung memindai penampilan Aleta dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Aleta sengaja menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata langsung seolah-olah dia sudah menyerah dan patuh. "Aku udah siap," cicit Aleta pelan, menyembunyikan rapat-rapat rencana pelarian besar yang sudah ia susun di dalam kepalanya.

Alden mendekat, berniat untuk langsung membawa Aleta turun ke mobil, begitu jarak mereka mengikis, langkahnya mendadak terhenti. Sorot matanya langsung tertuju pada satu titik di tubuh Aleta: lehernya.

Di sana, bekas kemerahan yang pekat akibat perlakuan kasarnya kemarin masih tercetak dengan sangat jelas di atas kulit putih Aleta. bekas luka itu terlalu mencolok, Tapi Alden punya rencana lain.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik. melangkah lebar menuju lemari besar berbahan kayu mahoni miliknya di sudut kamar, lalu membukanya. Tangannya bergerak cepat memilah tumpukan pakaian, mencari sesuatu yang bisa menyembunyikan tanda tersebut dengan sempurna.

Detik berikutnya, Alden menarik keluar sebuah jaket hoodie rajut berserat tebal dengan kerah tinggi berwarna hitam miliknya.

Ia berjalan kembali menghampiri Aleta yang masih berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi. Tanpa meminta izin, Alden langsung memakaikan jaket besar itu ke tubuh Aleta. Ukuran tubuh Alden yang jauh lebih bongsor membuat jaket itu tampak tenggelam di tubuh mungil gadis itu, tapi kerah tingginya berhasil menutupi seluruh bagian leher Aleta sempurna.

Alden merapikan ritsleting jaket itu hingga ke batas paling atas, nyaris menyentuh dagu Aleta. Jari-jarinya sempat tidak sengaja bersentuhan dengan kulit leher Aleta, membuat gadis itu sedikit tersentak mundur, membuat Alden dengan cepat menahan bahunya.

"Pakai ini," perintah Alden dengan suara rendah dan mutlak, matanya menatap lekat leher Aleta yang kini sudah tertutup

"Jangan pernah lo lepas selama di sekolah, bahkan kalau cuaca panas sekalipun. Lo paham, Aleta?"

Setelah merapikan jaket di leher Aleta, Alden langsung menggandeng pergelangan tangan gadis itu—tidak terlalu kasar, tapi cukup erat untuk memastikan Aleta tidak bisa melepaskan diri. Mereka menuruni tangga rumah yang megah, lalu masuk ke dalam mobil sport hitam milik Alden yang mesinnya masih menyala di pelataran.

Selama perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Aleta hanya melempar pandangannya ke luar jendela, memetakan rute jalanan kompleks perumahan Alden yang memang mirip labirin, sementara pikirannya sibuk menyusun rencana untuk kabur begitu mereka tiba di sekolah nanti. Di sampingnya, Alden menyetir dengan satu tangan, tampak teramat tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa apa.

🌍🌍🌍

Pukul delapan lewat, mobil Alden akhirnya memasuki gerbang sekolah. Suasana area parkir dan lapangan utama sudah sangat ramai, dipenuhi oleh ratusan siswa baru yang mengenakan atribut.

Teng... Teng... Teng...

Suara bel masuk bernada tinggi sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, menandakan bahwa semuanya sudah dimulai. Beberapa panitia OSIS tampak berlarian di koridor untuk menertibkan barisan.

bagi Alden, semua keterlambatan itu sama sekali tidak jadi masalah. Sebagai Ketua OSIS yang memiliki otoritas penuh dan disegani oleh para guru, dan ibunya juga adalah penyalur Resmi sekolah tidak akan ada satu orang pun yang berani menegurnya karena datang terlambat, apalagi Alden adalah murid yg pintar yg selalu membuat nama sekolah harum.

Alden memarkirkan mobilnya di area khusus yang strategis. Sebelum mematikan mesin, ia berbalik, menatap Aleta yang tampak gelisah melihat keramaian di luar sana melalui kaca mobil.

"Kita sudah sampai," ucap Alden dengan nada rendah yang penuh penekanan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aleta, membuat jarak mereka kembali mengikis.

"Ingat rencana lo di dalam kepala lo itu, Aleta. Jangan coba-coba main belakang di depan gue. Turun sekarang."

Aleta membuka pintu mobil dengan terburu-buru, melangkah keluar ke area parkir yang ramai. Begitu kakinya memijak aspal sekolah, suasana di sekitar mendadak berubah riuh oleh bisikan-bisikan tertahan.

Kehadiran Aleta yang turun dari mobil sport hitam milik Alden—sang Ketua OSIS—langsung menjadi pusat perhatian. Semua pasang mata menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.

Di antara kerumunan itu, Felicia yang sedang berdiri di pinggir lapangan sambil menertibkan barisan murid baru langsung membeku. Matanya melebar, menatap tajam ke arah Aleta dengan kilat kemarahan dan kecemburuan yang tak bisa disembunyikan.

satu fakta kembali membuat nya merasa sedikit tenang nanti malam adalah waktu di mana dirinya dan Alden akan bertunangan seharusnya ia tak usah merasa khawatir.

di sudut barisan yang lain, reaksi berbeda datang dari Marsha. Sahabat Aleta itu langsung terlonjak kaget saat melihat sosok yang sangat ia kenal turun dari mobil mewah tersebut. Rasa kagetnya dengan cepat berubah menjadi binar kebahagiaan yang luar biasa.

Kemarin, pada hari kedua MPLS, Aleta tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Marsha yang kebingungan hanya mendapatkan informasi singkat dari pihak panitia bahwa Aleta sedang sakit. Melihat Aleta akhirnya kembali ke sekolah hari ini, Marsha tidak bisa menyembunyikan rasa leganya, meskipun di dalam kepalanya kini dipenuhi sejuta pertanyaan tentang apa hubungannya Aleta dengan Alden.

Aleta mengabaikan semua tatapan intimidasi dari Felicia dan fokus mencari keberadaan Marsha. Di balik jaket hoodie besar milik Alden yang menutupi lehernya, ia merapatkan pakaian itu, bersiap mencari celah untuk mendekati Marsha dan menjalankan rencana pelariannya.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
demi bisa hidup ya.. walaupun disana hidup tapi seperti mendekati ajal kematian
Putri Ayu/PqxxyZ
kalo loncat cuma patah kok. cuma 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!