NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Yang Sunyi Dan Kamar Kos Yang Riuh

​Jarum jam di dinding dapur bersih milik Labib sudah menunjuk tepat ke angka enam sore. Suasana luar rumah perlahan mulai temaram diselimuti warna jingga senja.

​Di atas meja makan, sudah tersaji cumi goreng tepung saus telur asin yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan cah kangkung bawang putih yang aromanya sangat menggoda. Ini adalah menu spesial yang Labib siapkan sendiri sejak satu jam lalu—menu tebusan dosa karena telah menghukum istrinya duduk di baris paling depan siang tadi.

​Labib berdiri di dekat meja, masih mengenakan kaus rumahan santai. Pria 31 tahun itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi pesan singkat.

​Pesan yang ia kirimkan siang tadi masih menyisakan tanda centang satu abu-abu.

​Labib mencoba menekan tombol panggilan. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..." Suara operator mesin yang kaku itu kembali menyapa telinganya untuk yang kelima kali.

​Labib menurunkan ponselnya, alisnya bertaut rapat. Gurat tegas di wajahnya kembali mengeras, memunculkan aura dingin yang biasa ia tunjukkan di ruang kuliah. Jam kuliah semester enam hari Senin seharusnya sudah selesai sejak pukul empat sore. Jika Yuna langsung pulang ke rumah, atau bahkan jika ia mampir ke rumah ibunya untuk menjenguk, ponselnya tidak mungkin mati total tanpa kabar seperti ini.

​Pria itu menghela napas panjang, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan. Garasi rumahnya masih kosong. Mobil City Car putih milik Yuna belum menampakkan tanda-t Neighbors.

​'Kamu benar-benar sedang menguji kesabaran saya, Yuna Anindya,' batin Labib dengan rahang yang mengeras samar. Ia tahu Yuna merajuk, tapi mematikan ponsel dan menghilang tanpa kabar adalah hal yang mulai memicu rasa khawatir di dadanya—sekaligus memancing sisi tegasnya sebagai seorang suami keluar.

​Seblak, Masker wajah, dan Rahasia

​Sementara itu, atmosfer yang seratus delapan puluh derajat berbeda sedang tercipta di sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat meter di dekat area kampus.

​Aroma kencur dan cabai dari dua mangkuk seblak ceker instan memenuhi ruangan. Di atas kasur lantai, Yuna sedang duduk bersila berdampingan dengan Dinda. Wajah keduanya sama-sama kaku karena dilapisi oleh masker lumpur berwarna abu-abu kehijauan yang mulai mengering.

​"Jadi... lo ngerasa aura Pak Labib sama Bu Citra tuh kayak... ada kecocokan yang mencurigakan?" tanya Dinda dengan suara yang agak kaku akibat masker di wajahnya, sambil menyendap kuah seblak pedasnya.

​Yuna menusuk satu bakso ikan di mangkuknya dengan kasar. "Ya... lo lihat sendiri kan tadi siang di selasar? Bu Citra ketawa-ketawa akrab banget gila. Mana mereka kelihatan seumuran, sama-sama pintar lagi. Lah gue? Gue tuh berasa kayak bocah ingusan yang salah masuk fakultas kalau ngelihat mereka berdua."

​Yuna sengaja menyembunyikan kata 'istri' dan menggantinya dengan keluhan sebagai mahasiswi biasa yang minder, meskipun sebenarnya dadanya sedang terbakar cemburu sebagai seorang istri yang sah.

​"Halah, Yun, lo tuh terlalu minderan," sahut Dinda sambil menepuk bahu Yuna. "Lagian ngapain sih lo mikirin Pak Labib sampai segitunya? Kayak lo pacarnya aja yang lagi cemburu. Inget, dia itu Macan Kampus! Mending lo pikirin gimana caranya besok garis asistensi lo nggak dicoret-coret sama dia."

​Yuna terdiam, mengunyah bakso ikannya dengan perasaan campur aduk. Ia melirik tas ranselnya yang tergeletak di sudut kamar. Di dalam tas itu, ponselnya berada dalam kondisi mati total. Ia sengaja menekan tombol power off sejak pukul empat tadi agar tidak tergoda melihat balasan pesan atau panggilan dari Labib.

​Ada rasa puas yang kekanak-kanakan di hati Yuna karena berhasil "melarikan diri". Ia membayangkan suaminya yang kaku itu pasti sedang kebingungan mencarinya. Namun, di sudut hatinya yang lain, ada sebersit rasa takut yang mulai menjalar.

​Yuna tahu betul, di balik sikap lembut Labib saat di rumah, pria berumur 31 tahun itu tetaplah seorang pria dewasa yang memiliki otoritas mutlak atas dirinya. Jika Labib benar-benar marah besar karena aksi nekatnya ini... Yuna tidak tahu hukuman apa yang lebih mengerikan daripada disuruh membawa kursi ke depan meja dosen siang tadi.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!