NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 7

Pagi itu, Lucy sengaja tidak datang ke sekolah lebih awal.

Biasanya, dia sudah tiba sebelum bel pertama, duduk di bangkunya dengan buku terbuka, siap mengamati. Tapi hari ini berbeda. Hari ini adalah acara ulang tahun sekolah, dan dia ingin memberikan kejutan—bukan hanya untuk Ren, tapi untuk semua orang yang selama ini menganggapnya sebagai Lucy si kutu buku yang tidak layak diperhatikan.

"Kau yakin tidak ingin bertemu Ren dulu?" tanya Lili dari atas meja rias.

Lucy berdiri di depan cermin, mengagumi hasil kerja kerasnya selama beberapa hari terakhir. Produk dari kastilnya benar-benar ajaib. Kulitnya kini putih bersih, lembut, bercahaya seolah diterangi dari dalam. Lingkaran hitam di bawah matanya hilang. Bibirnya yang dulu pucat kini berwarna pink alami.

"Tidak," jawabnya, menyisir rambutnya yang kini hanya sebahu—dia memotongnya dua hari lalu, mengucapkan selamat tinggal pada kepang kembar kusam itu. "Biarkan dia melihatku nanti. Di atas panggung. Saat aku bernyanyi."

Dia memasang softlens hitamnya, lalu kacamata tipis. Rambut hitam sebahu itu dibiarkannya tergerai, lembut dan berkilau. Dia mengoleskan lip balm tipis, lalu tersenyum pada bayangannya.

Gadis di cermin itu bukan lagi Lucy si kutu buku. Dia adalah seseorang yang mulai mekar—perlahan, pasti, dan mematikan.

"Laporan tentang Kaito," katanya, meraih sekantong anggur dari meja. "Aku sudah malas menyelidiki sendiri. Ceritakan padaku."

Lili menghela napas panjang—kucing itu sebenarnya sudah menunggu perintah ini. "Aku sudah menyiapkan datanya."

Sebuah layar hologram muncul di depan Lucy, dan dia duduk di sofanya yang lusuh, menyuapkan anggur ke mulutnya.

Data Latar Belakang: Kaito Fujiwara

Keluarga Fujiwara adalah konglomerat properti. Ayah Kaito, Daiki Fujiwara, memiliki dua istri. Ibu Kaito—istri pertama—dinikahi bukan karena cinta, melainkan karena perjodohan bisnis. Ketika Daiki menikahi istri keduanya—seorang wanita muda yang benar-benar dia cintai—Ibu Kaito perlahan-lahan kehilangan kewarasannya.

Dan pelampiasannya adalah Kaito.

Sejak usia lima tahun, Kaito sudah dipukul. Bukan karena dia nakal. Bukan karena dia bodoh. Tapi karena dia tidak cukup sempurna di mata ibunya. Ibunya percaya bahwa jika Kaito menjadi anak yang sempurna—akademis, penurut, berprestasi—suaminya akan kembali menyayanginya. Jadi setiap kali Kaito gagal, setiap kali nilainya turun, setiap kali dia memilih basket daripada buku... hukuman menanti.

Piagam dan piala basketnya lebih banyak daripada sertifikat akademiknya. Tapi ibunya tidak peduli. Dia merobek beberapa piagam itu. Menghancurkan trofi. Menjerit bahwa Kaito membuang-buang waktunya.

"Itu sebabnya dia benci perempuan," gumam Lucy.

"Bukan benci," koreksi Lili. "Dia tidak percaya. Setiap perempuan yang mendekatinya menginginkan sesuatu—status, uang, ketenaran. Tidak ada yang tulus."

"Lalu dia bertemu Hana Himura."

"Ya. Hana yang polos, yang tidak tahu siapa dia, yang tersesat di dekat lapangan basket... dia berbeda. Setidaknya di mata Kaito."

"Tapi Hana memilih Ren."

"Dan itu menghancurkannya."

Lili melanjutkan laporannya. Di novel asli, Kaito yang patah hati berubah menjadi gelap. Dia membunuh ayahnya sendiri dan saudara tirinya untuk memperebutkan warisan—meracuni mereka dengan zat yang tidak terdeteksi, membuatnya terlihat seperti bunuh diri. Dia lolos karena memiliki koneksi dengan seorang bos mafia yang membantunya membersihkan jejak. Ibunya, yang sudah tidak stabil, akhirnya hampir membunuh seseorang saat mendengar kematian suaminya, dan dikirim ke rumah sakit jiwa.

Kaito mengambil alih perusahaan. Menjadi kaya, berkuasa, dan kosong.

Di akhir cerita, tingkat kejahatannya mencapai 99%. Dia merencanakan untuk meledakkan kapal pesiar yang digunakan untuk reuni alumni SMA—berniat membunuh Ren. Tapi di atas kapal, dia melihat sosok perempuan yang mirip Hana, dan dia mengejarnya, meninggalkan posisi amannya. Kapal itu meledak. Ren dan Hana sudah lebih dulu keluar. Kaito tidak pernah ditemukan.

"Bodoh," kata Lucy, memasukkan anggur ke mulutnya.

"Bodoh?"

"Dia tampan, kaya, atletis. Perempuan akan mengantre untuknya. Tapi dia malah terobsesi dengan satu perempuan yang sudah menjadi milik orang lain." Lucy menggeleng. "Begitu banyak jiwa yang bisa dia pilih. Begitu banyak tubuh yang bisa dia nikmati. Tapi dia memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri."

"Itu karena dia tidak mau sembarang perempuan. Dia mau yang tulus."

"Dan dia pikir Hana adalah satu-satunya." Lucy mendesah. "Manusia. Selalu terjebak dalam pikirannya sendiri."

Dia menutup layar hologram, lalu bangkit dan meraih gitarnya—gitar baru yang dia beli dengan sedikit "bantuan" dari simpanannya di kastil. Kayu mahoni yang dipoles halus, senar berkualitas tinggi, suara yang kaya dan dalam. Dia mengelus permukaannya, memikirkan lagu yang akan dia nyanyikan nanti.

Ponselnya bergetar. Nao.

"Halo?"

"Lucy! Kamu udah siap?!" Suara Nao meledak dari speaker. "Kita mau nonton basket dulu! Ayo ikut! Klub musik tampilnya di akhir acara, jadi masih ada waktu!"

Lucy tersenyum. "Basket? Tim sekolah kita?"

"Iya! Kaito main! Ayo dong! Kamu belum pernah nonton!"

Aku pernah, pikir Lucy. Tapi tidak ada salahnya menonton lagi.

"Baiklah. Aku akan datang."

"YES! Pakai baju cantik ya! Ini acara, bukan sekolah! Bebas!"

Lucy menutup teleponnya dan berjalan ke lemarinya. Dia sudah menyiapkan pakaian sejak tadi malam.

Gaun biru muda selutut dengan potongan sederhana tapi elegan. Pita biru senada untuk rambutnya. Sepatu flat putih—dia tidak mau repot dengan heels. Dan tas selempang kecil berwarna krem.

Dia mengoleskan lip balm sekali lagi, lalu berdiri di depan cermin.

"Cantik," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Tapi masih ada yang kurang."

"Apa?" tanya Lili.

"Waktu." Lucy tersenyum. "Aku belum menunjukkan warna asliku. Tapi untuk hari ini... ini sudah cukup."

SMA Seiran berubah.

Hari ini, gerbangnya dihiasi balon-balon dan spanduk besar bertuliskan "Hari Jadi SMA Seiran ke-30." Murid-murid membanjiri halaman dengan pakaian bebas—gaun, kemeja kasual, bahkan beberapa datang dengan cosplay sederhana. Stand-stand makanan dan permainan berjajar di sepanjang koridor utama, dan di lapangan, panggung besar sedang dipersiapkan untuk pertunjukan nanti.

Lucy tiba sendirian.

Begitu dia melangkah melewati gerbang, percakapan di sekitarnya melambat.

"Eh... itu siapa?"

"Cantik banget..."

"Itu Lucy? Yang kutu buku itu?!"

"Serius? Nggak mungkin... rambutnya dulu kepang dua, kan?"

"Tapi mukanya mirip..."

Lucy tidak menoleh. Dia terus berjalan, langkahnya ringan. Sebagai Dewi, dia sudah terbiasa dengan tatapan kagum, bisik-bisik, dan mulut ternganga. Itu adalah reaksi alami terhadap kecantikan yang tidak biasa. Dia tidak akan berpura-pura malu hari ini. Hari ini, dia adalah Lucy versi baru—imut, polos, sedikit misterius.

"LUCY?!"

Suara itu berasal dari Nao, yang berdiri bersama Rina dan Mika di dekat pintu masuk aula basket. Ketiga gadis itu membeku, mata mereka membulat, mulut mereka terbuka.

"KAMU... KAMU... ITU KAMU?!" Rina berlari menghampirinya, memegang kedua bahu Lucy. "ASTAGA! KAMU CANTIK BANGET!"

"Ra-rambut kamu dipotong?! Putih banget kulit kamu?! Pipi kamu—" Mika tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Nao hanya berdiri dengan tangan menutup mulut. "Kita yang selama ini mendadani kamu... dan sekarang kamu malah lebih cantik dari kita..."

Lucy tersenyum—bukan senyum pemalu yang dulu, tapi senyum manis yang tulus. "Kalian yang mengajariku. Terima kasih."

Ketiga temannya saling pandang, lalu secara bersamaan memeluk Lucy.

"Kamu harus sering-sering begini!"

"Iya! Buang aja kacamata itu!"

"Nggak, kacamata itu malah bikin dia keliatan imut! Kayak perpustakaan tapi versi cantik!"

Lucy tertawa kecil—kali ini asli. "Ayo. Bukankah kita mau nonton basket?"

Tribune ruang basket sudah penuh. Ini adalah salah satu pertandingan paling dinanti dalam acara—tim basket SMA Seiran melawan tim basket SMA Raizen, rival bebuyutan mereka. Spanduk-spanduk penyemangat dibentangkan. Yel-yel mulai terdengar.

Lucy dan ketiga temannya berhasil menemukan tempat duduk di tribune tengah—cukup tinggi untuk melihat seluruh lapangan dengan jelas.

"Kaito! Kaito! Kaito!" Rina sudah berteriak meskipun pertandingan belum mulai.

Di bawah, para pemain mulai berbaris. Tim basket Seiran mengenakan jersey biru navy dengan nomor punggung masing-masing. Kaito berdiri di depan, nomor 7, tangannya di pinggang. Posturnya tinggi, otot-otot lengannya terlihat jelas di balik jersey tanpa lengan. Wajahnya—seperti biasa—datar, tidak peduli dengan kerumunan yang meneriakkan namanya.

Pertandingan dimulai.

Sejak menit pertama, intensitasnya sudah tinggi. Raizen bermain agresif, tapi Seiran tidak kalah. Kaito memimpin timnya dengan presisi—setiap operan, setiap lompatan, setiap lemparan tepat sasaran.

"AYO KAITO! KAMU BISA!" Nao berteriak, melambaikan tangan.

"MASUKIN BOLANYA! YESSS!" Rina hampir melompat dari kursinya.

Bahkan Mika—yang biasanya paling pendiam—ikut berteriak. "SEIRAN! SEIRAN!"

Di tengah keributan itu, Lucy duduk dengan tenang. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya mengikuti bola, tapi mulutnya tidak ikut berteriak. Bukan karena dia tidak tertarik—pertandingannya cukup seru—tapi karena... ya, dia Dewi. Berteriak-teriak seperti itu tidak sesuai dengan harga dirinya.

"Kau bisa pura-pura bersorak, tahu," goda Lili dalam kepalanya.

"Aku tidak berpura-pura untuk hal yang tidak perlu."

Babak pertama berakhir dengan skor 34-30 untuk Seiran. Babak kedua dimulai, dan Raizen mulai mengejar. Di menit-menit terakhir, saat skor imbang 56-56, Kaito mengambil alih.

Dia menerima bola dari rekannya. Menggiring melewati satu pemain. Dua. Melompat, berputar di udara, dan—

SWOOSH.

Bola masuk tepat saat peluit berbunyi.

Tribune MELEDAK.

"AAAAAAHHH KAITOOOOO!!"

"GILA! GILA! GILA!"

"SEIRAN MENAAAANG!"

Rina, Nao, dan Mika berpelukan sambil melompat-lompat. Seluruh tribune bergemuruh. Di lapangan, tim Seiran mengerumuni Kaito, menepuk punggungnya, meneriakkan namanya. Tapi Kaito hanya mengangguk kecil, menyeka keringat di dahinya, lalu mendongak ke tribune.

Matanya menyapu kerumunan. Dan berhenti.

Lucy sedang berdiri, merapikan rok gaunnya. Ketiga temannya masih sibuk berpelukan. Dia sendiri, di tengah kerumunan yang riuh, terlihat tenang—hampir tidak tersentuh oleh kekacauan di sekitarnya.

Kaito menatapnya. Dia ingat gadis ini. Gadis yang sama yang duduk sendirian di tribune saat latihan beberapa hari lalu. Gadis yang membaca buku dan tidak peduli padanya. Tapi hari ini... hari ini dia terlihat sangat berbeda.

Gaun biru muda. Pita biru di rambut sebahu. Kulit putih bersih. Dan kacamata tipis itu—kacamata yang membuatnya terlihat pintar dan imut sekaligus.

Seseorang menepuk bahu Kaito. "Fujiwara! Bagus! Ayo, kita harus—"

Kaito menoleh. Saat dia kembali menatap tribune, gadis itu sudah berbalik. Dia melihat punggungnya—rambut hitam sebahu, pita biru—berjalan menuruni tangga, diikuti tiga temannya.

Siapa dia?

Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya. Dan Kaito tidak tahu kenapa dia peduli.

Lucy keluar dari ruang basket, diikuti ketiga temannya yang masih bersemangat membahas pertandingan.

"Kaito keren banget tadi!"

"Dunk terakhir itu... aku bisa pingsan!"

"Eh, Lucy, kamu kok diem aja? Nggak seru?"

Lucy tersenyum kecil. "Seru. Aku menikmatinya."

"Terus... kamu sekarang mau ke mana?" tanya Nao. "Kita udah selesai nonton. Mau ke stand makanan?"

"Aku harus ke klub musik. Persiapan terakhir."

"Oh iya! Kalian tampil nanti!" Rina menepuk dahinya. "Ya udah, kita anter sampe depan!"

"Tidak perlu." Lucy menggeleng. "Aku bisa sendiri. Kalian nikmati saja acaranya."

Ketiga temannya ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya setuju. Mereka melambaikan tangan dan berbaur kembali ke kerumunan.

Lucy berjalan sendirian menyusuri koridor. Langkahnya ringan, pita birunya bergerak-gerak. Dia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya—bisik-bisik yang sama seperti tadi pagi. Tapi ada satu tatapan yang berbeda. Satu tatapan yang dia rasakan dari belakang.

Dia tidak perlu menoleh untuk tahu itu siapa.

Kaito Fujiwara. Kau melihatku. Bagus.

Dia terus berjalan, menghilang di balik pintu gedung utama, meninggalkan seorang antagonis pria yang berdiri di pintu keluar ruang basket, menatap ke arah di mana dia menghilang.

"Eh, Kaito! Ayo! Kita selebrasi!" Salah satu anggota Five Shadows menepuknya.

Kaito menggeleng. "Sebentar."

"Ada apa?"

Dia tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, menatap pintu gedung utama, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat gadis itu sebelumnya.

Dia sekelasku, pikirnya akhirnya. Dia... Lucy.

Dan untuk pertama kalinya, Kaito Fujiwara mengingat nama seorang perempuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!